
Setelah pulang dari villa, Albert mengajak Dara berkeliling ke sekitar rumahnya. Kesempatan itu di gunakan Dara untuk mencari tahu dimana ruangan bawah tanah itu, namun Albert belum juga memberitahunya.
" Aku sudah membawamu berkeliling,jadi kau sudah memaafkan aku kan." Ucap Albert.
" Aku nggak nyangka kalau rumah kamu seluas ini Kak, ini mah bagaikan satu rt di desaku di jadiin satu." Ujar Dara.
" Kamu bisa aja." Albert mengacak rambut Dara
" Kamu memaafkanku?" Tanya Albert.
" Iya." Sahut Dara.
" Terima kasih." Sahut Albert.
" Kak, kalau menurut film yang aku tonton, biasanya orang orang kaya punya ruang bawah tanah, kalau di sini ada tidak?" Dara menatap Albert.
" Kenapa kamu menanyakan ruangan itu?" Selidik Albert.
" Enggak hanya tanya saja." Sahut Dara.
" Ada, tapi aku tidak bisa memberitahumu dimana, karena Mama melarang ku untuk tidak memberitahu kepada siapapun tentang ruangan itu, ku harap kau mengerti." Ujar Albert.
" Iya aku mengerti." Sahut Dara kecewa. Ia berpikir semuanya akan mudah, ternyata masih ada rintangannya.
" Ya sudah aku sudah membawamu berkeliling mengitari luasnya rumah ini, sekarang aku mau berangkat ke kantor, ada rapat dengan para dewan direksi, hari ini pengajuan kandidat CEO yang akan memimpin perusahaan NK Group, doakan supaya aku bisa terpilih menjadi CEO tetap perusahaan itu." Ujar Albert.
" Memangnya perusahaan itu bukan milik kamu Kak? Lalu siapa yang menjadi kandidat satunya?" Tanya Dara.
" Kak Naren, tapi karena kondisi Kak Naren seperti itu maka aku yang menggantikannya, dan semoga aku bisa menggantikannya untuk selamanya, siapa yang usahaku selama ini tidak sia sia." Ucap Albert.
" Tidak akan aku biarkan itu semua terjadi." Batin Dara.
" Aku pergi dulu sayang."
Cup...
Lagi lagi Albert mencium kening Dara, Dara mencekal tangan Albert menghentikan langkahnya.
" Kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku tanpa seizinku, kenapa kau lakukan lagi?" Tekan Dara menatap Albert.
" Astaga sayang, maaf aku lupa, maafin aku ya." Ucap Albert.
" Kali ini aku maafkan, tapi tidak lain kali." Dara berjalan mendahului Albert.
" Aku tidak bisa mengendalikan diriku bila di dekatmu sayang." Gumam Albert.
__ADS_1
Dara masuk ke dalam kamar Naren. Ia menghampiri Naren yang sedang duduk termenung tanpa sadar kehadirannya.
" Mas."
Naren mendongak, ia langsung menubruk tubuh Dara.
" Dara kau tidak pa pa?" Naren memutar tubuh Dara barang kali ada yang luka.
" Tenang Mas! Aku baik baik saja kok." Ucap Dara menangkup wajah Naren.
Naren menangkup wajah Dara lalu ia mencium bibir Dara dengan lembut. Dara membuka sedikit mulutnya membuat Naren mengekspos setiap inchi nya.
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Naren melepas pagutannya setelah pasokan oksigen keduanya habis.
" Aku menghapus jejak Albert di bibirmu." Naren mengusap lembut bibir Dara dengan jempolnya.
Dara tersenyum kepadanya.
" Aku serasa jadi istri yang di peduliin suami Mas, apa besok kalau aku sudah menikah, suamiku akan memperlakukan aku seperti ini ya." Ujar Dara.
" Kalau aku yang menjadi suamimu maka aku akan melakukannya setiap hari, aku akan memberikanmu perhatian penuh sepanjang hidupku." Sahut Naren.
" Semoga saja kamu yang akan menjadi suamiku Mas." Dara tersenyum manis ke arah Naren.
" Kita berdoa saja, karena jodoh tidak ada yang tahu." Sahut Naren.
Jam sebelas malam Dara pergi ke dapur untuk mengambil minum. Sekelebat ia melihat siluet nyonya Melinda menuju taman belakang.
" Kemana nyonya Melinda malam malam begini?" Dara mengerutkan keningnya.
" Aku harus mengikutinya, siapa tahu dia mau ke ruang bawah tanah." Ujar Dara.
