
Jleb.....
Brugh.....
" Mama..... " Teriak Dara dan Naren mendekati tubuh nyonya Arkana yang terkapar bersimpah darah.
Naren menatap tajam ke arah nyonya Melinda. Ia mendekati nyonya Melinda lalu mencekiknya.
" Seharusnya aku membunuhmu dan putramu." Bentak Naren menekan tangannya pada leher nyonya Melinda.
Dara segera menelepon polisi.
" Le... Lepaskan aku!" Ucap nyonya Melinda.
" Kau tidak tahu sisi burukku Tante, aku akan menunjukkannya padamu bagaimana aku bisa melakukan apapun demi keluargaku." Naren mendorong tubuh nyonya Melinda hingga menabrak meja kaca.
Pyar....
"Awh." Pekik nyonya Melinda saat tangannya terkena pecahan kaca. Darah segar mengalir di sana.
" Aku akan melenyapkanmu sekarang juga." Teriak Naren.
Naren kembali mencekik leher nyonya Melinda dengan kuat. Nafasnya tersengal, dadanya terasa sangat sesak membuat mata nyonya Melinda melotot.
" Mas lepaskan dia! Jangan kotori tanganmu dengan membunuhnya! Sekarang lebih baik kau bawa mama ke rumah sakit, aku akan menunggu nyonya Melinda sampai polisi datang, nanti aku akan menyusulmu." Ucap Dara.
Mendengar nama mamanya, Naren menoleh ke arah mamanya. Naren kembali mendorong tubuh nyonya Melinda ke lantai.
Krek...
" Awh.." Nyonya Melinda berteriak saat Naren menginjak kakinya. Ia merasa kalau kakinya telah patah.
Dara memejamkan matanya, ia tidak menyangka kalau suaminya bisa berbuat sekasar ini.
" Ini belum seberapa, kalau saja Dara tidak menghentikanku sudah ku pastikan aku akan memut*l*s* tubuhmu." Tekan Naren.
" Mas sudah! Buruan bawa mama ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat." Ucap Dara.
Naren mendekati tubuh mamanya. Ia segera membopong mamanya ke dalam mobil.
" Ma bertahanlah demi aku dan Dara, Mama ingin melihat cucu Mama kan? Aku akan segera memberikannya kepada Mama." Ucap Naren.
Naren merebahkan tubuh mamanya di jok belakang. Ia menatap Dara seolah berat untuk meninggalkannya.
" Kamu hati hati! Dia wanita licik! Apapun bisa dia lakukan sayang... Aku percaya padamu kalau kau pasti bisa menanganinya sayang." Ucap Naren mencium kening Dara.
" Iya Mas jangan khawatirkan aku, setelah polisi datang aku akan segera menyusul." Sahut Dara.
Naren segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Saat mobil Naren baru keluar gerbang, ia berpapasan dengan mobil polisi. Naren bernafas lega setidaknya keselamatan Dara aman.
" Selamat malam Nona Dara, maafkan kami yang teledor menjaga tahanan, dia kabur saat kami sedang jam istirahat jadi hanya ada beberapa penjaga saja." Ucap polisi.
" Jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi, dia membahayakan nyawa Mama mertuaku, dia menusuknya, pastikan dia terkena hukuman mati karena sudah melakukan percobaan pembunuhan dua kali." Ucap Dara.
" Siap Nona." Sahutnya.
Tiga polisi masuk ke dalam rumah menyeret nyonya Melinda ke mobil.
__ADS_1
" Lepaskan aku! Kakiku sakit sekali... Naren mematahkannya, dia juga harus di hukum." Teriak nyonya Melinda tanpa di gubris oleh polisi.
" Ingat Dara! Aku akan membalas perbuatanmu! Lihatlah nanti! Albert akan mendatangimu dan menghancurkan keluargamu." Nyonya Melinda berteriak lagi.
Setelah kepergian polisi, Dara menuju rumah sakit menaiki taksi online. Dara mengerutkan keningnya saat taksi tidak menuju jalan ke rumah sakit.
" Pak kita kok lewat jalan sini? Seharusnya kita lurus pak, tidak berbelok ke sini." Ucap Dara.
Supir taksi itu hanya diam saja membuat Dara geram.
" Stop! Hentikan taksinya!" Ucap Dara.
Bukannya berhenti, taksi itu malah semakin kencang.
" Hentikan aku bilang! Siapa kau sebenarnya? Dan apa maumu hah? Kau mau membawaku kemana?" Teriak Dara.
" Aku akan membawamu ke tuanku." Sahut supir itu.
" Tuanmu? Siapa tuanmu? Katakan padaku!" Ucap Dara.
