
Dua bulan berlalu, kondisi Naren semakin membaik namun ia tetap berpura-pura seperti orang tidak waras di depan Albert dan mamanya.
Albert mulai mendekati Dara dan selalu mengajak Dara jalan, dengan senang hati Dara menerima. Semuanya ia lakukan demi melancarkan misinya tentunya.
Seperti malam ini, Albert mengajak Dara berjalan jalan di taman kota.
" Dara."
" Ya Tuan." Sahut Dara.
Albert memejamkan mata menahan emosinya.
" Aku sudah bilang padamu, jangan memanggilku Tuan lagi! Kita sudah dekat selama dua bulan ini tapi kau masih saja menganggapku sebagai majikanmu." Keluh Albert.
" Ya aku tidak terbiasa, lagian memang kamu majikan aku kan? Mau aku panggil Albert kamu lebih tua dariku, terus aku panggil apa?" Dara menatap Albert.
" Panggil aku Kak saja, aku berasa jalan sama pembantu kalau kamu terus memanggilku Tuan." Ujar Albert.
" Baiklah Kak Albert." Sahut Dara mengalah.
Albert menggenggam tangan Dara. Keduanya saling melempar pandangan.
" Risih banget sebenarnya di pegang pegang gini, tapi tidak pa pa, demi keberhasilan misiku, aku harus melakukannya." Batin Dara menghela nafasnya.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ujar Albert.
" Ya katakan saja!" Sahut Dara.
" Sejak pertama aku melihatmu, aku langsung jatuh hati padamu....
" Asyik.... Masuklah ke perangkap ku Albert." Dara bersorak di dalam hatinya.
" Aku mengijinkanmu merawat Kak Naren karena aku ingin dekat denganmu...
" Bodo' amat! Aku tidak peduli apa alasannu, yang jelas aku berterima kasih padamu karena kau memudahkan jalanku untuk mengungkap kebenaran." Gumam Dara .
" Benarkah?" Dara pura pura terkejut.
" Setelah kau masuk ke dalam rumahku, kau semakin membuat hatiku berniat untuk menjadikanmu pendamping hidupku....
" Oh no way kalau itu." Jawab Dara dalam hati.
" Dara, hari ini aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu, aku mencintaimu Dara." Ungkap Albert menatap Dara.
" Aku tidak, Albert." Lagi lagi Dara menjawabnya hanya dalam hati.
" Maukah kau menikah denganku?" Tanya Albert mengecup punggung tangan Dara.
" Haduh gawat! Aku harus jawab apa ya? Kalau aku tolak pasti akan menjadi ancaman buatku, kalau aku keluar dari rumah itu sebelum misiku berhasil, akan sia-sia perjuanganku selama ini, berpikirlah Dara! " Ujar Dara dalam hati.
" Dara, maukah kau menikah denganku?" Albert kembali bertanya.
" Maaf Kak Albert, aku masih sangat muda, usiaku baru delapan belas tahun lebih beberapa bulan, bukankah itu bukan umur yang ideal untuk seorang gadis menikah? Lagian anjuran dari pemerintah seorang gadis menikah setelah berumur dua puluh dua tahun kan? Jadi maaf aku tidak bisa." Ucap Dara merasa senang bisa menolak Albert tanpa membuat Albert tersinggung.
" Kita bisa menikah siri dulu."
Duar....
Seperti bom yang meledak di depan Dara, tubuh Dara terasa kaku.
__ADS_1
" Eh.. Tetap tidak bisa, walaupun menikah siri tetap harus ada walinya kan? Ayahku tidak mengijinkan aku menikah sebelum usiaku dewasa." Sahut Dara.
" Aman.... Semoga dia menyerah." Dara mengelus dadanya.
" Ya udah kalau begitu kita pacaran aja."
" Astaga.... Apalagi ini? Pacaran? Bagaimana aku bisa menolaknya kalau seperti ini? Dia begitu kukuh untuk menjadikanku sebagai miliknya, dia terlalu memojokkanku." Dara ingin sekali menendang lelaki yang ada di depannya ini.
" Aku akan menunggu empat tahun lagi untuk menikahimu, umurku juga masih dua puluh tiga, jadi saat kita menikah nanti, umurku sudah lebih dewasa, dan aku tidak mau menerima penolakan apapun darimu." Tekan Albert.
" Jadi mulai sekarang kita pacaran, kau setuju?" Albert menatap Dara.
Dengan terpaksa Dara menganggukkan kepalanya.
Albert langsung menarik Dara ke dalam pelukannya.
Tanpa mereka sadari Naren melihat semuanya. Ia mengepalkan erat tangannya. Ia sengaja mengikuti mereka berdua untuk menjaga Dara, namun justru sakit hatilah yang ia dapatkan.
Sepulang dari taman, Dara masuk ke dalam kamar Naren. Ia ingin memastikan kalau Naren meminum obatnya.
