
Hari ini Dara mendapat kabar kalau Ilham datang ke Jakarta. Ia membawa titipan dari ayahnya Dara, Ilham memintanya untuk mengambil sendiri, untuk itu Dara menemui Ilham di hotel dimana Ilham tinggal.
Tok tok
Dara mengetuk pintu kamar nomer lima belas.
Cek lek...
Ilham membuka pintunya dari dalam.
" Dara, silahkan masuk!" Ilham masuk ke dalam kamarnya di ikuti Dara.
" Mana titipan dari ayah?" Tanya Dara.
" Sabar Dara! Kita baru juga ketemu, sudah lama kan kita tidak bertemu, aku merindukanmu." Ucap Ilham menatap Dara.
" Aku tidak bisa lama lama Mas, sekarang berikan titipan ayah kepadaku, atau kalau tidak aku akan pergi dari sini sekarang juga." Ucap Dara hendak keluar.
Tiba tiba Ilham menariknya hingga Dara jatuh ke atas tempat tidur. Ilham menindih tubuhnya membuat Dara sedikit ketakutan.
" Minggir! Apa yang kau lakukan Mas? Lepaskan aku!" Pekik Dara mencoba mendorong Ilham. Namun apalah dayanya, tubuh Ilham bahkan tidak bergeser sama sekali.
" Jangan berani berbuat macam macam Mas Ilham, atau kau akan menyesalinya." Ucap Dara.
" Aku tidak akan pernah menyesalinya Dara, kaulah yang akan menyesal karena telah datang kemari." Ucap Ilham.
Dara membulatkan matanya, belum juga ia memberikan perlawanan tiba tiba suara menggelegar memenuhi kamar Ilham.
" Apa yang kalian lakukan hah!" Bentak Naren menarik kasar tubuh Ilham.
Bugh... Bugh....
Naren memukul wajah Ilham hingga babak belur.
" Mas sudah Mas!" Ucap Dara.
Naren menatap tajam ke arah Dara.
__ADS_1
" Apa ini yang sering kau lakukan selama ini hah? Kau bermain gila dengan kekasihmu dari kampung ini di sini dan kau memintaku untuk menyudahinya? Kenapa Dara? Kenapa kau lakukan ini kepadaku hah?" Bentak Naren menyayat hati Dara.
" Apa yang kau tuduhkan kepadaku Mas? Aku tidak melakukan apa apa dengannya, kau salah paham Mas." Ujar Dara tak percaya.
" Salah paham gimana Dara? Kalau aku salah paham, katakan! Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?" Tanya Naren menatap Dara.
" Mas Ilham menyuruhku datang ke sini untuk mengambil titipan dari ayah." Sahut Dara.
" Titipan apa Dara? Ayahmu bahkan tidak menitipkan apa apa padaku, bukankah kita bertemu di sini untuk bersenang senang." Ucapan Ilham membuat Dara membulatkan matanya.
" Apa yang kau katakan Mas? Kau sengaja menjebak ku begitu? Aku tidak percaya ini." Dara menatap Ilham tidak percaya.
" Aku tidak mengharapkan ini darimu Dara, aku kecewa padamu." Ucap Naren.
" Mas percayalah kepadaku! Dia memang memanggil ku kemari." Ujar Dara.
Naren menunjukkan ponsel Dara kepada Dara.
" Kau lihat pesannya, dia mengajakmu ketemuan di sini untuk menghabiskan waktu bersama Dara, bukan untukengambil titipan dari ayahmu Dara, kau bisa membacanya kan." Bentak Naren.
" Aku tidak pernah menerima pesan ini sebelumnya Mas." Ujar Dara.
" Lalu pesan itu darimana Dara? Aku menemukan ponselmu di depan pintu, mungkin ponsel itu jatuh karena kau terburu buru pergi takut ketahuan olehku." Ujar Naren.
" Mas percayalah padaku! Aku tidak akan mengkhianati cintamu, apalagi dengan Mas Ilham... Kalau aku mau sudah dari dulu Mas, aku bersamanya." Ucap Dara mencoba menjelaskan kepada Naren.