" Kau akan tahu nanti nona." Sahutnya.
Dara menarik kasar rambut supir taksi itu.
" Aku bilang hentikan!" Dara terus menarik rambut supir itu hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuat taksi itu oleng.
Tiba tiba.....
Brak.....
Di rumah sakit nyonya Arkana segera di tangani dokter. Nyonya Arkana harus segera di operasi karena lukanya mengenai organ vitalnya. Naren menunggunya di depan ruang operasi. Ia nampak terlihat sangat gelisah.
" Kenapa Dara belum juga datang? Apa terjadi sesuatu padanya? Aku harus meneleponnya." Ucap Naren.
Naren segera menelepon Dara.
" Nggak aktif, tumben tumbenan Dara tidak mengaktifkan ponselnya, aku akan pulang sebentar untuk memastikan." Naren kembali ke rumah dengan mengendarai mobilnya.
Sesampainya di rumah ia segera masuk ke dalam.
" Dara." Panggil Naren.
Tidak ada jawaban. Naren mencari Dara di setiap sudut rumah namun tidak menemukannya.
" Dara kamu kemana? Apa dia ke kantor polisi ya? Aku akan segera ke sana." Naren kembali melajukan mobilnya menuju kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Naren menanyakan keberadaan Dara kepada salah satu polisi yang tadi ke rumahnya, namun ia bilang tidak tahu.
" Sayang kamu kemana sih? Jangan membuatku cemas seperti ini." Naren menyugar kasar rambutnya.
Naren kembali ke rumah sakit berharap Dara sudah sampai di sana, namun nihil. Ia tidak menemukan Dara di sana.
" Ya Tuhan lindungilah istriku dimanapun dia berada." Ucap Naren.
Di tempat lain Dara mengerjapkan matanya. Ia memperhatikan kamar yang saat ini sedang ia huni. Kamar mewah yang di dominasi dengan warna putih dan abu abu, seperti kamar seorang laki laki.
" Ini dimana?" Dara mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Dara menyandarkan punggungnya pada head board. Ia menyentuh pelipisnya yang terasa nyeri.
" Shhhh.... Kenapa aku ada di sini? Siapa sebenarnya yang membawaku ke sini? Supir taksi.... Supir itu bilang dia akan membawaku ke tuannya, lalu siapa tuannya itu?" Gumam Dara.
Ceklek.....
Pintu terbuka, Dara menoleh ke arah pintu. Ia kembali mengerutkan keningnya saat melihat seorang pria berjalan ke arahnya, wajahnya mirip dengan Albert.
" Siapa kau?" Tanya Dara menatapnya.
" Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku calon kakak iparmu!" Ucapnya.
" Calon kakak ipar? Apa maksudmu?" Tanya Dara.
" Maksudku sudah jelas Dara, aku calon kakak iparmu itu artinya kau akan menikah dengan adikku." Ucapnya.
" Menikahi adikmu? Apa kau gila hah? Aku sudah menikah, aku istri dari Narendra Kusuma, lalu bagaimana aku bisa menikahi adikmu, konyol!" Ucap Dara.
" Aku akan membuatmu bercerai dengan suamimu."
" Apa?" Pekik Dara.
" Kau jangan macam macam tuan! Atau kau akan menyesalinya, aku rasa aku terjebak bersama dengan orang gila sepertimu." Ucap Dara.
" Ternyata sifatmu yang seperti yang membuat adikku tergila gila padamu dan ingin menikahimu." Ucapnya.
" Berhentilah bicara omong kosong! Adikmu, menikahi adikmu, memang siapa adikmu?" Tanya Dara menatap pria itu.
" Adikku adalah pria yang sangat mencintaimu, tapi sayangnya kau hanya memanfaatkannya saja, kau membuatnya menderita, tapi sekarang akan aku pastikan adikku akan bahagia, aku akan membuatnya menikah denganmu." Ucapnya.
" Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu pada orang lain tuan, aku tidak kenal dengan adikmu apalagi mencintainya." Ujar Dara.
" Kau sangat mengenalnya Dara." Sahutnya.
" Aku sangat mengenalnya?" Dara mengerutkan keningnya.
" Ya." Sahutnya lagi.
" Siapa dia?" Tanya Dara.
" Ini aku sayang......
Dara menoleh ke asal suara dan.....
Siapa hayo.....
Konflik masih akan berlanjut ya...
Kenapa tahanan bisa kabur? Ini hanya cerita ya apapun bisa terjadi di dalamnya tanpa ada maksud author menyudutkan pihak terkait.
Tetap tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat nih....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All
TBC....
__ADS_1