Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Menggagalkan Rencana


__ADS_3

Dara masuk ruang CCTV yang bertuliskan selain petugas di larang masuk, namun ia tidak peduli. Keselamatan Naren lebih penting dari semuanya.


" Nona apa yang anda lakukan di sini? Anda tidak boleh sembarangan masuk ke sini Nona." Ujar petugas.


" Saya istri dari Narendra Kusuma yang membooking ballroom hotel saat ini, saya membutuhkan rekaman CCTV beberapa menit yang lalu, suami saya menghilang bersama dengan model yang gagal di kontraknya Pak, saya takut suami saya kenapa napa karena suami saya dalam keadaan mabuk." Ucap Dara cemas.


Sang petugas menatap Dara, mungkin ia ragu akan kebenaran yang Dara ucapkan.


" Pak tolong bantu saya! Saya punya firasat kalau model itu mempunyai rencana buruk kepada suami saya Pak, saya berbicara yang sebenarnya Pak, tolong putar rekaman CCTV beberapa menit yang lalu." Sambung Dara.


" Baiklah Nona saya akan membantu anda." Ucapnya.


Rekaman CCTV mulai di putar saat Dara pergi ke toilet. Di sana nampak jelas Jesika memapah Naren menuju lorong kamar penginapan.


" Satu kosong satu, terima kasih pak." Ucap Dara pergi dari sana.


Sebelum Dara menuju ke kamar satu kosong satu, Dara lebih dulu meminta kunci cadangan kepada petugas hotel. Dengan alasan yang menurutnya masuk akal, pihak hotel pun memberikannya.


Dara kembali berlari menuju kamar satu kosong satu, ia membuka pintunya lalu masuk ke dalam dan....


" Semoga tidak terlambat!" Ucapnya.


Dara melongo melihat pemandangan yang ada di depan mata.


" Apa yang kau lakukan Jesika!" Teriak Dara mendekati Jesika yang saat ini sedang berada di atas tubuh Naren tanpa busana.


Dara menarik kasar tubuh Jesika dari atas ranjang dan....


Plak....


Tamparan keras mendarat ke pipi mulusnya.


" Benar benar menjijikkan." Bentak Dara menatap tajam ke arah Jesika.


" Demi apa kau rela melakukan hal serendah ini hah? Kau mengobral tubuhmu kepada suamiku? Kau pikir suamiku akan tertarik denganmu hah?" Teriak Dara.


" Ya.. Nyatanya suamimu menikmati apa yang aku lakukan padanya." Sahut Jesika melilitkan selimut pada tubuhnya.


" Itu karena dia berpikir kalau yang melakukan itu aku, bagaimana kalau dia tahu yang melakukan itu kamu? Apa kau yakin dia akan tertarik pada tubuh yang sudah kau obral kepada orang lain?" Sinis Dara.


" Kau menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan suamiku? Kau memang tidak punya malu setelah apa yang kau lakukan kepada suamiku selama ini! Kau menghinanya! Kau menyakiti perasaannya! Kau tinggalkan luka yang begitu dalam di dalam hatinya." Teriak Dara.


" Tapi sekarang apa hah? Kau ingin kembali kepadanya setelah dia sembuh dan memiliki segalanya? Kau ingin hidup mewah bersamanya? Kau ingin menjebaknya supaya sian mau menikahimu? Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi Jesika, cara murahanmu ini tidak akan berhasil menghancurkan suamiki, tapi menghancurkan dirimu sendiri, aku akan membuatmu menyesali setiap perbuatanmu, aku akan mengirimmu ke tempat dimana karirmu akan hancur." Ucap Dara membuat Jesika melongo.


Dara menelepon seseorang dari media untuk datang ke sana. Setelah itu Dara mendekati Naren yang sudah telanjang dada. Untung baru telanjang dada.


" Apa yang kau lakukan kepadanya Mas?" Tanya Dara.


Naren membuka matanya menatap Dara.

__ADS_1


" Sayang kamu di sini? Syukurlah sayang kamu ada di sini untuk menyelamatkan aku." Ucap Naren memeluk Dara.


" Apa yang dia lakukan padamu Mas?" Tanya Dara.


" Wanita murahan itu memaksaku untuk menyentuhnya, tapi aku tidak mau! Aku hanya menginginkan kamu sayang, tubuhnya jelek tidak sebagus tubuhmu, dia jahat sayang..... Kepalaku sangat pusing, entah minuman apa yang dia berikan kepadaku." Sahut Naren kembali memejamkan matanya.


" Kau mendengarnya sendiri bukan? Suamiku tidak tertarik dengan tubuh jelekmu itu, sekarang pakai bajumu dan tinggalkan kamar ini! Kalau kau ingin sesuatu mintalah pada Kak Albert, pasti dia akan memberikan semuanya untukmu." Ucap Dara mengusir Jesika.


Dengan malu Jesika kembali memakai bajunya, ia membuka pintu hendak keluar meninggalkan kamar Naren dengan perasaan kesal karena rencananya gagal.


" Tunggu!" Ucap Dara menghentikan langkah Jesika.


Dara keluar dari kamar, di sana sudah ada dua petugas hotel dan satu reporter yang Dara telepon tadi, mereka semua siap membantu Dara.


" Pak silahkan bawa Nona Jesika ke kantor polisi, dan anda." Dara menunjuk sang reporter itu.


