Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Selamat Jalan


__ADS_3

Ponsel Dara berdering membuatnya membuka mata. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan jam lima pagi. Dara mengambil ponselnya, lalu mengangkat panggilannya.


" Halo."


" Dara... " Ilham menjeda ucapannya.


" Iya Mas ada apa? Kenapa Mas Ilham meneleponku pagi pagi begini? Apa terjadi sesuatu dengan ayah?" Tanya Dara dengan perasaan tak karuan.


" Dara... Ayahmu sudah tiada."


Jeduar.....


Kata kata Ilham bagai petir yang menyambar di siang bolong. Tubuhnya kaku dan lidahnya terasa kelu, dadanya terasa sangat sesak, lehernya tercekat, hanya air mata yang mampu menetes di pipinya.


Ponsel yang masih menempel di telinga jatuh begitu saja. Tubuhnya luruh ke lantai.


Bagaimana bisa ayahnya meninggalkannya tanpa melihatnya untuk yang terakhir kali? Bagaimana bisa ia menjadi anak yang tidak tahu balas budi? Jangankan membuat ayahnya bahagia, di saat ayahnya sakit saja ia tidak bisa merawatnya. Dara benar benar sedih dan kecewa akan hal itu.


" Hiks... Hiks... " Isak Dara menahan sesak di dadanya.


" Ayah!!!!!!!!!" Teriak Dara pilu.


Naren membuka matanya mendengar jeritan Dara.


" Sayang." Naren menghampiri Dara di bawah sana.


" Hiks.... Ayah... Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin... Ayahku belum tiada.. Ayahku belum tiada." Teriak Dara histeris.


" Hiks... " Isak Dara.


" Sayang kau kenapa? Ayah kenapa?" Naren menyentuh pundak Dara.


" Lepas!" Dara menepis tangan Naren.


" Jangan berani berani kau menyentuhku!" Bentak Dara menatap tajam ke arah Naren.


Dara berdiri mengusap air matanya.


" Kau puas? Apa kau puas hah?" Teriak Dara.


" Sayang apa yang kau katakan?" Naren mengerutkan keningnya.


" Gara gara kamu ayahku tiada!" Teriak Dara.


Deg....


Jantung Naren berdetak sangat kencang.

__ADS_1


" A... Apa? A.. Ayah tiada?" Tanya Naren memastikan.


" Ya.. Ayahku pergi karena kau tidak mau mengantarku ke sana, seandainya saja kau mau meninggalkan pekerjaanmu dan mengantarku ke sana, mungkin ini semua tidak akan terjadi, aku masih bisa membawa ayah ke rumah sakit, aku masih bisa mengobati ayah di sana hiks..." Isak Dara.


" Sayang maafkan Mas!" Ucap Naren.


Dara terduduk lemas di atas ranjang.


" Hiks... Seandainya kamu mau aku ajak ke sana, pasti aku masih bisa melihat ayah untuk yang terakhir kalinya, seandainya kamu mau meninggalkan pekerjaanmu hiks... Ayah.... Maafkan aku! Aku memang anak yang tidak berguna, aku tidak bisa membuat bahagia di akhir hidup ayahku sendiri, hiks... " Isak Dara sedih.


" Sayang maafkan Mas! Mas mohon jangan seperti ini! Pikirkanlah anak kita sayang! Kondisimu yang seperti ini akan mempengaruhi kondisi calon anak kota, Mas mohon pikirkanlah sayang! Mas tidak mau kamu dan dia kenapa napa, Mas mohon sayang!" Naren menarik Dara ke dalam pelukannya.


" Hiks... Hiks... " Isak Dara.


" Tenangkan dirimu sayang! Setelah itu kita akan ke sana." Ucap Naren.


Setelah Dara merasa tenang, mereka pergi ke kota asal Dara. Di dalam mobil Dara hanya diam saja. Pikirannya menerawang entah kemana.


" Sayang jangan melamun gitu donk! Bicaralah! Mas tahu kamu sedih, Mas juga sedih tapi jangan melamun seperti itu karena itu tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Naren.


Dara tidak bergeming, ia tenggelam dalam lamunannya.


Melihat itu Naren merasa sangat bersalah. Ia merasa bertanggung jawab atas meninggalnya ayah mertuanya.


Tiga jam mobil Naren sampai di kediaman pak Rohman. Para pelayat masih hilir mudik. Saat turun dari mobil tubuh Dara terasa lemas, kakinya bahkan tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.


Keduanya melangkah pelan masuk ke dalam rumah, jenazah pak Rohman sudah siap di angkat untuk di antar ke pemakaman.


Ya... Sebelum ke sini Dara menelepon Ilham untuk segera memandikan jenazah ayahnya dan segera mengebumikannya.


Bukankah itu lebih baik dari pada harus berlama lama menunggu kedatangannya? Beruntung Dara masih bisa mengantarkan ayahnya ke pembaringan terakhirnya.


