
Zelin mengerjapkan matanya, ia merasa heran karena sepertinya dirinya tertidur di kasur. Ia menoleh ke samping dan...
" Pagi." Albert tersenyum menatapnya.
" Mas Al, kau sudah sadar?" Pekik Zelin sontak langsung duduk.
" Iya." Sahut Albert.
" Alhamdulillah.... Aku senang akhirnya kau sudah sadar dari komamu." Ucap Zelin.
" Oh ya siapa yang memindahkan aku ke sini?"Zelin menatap Albert.
" Aku." Sahut Albert.
" Emangnya bisa? Apa nggak lemas tuh badan kamu Mas kalau harus gendong aku ke atas sini? Harusnya biarkan saja aku di kursi! Kamu tidak perlu susah susah membawaku ke kasur, kamunya aja lagi sakit malah gendong gendong aku." Omel Zelin.
Albert tersenyum lebar. Inilah yang Albert rindukan dari Zelin. Sikap cerewet dan berisiknya.
" Tenanglah! Aku baik baik saja!" Ucap Albert.
" Syukurlah kalau kau baik baik saja Mas, aku sudah sangat khawatir dengan keadaanmu." Ujar Zelin.
" Benarkah kau mengkhawatirkan keadaanku?Bukannya kau sudah tidak peduli padaku makanya kau selalu mengabaikan aku selama ini?" Albert menatap Zelin.
" Iya aku minta maaf untuk hal itu, itu semua karena aku kesal sama kamu, dan aku mau membuatmu menyadari seberapa berartinya diriku dalam hidupmu, gitu aja." Sahut Zelin jujur.
Albert menggenggam tangan Zelin. Keduanya saling melempar pandangan.
" Aku sudah menyadarinya sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu, rasanya sepi tanpa ocehanmu, hatiku hampa dalam kesunyian, kau benar benar sangat berarti dalam hidupku, aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Albert mencium punggunga tangan Zelin.
" Ya sudah jangan pikirkan soal itu lagi! Kamu baru sadar, jangan sampai kamu sakit lagi karena memikirkan hal itu! Sekarang istirahatlah! Aku mau mandi dulu!" Ujar Zelin.
" Beri kejelasan dulu terhadap hubungan kita ini!" Ucap Albert.
" Apa keinginanmu mengenai hubungan ini?" Tanya Zelin.
" Aku ingin kita kembali menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, dan aku ingin kita segera menikah." Sahut Albert.
" Baiklah sesuai keinginanmu." Sahut Zelin.
" Benarkah ?" Albert berbinar bahagia.
" Iya." Zelin menganggukkan kepala.
" Terima kasih sayang, aku akan mengurus pernikahan kita dua minggu lagi, gimana?" Tanya Albert
" Aku ikut saja." Sahut Zelin.
" Terima kasih sudah mau memaafkanku dan menerimaku lagi." Ujar Albert.
" Sama sama Mas." Zelin turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi.
" Yes." Girang Albert.
Setelah selesai mandi, Zelin keluar dari kamar mandi. Ia tetap memakai baju yang tadi karena memang ia tidak membawa baju ganti.
" Apa kamu mau mandi mas?" Tanya Zelin.
" Enggak! Besok aja kalau udah pulang." Sahut Albert.
" Aku lap tangan sama kaki kamu aja ya, biar nggak lengket dan risih." Ujar Zelin.
" Baiklah!" Sahut Albert.
__ADS_1
Zelin kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengambil air hangat dan washlap menggunakan ember kecil yang ada di sana.
Setelah itu ia kembali menghampiri Albert mengelap tangan dan kakinya dengan telaten. Albert terus menatap Zelin tanpa berkedip.
" Aku lebih memilih sakit seperti ini." Ucap Albert.
Zelin menatapnya sambil mengerutkan keningnya.
" Jika sakitku bisa mendekatkan aku denganmu, maka aku rela sakit setiap hari." Sambung Albert.
" Sttt! Jangan katakan itu lagi! Aku tidak mau kamu sakit seperti ini, tanpa kamu sakit pun kita sudah dekat, mulai sekarang aku akan selalu di sampingmu, maafkan aku!" Ucap Zelin.
Albert menggenggam tangan Zelin.
" Berjanjilah kepadaku Zelin!" Ucap Albert.
Zelin menatap mata Albert.
" Berjanjilah kau tidak akan marah, dan tidak akan mengabaikan aku seperti kemarin apapun yang terjadi." Sambung Albert.
" Kenapa aku harus berjanji?" Tanya Zelin.
" Karena aku takut jika tanpa sadar aku membuat kesalahan lagi, kau akan marah dan pergi jauh dariku, aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak bisa hidup tanpamu Zelin." Ujar Albert.
" Baiklah, aku berjanji apapun yang terjadi aku tidak akan mengabaikanmu lagi." Sahut Zelin.
