
Sinar matahari memasuki kamar Dara dan Naren dari celah celah korden. Dara mengerjapkan matanya, ia menoleh ke samping dimana Naren masih setia memejamkan matanya.
" Mas bangun! Udah siang." Ucap Dara.
" Sebentar lagi sayang." Sahut Naren tanpa membuka matanya. Ia malah mempererat pelukannya.
" Emangnya kamu tidak berangkat kerja Mas?" Tanya Dara.
" Tidak! Hari ini aku cuti, aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Sahut Naren.
" Suatu tempat?" Dara mengerutkan keningnya.
" Iya, tempat bulan madu kita." Sahut Naren.
" Bulan madu? Kemana?" Tanya Dara.
" Ke puncak." Sahut Naren.
" Kita bukan pasangan yang baru menikah Mas, nggak usah ada bulan madu segala deh." Ujar Dara.
" Sayang dengar Mas! Mas ingin membuka lembaran baru dalam hidup kita sayang, setelah apa yang kita lewati selama ini, Mas berharap semoga Albert dan yang lainnya tidak akan mengusik hidup kita lagi, Mas ingin hidup damai dan bahagia bersamamu dan anak anak kita nanti selamanya." Ucap Naren mengecup kening Dara.
" Amin.... Semoga semua keinginan kota akan terwujud Mas, semoga Tuhan memudahkan jalannya." Sahut Dara.
" Kalau begitu kapan kita berangkat?" Tanya Dara.
" Kenapa? Udah nggak sabar pasti ya, udah ingin berduaan sama Mas di tempat yang dingin alami." Tebak Naren menaik turunkan alisnya.
" Bukan begitu Mas, kan aku belum berkemas." Ujar Dara.
" Pelayan sudah menyiapkan segala keperluan kita di sana, jadi kamu tidak perlu membawa barang apa apa lagi, cukup kartu Identitas dan ponsel saja." Sahut Naren.
" Berapa hari kita di sana Mas?" Dara bertanya lagi.
" Kurang lebih tiga hari, aku khawatir pada Mama kalau kita pergi lama lama." Ucap Naren.
" Apa nggak pa pa kalau Mama kita tinggal Mas?" Tanya Dara.
" Tidak pa pa sayang, cuma tiga hari ini, aku sudah memperketat keamanan kok." Sahut Naren.
" Baiklah, ayo kita mandi sekarang! Aku sudah tidak sabar ingin melihat hamparan kebun teh di sana, suasana sejuk dan dingin akan menambah romantis hubungan kita." Ujar Dara.
" Iya sayang, ya udah ayo mandi." Sahut Naren.
__ADS_1
Keduanya mandi bersama, hanya mandi saja. Karena Naren ingin melakukan saat bulan madunya nanti.
Selesai mandi mereka berdua turun untuk sarapan, di sana sudah ada nyonya Arkana.
" Pagi Ma." Sapa Dara.
" Pagi sayang." Sahut nyonya Arkana.
" Bagaimana keadaan Mama? Apa Mama sudah sembuh total?" Dara menatap nyonya Arkana.
" Mama baik baik saja sayang." Sahut nyonya Arkana sambil tersenyum.
" Syukurlah Ma, kalau begitu." Sahut Dara.
" Ma, Mas Naren mengajakku pergi untuk beberapa hari, apa Mama tidak apa kami tinggal sendirian?" Dara menatap Mama mertuanya.
" Tidak pa pa sayang, lagian Naren sudah menyewa ART untuk menemani dan mengurus rumah ini." Sahut nyonya Arkana.
" Selamat menikmati liburan kalian sayang, Mama berdoa semoga pulang dari sana kalian membawa kabar baik untuk Mama di rumah." Sambung nyonya Arkana.
" Amin semoga ya Ma." Sahut Dara.
Dara melayani Naren dengan baik, ia mengambil makanan untuk Naren lalu untuk dirinya sendiri.
" Mama jaga diri di rumah ya! Kalau ada apa apa, segera telepon aku." Ucap Naren.
" Terima kasih Ma." Sahut Naren.
Mereka melanjutkan sarapan. Setelah selesai, Dara dan Naren berpamitan kepada Mamanya. Naren melajukan mobilnya menuju kawasan puncak yang ada di kota B.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Albert sedang berbaring di atas ranjang menatap langit langit kamar. Tiba tiba bayangan gadis bawel dan penuh ceria itu muncul di kepalanya.