Dara menatap Naren yang meringkuk di atas ranjang, bergelung dengan selimut.
" Mas apa kau sudah tidur?" Dara mengguncang pelan tubuh Naren.
Naren tidak bergeming.
" Mas Naren, apa kau sudah meminum obatmu sebelum tidur?" Dara bertanya lagi.
Dara menghela nafasnya, padahal ia tahu kalau Naren tidak tidur. Tapi apa yang membuat Naren ingin menghindarinya?
" Aku tahu kamu belum tidur Mas, yang aku tidak tahu kenapa kau ingin menghindariku? Apa aku melakukan kesalahan padamu?" Tanya Dara.
Naren membuka selimutnya. Ia duduk bersandar pada headboard.
Dera mengerutkan keningnya menatap Naren.
" Kamu bilang tidak akan meninggalkan aku, tapi kenyataannya kau berpacaran sama Albert." Ucap Naren.
" Kamu tahu?" Tanya Dara yang di balas anggukan kepala oleh Naren.
Dara tersenyum menatapnya.
" Aku terpaksa melakukannya Mas, apa kau ingin tahu apa alasannya?" Naren menganggukkan kepalanya lagi.
" Aku ingin kau mengingat sesuatu." Ucap Dara.
" Apa itu?" Naren menatap Dara.
" Apa kau masih punya ibu?" Tanya Dara pelan.
" Ibu? Maksudmu Mama?" Naren mengerutkan keningnya.
" Iya, apa kau masih punya seorang mama?" Selidik Dara.
Naren sedikit berpikir, sekelebat bayangan seorang wanita yang sangat mencintainya terlintas di kepalanya.
" Mama... Ya... Aku masih punya mama." Pekik Naren.
" Sttt.. Jangan keras keras!" Dara membungkam mulut Naren.
__ADS_1
" Aku masih punya mama, Dara, aku merindukan mamaku, aku ingin bertemu dengannya, tapi dimana mamaku sekarang?" Naren menatap Dara.
" Itulah sebabnya aku mendekati Albert, Mas." Dara menangkup wajah Naren.
" Jika aku bisa menggenggam Albert, maka aku akan dengan mudah mendapatkan informasi dimana mereka menyekap mamamu." Ujar Dara.
" Apa kau tidak akan menyukai Albert?" Tanya Naren memastikan.
" Aku tidak menyukai Albert, aku pura pura mau menjadi pacarnya supaya aku bisa dengan mudah membantumu menemukan mamamu, kamu percaya kan padaku?" Tanya Dara menatap Naren.
" Tapi bagaimana jika Albert berbuat sesuatu kepadamu? Aku takut kehilanganmu." Ucap Naren mengelus pipi Dara.
" Aku tidak akan meninggalkanmu Mas, aku akan berjuang untuk menemukan mama kamu, kamu harus do'ain aku ya." Ujar Dara.
" Aku akan membantumu Dara." Ujar Naren.
" Tidak! Kalau kau membantuku, mereka akan curiga kalau kau sudah mulai pulih, kau punya pengacara yang bisa di percaya? Kau bisa membantunya lewat itu." Ujar Dara.
" Aku lupa, tapi kamu bisa bertanya sama bi Minah, tanya saja dimana pengacara mama." Ujar Naren.
" Baiklah, sekarang kamu istirahat saja!" Sahut Dara.
" Apa kau sudah meminum obatmu?" Tanya Dara.
" Belum, aku tidak mau minum kalau bukan kamu yang memberikannya, aku takut mereka akan memberikanku obat sialan seperti waktu itu." Ujar Naren.
Dara tersenyum menatap Naren.
" Dara apa kau tahu?" Dara mengerutkan keningnya."
" Senyumanmu mengalihkan duniaku." Goda Naren membuat Dara salah tingkah.
" Kalau begitu aku tidak mau tersenyum lagi." Ucap Dara.
" Kenapa?" Tanya Naren.
" Karena aku tidak mau kau pergi ke dunia lain, kau bilang senyumku mengalihkan duniamu kan? Berarti kalau aku senyum, kau akan langsung pindah ke dunia lain ha ha ha." Canda Dara.
" Kau membuatku takut saja." Ujar Naren.
" Ya sudah, ini sudah malam sekarang minum obatnya lalu tidur." Dara memberikan obat kepada Naren.
Naren langsung meminumnya. Setelah itu Dara keluar dari kamar Naren.
Tiba tiba ada yang menarik tangan Dara, Dara menatap hendak berteriak namun Albert membungkam mulutnya.
" Dara kenapa kau melakukan ini padaku?" Dara membulatkan matanya. Albert menjauhkan tangannya dari mulut Dara.
" Apa maksudmu Kak?" Tanya Dara.
" Aku tahu apa yang telah kau rencanakan...
Nah loh....,
Penasaran nggak nih?
Tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat author....
Terima kasih untuk readers yang sudah memberikan suportnya untuk author, semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....