
Nyesss....
Bibir Zelin menempel sempurna di pipi Albert. Albert membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Zelin kepadanya. Zelin segera menjauh dari Albert, ia jadi salah tingkah setelah menyadari apa yang ia lakukan pada Albert.
Albert tersenyum menyentuh pipinya, ia menatap Zelin dengan berbinar.
" Sayang kamu.... " Albert menjeda ucapannya. Ia benar benar merasa sangat senang.
" Maaf aku tidak sengaja." Ucap Zelin.
Jack dan Albert terkekeh mendengar ucapan Zelin.
" Kenapa kalian malah tertawa? Beneran aku tidak sengaja, lebih tepatnya tidak sadar melakukannya." Ucap Zelin.
" Iya kami percaya." Sahut Jack dan Albert bersamaan.
" Ya udah aku mau cari makan dulu! Aku langsung pulang Mas karena kamu udah nggak sakit lagi."
" Eh jangan donk sayang! Kamu pulang sama aku aja! Ayo." Albert menggandeng tangan Zelin.
Jack menggelengkan kepalanya melihat sikap bucin adiknya.
" Kak Jack ayo!" Ucap Zelin.
Jack mengikuti mereka di belakang.
" Mau cari makan dimana?" Tanya Albert.
" Terserah kamu aja!" Sahut Zelin.
" Makan di mana Kak?" Tanya Albert menatap Jack.
" Di resto biasa kita makan aja." Sahut Jack.
" Ok." Sahut Albert.
Sampai di parkiran, Albert mengendarai mobil Zelin sedangkan Jack mengendarai mobilnya sendiri.
Mereka menuju restoran xx yang tak jauh dari sana. Sesampainya di sana mereka memesan makanan. Steak barbeque dan ayam lada hitam beserta nasi putih.
Setelah pesanan datang mereka mulai memakan sesuai pesanan masing masing.
Saat Albert hendak menyiapkan steak ke mulutnya, tatapannya tertuju pada gadis yang sedang berjalan keluar dengan sempoyongan.
Albert refleks beranjak menghampiri gadis itu membuat Zelin melihat pemandangan yang sedikit membuatnya kesal.
" Hati hati Dara!" Albert menopang tubuh Dara yang hendak terhuyung ke belakang.
" Kak Albert, terima kasih." Ucap Dara.
__ADS_1
" Duduk sini dulu!" Dara duduk di meja depannya.
" Kamu kenapa jalannya mirip orang mabuk begitu?" Albert menatap Dara.
" Kepalaku tiba tiba pusing Kak, mungkin karena aku kurang tidur jadi seperti ini." Sahut Dara memijat pelipisnya.
" Kamu sendirian?" Tanya Albert.
" Iya, Mas Naren sedang meeting jadi nggak bisa ngantar aku." Sahut Dara.
" Kalau Kakak ke sini sama siapa?" Dara balik bertanya.
Albert menepuk jidatnya, ia lupa kalau di sini ada Zelin. Albert menatap ke arah Zelin yang saat ini sedang menatapnya juga.
" Ayo aku kenalin sama seeeorang." Ucap Albert kembali ke mejanya di ikuti Dara.
" Dara, kenalin! Ini Zelin, pacar aku." Ucap Albert.
Zelin menatap Dara begitupun sebaliknya. Keduanya melemparkan senyuman.
" Hai, aku Dara." Dara mengulurkan tangannya.
" Zelin." Sahut Zelin membalas uluran tangan Dara.
" Duduk Dara! Nanti kamu capek kalau berdiri terus." Ucap Albert memberikan Dara perhatian.
" Bagaimana kabarmu Dara? Apa kau masih ingat sama aku?" Tanya Jack.
" Masih, Kak Jack kan? Aku baik Kak, kalau Kakak sendiri gimana?" Tanya Dara.
" Yah seperti yang kamu lihat, aku juga baik baik saja." Sahut Jack.
" Kalau aku lihat lihat sepertinya kau sedang hamil ya?" Tanya Albert.
" Alhamdulillah iya Kak, aku hamil tiga bulan." Sahut Dara.
" Selamat kalau gitu Ra, semoga kamu dan babbynya sehat, maafkan atas semua kesalahanku di masa lalu!" Ucap Albert.
" Semua sudah berlalu Kak, tidak perlu di pikirkan, pikirkan masa depan saja." Sahut Dara tersenyum manis.
