Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Kejutan Luar Biasa


__ADS_3

Hari ini Dara mengirim Naren dan Ibunya ke rumah pengacaranya untuk menyerahkan dokumennya menggunakan taksi. Setelah koordinasi dengan sang supir, Dara kembali masuk ke dalam rumah.


" Kamu membiarkan mereka pergi kemana sayang?" Tanya Albert tiba tiba berdiri di balik pintu.


" Itu Kak, katanya mereka suntuk di rumah, biar fresh aku menyuruh supir membawa mereka keliling kota, aku juga meminta supir untuk tidak menurunkan mereka di manapun, jadi supir taksi itu nanti akan menurunkan mereka di sini lagi." Sahut Dara.


" Benarkah? Apa kau tidak mencoba membohongiku?" Selidik Albert menatap Dara.


" Untuk apa aku membohongimu, kalau kau tidak percaya aku bisa menyuruh supir taksi tadi untuk kembali sekarang juga." Ujar Dara tidak terima.


" Tidak perlu sayang, aku percaya sama kamu kok, ya udah aku berangkat dulu ya." Ucap Albert.


" Baiklah hati hati." Sahut Dara.


Albert melewati Dara tiba tiba ia menghentikan langkahnya lalu...


Cup...


Albert mencuri ciuman di pipi Dara.


" Apa apaan kamu sih Kak." Ucap Dara kesal.


" Aku tidak bisa menahan diriku sayang, persiapkan dirimu untuk pernikahan kita, karena besok adalah hari penetapan CEO NK Group yang akan berubah menjadi AK Group." Albert meninggalkan Dara yang masih mematung.


" Aku harus segera mencari bukti lainnya untuk mengalahkan mereka berdua, hah... Lama kelamaan aku bisa gila berada di antara mereka, aku merasa seperti istri yang selingkuh dari suaminya." Gumam Dara masuk ke dalam.


Dara menghentikan langkahnya ketika melihat nyonya Melinda berdiri menatap sinis ke arahnya.


" Aku menyetujui Albert menikahimu karena dia mencintaimu, tapi jangan berharap kau bisa menjadi nyonya di rumah ini, apalagi menguasai harta anakku, ingat itu." Ucap nyonya Melinda meninggalkan Dara.


" Heh kalau anda tahu apa tujuanku ke sini kau tidak akan bisa menghinaku seperti ini Nyonya, kau akan melihat apa yang akan menjadi kejutanku esok hari." Ucap Dara tersenyum licik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Albert sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Ia menghampiri Dara di kamarnya.


" Sayang, pakaikan aku dasi donk." Albert memberikan dasinya kepada Dara yang sedang menyisir rambutnya.


Dara menghela nafasnya pelan sambil memutar bola matanya malas.


" Pakai sendiri kan bisa Kak, kenapa harus aku sih." Cebik Dara.


" Katanya kalau di pakaikan sama orang tercinta, itu akan membawa keberuntungan untukku sayang." Sahut Albert.


Dengan terpaksa Dara memakaikan dasi ke leher Albert.


Set...


" Awh sayang, kau mau membunuhku ya? Leherku tercekik Yank." Ucap Albert.


" He he maaf Kak." Ucap Dara nyengir.


" Untung sayang, kalau tidak...

__ADS_1


" Kalau tidak apa? Mau kamu buang? Silahkan! Banyak kok yang mau mungut aku." Sahut Dara memotong ucapan Albert.


" Bukan gitu sayang, kan aku bilangnya kalau tidak... Nyatanya aku sayang tuh." Sahut Albert.


" Yah baiklah, terserah kau saja." Sahut Dara.


" Ayo kita berangkat!" Albert menggandeng tangan Dara.


Keduanya keluar kamar bergegas menuju kantor bersama dengan nyonya Melinda.


Sesampainya di kantor, Albert kembali menggandeng tangan Dara menuju ruang rapat. Banyak pasang mata yang menatap iri pada kedua pasangan itu.


Di ruang rapat ternyata sudah banyak yang datang, termasuk para dewan direksi.


" Selamat datang Tuan Alberto." Sapa seseorang.


" Terima kasih Pak." Sahut Albert.


Albert dan Dara duduk berdampingan.


" Apa tuan Narendra akan datang, tuan Albert?" Tanya salah satu petinggi perusahaan.


" Begini tuan Romeo, kondisi keponakan saya kan masih belum stabil, dia masih seperti orang yang kurang waras, jadi tidak mungkin kami membawanya kemari, silahkan dimulai saja acaranya, dia akan menerima apapun keputusan dari kalian semua." Sahut nyonya Melinda.


" Baiklah Nyonya Kusuma." Sahutnya.


Para dewan direksi menerima sebuah stopmap yang berisi profile masing masing. Mereka saling melempar pandangan membuat nyonya Melinda merasa heran.


