Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Sebuah Rencana


__ADS_3

Dara memakan es krim nya dengan santai, sedangkan Naren terus menatapnya dengan tatapan harap harap cemas.


" Sayang pertemuan ku dengan Jesika tidak di sengaja, aku tidak tahu kalau meeting dengan client dan clientnya itu dia, aku sama sekali tidak mengetahuinya sayang." Ucap Naren.


" Aku tidak peduli! Mau kamu tahu atau tidak yang jelas kalian tadi terlihat sangat dekat, kamu juga sepertinya menyukai kehadirannya, aku sih tidak masalah kamu mau bagaimana sama mantan kamu itu, nggak aku ambil pusing Mas." Ucap Dara melirik Albert yang nampak tersenyum.


" Sayang jangan gitu donk! Aku tidak tenang kalau kamu marah begitu, aku benar benar tidak tahu kalau Jesika yang akan menjadi modelnya." Ujar Naren menggenggam tangan Dara.


" Siapa yang bertanggung jawab atas pemilihan model itu?" Tanya Dara.


Naren menatap ke arah Albert, Albert mengedikkan bahunya.


" Pak Rohan." Gumam Naren.


" Bilang pada pak Rohan kalau kau mengganti modelnya, aku akan mencari model lain sebagai ganti Jesika, kalau aku tidak mendapatkannya maka aku sendiri yang akan menjadi modelmu." Ucapan Dara membuat Naren melongo.


" Kau akan menjadi model?" Tanya Naren memastikan.


" Bukankah akan lebih menarik jika produk yang di luncurkan oleh perusahaan suaminya, dan istrinya yang jadi modelnya?" Ujar Dara.


" Kau benar! Kau memang hebat istriku, aku mencintaimu." Ucap Naren menggenggam tangan Dara.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Dara.


" Berarti kau tidak marah padaku?" Tanya Naren.


Dara menggenggam tangan Naren, ia tersenyum lepas ke arah Naren.


" Aku tahu kau harus bersikap profesional Mas, aku memahami posisimu kok, memangnya kenapa kalau kau bertemu dengan mantanmu? Itu tidak berpengaruh kepadamu kan? Karena kamu sudah tidak menyimpan perasaan apa apa kepadanya, aku sangat percaya padamu Mas, kalau kamu masih memiliki perasaan kepadanya itu namanya kamu bodoh! Kamu sudah di hina dan di buang sama dia masa' masih mau sama dia." Ujar Dara.


" Terima kasih sayang, kau memang yang terbaik untukku." Naren mencium punggung tangan Dara.


Albert mengepalkan erat tangannya.


" Usahaku membuat hubungan mereka renggang gagal sudah, tapi tidak apa... Aku masih punya banyak rencana untuk memisahkan kalian berdua." Batin Albert tersenyum sinis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesuai dengan keinginan Dara. Satu minggu yang lalu Dara menjadi model produk kecantikan yang di luncurkan oleh perusahaan Naren. Kali ini mereka meluncurkan produk bedak basah dari negara Korea.


Tutorial yang Dara lakukan saat menggunakan bedak itu di sambut antusiasme oleh masyarakat, khususnya kaum hawa. Produk itu terjual laris, belum genap satu bulan perusahaan Naren mampu menjual ratusan juta bedak itu.


Hari ini perusahaan Naren mengadakan perayaan di salah satu hotel ternama di kota ini.


" Selamat tuan Naren, produkmu kali ini mengalami keberhasilan yang signifikan, benar benar luar biasa dan di luar perkiraan kami semua." Ucap salah satu petinggi perusahaan.


" Terima kasih tuan Rio, ini berkat doa dan dukungan anda juga." Sahut Naren.

__ADS_1


" Saya tidak menyangka jika istri anda berbakat menjadi model, lain kali anda bisa tanda tangan kontrak nona Dara, supaya anda bisa menjadi model yang sesungguhnya." Pak Rio menatap Dara.


" Terima kasih Pak, tanpa mengurangi rasa hormat, maaf saya tidak bisa, bidang saya menjadi ibu rumah tangga di dalam rumah, menanti suami saya pulang kerja dan mengurus anak anak nanti Pak, dan mengenai pencapaian ini, saya rasa hanya sebuah kebetulan saja, bukan karena saya tapi memang karna produknya yang memiliki kualitas bagus Pak." Sahut Dara.


" Anda merendah nona Dara, tuan Naren beruntung sekali bisa memiliki anda sebagai pendamping hidupnya, dan sangat terlihat kalau tuan Naren begitu menyayangi anda." Ucap pak Rio.


" Terima kasih Pak." Sahut Dara.