Dengan mengendap endap, Dara mengikuti langkah nyonya Melinda dari jauh. Nampak nyonya Melinda masuk ke gudang. Dengan perlahan Dara ikut masuk ke dalam.
Dara memperhatikan apa yang nyonya Melinda lakukan. Ia nampak mendekati sebuah pintu yang berbentuk seperti almari, lalu ia membukanya dan masuk ke dalam sana.
" Aku yakin kalau itu pasti pintu masuk ke ruang bawah tanah, aku harus masuk ke sana untuk memastikan." Batin Dara.
Nyonya Melinda menuruni anak tangga setelah menyalakan lampunya, ia mendekati seorang wanita paruh baya yang terpasung di lantai yang lembab dan pengap ini.
" Hai Kak Arkana, bagaimana kabarmu hari ini? Sudah tiga hari aku tidak menjengukmu." Nyonya Melinda duduk di kursi yang ada di sana. Sepertinya kursi itu di khususkan untuknya.
Nyonya Arkan mendongak menatap adik iparnya.
" Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin bebas kakak ipar?" Tanya nyonya Melinda.
__ADS_1
" Aku mohon bebaskan aku!" Lirih nyonya Arkana.
" Aku akan membebaskanmu setelah putramu yang gila itu menandatangani surat pengalihan harta dan kekuasaan untuk putraku, selama dia tidak mau menandatanganinya maka selama itu kau akan terkurung di sini, tidak akan ada orang yang akan menolongmu di sini karena tidak ada yang tahu jika kamu masih hidup, termasuk putramu sendiri." Ujar nyonya Melinda.
Nyonya Melinda tidak tahu, jika bi Minah tahu kalau nyonya Arkana masih hidup.
" Apa maksudmu Meli?" Tanya nyonya Arkana.
" Aku memberitahu kepada Naren kalau kau telah tiada Kak, dan dengan bodohnya putramu itu mempercayai ku ha ha ha... Jika aku membebaskanmu sekarang pasti kau akan mempengaruhi putramu untuk tidak menandatangi surat itu." Ujar nyonya Melinda.
" Lebih baik aku kehilangan nyawaku daripada kehilangan hak putraku, semua harta itu milik Naren dan istrinya suatu hari nanti, kau akan mendapatkan karma atas apa yang telah kau lakukan kepadaku dan kepada suamiku, kau membunuh kakakmu sendiri hanya demi harta Meli." Teriak nyonya Arkana.
Plak.....
Nyonya Melinda melayangkan tamparan keras ke pipi kakak iparnya.
" Sepertinya memang aku harus membunuhmu dan putra gilamu itu." Bentak nyonya Melinda.
" Tidak ada gunanya kau dan putramu itu hidup di dunia ini, aku akan membuat putramu menandatangani surat pengalihan hartanya sekarang juga, setelah itu aku akan melenyapkanmu dan putramu itu, selamat bertemu dengan kakak tersayang ku di surga nanti." Nyonya Melinda tersenyum sinis.
" Kau boleh menyakitiku tapi tidak dengan putraku." Teriak nyonya Arkana.
" Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku menyakiti putramu hah? Kau saja tidak bisa menolong dirimu sendiri." Sinis nyonya Melinda.
" Aku selalu berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menurunkan malaikat untuk membantu putraku terlepas dari wanita iblis sepertimu, dan aku yakin cepat ataupun lambat Tuhan akan mengabulkan doaku." Ucap nyonya Arkana.
" Siapa yang mau membantu pria tidak waras seperti putramu? Hanya ada satu wanita yaitu Dara... Dia kekasih putraku tapi dia berhati baik hingga dia mau merawat putramu yang gila itu, tapi aku yakinkan padamu jika dia tidak akan bisa membantu putramu karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya gadis desa yang lugu yang telah membuat putraku jatuh cinta kepadanya, dia calon menantuku." Ujar nyonya Melinda menatap kakak iparnya.
" Dara." Gumam nyonya Arkana.
" Bermimpilah setinggi langit untuk menyelamatkan putramu ataupun dirimu sendiri, dan sedikit bersabarlah karena ajal akan segera menghampirimu." Nyonya Melinda pergi meninggalkan nyonya Arkana.
Melihat itu, Dara segera bersembunyi di balik tangga dengan jantung yang deg deg an.
" Ya Tuhan semoga nyonya Melinda tidak melihatku di sini." Gumam Dara.
Tiba tiba nyonya Melinda menghentikan langkahnya dan.....
Ketahuan nggak ya?
Jangan lupa untuk tetap like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu..
Miss U All....
__ADS_1
TBC....