Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Obsesi of Love


__ADS_3

" Ini aku sayang."


Dara menatap pria yang baru masuk ke kamarnya.


" Kak Albert." Ucap Dara melongo membulatkan matanya.


" Bagaimana kau bisa bebas? Bukankah seharusnya kau berada di penjara?" Tanya Dara tidak percaya.


" Adikku tidak bersalah Dara, aku membebaskannya dengan penangguhan, dan mulai hari ini aku akan selalu melindungi adikku dari orang orang yang berniat menyakitinya." Sahut pria itu.


" Oh ya dari tadi kita belum kenalan, kenalkan namaku Jack, kakak kandung dari Alberto, kami seayah tapi beda ibu." Ucap Jack.


" Aku tidak peduli siapa dirimu, yang jelas lepaskan aku dari sini, suamiku sudah menungguku." Ucap Dara.


" Tidak sayang, aku tidak akan melepaskanmu lagi, kita akan menikah secepatnya." Sahut Albert.


" Kau tidak belajar dari kesalahan Kak, kau di butakan oleh obsesimu selama ini, sadarlah sebelum terlambat! Aku akan kembali memaafkanmu jika kau mau melepaskan aku." Ujar Dara.


" Aku sadar sepenuhnya sayang, aku sadar kalau aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu, jadi kali ini kau harus kalah, kau akan menjadi milikku bagaimanapun caranya, aku akan membuatmu menandatangani surat perpisahan dengan Naren." Ucap Albert tersenyum licik.


" Atas dasar apa kau mau memaksaku tanda tangan surat itu? Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah berpisah dari Mas Naren, aku mencintainya dan kami saling mencintai, cinta kami tidak selemah itu tuan Alberto." Tekan Dara.


" Aku tahu kalau cintamu kuat, tapi bagaimana dengan cinta Naren? Aku tidak yakin dengan cintanya kepadamu, atau mungkin sebenarnya dia tidak pernah mencintaimu, dia memilikimu hanya untuk pelindung baginya, mungkin itu saja." Sahut Albert mendekati Dara.


Dara beringsut mundur, punggungnya menubruk head board ranjang. Albert mendukung Dara membuat Dara ketakutan.


" Aku berjanji kepadamu, besok pagi kau sudah akan menjadi milikku." Ucap Albert mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya lalu ia membekap wajah Dara dengan itu.


" Mmmm.. mmmm" Dara mencoba memberontak namun sia sia, tak lama Dara tidak sadarkan diri.


" Keluarlah Kak! Aku akan menjalankan misiku." Ucap Albert.


" Baiklah, semoga berhasil." Sahut Jack keluar dari kamar Albert sambil menutup pintunya.


Albert memandangi wajah Dara, ia tersenyum sambil mengelus pipi Dara.


" Aku sangat mencintaimu sayang, maafkan aku jika aku harus melakukan ini, hiduplah bersamaku maka aku akan membuatmu selalu bahagia." Ucap Albert mencium pipi Dara.


Albert mulai membuka baju Dara, lalu ia membuka bajunya sendiri. Apapun akan Albert lakukan asalkan Dara menjadi miliknya.


Di rumah sakit Naren nampak sangat cemas. Ia berjalan mondar mandir di depan rumah sakit berharap ia melihat Dara datang menghampirinya. Namun sedari tadi ia tidak melihat siapapun karena memang ini sudah tengah malam.


" Sayang sebenarnya kamu dimana?" Gumam Naren.


Drt.... Drt....


Ponsel Naren berdering.


" Dara." Gumam Naren.


Naren segera mengangkatnya.


" Halo sayang kamu dimana?" Tanya Naren.

__ADS_1


Tidak ada sahutan, yang ada hanya suara suara yang terasa menyakitkan di hati Naren.


" Apa yang terjadi? Kenapa Dara mendes*h seperti ini? Lalu untuk apa dia meneleponku?" Gumam Naren.


" Dara... Kamu dimana? Aku akan menjemputmu." Ucap Naren.


Klik....


Sambungan terputus.


" Dara... Dara." Ucap Naren.


" Ya Tuhan apa yang terjadi kepada Dara? Apa dia mengkhianatiku? Tidak mungkin! Apa dia di jebak seseorang? Ya Tuhan lindungilah dia." Ucap Naren menggenggam erat ponselnya.


Ting...


Notif pesan di ponsel Naren, Naren segera membukanya.


Deg.....


Dada Naren bergemuruh saat melihat kiriman foto yang Dara kirimkan kepadanya. Sebuah foto Dara sedang bercumbu mesra dengan seorang lelaki.


" Apa apaan ini? Kenapa Dara melakukan semua ini kepadaku? Dan laki laki ini... Sepertinya aku mengenalnya." Naren menzoom gambar yang ada.


" Tatto ini... Tatoo ini sangat familiar, tatto serigala di punggung, siapa yang memilikinya?" Naren berpikir sambil mengingat ingatnya.


" Albert... Ya tidak salah lagi, ini pasti Albert, sialan! Dia mau bermain main denganku, aku tidak akan percaya dengan apa yang kau tunjukkan padaku Albert, aku lebih mempercayai Dara daripada kamu, aku harus menemukan mereka." Ucap Naren.


Naren segera melacak lokasi ponsel Dara menggunakan GPS.