" Terima kasih sayang." Ucap Albert.
" Sama sama." Sahut Zelin.
Tok tok
Zelin menutupi kaki Albert dengan selimut.
" Sarapan dan obatnya Tuan!" Ucap suster.
" Terima kasih Sus." Sahut Zelin.
Setelah itu suster kembali keluar.
Selesai mengelap Albert, Zelin mengambil sepiring makanan, ia berniat untuk menyuapi Albert.
" A' Mas!" Zelin menyodorkan sesendok makanan ke mulut Albert.
Albert segera menerima suapan Zelin.
" Kamu juga harus makan." Ucap Albert.
" Aku akan makan setelah ini, oleh karena itu kau harus segera menghabiskan makanannya supaya aku bisa segera makan" Sahut Zelin.
" Baiklah." Sahut Albert.
Albert makan sampai habis, setelah itu ia meminum obatnya.
" Kamu istirahat aja! Aku mau beli makan dulu, aku kembali satu jam lagi." Ucap Zelin.
" Baiklah, makan yang banyak biar bisa jagain aku." Ujar Albert.
Zelin keluar ruangan menuju kantin yang ada di dalam rumah sakit itu.
Jack masuk ke dalam ruangan Albert. Ia menghampiri adik tercintanya di ranjang.
" Bagaimana keadaan hatimu?" Tanya Jack menatap Albert.
__ADS_1
" Sangat bahagia Kak, ide Kakak memang luar biasa, sempurna." Sahut Albert.
" Aku sudah bilang kan padamu, Zelin tidak akan tega melihatmu seperti ini, dia mencintaimu dan dia tidak akan mau kehilanganmu, selamat kau sukses menjalankan peranmu sebagai pasien, kalau nanti ada sutradara yang mencari seorang aktor, aku akan mengajukanmu." Jack menepuk pundak Albert.
" Kakak bisa aja." Sahut Albert.
" Sekali lagi selamat ya akhirnya kau akan mendapatkan Zelin kembali, kau akan menikah dengannya sebentar lagi." Jack memeluk Albert.
" Terima kasih Kak."
Albert membalas pelukannya, sampai tak sengaja matanya tertuju ke depan pintu.
Deg....
Jantung Albert terasa berhenti berdetak. Ia melepas pelukannya sambil terus menatap ke arah Zelin yang berdiri di sana.
Jack menoleh ke belakang, tubuhnya kaku lidahnya pun terasa kelu.
" Ze... Zelin." Ucap Jack.
Jack menatap Albert yang saat ini sedang menatapnya.
Ya... Zelin kembali ke ruangan Albert untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, namun ia mendapatkan sebuah kejutan yang sangat luar biasa. Ia kecewa karena merasa di permainkan oleh kedua kakak beradik itu.
Bagaimana bisa mereka bermain main dengan kematian?
Prok prok prok...
Zelin bertepuk tangan menghampiri mereka.
" Wah Kak Jack, Mas Albert! Kalian benar benar seorang aktor yang hebat, kalian berhasil mempermainkan aku, dan bodohnya aku tertipu dengan rencana kalian berdua." Ucap Zelin.
" Sayang dengarkan dulu penjelasanku!" Albert mencabut selang infus di tangannya lalu ia turun dari ranjang mendekati Zelin.
" Dengarkan aku!" Albert menggenggam tangan Zelin.
" Aku terpaksa menggunakan rencana ini karena aku sudah putus asa dengan usahaku mendapatkan maaf darimu, aku tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apalagi, di saat aku kebingungan Kak Jack memberikan solusi dengan ide ini, dia bilang jika dengan ide ini aku juga tidak berhasil maka aku.. Maka aku..." Albert menjeda ucapannya.
" Maka apa?" Zelin menatap Albert.
" Maka aku akan melepaskanmu, walaupun hati ini tidak rela dan tidak mengikhlaskannya tapi aku harus mencoba ikhlas melepaskanmu." Sahut Albert.
" Kau sudah berjanji padaku kalau kau tidak akan marah dan mengabaikan aku lagi kan? Maka saat ini aku akan menagih janjimu, kau boleh marah padaku, kau boleh memukulku, kau boleh menamparku tapi kau tidak boleh mengabaikan aku, itu janjimu padaku." Ujar Albert.
" Apa kau yakin akan menerima tamparan dariku?" Tanya Zelin.
" Iya, tampar lah aku jika itu bisa membuatmu lega." Ucap Albert.
" Baiklah aku akan menamparmu sekuat mungkin, supaya kau kapok dan tidak akan mengulangi perbuatanmu lagi." Sahut Zelin.
Zelin mengangkat tangannya, Albert memejamkan matanya bersiap menerima tamparan keras dari Zelin.
Nyesss.....
Hayo apa tuh mak Nyessss....
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹 donk buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1