" Iya kau benar, dan masa depanku ada bersama Zelin." Albert merangkul Zelin.
Zelin nampak acuh, ia lebih memilih sibuk sendiri dengan makanannya.
" Oh ya Dara, daripada kamu kenapa napa di jalan, aku akan mengantarmu sampai ke rumah." Ucap Albert.
" Iya kan Zelin? Sebelum kita pulang, kita mengantar Dara terlebih dahulu gimana?" Albert menatap Zelin.
" Maaf Mas aku nggak bisa! Aku harus segera pulang karena sudah dua hari aku tidak pulang! Papa pasti sudah menungguku" Zelin meminum jusnya.
__ADS_1
Albert menghela nafasnya pelan.
" Tidak pa pa kok Kak, aku bisa pulang sendiri naik taksi." Sahut Dara.
Ya walaupun sekarang Dara sudah bisa mengendarai mobil, tapi semenjak hamil Naren melarangnya membawa mobil sendiri. Naren tidak mau terjadi apa apa dengan Dara dan calon anaknya.
" Mas Al akan mengantarmu Kak Dara, tapi maaf aku harus pergi dulu." Zelin beranjak dari kursinya hendak melangkah namun Albert mencekal tangannya.
" Aku akan mengantarmu! Kak Jack yang akan mengantar Dara." Ucap Albert beranjak.
" Iya, kalian pulang saja dulu! Aku akan mengantar Dara dengan selamat sampai rumah." Sahut Jack.
" Tidak perlu Kak, itu akan sangat merepotkan." Ujar Dara.
" Tidak apa!" Sahut Jack.
Zelin berjalan menuju mobilnya di ikuti Albert dari belakang. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Jack segera melajukan mobilnya menuju rumah Zelin.
Hening...
Zelin terlalu malas untuk berbicara pada Albert. Ia tidak suka Albert memberikan perhatian kepada wanita lain apalagi di depannya.
" Sayang kamu marah?" Albert menoleh sekilas ke arah Zelin.
Zelin tidak bergeming.
" Maafkan aku jika aku melukai hatimu! Aku hanya khawatir saja pada Dara, dia pusing di tempat yang jauh dari rumahnya, kalau kenapa napa gimana? Bagaimanapun kan dia juga saudaraku." Ucap Albert.
" Kau pasti sudah bisa menebak siapa Dara... Ya... Dara adalah wanita yang dulu aku sukai, dia istri dari kakak sepupuku sendiri, awalnya dia berpacaran denganku aku mengira kami saling mencintai, tapi ternyata dia mendekatiku hanya untuk menjalankan misinya menyelamatkan kakakku dan ibunya, lalu setelah misinya berhasil, dia meninggalkan aku dan menikah dengan kakak sepupuku, aku merasa duniaku hancur, hidupku tidak berarti lagi, aku tidak punya semangat hidup karena kehilangannya, sampai aku berbuat nekat dan di hajar habis habissan oleh kakakku." Terang Albert.
" Tapi aku merasa bersyukur akan hal itu, karena hal itulah aku bisa bertemu denganmu, gadis yang mampu membuatku berpaling darinya, gadis yang membuatku mengerti akan cinta yang sebenarnya, aku sangat berterima kasih padamu, karena kamu hidupku kini menjadi lebih berarti, hidupku menjadi lebih berwarna, dan kini aku mempunyai semangat untuk hidup lebih lama lagi." Ucap Albert.
Albert menggenggam tangan kanan Zelin dengan tangan kirinya.
" Percayalah Zelin! Saat ini hanya dirimu yang ada di dalam hatiku, tidak ad awanita lain baik itu Dara maupun yang lainnya." Albert mencium tangan Zelin.
" Aku percaya semua ucapanmu, tapi perlu kau tahu kalau aku tidak suka kamu memberikan perhatian kepada wanita lain, siapapun itu! Apalagi di depan mataku." Tekan Zelin.
" Baiklah aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Sahut Albert.
Zelin tersenyum ke arah Albert begituoun sebaliknya. Zelin mencoba untuk bersikap lebih dewasa. Apalagi ia akan menikah sebentar lagi, pasti akan ada banyak halangan dan rintangan dalam pernikahan mereka. Ia harus bersikap realistis dan memahami dari sudut pandang manapun.
Yuk ramein like, komentar, vote dan 🌹buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1