Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Insiden


__ADS_3

Dua minggu sudah Dara berada di rumahnya. Kondisinya juga sudah pulih, begitupun dengan Naren. Mereka berencana pulang besok pagi, namun entah mengapa saat makan malam Dara terlihat gelisah.


" Sayang kamu kenapa hmm? Mas lihat dari tadi kamu gelisah." Ucap Naren sambil mengunyah makanannya.


" Iya Kak, Ayah lihat juga begitu." Sahut pak Rohman.


" Aku tidak tahu Yah, Mas, tiba tiba aku kepikiran sama mama, seperti terjadi hal buruk dengan mama gitu." Ujar Dara.


" Sayang tenanglah! Mama pasti baik baik saja." Naren menggenggam tangan Naren.


" Semoga saja Mas, tapi firasat ku mengatakan kalau kita harus pulang malam ini Mas, aku takut mama kenapa napa." Ucap Dara.


" Tapi kita akan sampai rumah larut malam sayang, perjalanannya lumayan jauh." Ujar Naren.


" Tidak apa Mas, yang penting aku bisa memastikan kalau mama baik baik saja." Ucap Dara.


Naren menghela nafasnya pelan.


" Baiklah kita akan pulang setelah makan malam." Sahut Naren mengalah. Ia juga khawatir kalau firasat Dara benar.


" Terima kasih Mas." Ucap Dara meneruskan makannya.


Selesai makan malam Naren dan Dara berpamitan kepada pak Rohman untuk kembali ke kota. Naren melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Mas aku coba telepon mama dulu ya." Ujar Dara.


" Iya." Sahut Naren.


Dara mengeluarkan ponsel dari tas selempang nya. Ia membuka aplikasi hijau mendial nomer mama mertuanya.


Tut.... Tut....


Panggilan tersambung namun tidak ada jawaban.


" Mama tidak mengangkat Mas, kemana ya?" Tanya Dara menatap Naren.


" Mungkin sudah tidur sayang." Sahut Naren.


" Nggak mungkin deh kaya'nya Mas, ini masih jam delapan Mas, atau jangan jangan mama kenapa napa Mas." Ujar Dara cemas.


" Sayang tenanglah! Tidak terjadi apa apa dengan mama." Ucap Naren.


" Bagaimana aku bisa tenang Mas." Bentak Dara tanpa sadar.


" Sayang kamu membentak Mas?" Tanya Naren tidak percaya.


" Ah maafkan aku Mas." Ucap Dara menyugar


rambutnya.


" Hiks.... " Tiba tiba Dara terisak.


Naren meminggirkan mobilnya.


" Sayang jangan menangis!" Naren menarik Dara ke dalam pelukannya.


" Hiks.... Aku takut mama kenapa napa Mas, aku takut Albert ataupun mamanya merencanakan hal buruk kepada mama, bagaimana kalau mereka... hiks... kalau mereka mencelakai mama hiksss." Isak Dara dalam pelukan Naren.


" Terima kasih kamu sudah mengkhawatirkan mama sayang, tapi Mas mohon tenangkan dirimu! Mas tidak mau kamu sakit lagi, kita berdoa saja semoga mama baik baik saja, lagian Albert dan mamanya sekarang berada di penjara jadi mereka tidak akan bisa menyakiti mama." Ujar Naren mengelus punggung Dara.

__ADS_1


Dara melepas pelukan Naren. Ia mengusap air matanya.


" Mas... Orang yang pada dasarnya jahat bisa melakukan apapun, mereka pasti akan menghalalkan segala cara supaya bisa bebas dari penjara Mas, jangan lupakan itu." Ucap Dara.


" Iya sayang, mereka bisa melakukan itu kalau mereka punya uang, saat ini mereka tidak punya apa apa sayang." Ujar Naren.


" Kamu tidak membekukan rekening Albert Mas, bagaimana kamu bisa seyakin itu kalau mereka tidak punya uang." Sahut Dara.


" Astaga! Aku lupa sayang." Naren menepuk jidatnya.


" Tuh kan Mas.... Gimana keadaan mama sekarang, mana di telepon nggak jawab lagi, ayo buruan kita jalan Mas! Kita harus sampai di rumah dengan cepat." Ujar Dara kembali cemas.


" Tenangkan dirimu dulu baru Mas jalan." Ujar Naren.


Dara mengatur nafasnya dengan baik.


" Sudah lebih tenang?" Tanya Naren merapikan anak rambut Dara.


" Iya Mas, maafkan aku! Karena aku kamu jadi tidak fokus menyetir." Ucap Dara yang di balas senyuman manis oleh Naren.


Naren kembali melajukan mobilnya melanjutkan perjalanannya.


...****************...


Di dalam rumah Naren, nyonya Arkana hendak menutup pintu rumahnya, namun tiba tiba seseorang menahannya lalu masuk ke dalam.


" Me... Meli... " Gugup nyonya Arkana.


