
Tok tok tok
" Sayang buka pintunya! Kamu ngapain aja di dalam sana? Udah setengah jam lebih kamu di sana lhoh." Ucap Naren sambil mengetuk pintunya.
Ceklek....
Dara membuka pintunya.
" Kenapa lama sekali sayang? Aku sudah menunggumu sedari tadi." Ucap Naren menatap Dara.
" A... Aku takut kamu meminta itu padaku." Ucapan Dara membuat Naren melongo.
" Kenapa takut sayang, itu alami terjadi pada pasangan suami istri." Ujar Naren.
" Iya tapi aku takut melakukannya, aku masih kecil, lagian milikmu pasti besar, nggak bakal muat masuk ke punyaku." Ujar Dara.
" Makanya kita coba, kalau tidak kita coba kan nggak akan pernah tahu." Ucap Naren menuntun Dara menuju ranjang.
Naren mendorong pelan tubuh Dara. Ia menatap wajah cantik istri kecilnya ini. Naren memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Naren mengecup bibir Dara dengan lembut. Ia menggigit pelan bibir Dara hingga Dara membuka sedikit mulutnya. Naren mengekspos setiap inchi nya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Naren melu**t lembut bibir Dara.
Dara terbuai dengan ciuman Naren. Rasa takut dalam hatinya tiba tiba sirna. Tangan Naren berkelana menjelajahi tubuh Dara. Ia meremas dua gundukan sinyal membuat sangat empu mengerang merasakan sensasi panas dingin yang baru ia rasakan untuk pertama kalinya.
Entah siapa yang memulai kini keduanya sama sama polos. Saat Naren hendak memasukkan senjatanya ke mulut goa, tiba tiba Dara menahannya.
" Mas jangan sekarang ya! Aku takut, ini pasti rasanya akan sangat sakit." Ucap Dara.
Naren menatap Dara dengan tatapan kesalnya. Bagaimana Dara menghentikannya di saat miliknya sedang on fire.
" Sayang aku akan melakukannya dengan pelan, aku akan memberikanmu kelembutan sehingga kau tidak akan merasakan sakit hmm." Bujuk Naren.
" Benar ya." Ucap Dara.
" Iya sayang, aku mulai ya." Ucap Naren.
Bak angin segar, Dara menganggukkan kepalanya.
Karena saking semangatnya, Naren sedikit kasar memasukkan senjatanya ke dalam mulut goa sehingga membuat Dara memekik kesakitan.
" Awh sakit Mas." Air mata menetea begitu saja di sudut pipi Dara.
__ADS_1
" Sayang maafkan aku, aku ulangi ya! Kali ini pasti aku melakukannya dengan lembut." Ucap Naren.
" Nggak mau, rasanya sangat perih." Ucap Dara turun dari ranjang lalu memakai kembali pakaiannya.
Naren melongo menatap Dara yang meninggalkannya dalam permainan begitu saja.
" Sayang terus aku bagaimana?" Tanya Naren memelas.
" Aku nggak mau tahu, aku mau tidur aja, kamu udah bohongin aku katanya nggak sakit nyatanya sakit gini." Dara masuk ke dalam selimut tanpa mempedulikan nasib Naren.
Naren menghela nafasnya kesal. Ia segera memunguti bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
" Hah nasib nasib menikahi anak kecil, lihat barang segini aja udah takut, gimana kalau hamil nanti? Hah." Monolog Naren.
Setelah selesai dengan urusannya, Naren kembali ke kamarnya. Ia menatap Dara yang sudah terlelap dengan nyenyak nya tanpa rasa bersalah. Ia naik ke atas ranjang lalu tidur membelakangi Dara.
Dara membuka matanya saat sonar matahari masuk ke dalam kamarnya.
" Eh sudah siang, dimana Mas Naren ya? Apa dia sudah pergi ke kantor? Tapi kan dia masih cuti hari ini." Ucap Dara.
Dara turun dari ranjang, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi Dara turun ke bawah dimana ibu mertuanya sedang santai di ruang keluarga sambil membaca majalah.