" Segera buat berita kalau dia telah menjebak suami saya, dia menjebak Narendra Kusuma, dan pastikan karirnya akan hancur sehancur hancurnya, saya mau berita itu muncul besok pagi." Ucap Dara.


Jesika melongo mendengar ucapan Dara.


" Tidak Dara! Jangan membuat berita yang tidak tidak tentangku, aku tidak mau karirku hancur, aku mohon maafkan aku Dara! Maafkan aku!" Ucap Jesika.


" Itu resiko yang harus kamu tanggung Jesika, kau berani bermain main dengan orang penting seperti suamiku, sekarang terimalah akibatnya." Sahut Dara.


" Bawa dia Pak! Dan lakukan apa yang saya perintahkan tadi." Ucap Dara kepada kedua petugas.


" Baik nona." Sahutnya.


" Dara lepaskan aku! Jangan menghukumku seperti ini Dara, aku menyesal." Tedengar teriakan Jesika dari luar, namun Dara tidak peduli.


" Terima kasih Tuhan, tidak terjadi apa apa dengan Mas Naren." Ucap Dara mendekati Naren.


Terlihat Naren seperti cacing kepanasan. Tubuhnya menggeliat tak karuan.


" Mas kamu kenapa?" Tanya Dara.


" Rasanya panas sayang, tolong aku! Sepertinya dia memberikan obat perangsang pada minuman ku, ku mohon sayang tolong aku." Ucap Naren menatap Dara dengan kabut gairah.


Tanpa berkata apa apa lagi, Naren menindih tubuh Dara. Naren mencium bibir Dara dengan sedikit kasar, Dara membalas coumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.


Ciuman Naren turun ke leher. Ia membuat beberapa jejak merah di sana membuat sang empu mendesis merasakan sensasi luar biasa yang Naren ciptakan.


Entah siapa yang mulai, kini keduanya sama sama polos tanpa ada satu helai benang pun yang menutupinya. Naren segera memulai permainannya di bawah efek obat sialan yang Jesika berikan kepadanya.


Keduanya menghabiskan malam bersama hingga efek obat itu benar benar hilang dari tubuh Naren. Malam indah dan penuh kenikmatan menjadi saksi penyatuan cinta keduanya, Dara merasa bahagia karena ia berhasil menggagalkan rencana Jesika. Ia tidak bisa membayangkan jika ia tidak datang tepat waktu, pasti Naren telah menjadi milik orang lain malam ini.


Dua jam lamanya mereka bertempur, akhirnya Naren tumbang ketika mencapai puncak nirwana. Ia merebahkan tubuhnya di samping Dara.


" Terima kasih sayang." Naren memeluk tubuh Dara.

__ADS_1


" Sama sama Mas." Sahut Dara membalas pelukan Naren.


Keduanya terlelap menuju alam mimpi.


...****************...


Pagi hari mereka kembali ke rumah. Di rumah nyonya Arkana sudah menanti kedatangan mereka.


" Naren, Dara, kalian baik baik saja?" Tanya nyonya Arkana.


" Iya, kami baik baik saja Ma, Mama tidak perlu cemas." Sahut Dara.


" Syukurlah, mendapat telepon darimu semalam membuat Mama tidak bisa tidur sayang." Ucap nyonya Arkana.


" Maafkan aku ya Ma, karena aku telah mengganggu ketenangan Mama." Ucap Dara.


" Tidak apa sayang." Sahut nyonya Arkana.


Albert datang menghampiri mereka.


" Kak Naren baik baik saja?" Tanya Albert.


" Iya aku baik baik saja." Sahut Naren.


" Kau tidak perlu bersandiwara seperti itu Kak Albert, kau tidak suka kan karena aku menggagalkan rencanamu bersama Jesika." Ketua Dara.


" Apa maksudmu Dara?" Tanya nyonya Arkana.


" Kak Albert sengaja membantu Jesika untuk menjebak Mas Naren Ma." Sahut Dara.


" Dara, kau tidak bisa menuduhku sembarangan seperti itu tanpa bukti, aku tidak melakukan apapun, aku juga tidak terlibat dengan rencana Jesika, aku tidak tahu apa apa Dara, jangan sampai tuduhanmu ini membuat kerenggangan dalam hubunganku dan Kak Naren." Ucap Albert membela diri.


" Ah sial! Aku tidak punya bukti atas keterlibatannya, tapi tenang saja! Aku akan segera mendapatkan buktinya." Batin Dara.


" Kali ini aku memang belum bisa membuktikannya Kak, tapi aku berjanji padamu kalau aku akan segera mendapatkan bukti itu, dan di saat aku bisa membuktikan kejahatan maka kau harus keluar dari rumah ini." Ucap Dara menatap tajam ke arah Albert.


" Ya sudah sekarang mending kita makan dulu, Mama sudah memasak makanan kesukaan kalian berdua." Ucap nyonya Arkana.


" Terima kasih Ma." Sahut Dara.


Dara menggandeng Naren menuju meja makan. Ia melayani Naren dengan baik. Albert terus menatap Dara dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku akan segera mendapatkanmu Dara, aku tidak akan pernah melepaskanmu jika sampai itu terjadi, kau hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Batin Albert.


Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All

__ADS_1


TBC....


__ADS_2