Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Semua Berkat Dara


__ADS_3

Albert melihat pisau buah di atas meja tiba tiba ia mengambilnya lalu.....


Ces...


" Albert." Teriak Dara berlari mendekati Albert, Dara melempar pisau yang di pegang oleh Albert.


Darah mengalir dari pergelangan tangan Albert. Dara menyobek bagian bawah gaunnya lalu mengikatnya ke tangan Albert. Albert hanya diam sambil memandang perhatian yang Dara berikan kepadanya.


" Nona, sebaiknya segera bawa ke rumah sakit! Takutnya dia akan kehilangan banyak darah." Ucap pak Romeo.


" Iya Pak." Sahut Dara.


Dara mengedarkan pandangannya mencari nyonya Melinda, namun tidak ada.


" Mas, dimana nyonya Melinda?" Tanya Dara menatap Naren.


" Dia pasti kabur karena sudah kalah Dara, tapi kamu tenang saja! Aku tidak akan melepaskan wanita ular itu, pak Riski akan mengurusnya." Sahut Naren.


" Iya Mas." Sahut Dara.


" Ayo Kak aku antar ke rumah sakit." Ucap Dara membantu Albert.


Saat Albert hendak berdiri tiba tiba...


Brugh....


" Astaga kak Albert." Ucap Dara.


" Naren, bawa Albert ke rumah sakit." Ucap nyonya Arkana.


Naren segera membopong tubuh Albert menuju mobil. Nyonya Arkana dan Dara segera masuk ke dalam.


Naren melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, ia membawa Albert ke ruang UGD.


" Dokter tolong adik saya, adik saya menyayat pergelangan tangannya sendiri." Ucap Naren.


" Baik Pak, kami akan menanganinya." Sahut dokter.


Naren dan yang lain menunggu di kursi tunggu.


" Mas, aku jadi merasa kasihan sama Kak Albert, aku tidak tahu jika selama ini nasibnya begitu menyedihkan." Ujar Dara.


" Lalu apa kau mau meneruskan pernikahanmu dengannya?" Naren menatap Dara.


" Entahlah Mas." Sahut Dara.

__ADS_1


" Aku akan pergi dari sini, aku tidak bisa melihatmu menikah dengan orang lain Mas, hatiku terlalu sakit merasakannya, walaupun kau selalu menyakinkan kalau kau akan membatalkan perjodohan itu, tapi aku tidak yakin, pasalnya mamamu hanya diam saja, lagian kau tidak pernah mengatakan cinta kepadaku, aku tidak mau kau menikahimu karena rasa hutang budimu kepadaku, aku ingin menikah karena cinta bukan yang lainnya, setelah kau pulang nanti, aku akan pergi dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi." Batin Dara.


Seorang dokter keluar ruangan, Naren segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan adik saya Dok?" Tanya Naren.


" Pasien baik baik saja Pak, lukanya juga tidak terlalu dalam, jadi boleh langsung pulang." Ucap dokter.


" Terima kasih dok." Sahut Naren.


" Sama sama, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter meninggalkan mereka.


" Naren, apa kamu mau membawa Albert pulang ke rumah?" Tanya nyonya Arkana.


" Lalu mau kita bawa kemana lagi Ma? Ibunya saja meninggalkannya begitu saja, aku juga bingung Ma." Sahut Naren.


" Kalau menurutku, sebenarnya Kak Albert tidak bersalah Mas, dia hanya menjadi pion yang di manfaatkan oleh ibunya, maafkan dia dan perbaiki hubungan kalian berdua, itu akan membuat kalian bahagia." Ujar Dara.


" Kau memang gadis mulia Dara, terima kasih berkat dirimu aku tahu akan cinta yang sesungguhnya, karena dirimu hatiku jadi lebih tenang dan bisa memaafkan orang tanpa ingin membalas dendam." Ucap Naren.


" Sebagai sesama manusia memang kita harus saling memaafkan Mas, tidak ada gunanya kejahatan di balas dengan kejahatan, hidup damai akan lebih bahagia daripada hidup penuh dendam." Sahut Dara.


" Kau memang wanita baik Dara, pantas saja putraku tergila gila padamu, semoga Naren bisa membatalkan perjodohan itu, karena aku juga ingin kau menjadi menantuku." Ujar nyonya Arkana dalam hati.


Pada akhirnya karena kebaikan Dara, Naren membawa Albert kembali ke rumahnya. Ia menuntun Albert menuju kamarnya.


" Terima kasih Kak! Kau sudah banyak berubah sejak bertemu Dara, kau tidak sekasar dulu lagi, aku minta maaf karena aku sudah membuat hidupmu dan ibumu menjadi susah, aku malu mengatakan semua ini Kak, karena keserakahan Mamaku, aku harus menyakiti orang orang baik sebaik kalian." Albert menatap Naren dan nyonya Arkana.