Dara menatap keranda yang di panggul oleh empat orang. Tak terasa air mata menetes begitu saja, ia segera mengusap air matanya.


" Dara, kau datang tepat waktu." Ilham menghampirinya.


Dara tidak merespon, ia terus menatap keranda dimana ayahnya telah berbaring nyaman di sana.


Melihat itu Ilham mengguncang bahu Dara.


" Dara sadarlah! Menangislah! Menjeritlah! Keluarkan kesedihanmu! Jangan diam saja seperti ini!" Ujar Ilham.


" Tangisanku hanya akan memberatkan kepergian ayah Mas, aku ikhlas menerima semua takdir Tuhan." Sahut Dara.


" Pergilah dengan tenang Yah! Maafkan aku yang tidak bisa menjadi anak yang baik untukmu, semoga Tuhan memberikan jalan yang terang untuk ayah dan semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untukmu, selamat jalan ayah." Ucap Dara tanpa mengeluarkan air mata lagi.


" Baiklah! Aku kagum dengan ketegaranmu Dara, mari kita antar ayahmu ke pembaringan terakhirnya." Ajak Ilham.

__ADS_1


Mereka semua berjalan menuju ke pemakaman, Naren hendak menggandeng tangan Dara namun Dara menghindarinya. Naren menghela nafasnya.


Sampai di pemakaman mereka semua mengikuti acara pemakaman dengan khidmat sampai selesai. Setelah para pelayat pergi, Dara berjongkok di depan gundukan tanah merah bertaburkan bunga mawar di atasnya.


" Ayah maafkan aku karena aku datang terlambat, andai saja ayah mengabariku lebih awal tentang penyakit ayah, aku pasti akan merawat ayah sampai hari terakhir ayah, aku tahu ayah tidak melakukan itu karena ayah menyayangiku, ayah tidak mau merepotkan aku sehingga ayah menanggung semua ini sendirian, aku juga menyayangimu ayah, beristirahatlah dengan tenang! Semoga semua amal ibadah ayah di terima di sisi Tuhan, semoga ayah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, selamat jalan ayah.. Aku menyayangimu sampai kapanpun." Ucap Dara mengusap nisan sang ayah tercinta.


" Maafkan aku ayah! Andai saja aku kemari lebih cepat pasti kau bisa melihat Dara, maafkan aku... Aku menyesalinya." Batin Naren.


Mereka kembali ke rumah Dara, Dara masuk ke dalam kamar ayahnya. Ia mengunci pintunya karena ia tidak mau Naren mengganggunya.


Tok tok


" Sayang tolong buka pintunya! " Naren mengetuk pintu.


Tidak ada sahutan, Naren menghela nafasnya pelan. Ia duduk di sofa ruang tamu.


" Biarkan Dara sendiri! Saat ini dia butuh waktu untuk meluapkan kesedihannya seorang diri." Ujar Ilham.


" Dia tidak harus sendiri Ham, seharusnya dia membagi kesedihannya denganku." Sahur Naren.


" Aku rasa dia sudah membaginya padamu namun kamu yang tidak peka akan hal itu." Sahut Ilham.


" Dara bilang akan ke sini kemarin siang, om Rohman menunggunya sampai pagi hari tapi nyatanya Dara tidak kunjung sampai sini, aku rasa kau yang terlalu sibuk sehingga kau tidak bisa mengantar Dara kemari untuk menemui ayahnya untuk yang terakhir kali." Ujar Ilham menatap Naren.


Naren menundukkan kepalanya karena semua yang di katakan Ilham benar.


" Kenapa kau diam saja? Apakah tebakanku benar? Kalau memang benar seharusnya kau membiarkan Dara meneleponku, aku pasti akan menjemputnya saat itu juga, dan Om Rohman akan pergi dengan senang karena bisa melihat putrinya di saat saat terakhirnya." Ujar Ilham.


" Aku tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini, seandainya aku tahu aku pasti akan meninggalkan semuanya demi mengantar Dara ke sini." Sahut Naren.


" Yah kau hanya tahu bekerja dan bekerja saja, kau tidak tahu apa artinya kasih sayang, kau tidak tahu apa artinya hubungan kau...


" Tutup mulutmu Ilham! Jangan mentang mentang aku diam saja kau bisa berbicara seenaknya." Sahut Naren memotong ucapan Ilham.


" Baiklah terserah kau saja, aku pulang dulu." Ilham menepuk pundak Naren lalu keluar dari rumah itu.


Naren menatap pintu kamar pak Rohman, ia berharap Dara membuka kuncinya namun sepertinya harapannya hanya sia sia.


" Maafkan Mas sayang... " Batin Naren.


Jangan lupa untuk like koment vote dan kasih 🌹 yang banyak untuk author ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2