Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Berkumpul


__ADS_3

" Bagaimana sayang?" Albert menatap Zelin.


Zelin memberikan tespack itu pada Albert.


" Negatif." Gumam Albert.


Albert menatap Zelin yang menundukkan kepala. Ada rasa kecewa dalam hati keduanya. Calon anak yang mereka impikan belum hadir dalam hidup mereka. Namun keduanya sama sama menekan rasa kecewa itu agar tidak terlihat.


Albert menarik Zelin ke dalam pelukannya.


" Tidak masalah sayang! Kita akan berusaha lebih giat lagi, baik itu doa ataupun membuatnya." Albert mengelus kepala Zelin.


" Tuhan belum mempercayakannya kepada kita Mas." Ucap Zelin.


" Tidak masalah sayang, jangan bersedih! ini juga baru beberapa bulan kan." Albert mencium pucuk kepala Zelin.


" Iya Mas." Sahut Zelin.


" Oh ya aku mendapat kabar kalau Dara sudah melahirkan babby laki laki, namanya Daren, bagaimana kalau kita menjenguknya? Kalau kamu nggak mau kita jenguk lain kali saja." Ujar Albert.


" Kita jenguk nanti aja Mas, aku pengin menggendong babby nya, pasti lucu banget." Ujar Zelin.


" Baiklah, tunggu kamu baikan dulu ya." Ujar Albert.


Zelin menganggukkan kepala. Albert menuntun Zelin ke ranjangnya, ia membantu Zelin bersandar pada tumpukan bantal.


" Aku akan mengambil makanan." Ucap Albert keluar kamar.


Tak lama Albert kembali dengan membawa makanan untuk Zelin. Ia menyuapi Zelin dengan telaten, selesai makan Zelin meminum obatnya.


" Sekarang istirahatlah! Kita akan berangkat nanti sore karena Kak Naren meminta kita untuk bermalam di sana." Ucap Albert.


" Iya Mas." Zelin memejamkan matanya.


Sore hari setelah keadaan Zelin mendingan, mereka naik mobil menuju rumah Naren yang ada di pusat kota.


Dua jam mobil Albert terparkir di garasi rumah Naren. Zelin menatap kagum pada bangunan besar dan megah di depannya.


" Besar sekali rumahnya Mas." Ucap Zelin.


" Iya, ini rumah utama keluarga Kusuma sayang, ayo masuk!" Albert menggandeng Zelin masuk ke dalam.


Tidak lupa mereka membawa sebuah bingkisan untuk babby Daren.


" Assalamualaikum." Ucap Keduanya.


" Wa'alaikumsallam." Sahut nyonya Arkana menghampiri keduanya.


" Albert, silahkan masuk!" Ucap nyonya Arkana.


Albert dan Zelin menyalami nyonya Arkana dengan takzim.


Mereka bertiga masuk ke dalam langsung ke kamar babby Daren. Nampak Naren sedang menggendong Daren sedangkan Dara tiduran di ranjang.


" Selamat Kak Dara! Semoga babby Daren menjadi anak yang soleh dan berbakti pada kedua orang tuanya." Zelin duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


" Amin... Terima kasih Zelin." Ucap Dara.


" Selamat ya Ra, semoga cepat pulih." Albert menatap Dara.


" Terima kasih Kak." Sahut Dara.


Albert mendekati Naren, ia menatap babby Daren yang nampak imut.


" Duh imut banget sih keponakan om." Albert menoel pipi Daren.


Daren menggeliat menampakkan wajah merahnya.


" Iya donk om, anak Daddy." Sahut Naren.


" Aku mau gendong donk Kak." Ucap Albert.


" Tapi hati hati ya." Naren memberikan Daren ke gendongan Albert.


" Uluh uluh gantengnya bobok terus ya." Albert menimang Daren dengan pelan.


" Sayang sini deh!" Albert menatap Zelin.


Zelin segera menghampirinya.


" Lihat deh! Babby nya gemesin ya, tampan dan keren mirip kak Naren." Ujar Albert.


" Iya Mas." Sahut Zelin.


" Aku jadi pengin punya babby sendiri." Ucap Zelin mencium pipi Daren.


" Iya Mas, eh lihat matanya Mas! Bulet banget." Ucap Zelin.


" Iya mirip banget sama kak Naren." Sahut Albert.


Keduanya menatap Daren yang memainkan lidahnya sendiri.


" Sepertinya Daren haus deh Mas." Ucap Zelin.


" Iya, kasih Dara gih biar di kasih ASI!" Ujar Albert.


" Kak Dara sepertinya Daren haus." Zelin mendekati Dara.


" Biar aku susui dulu." Dara duduk bersandar memangku Dare.


