Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Membujukmu


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Naren masih mencoba membujuk Dara, namun Dara masih tidak mau memaafkannya. Dara selalu menghindarinya, ia akan mengunci pintu dari pagi sampai pagi lagi. Ia tidak membiarkan Naren melihatnya sama sekali.


Hal itu membuat pukulan terberat untuk mental Naren.


Pagi ini pak Rohman menghampiri Dara di dalam kamarnya.


" Sayang, Ayah lihat nak Naren seperti orang yang kebingungan, ia seperti orang yang tersesat tanpa arah, Ayah merasa ia sangat terpuruk karena kau abaikan Nak, Ayah takut hal itu akan mempengaruhi kesehatan mental nak Naren lagi, bagaimana jika menjadi seperti sebelumnya? Apa kau tidak kasihan padanya! Ayah harap pikirkanlah baik baik perlakuanmu ini kepada nak Naren, jangan sampai kamu menyesalinya Nak." Ucap pak Rohman.


" Benarkah dia begitu Yah?" Tanya Dara memastikan.


" Iya Nak, dia jarang makan, kalau malam dia juga tidak tidur, dia selalu menunggumu membukakan pintu untuknya, sepertinya dia sangat berharap kamu akan menyuruhnya tidur di kamarmu." Ujar pak Rohman.


Ucapan pak Rohman membuat hati Dara mencelos. Ia tidak tahu penderitaan yang suaminya alami selama ini.


" Kamu masih sah menjadi istrinya, dan dia masih suami kamu, kamu sudah meninggalkan kewajibanmu sebagai istri selama satu minggu ini, jika kamu masih mencintainya lalu untuk apa kau marah kepadanya? Kamu sudah dewasa Nak, kamu tahu mana yang baik dan buruk untuk kehidupan kamu, setiap manusia pasti punya salah, mereka pasti pernah melakukan kesalahan Nak, dan mereka pantas di beri kesempatan kedua untuk memperbaikinya, semoga kau mengerti apa yang Ayah maksudkan." Ujar pak Rohman meninggalkan kamar Dara.


Dara menatap kepergian ayahnya.


" Apakah aku sudah keterlaluan kepada Mas Naren? Tapi hatiku masih kesal kepadanya, aku bukan kehilangan boneka yang kapan saja bisa aku beli, tapi aku kehilangan anakku untuk selamanya hiks.... Aku harus bagaimana Tuhan.... hiks.." Isak Dara.


Mal ini Dara sengaja tidak mengunci pintunya, ia ingin lihat apa yang akan Naren lakukan. Tak lama Naren masuk ke dalam kamar Dara. Dara memutar bola matanya malas. Ia menyibukkan diri dengan bermain game pada ponselnya.


" Sayang Mas lapar dari tadi belum makan." Ucap Naren duduk di tepi ranjang.


Dara tidak bergeming.


" Sayang... Rasanya Mas mau pingsan, kepala Mas terasa berat dan pandangan Mas serasa berputar." Ucap Naren menatap Dara.


Dara meletakkan ponselnya dengan kesal.


" Kamu kan banyak duit, beli sana! Atau kalau tidak kamu pulang saja dan minta makan sama mama kamu, gitu aja kok repot." Ucap Dara.


" Mas maunya makan bareng sama kamu, kita keluar yuk cari makan." Ajak Naren.


" Bener bener nggak otak kamu Mas! Aku aja lagi sakit malah ngajak keluar, aku nggak mau! Aku mau tidur, kamu pergi aja sana." Ucap Dara bergelung di bawah selimut.


Naren mengguncang tubuh Dara.


" Sayang Mas minta maaf sama kamu, jangan menghindar terus dari Mas donk... Mas nggak bisa hidup tanpa kamu sayang, Mas mencintaimu.. Sangat sangat mencintaimu." Rengek Naren sama persis saat ia tidak normal.


Dara tetap tidak bergeming membuat Naren menjadi sedih.

__ADS_1


" Hiks... hiks... Sayang maafkan Mas hiks... Mas jahat sama kamu, Mas telah melukai hati kamu, Mas tidak pantas untuk di maafkan!" Isak Naren.


" Haduh kenapa Mas Naren begitu ya? Jangan jangan dia kembali tidak normal seperti dulu karena tertekan, gimana kalau beneran Mas Naren seperti itu ya." Gumam Dara dalam hati.


Tiba tiba Naren duduk di lantai sambil menggejolkan kakinya.