Nyonya Arkana mundur, nyonya Melinda maju mendekatinya.


" Bagaimana kamu bisa keluar dari penjara?" Tanya nyonya Arkana dengan tubuh gemetar.


" Mau apa kau kemari?" Tanya nyonya Arkana.


" Aku mau membunuhmu, itu jika Naren tidak mau menyerahkan semua hartanya kepada Albert, tapi kalau dia mau maka aku akan melepaskanmu dengan selamat." Ujar nyonya Melinda menatap tajam ke arah nyonya Arkana.


" Kau tidak bisa melakukannya karena kau bukan siapa siapa Meli, kau bukan bagian dari keluarga ini, suamiku merintis perusahaan itu dari nol, itu perusahaan Naren bukan perusahaan keluarga." Sahut nyonya Arkana.


" Semuanya bisa di lakukan kalau Naren mau tanda tangan Kakak iparku yang cantik." Nyonya Melinda mengelus pipi nyonya Arkana.


" Naren tidak akan melakukannya, ia tidak akan memberikan miliknya kepada orang lain, kalian manusia serakah! Putramu ingin merebut Dara, sekarang kau ingin merebut hartanya, benar benar tidak malu." Bentak nyonya Arkana.


Nyonya Melinda mencekik leher nyonya Arkana.


" Egh... Egh... " Nyonya Arkana mencoba menghindar namun nyonya Melinda semakin menekan cekikkannya.


" Le... Lepas." Ucap nyonya Arkana.


Nyonya Melinda melepas cekikkannya.


" Uhuk... uhuk... uhuk.... " Nyonya Arkana terbatuk batuk. Dadanya terasa sesak.


" Seharusnya semua bisa terjadi dengan mudah seandainya menantumu itu tidak datang kemari dan mengacaukan semuanya." Teriak nyonya Melinda.


" Dia benar benar pintar dan sangat licik menipu kami dengan kepolosannya, seandainya aku tahu niatnya yang sebenarnya, sudah aku pastikan aku akan membunuhnya lebih dulu." Sambung nyonya Melinda.


Nyonya Arkana menatap tajam ke arah adik iparnya.


" Jangan bilang kalau kecelakaan yang di alami oleh menantuku itu ulahmu." Tekan nyonya Arkana.

__ADS_1


" Ha ha ha ha." Nyonya Melinda tertawa keras hingga suaranya menggema di dalam rumah.


" Kau sudah pintar sekarangbkakak ipar, ya... Aku yang melakukannya! Aku ingin menantu dan pewarismu itu mati." Ucap nyonya Melinda.


Plak....


Tamparan keras mendarat di pipi nyonya Melinda. Hal itu membuatnya geram. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari dalam sakunya lalu menodongkan kepada nyonya Arkana.


" Sepertinya kau memang harus mati kakak ipar, aku yakin kematianmu ini akan mengguncang putramu, dan dia akan kembali menjadi gila." Ucap nyonya Melinda.


Nyonya Arkana mencoba lari keluar namun nyonya Melinda menarik tubuhnya, lalu mendorongnya ke lantai hingga kepalanya membentur sudut meja.


Dugh....


" Awh." Nyonya Arkana menyentuh dahinya yang mengeluarkan lumayan banyak darah.


" Aku akan mengakhiri hidupmu di sini kakak ipar." Nyonya Melinda hendak menusuk nyonya Arkana tiba tiba....


Bugh....


" Awh... " Nyonya Melinda memegang tengkuknya yang terasa sakit luar biasa. Ia menoleh ke belakang.


" Dara." Gumam nyonya Melinda.


" Ya ini aku, kau tidak ada kapok kapoknya berbuat jahat terus menerus nyonya, kali ini akan aku pastikan kau tidak akan bisa keluar lagi dari penjara, aku akan mengusut siapa yang membantumu keluar dari sana hingga kau bisa berkeliaran di sini." Ucap Dara.


Nyonya Arkana segera beranjak mendekati Dara.


Nyonya Melinda tidak bergeming, ia merasakan sakit yang teramat sampai tiba tiba....


Bugh....


Nyonya Melinda tidak sadarkan diri.


" Sayang dia...


" Dia hanya pingsan Ma, Mama tidak apa?" Tanya Dara melemparkan kayu balok yang ia gunakan untuk memukul nyonya Melinda.


" Mama tidak apa sayang, beruntung kamu datang tepat waktu sayang, dimana Naren?" Tanya nyonya Arkana.


" Mas Naren sedang memarkirkan mobil Ma." Sahut Dara.


Naren terlihat berlari tergesa menghampiri mereka. Saat keduanya menatap Naren tiba tiba nyonya Melinda bangun lalu....


" Awas sayang!" Teriak Naren membuat Dara menoleh ke belakang dan....


Jleb......


Nah loh siapakah yang tertusuk???


Penasaran?????


Jangan lupa untuk tetap like koment vote dan hadiahnya biar author semangat...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2