" Kami memaafkanmu Albert! Tapi kami minta kau harus berubah menjadi lebih baik lagi, dan maafkan aku! Aku tidak bisa melepaskan ibumu begitu saja, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada kami, saat ini ibumu berada di kantor polisi untuk melakukan penyidikan." Ujar Naren.


" Iya Kak, biarkan Mama menebus semua kesalahannya, aku juga sangat kecewa sama Mama, selama ini Mama tidak pernah memberitahuku kalau ternyata aku bukan putra kandung Papa Raharja, aku bahkan bukan siapa siapa kalian, tapi kalian sangat baik kepadaku dengan memaafkan aku, terima kasih Kak, Tante." Ucap Albert.


" Sama sama." Ucap nyonya Arkana.


Nyonya Arkana menatap Naren, ia tidak menyangka jika putranya banyak berubah. Sebelumnya Naren tidak seperti ini, ia akan membalas orang orang yang menyakitinya, bukan malah memaafkannya.


" Ternyata kehadiran Dara membawa pengaruh yang besar untukmu Nak, semoga kau berbahagia." Batin nyonya Arkana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari Naren nampak gelisah. Ia sudah mencari cari Dara namun tidak ada.


" Ma, apa Mama melihat Dara?" Tanya Naren.


" Tidak sayang, apa dia tidak ada di kamarnya?" Nyonya Arkana balik bertanya.

__ADS_1


" Aku sudah mencarinya Ma, tapi tidak ada." Sahut Naren.


" Mungkin di kamar Albert." Ucap nyonya Arkana.


" Di sana juga tidak ada Ma, apa dia pergi ya." Naren menarik kasar rambutnya.


Naren kembali ke kamar Dara, ia membuka lemari Dara, dan benar saja! Semua pakaian Dara tidak ada di sana.


" Dara, kamu meninggalkan aku...." Ucap Naren.


Pandangan Naren tertuju pada sebuah kertas yang terlipat di atas nakas. Ia segera mengambilnya lalu membukanya.


" Surat dari Dara." Ucap Naren.


Naren mulai membaca tulisan tangan yang ia yakini di tulis oleh Dara.


*Untuk Mas Naren


Maafkan aku karena aku pergi tanpa pamit. Tugasku sudah selesai di sini, kau sudah mendapatkan kembali apa yang menjadi hakmu. Sampaikan maafku untuk Kak Albert, bilang padanya kalau aku tidak bisa menikah dengannya. Hatiku telah menjadi milik orang lain, aku tidak mau kembali menyakitinya. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Mas, menikahlah dengan wanita yang sudah di pilihkan oleh mamamu. Jadilah anak yang berbakti, bantu mamamu menepati janjinya kepada temannya itu.


Sebelum aku benar benar pergi, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku mencintaimu.... Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, walaupun saat itu kau bersikap luar biasa, tapi aku tulus mencintaimu. Hatiku tidak sanggup melihatmu menikahi wanita lain, itu sebabnya aku memilih pergi dari sini. Aku berharap kita tidak akan bertemu lagi. Cukup jadikan aku kenangan indah untukmu. Terima kasih.


Andara*


Naren meremas kertas itu dengan air mata menetes di pipinya.


" Andai kau tahu bagaimana perasaan ini Dara, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku juga mencintaimu, bukankah aku pernah bilang kepadamu? Atau kau hanya menganggap ucapanku bualan saja? Kita akan bertemu di hari dimana aku akan melamarmu, aku akan menyelesaikan masalah perjodohan dulu, setelah itu aku akan mendatangimu." Naren mengusap air matanya.


Naren keluar dari kamar Dara lalu mencari ibunya.


" Ma." Ucap Naren masuk ke kamar mamanya.


" Ya, apa Dara sudah ketemu?" Tanya nyonya Arkana.


" Dia pulang Ma." Sahut Naren.


" Pulang? Kenapa tidak pamit sama Mama? Mama bahkan belum mengucapkan terima kasih kepadanya." Ujar nyonya Arkana.


" Entahlah Ma, aku ingin besok kita ke rumah teman Mama, aku akan berbicara kepada mereka untuk membatalkan perjodohan itu." Ucap Naren.


" Baiklah besok pagi kita ke sana." Sahut nyonya Arkana.


Besok ketemu ya sama cewek yang di jodohkan Naren. Kira kira siapa ya?


Mohon maaf tidak bisa double up karena kondisi author lagi drop banget....

__ADS_1


Miss U All


TBC...


__ADS_2