" Mas tidak mau hidup lagi kalau kamu tidak mau maafin Mas, Mas lebih baik mati dari pada hidup tanpa kamu hiks.... Sayang Mas mohon maafkan Mas, dan kembalilah hidup bersama Mas, Mas sangat mencintaimu hiks.... Mas tidak bisa hidup tanpamu." Tingkah Naren seperti anak kecil yang meminta balon kepada mamanya.


Dara beranjak, ia menatap heran ke arah Naren.


" Benarkan Mas Naren jadi nggak normal lagi... Atau dia lagi ngibulin aku ya? Duh aku jadi merasa kasihan sama dia, apakah aku harus mengikhlaskan semuanya, apakah aku harus menerima takdir yang Tuhan berikan kepadaku, dia memang tidak mengakui anakku tapi aku sendiri yang berlari keluar dari rumahnya, itu berarti aku juga salah kan." Batin Dara.


Pada dasarnya Dara orang yang baik, ia tidak tega melihat suaminya bersikap seperti itu. Ia bingung harus bagaimana dan berbuat apa.


" Hiks.... Mas menyakitimu sayang... Mas lebih percaya pada Albert daripada kamu, Mas telah membuat anak kita tiada... Mas pantas di hukum,Mas tidak pantas di maafkan... Seharusnya Mas berada di penjarakan? Bukan di sini..... Maafkan Mas sayang hiks.. Mas akan pergi dari sini dan menyerahkan diri ke kantor polisi karena Mas sudah membunuh anak kita hiks..." Isak Naren menarik kasar rambutnya.


" Mas kamu beneran kena mental apa hanya pura pura hah?" Tanya Dara mendekati Naren. Ia berjongkok di depan Naren, tiba tiba Naren memeluknya membuatnya terkejut.


" Sayang maafkan Mas! Mas tidak bermaksud melukai hatimu ataupun anak kita, maafkan Mas yang tidak bisa menjagamu dan menjaga anak kita sayang, hiks... Maafkan Mas." Ucap Naren sambil terisak di dalam pelukan Dara.


Dara merasakan hawa panas dari tubuh Naren. Ia meraba kening Naren dan...


" Biarkan saja! Mungkin ini karma buat Mas karena sudah menyakiti kamu." Ucap Naren.


Dara melepas pelukan Naren. Ia menatap wajah Naren yang terlihat sembab dan memerah. Untuk sesaat keduanya saling melempar pandangan.


Dara mengelus pipi Naren yang terasa sangat panas. Naren memejamkan matanya. Tak terasa air mataengalir begitu saja.


" Mas kamu sakit." Ucap Dara.


" Tidak." Sahut Naren menggelengkan kepalanya.


" Sayang kamu jangan menangis! Aku tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini." Ucap Naren mengusap air mata Dara.


Bukannya berhenti Dara malah semakin terisak.


" Hiks.... Hiks.... " Dara masuk ke dalam pelukan Naren. Naren mengusap kepalanya dengan lembut.


" Maafkan keegoisan ku selama ini Mas... Aku membuatmu sakit karena banyak pikiran, maafkan aku yang tidak bisa memahamimu." Ucap Dara mempererat pelukannya.


" Bukan salahmu Dara, tapi semua ini salah Mas, Mas yang menyebabkan semua ini terjadi, maafkan Mas yang tidak bisa menepati janji Mas untuk membuatmu bahagia, Mas sangat menyesali perbuatan Mas sama kamu sayang." Sahut Naren.

__ADS_1


" Aku memaafkanmu Mas." Ucap Dara.


" Terima kasih sayang." Ucap Naren.


Tiba tiba pelukan Naren melemah, dan..


Brugh....


" Mas." Pekik Dara.


Naren tidak sadarkan diri.


" Ayah.... Ayah tolong aku!" Teriak Dara.


Mendengar teriakan Dara, Pak Rohman segera berlari memasuki kamar Dara.


" Ya Tuhan apa yang terjadi Nak?" Tanya Pak Rohman.


" Tiba tiba Mas Naren pingsan Yah, tolong bantu bawa ke ranjang." Sahut Dara.


Pak Rohman dan Dara merebahkan tubuh Naren di atas ranjang.


" Terima kasih Ayah." Ucap Dara.


" Sepertinya nak Naren sakit, Dara." Ujar pak Rohman.


" Iya Yah, badannya panas, nanti akan aku kompres." Sahut Dara.


" Semoga kondisinya tidak parah nak." Ucap pak Rohman.


" Iya Yah." Sahut Dara.


Nah loh giliran pingsan cemas kan?????


Udah double up nih... Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All....


TBC....

__ADS_1


__ADS_2