Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Memaafkanmu


__ADS_3

Dengan telaten Dara mengkrompres dahi Naren menggunakan washlap. Ia nampak sedikit cemas dengan keadaan Naren saat ini. Mau membawanya ke rumah sakit, jaraknya sangat jauh. Ia hanya pasrah saja pada takdir Tuhan yang akan menyembuhkan Naren.


" Dara... Maafkan Mas sayang! Jangan tinggalkan Mas sendirian, Mas tidak bisa hidup tanpamu hiks.... Mas mengaku salah kepadamu dan anak kita, rasa bersalah ini akan Mas tanggung sampai mati, Mas mohon beri kesempatan kedua kepada Mas untuk menebus semua kesalahan Mas pada kalian berdua, Mas janji akan membuat kamu bahagia, Mas akan mempercayaimu bukan yang lainnya hiks... Kembalilah pada Mas sayang.. Mas sangat menyayangimu... Hiks.. Maafkan Mas sayang." Ucap Naren mengigau. Air mata menetes pada sudut mata Naren.


" Kasihan sekali kamu Mas, entah kamu yang terlalu bodoh atau memang kamu yang terlalu baik, sehingga kamu sangat mudah di manfaatkan oleh orang lain, aku harus tetap berada di sampingmu untuk menjagamu dari orang orang jahat itu, aku yakin mereka pasti akan menyusun rencana lainnya menjatuhkanmu dan Mama." Monolog Dara.


Tiba tiba Dara teringat akan mama mertuanya.


" Mama.... Ya Tuhan mama di sana sendirian, bagaimana kalau mereka menyuruh orang untuk menyakiti mama? Aku harus menelepon mama untuk memastikan jika mama baik baik saja." Ucap Dara. Ia segera mengambil ponselnya lalu menelepon nyonya Arkana.


Tut.... Tut....


Telepon tersambung namun nyonya Arkana belum menjawabnya.


" Angkat donk Ma, Mama kemana sih." Gumam Dara masih menempelkan ponsel ke telinganya.


" Halo sayang, gimana kabarmu Dara?" Tanya nyonya Arkana setelah mengangkat panggilannya.


" Aku baik Ma, Mama sendiri gimana? Apa Mama baik baik saja? Apa tidak ada orng yang mencoba menyakiti Mama?" Dara balik bertanya. Terlihat ia sangat cemas.


" Mama tidak baik baik saja sejak kepergian kalian berdua, Mama sangat merasa kehilangan Dara, maafkan Naren dan segera kembali ke sini sayang, kita buka lembaran hidup baru dengan penuh kebahagiaan." Ujar nyonya Arkana.


" Iya Ma, aku sudah memaafkan Mas Naren tapi maaf kami belum bisa kembali, karena Mas Naren sedang sakit Ma." Sahut Dara.


" Astaga.... Naren sakit? Sakit apa sayang? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya nyonya Arkana cemas.


" Mama tenang saja! Mas Naren hanya demam biasa, dia tidak menjaga pola makannya dengan baik di sini Ma, dia sibuk meminta maaf padaku dan membujuk ku untuk kembali ke rumah, maafkan aku Ma! Secara tidak sengaja aku yang membuat Mas Naren seperti ini." Ucap Dara.


" Tidak apa sayang, itu sudah menjadi kewajiban Naren untuk meminta maaf padamu, kalau Naren sudah sembuh segera pulang ya sayang." Ujar nyonya Arkana.


" Iya Ma, Mama jaga diri baik baik ya Ma, kalau ada apa apa segera telepon aku atau Mas Naren, aku akan segera kembali setelah Mas Naren baikan nanti." Ucap Dara.


" Iya sayang, Mama menunggu kalian berdua, Mama tutup telepon ya, kamu istirahat." Ucap nyonya Arkana mematikan sambungan teleponnya.


" Syukurlah Mama baik baik saja." Gumam Dara.


" Sayang.... Kenapa rasanya dingin sekali! Mas pengin di peluk kamu sayang." Gumam Naren.


Dara menatap Naren yang menggigil kedinginan. Ia naik ke atas ranjang lalu memeluk Naren dengan erat.

__ADS_1


" Duh panasnya nggak turun turun, gimana ya?" Ujar Dara sedikit berpikir.


" Skin to skin cara efektif menurunkan demam kan, ya.. Aku harus melakukan itu demi Mas Naren, aku tidak peduli Mas Naren akan berpikir bagaimana nanti, yang jelas aku harus melakukannya demi kesembuhannya." Ucap Dara.