Naren melajukan mobilnya mengikuti GPS yang ada. Jam lima pagi Naren sampai di sana. Ia segera turun dari mobil lalu masuk ke rumah itu.


" Ceroboh sekali, rumah sebesar ini tapi tidak di kunci." Ucap Naren.


Naren masuk ke dalam, tanpa permisi ia segera mencari kamar utama, karena ia yakin Albert menyekap Dara di sana.


Naren menaiki tangga , ia melihat ada du kamar besar di sana. Ia membuka salah satunya namun kosong. Naren yakin pasti di kamar satunya Dara berada.


Ceklek.....


" Dara, bangun Dara." Ucap Naren dengan keras.


Dara yang mendengar teriakan Naren langsung membuka matanya. Berbeda dengan Albert, ia pura pura tidak mendengarnya. Ia tetap memeluk Dara dengan tenang.


" Mas Naren." Gumam Dara.


Saat Dara hendak bangun, ia merasakan berat pada perutnya, ia menatap tangan yang melingkar lalu menatap pria yang saat ini sedang memeluknya.


" Kak Albert." Pekik Dara.


Ia kembali menatap Naren.


" Mas ini tidak seperti....

__ADS_1


" Seperti apa sayang?" Albert membuka matanya.


" Apa yang kau lakukan kepadaku Albert? Kau hanya menjebakmu kan?" Tanya Dara.


" Kita menghabiskan malam bersama, kita telah menyatukan cinta kita sayang, kau mendes*h sepanjang permainan kita, lihatlah! Kita bahkan belum sempat memakai baju kembali." Sahut Albert


Dara menatap tubuhnya di balik selimut, benar saja tubuhnya polos. Dadanya penuh dengan bercak merah akibat perbuatan Albert.


" Hiks..... Hiks.. Tidak mungkin... Ini tidak mungkin aku lakukan hiks.. " Isak Dara.


" Dara jangan menangis! Dia pasti hanya menjebakmu sayang, tidak terjadi apa apa diantara kalian berdua, dia sengaja melakukannya karena dia ingin memisahkan kita." Ucap Naren menghampiri Dara.


" Jangan mendekat Mas! Aku sudah kotor." Ucap Dara terus mengeluarkan air matanya.


" Sayang jangan percaya kepadanya!" Ucap Naren.


" Bukankah semalam aku meneleponmu? Kau bisa mendengar apa yang terjadi di antara kami, dan aku sudah mengirimkan fotonya juga kan, itu bisa kau simpan sebagai bukti cinta kami." Ujar Naren.


" Kau orang licik Albert! Aku tidak akan percaya pada bukti yang kau berikan padaku, dan apa cinta? Kau bahkan tidak tahu apa itu cinta, aku lebih percaya pada Dara daripada kamu, lelaki pecundang!" Sahut Naren.


Albert menarik selimut yang menutupi tubuh Dara hingga membuat tubuh atas Dara terekspos. Di sana terpapang jelas stempel merah memenuhi tubuh Dara.


" Apa kau masih tidak percaya jika terjadi sesuatu kepada kami? Aku sangat menikmati permainanku, bahkan Dara juga menikmatinya, entah dia sadar jika dia melakukannya denganku atau dia mengira dia melakukannya denganmu, yang jelas semua terjadi begitu saja dan kami saling menikmatinya." Ucap Albert kembali memakai pakaiannya di depan Naren dan Dara. Dara memejamkan matanya.


" Kalaupun memang terjadi sesuatu dengan kalian, aku tidak peduli! Dara istriku, aku akan menerimanya apapun yang terjadi dengannya Albert, dan aku akan membawanya pulang sekarang juga." Ucap Naren membuat Albert mengepalkan erat tangannya.


" Apa kau yakin Dara mau kembali bersamamu setelah apa yang terjadi? Bagaimana kalau benih yang aku tanam itu membuahkan hasil? Apa kau menerima anakku juga? Kami melakukannya berkali kali Naren dan aku yakin pasti akan berhasil apalagi Dara masih dalam masa kesuburan nya kan." Albert menatap Dara yang masih sesegukan.


" Aku tidak peduli! Aku tetap akan menerima Dara apa adanya." Sahut Naren.


" Aku rasa Dara tahu apa yang harus dia lakukan, jika dia benar benar mencintaimu maka dia tidak akan memberikan tubuhnya yang sudah ternoda oleh pria lain kepadamu." Ucap Albert meninggalkan kamarnya.


Naren menatap Dara dengan iba.


" Hiks... Hiks...." Dara terus terisak menangisi nasibnya.


" Sayang jangan menangis! Aku tidak masalah jika seandainya kau benar sudah terjamah oleh Albert, aku tetap akan menerimamu sayang, aku mencintaimu, cintaku lebih besar dari apapun sayang, kita akan melanjutkan hidup dengan bahagia, sekarang pakai pakaianmu lalu kita kembali ke rumah, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi karena memang kita tidak tahu kebenarannya, bisa saja Albert membual." Ujar Naren.


Tanpa berkata apa apa Dara memunguti bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Apa yang akan Dara lakukan setelah ini? Apakah ia akan kembali pada Naren atau memilih berpisah nih?


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat....


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....


TBC.....


Author membawa cerita baru yang author ajukan untuk mengikuti lomba... Mohon doa restu semoga bisa lulus review dan sesuai apa yang author harapkan....


Author tunggu dukungan kalian di sana ya.....

__ADS_1



__ADS_2