" Ma, Mas Naren kemana ya?" Tanya Dara menghampiri mertuanya.
" Naren sudah berangkat ke kantor, kamu sarapan dulu gih." Sahut nyonya Arkana.
" Tidak apa Mama memaklumi nya, kata Naren kamu kecapekan karena semalam lembur." Canda nyonya Arkana.
" Mas Naren bilang begitu?" Tanya Dara.
" Iya, bahkan katanya Naren berhasil mencetak gol lima kali, wah hebat ya dia." Ujar nyonya Arkana.
Glek... Lima kali? Bahkan satu kali saja gagal, pikir Dara.
" Ma kalau seandainya kita menolak berhubungan gimana Ma?" Tanya Dara hati hati.
" Kenapa harus menolaknya? Itu sudah kewajiban kita sebagai seorang istri sayang, kita akan dosa jika menolaknya dan kita akan mendapatkan pahala jika memberikannya, jangan sampai suami kita selingkuh hanya karena tidak mendapatkan kepuasan dari kita, kamu paham kan maksud Mama sayang?" Nyonya Arkana menatap Dara.
" Iya Ma aku paham, aku mau sarapan terus mau ke kantor Mas Naren Ma, aku mau memberikan semangat buat Mas Naren." Ucap Dara.
" Iya sayang, sepertinya tadi Naren terlihat lesu saat berangkat ke kantor, mungkin dia tidak bersemangat karena tidak melihat senyumanmu." Ujar nyonya Arkana.
Setelah selesai sarapan, Dara menaiki taksi menuju kantor Naren. Ia ingin meminta maaf soal penolakannya semalam sekaligus ia ingin memberikan semangat kepada suaminya. Ia berdandan cantik supaya Naren senang melihatnya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Dara segera masuk ke dalam lalu menuju ke ruangan Naren. Ia menunggu di depan lift, karena sepertinya lift sedang di gunakan oleh seseorang dari lantai atas.
Tit....
Pintu lift terbuka dan betapa terkejutnya Dara saat melihat Naren sedang berciuman dengan seorang wanita di dalam sana. Bahkan Dara membulatkan matanya.
" Ehm ehm." Deheman Dara membuat dia insan di dalam sana tersadar lalu menoleh ke arahnya.
" Sa... Sayang." Ucap Naren.
Naren menatap sekrerarisnya yang baru saja ia cium.
" Pergilah!" Ucap Naren.
Sekretaris itu pergi meninggalkan Naren. Dara menatapnya dengan tatapan tidak suka. Bagaimana bisa seorang wanita memakai pakaian ketat dan terbuka. Bagaimana tidak mengundang syahwat laki laki kalau begitu.
" Sayang aku bisa jelasin semuanya." Ucap Naren mendekati Dara.
Dara menatap Naren dengan sendu. Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya.
" Sayang ku mohon jangan menangis! A... Aku." Naren hendak mengusap air mata Dara namun Dara segera menepis tangannya.
" Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu! Beruntung semalam aku tidak terbuai dengan belaian menjijikanmu itu, aku tidak menyangka ternyata kau seorang casanova,aku kecewa sama kamu." Ucap Dara meninggalkan Naren.
Naren segera mengejarnya.
" Sayang tunggu aku! Maafkan aku sayang! Aku khilaf." Ucap Naren terus mengejar Dara.
Dara berlari menuju taksi yang sedang berhenti di pinggir jalan, entah sedang menunggu siapa ia tidak peduli. Ia langsung masuk ke sana dan minta sang supir menjalankan taksinya.
" Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal itu di belakangmu Mas." Gumam Dara.
Dara jadi ingat ucapan Albert tempo hari.
" Seandainya kamu tahu bagaimana sifat kak Naren sebenarnya, kau pasti tidak akan mau mendekatinya."
" Lalu sebenarnya seperti apa Mas Naren itu? Apakah aku telah salah menilainya selama ini? Ya Tuhan semoga aku tidak salah dalam memilih seorang suami." Batin Dara.
Yang kesal sama Naren siapa nih? Yuk jitak bareng bareng ha ha ha...
Jangan lupa untuk tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...