Naren pergi begitu saja tanpa mau percaya penjelasan Dara. Dara segera berlari menyusulnya, Dara segera masuk ke mobil Naren saat Naren hendak pergi dari sana.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Naren melajukan mobilnya menuju rumahnya dengan kecepatan tinggi.
" Mas jangan ngebut gini! Ini bahaya untuk keselamatan kita, kalau kau tidak percaya padaku baiklah tidak pa pa, tapi tolong jangan membahayakan keselamatanmu sendiri, aku tidak mau kamu kenapa napa Mas, ku mohon kendalikan emosimu!" Ucap Dara meneteskan air matanya.
" Mas.... Percayalah padaku! Aku tidak melakukan apapun, aku yakin kalau Mas Ilham bekerja sama dengan Kak Albert untuk menjebakku Mas, mereka ingin supaya hubungan kita menjadi renggang Mas, mereka mencoba memisahkan kita." Ucap Dara.
" Berhenti berbicara omong kosong Dara! Albert tidak seperti itu! Dia adik yang baik untukku, buktinya selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun." Ucap Naren.
" Kau memang licik Albert, kau berhasil membuat Mas Naren meragukanku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan membuktikan kepada Mas Naren kalau aku tidak salah, aku tidak salah." Gumam Dara dalam hatinya.
__ADS_1
" Mas kau akan tahu bagaimana sifat Albert yang sebenarnya suatu hari nanti." Ucap Dara.
" Aku juga sudah tahu bagaimana sifatmu selama ini kepadaku Dara, kau hanya berpura pura baik kepadaku karena kau kasihan padaku." Ujar Naren.
" Tidak Mas! Itu tidak benar, ini hanya salah paham saja Mas." Sahut Dara.
Sesampainya di rumah, Naren segera meninggalkan Dara menuju kamarnya. Dara segera mengikutinya, ia ingin menjelaskan kepada Naren agar Naren percaya kepadanya.
" Mas dengarkan aku!" Ucap Dara.
Naren tidak menghiraukan nya, ia naik ke atas ranjang lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Dara menghela nafasnya pelan.
" Baiklah Mas kalau kamu tidak percaya padaku tidak apa, aku akan membuktikan jika aku tidak bersalah suatu hari nanti, semoga kau tidak terlambat menyadari semua itu." Ucap Dara meninggalkan kamarnya.
" Aku ingin mempercayaimu Dara, tapi semua bukti mengarah padamu, apalagi setelah Albert memberikan video bahwa kau tidak benar benar tulus mencintaiku, kau hanya merasa kasihan kepadaku, dan kau menginginkan hidup nyaman denganku." Batin Naren.
Ya... Sebelum Naren menyusul Dara ke hotel, Albert menunjukkan sebuah video Dara yang sedang berbicara dengan Ilham. Entah darimana Albert mendapatkannya namun video itu tampak asli.
Di sana Dara mengatakan jika ia tidak benar benar mencintai Naren, dia hanya ingin numpang hidup mewah bersama Naren, hal itu membuat Naren sangat kecewa. Di tambah lagi isi pesan dari Ilham yang mengatakan ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Dara.
Dan Naren bertambah murka saat melihat posisi intim Dara dan Ilham di dalam kamar hotel itu.
Dara duduk di gazebo taman belakang, ia mencoba berpikir memutar otaknya untuk membuktikan jika Albert lah dalang di balik semua ini.
" Hah bagaimana caranya aku mendapatkan bukti itu? Albert bermain sangat rapi di sini, aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menemukan keburukannya." Monolog Dara.
" Ya Tuhan... Semoga aku bisa melalui cobaan ini dengan mudah, kembalikan kepercayaan suamiku seperti selama ini, aku tidak mau kehilangannya, aku harus tetap menjaganya dari rencana busuk Albert dan komplotannya, aku tidak menyangka jika Albert hanya pira pura baik di depan Mas Naren dan Mama, aku sangat berharap kesalah pahaman ini tidak akan berlangsung lama, aku harus segera menyelesaikan semuanya, semoga kau menunjukkan jalanmu untukku ya Rob." Monolog Dara.
Konflik masih berlanjut ya sebelum mereka benar benar bahagia..
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar Dara makin semangat membuktikan kalau Albert masih jahat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1