Tanpa pikir panjang Dara melepas bajunya, ia juga membuka baju Naren. Dara menempelkan dada Naren pada dadanya. Ia berharap panas pada tubuh Naren akan berpindah kepadanya.


Di alam bawah sadarnya, Naren memeluk Dara dengan erat. Dara memejamkan mata menerobos ke alam mimpi.


Pagi hari Naren membuka matanya. Ia tersenyum bahagia karena hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik Dara. Sudah lama dia tidak pernah mengalami momen moment seperti ini, karena ia mengabaikan Dara hampir satu bulan terakhir.


Dengan perlahan Naren mencium pipi Dara membuat sang empu terusik dari tidurnya. Melihat Dara yang hendak membuka matanya, Naren memejamkan matanya kembali.


Dara membuka matanya dengan sempurna, ia menatap Naren yang masih tertidur. Lebih tepatnya pura pura tidur. Dara menyentuh kening Naren dengan punggung tangannya.


" Alhamdulillah panasnya sudah turun, aku khawatir banget kamu kenapa napa Mas." Ucap Dara.


Naren menarik tangan Dara membawa ke dalam pelukannya membuat Dara menghela nafasnya pelan.


" Mas aku mau bangun, aku harus menyiapkan sarapan untukmu, kau harus minum obat supaya kondisimu cepat pulih, mama sudah menunggu kepulanganmu di rumah, kasihan mama sendirian di sana, kalau mama kenapa napa gimana." Ucap Dara.


Naren membuka matanya menatap Dara dengan intens membuat yang di tatap menjadi salah tingkah.


Dara diam membungkam mulutnya membuat Naren sedih.


" Apa gunanya Mas pulang jika kamu tidak mau ikut bersamaku, biarkan Mas sakit di sini, kau akan memelukku jika aku sakit." Ujar Naren kembali memeluk Dara.


" Mas... Lepas ih! Kamu udah sembuh, kamu udah nggak demam lagi, jadi jangan mencari cari kesempatan." Ujar Dara.


Tubuh Naren menegang saat ia menyadari sesuatu, ia membuka selimutnya dan....


Glek....


Naren menelan kasar salivanya saat melihat tubuh Dara terekspos, hanya memakai bra berwarna hitam saja.


Menyadari hal itu, Dara langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


" Mesum kamu Mas." Ucap Dara.


" Rejeki itu namanya sayang, masa' ada pemandangan indah di biarkan begitu saja, kan mubadzir." Sahut Naren terkekeh.

__ADS_1


" Terus kalau orang lain yang begitu, kamu juga akan mengamatinya gitu? Atau kamu malah menyentuhnya?" Selidik Dara kesal.


" Enggak sayang, Mas udah nggak berani macam macam, Mas nggak mau kehilangan kamu lagi." Ujar Naren.


" Alah gombal." Cebik Dara.


" Iya sayang, Mas bersumpah demi nyawa Mas sendiri." Ucap Naren.


" Stt." Dara meletakkan telunjuknya di bibir Naren.


" Jangan pernah berkata seperti itu Mas! Aku tidak mau jika suatu saat kamu khilaf dan mengingkari sumpah itu, maka aku akan kehilangan kamu, aku tidak mau sampai itu terjadi, aku tidak mau kehilangan kamu." Ucap Dara memeluk Naren.


" Terima kasih sayang sudah mau memaafkan Mas dan kembali kepada Mas, Mas sangat mencintaimu." Ucap Naren mencium kening Dara


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Dara.


Keduanya saling mengungkapkan kebahagiaan melalui pelukan mereka. Naren nampak sangat bahagia karena bisa mendapatkan Dara kembali.


Pada dasarnya Dara adalah wanita yang baik, ia selalu mengutamakan orang orang yang ia sayangi, itulah sebabnya ia memaafkan Naren. Keduanya berharap akan mendapatkan kebahagiaan selamanya.


" Mau pulang bersamaku?" Tanya Naren.


Dara menganggukkan kepalanya membuat hati Naren berbunga bunga. Ia sangat bahagia, bahkan rasa bahagia ini melebihi apapun.


" Aku dan mama sangat bahagia kau mau kembali ke rumah kami sayang, teruslah bersamaku dan selalu mendampingiku selamanya." Ucap Naren.


" InsyaAllah Mas, aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu." Sahut Dara.


" Terima kasih." Ucap Naren mencium pucuk kepala Dara.


Udah baikan nih.. Jangan lama lama ya marahnya kalau masih sayang....


Tetap tekan like koment vote dan 🌹nya buat author ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All...


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2