" Kalau begitu saya permisi tuan, nona! Sekali lagi selamat untuk kalian berdua, silahkan di nikmati pestanya." Ucap pak Rio meninggalkan mereka berdua.


Naren menatap Dara begitupun sebaliknya.


" Kau memang terbaik dari yang terbaik sayang, aku semakin mencintaimu, kau membuktikan kepada dunia kalau kau bisa mengatasi semuanya, terima kasih sayangku." Naren memeluk Dara lalu menciumnya.


" Sama sama Mas." Sahut Dara.


Nampak Jesika dan Albert mendatangi mereka.


" Selamat ya Ren, aku tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini tanpa bantuanku." Ucap Jesika duduk di samping Naren.


" Semua ini berkat istriku tersayang, ternyata dia lebih berbakat darimu." Sahut Naren menatap Dara.


" Ya ya kau benar." Sahut Jesika.


Jesika mengepalkan erat tangannya di bawah meja.


" Kamu mau minum sayang?" Tanya Naren menatap Dara.


" Tidak Mas, kalau kamu mau, minum saja! Tapi jangan banyak banyak karena bisa gawat kalau kau mabuk." Sahut Dara.


" Baiklah sedikit saja, Albert kau juga harus minum." Ucap Naren.


" Iya Kak." Sahut Albert menurut.


Ketiganya meminta pelayan menyajikan minuman. Dara bisa melihat gelagat aneh yang di tampakkan Jesika dan Albert, tapi ia pura pura tidak menyadarinya.


" Sayang kamu nggak mau mencoba minuman ini?" Tanya Naren.


Dara menggelengkan kepala sambil tersenyum menatap Naren.


" Tidak Mas, kamu saja." Sahut Naren.


Ketiganya minum sampai setengah kesadaran mereka hilang.


Tiba tiba Jesika berjalan sambil membawa minumannya lalu...


" Upss sorry!" Jesika menumpahkan minumannya ke gaun Dara.

__ADS_1


" Apa apaan sih kamu! Bikin ulah aja jadi orang." Gerutu Dara mengibas ngibaskan gaunnya.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Naren di tengah kesadarannya.


" Tidak apa Mas, aku ke toilet dulu." Ucap Dara meninggalkan mereka.


Dara membersihkan tumpahan minuman itu pada bajunya. Ia segera kembali ke tempat Naren setelah selesai.


" Dimana mereka?" Dara mengerutkan keningnya saat Naren, dan Jesika tidak ada di sana.


" Ah sial! Aku kecolongan.... Jangan harap kau bisa membodohi ku Jesika." Geram Dara.


Dari kejauhan Albert menghampiri Dara.


" Kak, Mas Naren kemana?" Tanya Dara menatap Albert.


" Waduh aku tidak tahu Ra, aku baru saja menemui temanku, tadi sih ada di sini bersama Jesika, atau mungkin mereka pergi berdua, bernostalgia mengulang masa lalu mereka." Ujar Albert. Dara tidak menghiraukan ucapannya.


Dara mencoba menelepon Naren, namun tidak di angkatnya. Ia curiga dengan Jesika, pasti Jesika merencanakan sesuatu.


Dara segera bertanya kepada para pelayan yang ada di sana, namun nihil tidak ada yang mengetahui kemana Naren pergi.


" Gimana Ra? Apa kamu tahu kemana Kak Naren pergi?" Tanya Albert.


Dara menatap tajam ke arah Albert.


" Kalau sampai Jesika melakukan sesuatu kepada Mas Naren, maka aku tidak akan pernah mau berteman lagi denganmu." Tekan Dara menunjuk Albert.


" Kenapa kau bilang seperti itu kepadaku Dara? Memangnya apa kesalahanku?" Tanya Albert.


" Kau bisa bersandiwara di depan Mas Naren, tapi tidak di depanku Kak, aku tahu jelas apa yang kau dan Jesika rencanakan selama ini, jadi berhenti berpura pura! Karena aku sudah muak melihatnya." Ucap Dara meninggalkan Albert.


Albert menatap kepergian Dara.


" Kau memang wanita cerdik Dara, tapi sayangnya kali ini kau tidak bisa menyelamatkan suamimu, reportasi suamimu akan hancur, dan mau tidak mau ia harus kembali menutup dirinya seperti dulu lagi, dan aku akan kembali menggantikannya menjadi pewaris di keluarga ini dan tentunya aku akan mendapatkanmu bagaimana caranya." Gumam Albert dalam hatinya.


Dara berlari menuju ruang CCTV yang ada di dalam hotel ini. Ia berharap bisa menemukan Naren secepatnya dengan petunjuk CCTV itu. Berhasilkah Dara menggagalkan rencana Jesika?


Penasaran?


Tekan like koment vote dan 🌹nya dulu buat author...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2