Ia segera menyusuinya sedangkan para kaum adam keluar kamar.


" Kak apa nggak geli di hisap gitu?" Tanya Zelin menatap Daren yang menyesap put*ng susu Dara dengan kuat.


" Ya sebenarnya sih iya, tapi mau gimana lagi?Ini sudah qodrat kita menjadi seorang ibu, saat dia menyusu matanya akan menatap kita, dari sinilah kasih sayang kami terjalin." Sahut Dara


" Iya Kak, duh aku jadi pengin cepat cepat punya babby, tapi sayangnya sampai sekarang aku belum hamil juga." Gumam Zelin.


" Jangan bersedih! Anak itu rejeki jadi tidak bisa di tolak ataupun di minta kapan waktunya, serahkan saja pada Tuhan, mungkin Dia punya rencana yang lebih indah dari yang kau harapkan." Ujar Dara.


" Iya Kak, aku akan sabar menantinya, terima kasih sudah memberikan pencerahan kepadaku." Sahut Zelin.

__ADS_1


Dara tersenyum menatap Zelin. Keduanya fokus pada babby Daren yang sedang menyusu.


Malam hari mereka semua makan malam bersama, sesekali mereka mengobrol.


" Zelin apa belum ada tanda tanda akan ada babby di antara kalian?" Nyonya Arkana menatap Zelin.


" Belum Tan, doakan saja supaya aku bisa memiliki baby dengan segera." Sahut Zelin.


" Doa terbaik untukmu." Ucap nyonya Arkana.


" Oh ya Albert, apa kamu sering menengok mama kamu?" Tanya nyonya Arkana.


" Tidak Tan! Sejak aku tahu dia hanya memanfaatkan aku, hubungan kami putus begitu saja, aku tidak mau melihat wajah mama lagi, mama yang tega menjerumuskan anaknya sendiri demi kepentingannya." Sahut Albert.


" Jangan seperti itu Al! Bagaimanapun dia ibu yang melahirkan kamu, kamu boleh marah padanya tapi jangan sampai kau memutuskan hubungan dengannya sayang, cobalah mengikhlaskan apa yang telah terjadi, tante yakin lambat laun kau akan melupakan kebencian itu pada ibumu." Ujar nyonya Arkana memberikan nasehat.


" Tante memang wanita yang mulai, Tante memiliki sikap yang tulus kepada sesama, aku minta maaf telah membuat kalian semua menderita, terutama kepadamu Kak." Albert menatap ke arah Naren.


" Sudah aku bilang jangan bahas masa lalu! Aku sudah lama memaafkanmu." Ucap Naren.


" Lagian kalau bukan karena kamu, aku tidak akan pernah bertemu dengan bidadari secantik Dara, aku justru harus bersyukur akan hal itu." Naren menggenggam tangan Dara.


" Kalian memang di takdirkan untuk bersama, aku salut pada ketulusan cinta kalian berdua, cinta kalian tidak bisa di pisahkan oleh apapun dan siapapun, aku bahagia melihat kalian berdua bahagia." Ucap Albert.


" Bahagia juga untukmu Al, kabari aku kalau Jack menikah nanti, kami pasti akan datang." Ujar Naren.


" Tentu Kak! Tunggu aja undangannya." Sahut Naren.


Mereka melanjutkan makan. Selesai makan mereka masuk ke dalam kamar masing masing.


Naren menghampiri Dara yang sedang bermain main dengan Daren. Lebih tepatnya main sendiri karena Daren tidur.


" Daren lagi tidur sayang, jangan di gangguin gitu donk! Kasihan dia lagi enak enaknya tidur juga." Naren duduk di atas ranjangnya.


" Habisan gemes akunya Mas, dia imut banget." Ujar Dara.


" Kamu juga imut sayang, bikin Mas gemes." Naren mencibit pelan hidung Dara.


" Sakit tahu Mas." Cebik Dara.


" Emmm Manja... " Goda Naren.


" Ih siapa yang manja, nggak ada ya rumusnya kalau Dara Kusuma manja, yang ada Narendra Kusuma lah yang selalu bersikap manja pada istrinya, bahkan mandi saja harus di mandikan seperti bayi." Ucap Dara mengejek Naren.


" Mas manja sama kamu karena Mas tidak mau kehilangan kamu sayang, Mas ingin selalu berada di dekatmu, tetaplah bersama ku, aku mencintaimu." Naren mencium pipi Dara.


" Aku juga mencintaimu Mas, sehat selalu supaya bisa menjagaku dan Daren." Ucap Dara.


" InsyaAllah sayang." Sahut Naren.


Yuk ramein like dan hadiahnya untuk mendukung karya author...


Terima kasih untuk kalian semua yang telah memberikan suport untuk author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC..


__ADS_2