" Ada apa tuan tuan?" Tanya nyonya Melinda.


" Apa?" Pekik nyonya Melinda berdiri.


" Bagaimana bisa semua ini terungkap begitu saja? Yang tahu semua ini hanya si pengacara Riski sialan itu, tapi dia sudah lama menghilang, bagaimana informasi ini sampai ke tangan dewan direksi sekarang?" Batin nyonya Melinda cemas.


" A... Apa Tuan? Saya bukan anak kandung Papa Raharja?" Tanya Albert memastikan.


" Lihat sendiri tuan Albert, kau memang belum mengetahuinya atau memang sengaja ingin mempermainkan kami." Ucap pak Romeo.


" Saya belum tahu soal ini tuan." Sahut Albert.


Dengan gemetar Albert membaca lembaran kertas itu. Hatinya sakit bagai di remas remas setelah tahu apa penyebab mamanya tidak menyayanginya selama ini.


Ternyata dia memang hanya di jadikan alat saja.


" Tapi Tuan, kalau bukan Albert yang memimpin lalu siapa lagi? Naren sedang tidak waras sekarang bagaimana bisa dia memimpin perusahaan sebesar ini." Ujar nyonya Melinda.


" Siapa bilang nyonya Melinda? Di profile tuan Narendra Kusuma, ada surat keterangan dari dokter rumah sakit ternama, beliau sudah sehat dan kembali normal sejak tiga bulan yang lalu." Sahut pak Romeo.


" Apa? Tidak mungkin pak! Tadi pagi saja dia masih seperti orang tidak waras." Sahut nyonya Melinda tidak percaya.


" Ini hasil pemeriksaan dari dokter nyonya, bagaimana tidak mungkin." Ujarnya.


" Surat itu pasti palsu Pak." Kukuh nyonya Melinda.

__ADS_1


" Siapa bilang itu palsu?"


Dengan gagahnya Naren memasuki ruangan rapat bersama ibu dan pak Riski pengacaranya.


" Na... Naren... Tuan Riski." Ucap nyonya Melinda kaget.


" Apa kabar nyonya Meli?" Sapa pak Riski.


" Ba... Baik pak." Sahut nyonya Melinda.


" Gawat! Bagaimana aku bisa tidak tahu akan hal ini? Aku yakin pasti Dara membantu mereka menyiapkan semua ini, aku tidak akan tinggal diam Dara... Aku akan membuat perhitungan untukmu." Batin nyonya Melinda.


" Tuan Naren anda sudah benar benar sembuh? Kami turut bahagia tuan." Ucap pak Romeo di ikuti para dewan direksi lainnya.


" Terima kasih pak." Sahut Naren.


" Mohon perhatian semua, saya berdiri di sini ingin mengambil kembali posisi saya, di dalam map itu ada salinan dokumen kepemilikan perusahaan saya ini yang masih menjadi milik saya, Narendra Kusuma, dan saya banyak mengucapkan terima kasih kepada saudara saya Alberto yang selama ini telah menggantikan saya memimpin perusahaan ini, namun maaf... Masa kepemimpinannya belum ada lima tahun, jadi dia belum bisa maju sebagai kandidat pemimpin perusahaan ini, mohon di mengerti dan selamat bekerja sama bersama saya kembali." Ucap Naren.


" Baiklah tuan Naren, selamat bergabung kembali bersama kami." Ucap salah satu petinggi perusahaan.


" Kapan anda akan mulai aktif ke kantor Tuan?" Tanya pak Romeo.


" Tunggu saja waktu yang tepat Tuan, saya permisi dulu." Ucap Naren.


" Baiklah." Sahutnya.


Naren mendekati Dara, ia menatap Albert yang saat ini menatapnya sendu.


Dara beranjak dari kursinya, namun Albert mencekal tangannya.


" Aku tahu semua ini terjadi karenamu." Ucap Albert.


Dara, Naren, nyonya Arkana dan pak Riski mengerutkan keningnya.


" Aku tahu semua yang kau lakukan selama ini, dari penyembuhan Kak Naren, pembebasan tante Arkana, pengambilan dokumen itu dan termasuk kepura puraanmu mau menerimaku Dara, aku tahu semuanya... Aku sengaja membiarkanmu melakukan semua itu karena aku sudah muak menjadi pion ibuku selama ini. Aku ingin hidup bahagia bersamamu, aku sangat berharap kau bisa melihat ketulusanku, dan mau benar-benar menerimaku, tapi ternyata tidak! Kau seperti ibuku yang hanya memanfaatkan ku saja, kau jahat Dara! Kau jahat!" Teriak Albert.


Albert melihat pisau buah di atas meja tiba tiba ia mengambilnya lalu.....


Lalu apa ya????


Jadi kasihan sama Albert hhhh



Dara & Albert


Dara & Naren



Kalian di tim mana?


Miss U All

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2