
Hari ini tiba hari pernikahan Zelin dan Albert. Di sebuah ballroom hotel ternama di kota itu, keduanya nampak tersenyum bahagia setelah resmi menyandang status baru menjadi suami istri.
Naren menggandeng tangan Dara menghampiri keduanya. Ya... Naren datang atas undangan Albert. Albert ingin Naren menjadi saksi pernikahannya.
" Kakak." Albert memeluk Naren.
" Selamat Al, semoga kalian berbahagia." Naren mengelus punggung Albert.
" Terima kasih Kak, aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan padamu selama ini Kak, maafkan aku! Kali ini aku benar benar tulus meminta maaf padamu." Ucap Albert.
Naren melepas pelukannya, ia menatap Albert yang nampak menitikkan air matanya.
" Jangan menangis! Bukankah selama ini aku selalu memaafkan semua kesalahanmu?" Albert menganggukkan kepalanya.
" Seperti sebelumnya, aku sudah memaafkanmu sejak lama, sekarang lupakan masa masa itu! Berbahagialah dengan masa depanmu!" Ucap Naren.
" Terima kasih Kak, kau memang Kakak yang baik." Sahut Albert yang di balas senyuman oleh Naren.
" Oh ya sayang, kenalkan ini Kak Naren, Kakak sepupuku." Albert menatap Zelin.
" Hai Kak! Aku Zelin." Ucap Zelin tersenyum sopan kepada Naren.
" Naren, dan ini istriku Dara." Ucap Naren.
" Kami sudah bertemu kemarin Mas." Sahut Dara.
" Benarkah? Mas kira kamu hanya bertemu dengan Albert dan Jack saja." Ujar Naren.
" Tidak, dengan Zelin juga." Sahut Dara.
" Semoga kalian berbahagia dan segera di beri momongan." Ucap Naren.
" Terima kasih Kak." Sahut Zelin.
Kini gantian Dara yang mendekati Albert dan Zelin.
" Selamat Kak! Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warrohmah." Ucap Dara menyalami Albert.
" Terima kasih Ra." Sahut Albert.
Dara memeluk Zelin.
" Selamat Zelin, semoga bahagia dan segera di beri keturunan yang banyak." Ucap Dara.
" Terima kasih Kak." Sahut Zelin.
Dara melepas pelukannya.
" Silahkan di nikmati hidangannya Kak!" Ucap Albert.
" Kami mau pulang Al, Dara tidak bisa lama lama berada di luar, dia sudah merindukan bantal dan kasurnya." Ucap Naren.
" Kenapa buru buru sekali? Kalian bahkan belum mencicipi apapun di sini?" Ujar Albert.
" Aku sudah pernah cerita sama kamu, kalau Dara bawaannya pengin tidur, kasihan dia nanti kalau nggak buru buru tidur dia akan pusing." Ujar Naren.
" Baiklah terima kasih kalian sudah menjadi saksi pernikahan kami, hati hati Kak." Ucap Albert.
" Iya." Sahut Naren.
" Ayo sayang!" Naren menggandeng tangan Dara keluar hotel.
Zelin dan Albert menatap kepergian mereka berdua.
" Mas apa Kak Dara sukanya tidur sejak kehamilannya?" Tanya Zelin memastikan.
" Iya sayang, kata Kak Naren semenjak hamil Dara sukanya tidur terus, dia bahkan sering melewatkan makan kalau di tinggal ke kantor." Sahut Albert.
__ADS_1
" Besok kalau aku hamil kaya' gitu nggak ya?" Gumam Zelin.
" Bawaan bayi berbeda beda sayang, tidak semua wanita hamil seperti itu, semoga kau di beri kemudahan saat hamil nanti." Ujar Albert.
" Iya Mas." Sahut Zelin.
" Jadi nggak sabar pengin lihat kamu hamil deh." Albert menatap Zelin.
" Buat aja belum main hamil segala." Sahut Zelin.
" Ayo tah kita buat!" Canda Albert.
" Apa sih Mas." Ucap Zelin malu malu.
" Nanti jangan nangis ya apalagi berteriak! Bisa bisa aku di kira memperkuat*s* kamu, bisa bisa di gebukin aku sama orang orang di kamar sebelah." Ujar Albert.
" Ya enggak lah Mas! Tenang saja aku tahan banting kok." Sahut Zelin.
" Iya percaya." Sahut Albert tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam hari setelah acara resepsi selesai, Albert membawa Zelin ke kamarnya.
Ceklek.....
Keduanya masuk ke dalam. Zelin menatap kamar pengantin mereka yang nampak sangat indah.
Taburan bunga mawar putih di atas ranjang, dan kelambu yang di hias bunga mawar merah membuatnya terlihat benar benar indah.
" Sayang mandi dulu!" Ucap Albert.
" Iya Mas." Sahut Zelin.
Zelin masuk ke kamar mandi, sedangkan Albert duduk di tepi ranjang. Ia menatap ranjangnya sambil tersenyum. Pikirannya sudah berkelana kemana mana membayangkan indahnya malam pertama mereka berdua.
Ceklek....
" Kamu kenapa sayang?" Albert menghampiri Zelin.
" Mas aku butuh sesuatu." Ucap Zelin.
" Sesuatu apa? Bukankah baju ganti sudah aku siapkan semuanya?" Albert balik bertanya.
" Aku butuh... Aku butuh... " Zelin menjeda ucapannya.
" Kamu butuh apa sayang? katakan saja! Aku akan memberikannya." Ujar Albert.
" Aku butuh pembalut."
" Apa?" Pekik Albert tidak percaya membulatkan matanya.
" Apa maksud kamu, kamu sedang datang bulan sayang?" Tanya Albert memastikan.
" Iya Mas, tamuku baru saja datang."
Albert lemas mendengar jawaban Zelin. Imajinasi tentang malam pertama buyar entah kemana.
" Mas belikan gih!" Ucap Zelin.
Albert menatap Zelin.
" Aku harus beli dimana?" Tanya Albert.
" Di minimarket terdetak, bilang beli pembalut xx yang bersayap, sama pembalut malamnya juga." Ujar Zelin.
Albert menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
" Baiklah akan aku belikan." Sahut Albert.
" Jangan lama lama, keburu aku tidak nyaman." Ujar Zelin.
" Baiklah." Sahut Albert meninggalkan kamarnya.
Albert menuju minimarket yang berada di sekitar hotel. Ia masuk ke dalam lalu mendekati kasir.
" Mbak aku butuh pembalut xx yang bersayap siang dan malam." Ucap Albert tanpa malu.
Kasir itu menatap Albert sambil melongo.
" Mbak buruan! Istriku sudah menunggu, malah melamun... Heran lihat laki laki beli pembalut?" Ucap Albert membuat mbak kasirnya sadar.
" Eh maaf tuan bukan begitu, baiklah tuan akan saya ambilkan dulu!" Mbak kasir mengambil apa yang Albert butuhkan.
" Ini tuan totalnya lima puluh ribu." Ucap mbak kasir memberikan kantong plastik kepada Albert.
Albert segera membayarnya, ia segera kembali ke kamar hotelnya.
" Sayang ini pesanannya!" Albert mengetuk pintu kamar mandi.
Zelin membuka pintunya lalu mengambil kantong plastik di tangan Albert.
" Terima kasih!" Zelin kembali menutup pintunya.
Lima menit, Zelin keluar kamar menghampiri Albert.
" Mas kamu mandi gih! Aku sudah siapkan air hangat." Ujar Zelin.
" Iya sayang." Sahut Albert beranjak. Ia berdiri di depan Zelin lalu...
Cup...
Albert mengecup bibir Zelin lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Zelin menyentuh bibirnya, ia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah bibir di hari pernikahannya dari Albert.
Zelin menatap ranjangnya.
" Hah sayang sekali kalian tidak berguna malam ini." Keluh Zelin.
Zelin membersihkan ranjangnya dari kelopak mawar tersebut lalu membuangnya ke ranjang sampah.
Albert yang baru keluar kamar mengerutkan keningnya.
" Kenapa di buang sayang?" Tanya Albert.
" Karena kamu kurang beruntung Mas, itu makanya aku kedatangan tamu di saat saat seperti ini." Sahut Zelin.
Albert memeluk Zelin dari belakang, ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Zelin membuat tubuh Zelin meremang.
" Walaupun kita belum bisa melakukan hal itu, setidaknya kita bisa melakukan hal lainnya kan?" Ujar Albert.
" Misalnya?" Tanya Zelin.
Albert memutar badan Zelin, ia menatap Zelin penuh cinta. Tangannya menyusup ke belakang tengkuk Zelin, ia memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Albert mengecup bibir Zelin. Ia menggigit pelan bibir bawah Zelin membuat Zelin membuka sedikit mulutnya. Albert menyusupkan lidahnya mengeskpos setiap inchinya. Ia menekan tengkuk Zelin memperdalam ciumannya.
Suara decapan memenuhi kamar mereka. Keduanya saling meluapkan rasa cinta melalui ciuman yang mereka lakukan.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya..
Miss U All...
__ADS_1
TBC...