" Ih kenapa aku jadi membayangkan dia, tidak Albert! Jangan sampai kau bertemu dengannya lagi! Telingamu akan pecah kalau kau setiap hari mendengar ocehannya, kepalamu akan berdenyut melihat tingkahnya yang bar bar itu." Monolog Albert membayangkan tingkah Zelin.
" Tapi dia gadis ceria, dia bisa membuatku lupa akan masalahku dalam sekejap, jika aku menikahinya hidupku akan penuh warna, dan aku yakin itu akan membuatku bahagia." Lanjut Albert.
" Dia seumuran sama Dara, sepertinya hatinya juga tidak jauh jauh dari Dara, dia punya hati yang baik dan sepertinya dia tipe pemaaf, aku telepon saja kali ya." Albert mengeluarkan ponselnya. Ia menatap layar ponselnya memandangani foto profil Zelin.
" Manis." Ucap Albert.
" Telepon enggak telepon enggak, telepon apa enggak ya? Kalau aku telepon nanti dia mikirnya aku mau menerima tawarannya, kalau tidak telepon, tapi aku ingin mendengar ocehannya, hah sebenarnya apa mauku sih." Kesal Albert menyukai kasar rambutnya.
__ADS_1
" Ah telepon aja!" Akhirnya Albert menekan tombol telepon pada kontak 'Cintaku'
Jantung Albert berdetak saat telepon tersambung hingga ia menunggu beberapa detik sambungan di tolak.
" Kenapa dia menolak panggilanku? Apa dia masih sekolah di jam seperti ini?" Albert melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang.
Albert mencoba menelepon Zelin sekali lagi, sampai....
" Halo."
Deg....
Hanya mendengar suara Zelin saja jantung Albert sudah deg deg an.
" Halo Mamas ganteng, ada apa nelepon kalau cuma diam aja, mending gak usah telepon deh, ganggu orang aja, tadi udah di tolak juga malah telepon lagi." Omel Zelin di seberang sana.
" Ha... Halo." Ucap Albert gugup.
" Ha ha ha lo gugup Mas, kenapa telepon gue? Lo berubah pikiran? Lo mau nikah sama gue? Lo nggak bisa kan nemuin cewek receh kaya' gue, gue memang receh tapi bukan recehan ya." Ujar Zelin membuat Albert terkekeh. Zelin selalu bisa membuatnya tersenyum dan melupakan segalanya.
" Enggak, gue cuma pengin mendengar celotehan lo aja." Sahut Albert.
" Cie... Kangen nih ceritanya." Goda Zelin.
" Eh nggak gitu, gue cuma gabut aja nggak ada kerjaan, terus nggak tahu mau ngapain, pada akhirnya gue terlintas buat telepon lo." Ujar Albert.
" Berani benar lo jadiin gue bahan gabutan? Gue nggak mau ya, gue maunya lo jadiin gue pacar, setelah gue lulus nanti kita langsung menikah." Sahut Zelin.
" Pernikahan itu tidak seperti membeli gulali Zelin, yang dengan mudahnya di lakukan begitu saja." Ujar Albert.
" Pernikahan juga bukan perang, yang sulit di lakukan Mamas, asal dua orang saling berkomitmen, setia satu sama lain, mudah di lakukan, yang penting niatnya.... Kalau masalah cinta, seiring berjalannya waktu cinta itu akan hadir di antara kita, gimana?" Ujar Zelin.
" Maaf aku tetap nggak bisa." Sahut Albert menghela nafasnya.
" Gimana sih? Lo yang memberikan ide pernikahan sekarang lo yang nolak gue, udah lah nggak usah telepon telepon gue lagi, gue bisa kok cari pria yang mau nikahin gue, bye." Zelin menutup sambungan teleponnya.
" Eh Zelin... Zelin.. Yah di matikan." Ucap Albert.
" Kenapa ada rasa nggak rela saat Zelin mengatakan ingin mencari pria lain saja, apa aku benar benar menginginkannya? Ya Tuhan tunjukkan jalanmu kepadaku, apa yang harus aku lakukan." Monolog Albert meminta petunjuk.
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC....