
Enam bulan berlalu...
Dara baru saja melahirkan seorang putra tampan bernama Daren Louis Kusuma secara normal. Dara dan Naren nampak sangat bahagia menyambut kehadiran putranya. Ia tidak mau berpisah walau hanya sedetik pun, bahkan Naren sampai rebutan babby Daren dengan mamanya sendiri.
" Ayolah Naren, mama juga ingin menggendongnya! Pelit amat sih kamu, dia kan cucu mama." Ucap Nyonya Arkana cemberut.
" Sebentar Ma! Aku juga lagi pengin gendong Daren, mama besok aja gendongnya kalau udah di rumah." Ujar Naren.
" Dih kelamaan Ren, udah kamu temenin Dara aja! Biar Daren mama aja yang gendong." Nyonya Arkana merebut Daren dari gendongan Naren, dengan pelan tentunya.
" Ah Mama mah gitu." Cebik Naren.
Naren duduk di kursi samping ranjang. Dara tersenyum ke arahnya.
" Jangan merajuk Mas! Sama mamanya sendiri kok gitu, nggak baik Mas." Ujar Dara.
" Mas belum puas gendong Daren sayang, tapi mama malah memintanya." Ucap Naren seperti anak kecil.
Dara hanya menggelengkan kepalanya.
Nyonya Arkana menimang sang cucu tercinta.
" Tampannya cucu Oma, kamu mirip sama papa kamu deh, Oma jadi ingat waktu papa kamu lahir dulu." Ucap nyonya Arkana.
" Memangnya dulu aku gitu ya Ma? Berarti aku ganteng sejak lahir." Ucap Naren.
" Narsis!" Sahut Dara.
" Kalau Mas nggak ganteng pasti kamu nggak mau sama Mas." Ujar Naren.
" Pada kenyataannya aku menerimamu apa adanya Mas." Sahut Dara.
" Iya kau benar sayang, terima kasih sudah menerima Mas apa adanya, Mas bahagia sekali bisa memilikimu selamanya, love you sayang." Naren mengecup lama kening Dara.
" Love you too Mas." Sahut Dara.
Dara dan Naren sedang berbahagia karena babby Daren. Sedangkan di rumah Albert, Albert sedang memijit kepala Zelin di atas ranjang.
" Mas kenapa kepalaku sakit terus ya? Rasanya seperti mau pingsan kalau buat berdiri, kadang kadang juga perutku terasa mual." Ujar Zelin.
" Memang masih musimnya sayang, paling kamu mau flu." Sahut Albert.
" Iya kau benar Mas, aku kalau mau terserang flu juga pasti seperti ini." Sahut Zelin memejamkan matanya menikmati pijatan Albert.
" Bagaimana hubungan Kak Jack dengan Antika Mas?"
Ya... Zelin mencoba mendekatkan temannya kepada Jack yang bernama Antika, gadis cantik, mungil dan berkulit putih itu. Ia berharap Jack bisa melupakan perasaannya kepadanya.
" Aku sih melihatnya mereka semakin dekat, kak Jack juga sering menjemput Antika di tempat kerjanya, sepertinya kemarin kak Jack bertemu dengan orang tua Antika." Sahut Albert.
" Semoga Antika dan kak Jack berjodoh Mas, jadi aku iparan sama sahabatku sendiri deh." Ujar Zelin.
" Iya sayang, aku lihat Antika juga gadis yang baik, dia terlihat sangat sopan dengan yang lebih tua, dia...
" Stop!" Zelin memotong ucapan Albert.
__ADS_1
" Kenapa sayang?" Tanya Albert.
" Aku mau tidur." Zelin masuk ke dalam selimutnya menutup rapat seluruh tubuhnya.
Albert nampak terbengong melihat sikap istrinya.
" Sayang, kamu kenapa?" Albert memeluk Zelin dari belakang.
Zelin tidak bergeming.
" Sayang kamu kenapa sih? Apa kamu sudah mengantuk? Kepalamu udah nggak sakit lagi?" Berbagai pertanyaan Albert lontarkan namun tidak satupun yang mendapat jawaban.
Albert menghela nafasnya pelan.
" Sayang kalau ada masalah harus di selesaiin donk! Jangan bersikap kekanakan gini." Ujar Albert.
" Dasar nggak peka." Cebik Zelin.
" Maaf sayang aku tidak bisa memahamimu, sekarang coba katakan!" Ujar Albert.
Zelin beranjak duduk menatap Albert.
" Kamu memuji wanita lain di depanku Mas, istri mana yang tidak akan marah kalau suaminya melakukan semua itu." Ucap Zelin.
" Astaga sayang." Kekeh Albert.
" Ya aku akui kalau aku memuji Antika, tapi memuji bukan berarti suka sayang... Aku tidak menyimpan perasaan apa apa padanya. Maafkan aku! Aku tidak sadar kalau aku melukai perasaanmu sayang." Albert mengelus pipi Zelin.
" Benarkah?" Tanya Zelin.
" Benar sayang." Albert menarik Zelin ke dalam pelukannya.
" Sayang kenapa kamu menangis? Maafkan aku ya! Maafkan aku!" Ucap Albert mempererat pelukannya.
" Entah kenapa aku takut akan kehilanganmu Mas, aku tidak bisa hidup tanpamu, ku mohon jangan tinggalkan aku!" Ucap Zelin mengusap air matanya.
" Kenapa istriku jadi cengeng gini hmm? Kalau kamu menangis, kepalamu akan berdenyut nyeri sayang, sudah ya jangan menangis." Albert mengusap air matanya.
Zelin menganggukkan kepalanya.
" Sekarang tidurlah! Aku akan memelukmu." Ucap Albert.
Keduanya berbaring saling berpelukan.
" Entah mengapa aku merasa kau sedang hamil sayang, emosimu dari kemarin naik turun seperti roller coaster, semoga dugaanku benar sayang... Aku akan sangat bahagia jika benar itu terjadi." Batin Albert mencium pucuk kepala Zelin.
Sinar matahari menyinari bumi, semua orang sibuk melakukan aktifitas. Namun tidak untuk Zelin. Ia masih setia tidur di atas ranjangnya. Kepalanya semakin sakit dan ia mengalami demam.
Jack, Albert dan Antika sedang berusaha membujuk Zelin untuk periksa.
" Sayang pokoknya sekarang kita harus ke rumah sakit!" Ucap Albert.
" Iya Zelin, kondisimu akan semakin parah kalau kau tidak di obati." Sahut Jack mencoba membujuk Zelin.
" Tidak... Aku tidak mau ke rumah sakit! Aku akan sembuh kalau minum obat, kalian pergilah! Aku akan istirahat sebentar!" Sahut Zelin.
__ADS_1
" Sayang...
" Maaf Kak Jack, Kak Albert, sebenarnya Zelin takut jarum suntik." Ucap Antika.
" Apa?" Pekik Jack dan Albert bersamaan.
" Benarkah? Aku tidak menyangka gadis bar bar sepertinya takut jarum suntik." Ucap Jack.
" Kak... Nggak usah ngeledek deh!" Sahut Zelin.
" Sayang kamu di sana hanya di periksa, bukan vaksinasi jadi kamu tidak akan di suntik." Ujar Albert.
" Aku nggak mau Mas.... Hiks... " Zelin malah terisak. Ia menutup wajahnya dengan bantal.
" Kalian jahat! Kalian terus memaksaku ke rumah sakit, aku tidak mau rumah sakit, aku benci dengan rumah sakit karena dokternya jahat seperti kalian, aku mau tidur aja." Ucap Zelin.
" Baiklah sayang aku tidak akan memaksamu lagi, kau istirahatlah! Aku akan membeli obat untukmu." Ucap Albert.
Albert mengajak Antika dan Jack keluar kamarnya.
" Albert, sepertinya ada yang berubah dengan sikap Zelin, dia menjadi manja dan kekanakan tidak seperti biasanya, dia juga menjadi cengeng sekali." Jack menatap Albert.
" Aku juga tidak tahu Kak, aku sedang ingin memastikan sesuatu, aku pergi dulu." Albert menepuk pundak Jack keluar rumahnya.
" Ayo kita berangkat Antika!" Ajak Jack.
" Iya Kak." Sahut Antika.
Jack mengantar Antika ke cafe tempatnya bekerja. Cafe yang buka siang dan malam hari, kebetulan hari ini Antika kebagian shif siang.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Albert kembali ke rumahnya. Ia masuk ke kamar menghampiri Zelin.
" Sayang." Panggil Albert mengguncang pelan pundak Zelin.
" Apa?" Tanya Zelin malas malasan.
" Coba tes pakai ini!"
Zelin membalikkan badannya menatap sesuatu yang Albert sodorkan.
" Tespack?" Zelin mengerutkan keningnya.
" Coba tes urine kamu! Aku ingin memastikan sesuatu." Ujar Albert.
Tanpa banyak berkata Zelin masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengetes urinnya sesuai petunjuk yang ada.
Setelah menunggu lima menit hasil itu dapat terlihat. Zelin keluar kamar mandi.
" Gimana sayang? Apa hasilnya?"...
Apa ya hasilnya?
Tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat author...
Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...