
Albert masuk ke dalam rumahnya dengan lesu. Jack yang tidak ke kantor melihatnya sambil mengerutkan keningnya.
" Apa kau gagal mendapatkan maaf dari Zelin?" Tanya Jack.
" Iya Kak, Zelin menunjukkan sifat aslinya padaku." Albert duduk di sebelah Jack. Ia menghela nafasnya pelan.
" Kau harus berusaha lagi besok, atau nanti malam." Ujar Jack.
" Entahlah Kak! Dia melarang ku untuk menemuinya." Sahut Albert menyandarkan kepalanya pada kepala sofa.
" Memangnya kenapa? Kan kamu harus memperjuangkannya, dia milikmu dan akan selalu jadi milikmu Al." Jack menatap Albert.
" Dia memutuskan hubungan denganku."
" Apa?" Pekik Jack.
" Bagaimana bisa? Bukankah kalian saling mencintai? Kenapa dia memutuskan hubungan denganmu? Jika hanya karena kamu mengabaikannya aku rasa tidak harus sampai putus Al." Ujar Jack merasa keputusan Zelin tidak masuk akal.
" Bukan hanya itu permasalahannya Kak, dia tidak mau punya pacar ataupun suami yang tidak punya pendirian seperti aku, dia merasa cintaku padamu lebih besar dari pada cintaku padanya, itu tidak menutup kemungkinan jika suatu hari aku lebih memilih mengikuti ucapanmu yang bisa membuatnya menderita, di bandingkan dengan kebahagiaannya, seperti meninggalkannya mungkin." Sahut Albert.
" Tidak salah sih dia berpikiran seperti itu, apalagi melihat sikapmu saat itu, aku juga akan melakukan hal yang sama kalau ada di posisi Zelin." Jack menghela nafasnya.
" Iya Kak ini semua memang salahku, Seandainya waktu itu aku mengakuinya sendiri di depanmu, pasti semua ini tidak akan terjadi." Albert mengenal nafasnya pelan.
" Lalu aku harus bagaimana Kak? Aku tidak mau kehilangannya, bagaimana caranya aku bisa meluluhkan hatinya, dia gadis yang sangat kerad kepala, kepalaku benar benar tidak bisa berpikir saat ini." Sambung Albert.
" Mungkin dia hanya ingin tahu bagaimana perjuanganmu mendapatkan dia, buktikan padanya kalau mau benar benar tidak mau kehilangannya! Buktikan seberapa besar cintamu padanya, apalagi pertemuan kalian sangat singkat kan saat kalian jadian dulu, jadi tetap semangat! Aku yakin kau pasti akan berhasil." Jack menepuk pundak Albert.
" Terima kasih Kak, aku ke kamar dulu." Sahut Albert menuju kamarnya.
Jack menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang sedang galau.
...****************...
Di dalam rumah Naren, saat ini Dara masih terbaring di ranjangnya. Padahal hari sudah menjelang siang, namun Dara belum rela meninggalkan ranjangnya. Naren hanya geleng geleng kepala melihat sikap pemalas Dara selama ini.
Naren duduk di tepi ranjang mengelus kepala Dara.
" Sayang kapan kamu mau bangun? Apa kamu tidak lapar? Kamu sudah melewatkan waktu sarapan lhoh, kasihan dedeknya pasti dia sangat kelaparan di dalam sana, bangun donk! Masa' iya kamu mau tidur terus sih." Ucap Naren hati hati takut membangunkan singa tidur, karena saat ini dia sedang membangunkan Dara bukan singa.
" Apa sih Mas ganggu aja! Aku masih ngantuk, nanti kalau lapar aku pasti bangun buat makan." Sahut Dara masih memejamkan matanya.
Nah kan? Yang bangun bukan Dara, tapi singa. Pikir Naren menghela nafasnya.
__ADS_1
" Baiklah terserah kau saja." Sahut Naren.
Naren berbaring di depan Dara. Ia mengelus perut Dara.
" Sayangnya Papa suka bobok ya? Makanya Mamamu tidur terus sejak hamil kamu, apa kamu tidak lapar hmm." Ujar Naren.
" Mas geli ah, udah minggir! Aku masih mau tidur." Ujar Dara.
" Mas kan ingin menyapa anak Mas sayang, Mas udah nggak sabar pengin gendong dia setelah lahir nanti, kira kira dia laki laki atau perempuan ya." Ujar Naren.
" Belum tahu Mas, kan baru tiga bulan, nunggu empat bulan lagi." Sahut Dara.
Naren merosot ke bawah. Ia menciumi perut Dara sambil sesekali mengusap usapnya membuat Dara merasa terganggu dan kesal.
" Kamu selalu mengganggu tidurku Mas, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak." Kesal Dara.
Dara beranjak duduk lalu mengambil bantal.
" Rasain ini Mas! Kamu selalu usil kalau aku lagi tidur." Dara memukul kepala Naren dengan bantal itu.
" Eh sayang iya iya maaf..." Ucap Naren.
" Nggak akan aku maafkan, kamu sudah mengganggu tidurku! Aku harus memberikan pelajaran padamu Mas." Dara terus memukul Naren.
Padahal pukulan Dara tidak terasa bagi Naren, ia hanya menjaga perasaan Dara saja. Dara menghentikan perbuatannya.
" Hah." Dara menghembuskan nafasnya dengan kasar.
" Aku tidak menyangka jika kehamilan ku membuatku menjadi ratu tidur Mas, entah mengapa rasanya mata ini sulit sekali terbuka, mataku selalu ingin terpejam setiap waktu, dan aku sangat mencintai bantal, selimut dan ranjang ini." Ujar Dara.
" Tidak masalah sayang, Mas memakluminya kalau apa yang kamu lakukan ini bawaan dari dedek bayi kita, cuma kalau waktunya makan, kamu tetap harus makan, jangan melewatkannya! Mas nggak mau kalau kamu sampai sakit, kamu dan dedek harus selalu sehat." Ujar Naren mencubit pelan pipi Dara.
" Terkadang aku malu Mas sama mama, aku tidak pernah lagi turun ke dapur ataupun ke meja makan, aku hanya mengurung diriku di dalam kamar saja, aku asyik dengan dunia mimpiku sendiri, entah sampai kapan aku akan seperti ini terus." Keluh Dara menyandarkan kepalanya ke bahu Naren.
" Mama memahamimu sayang, kata mama kamu sama seperti mama dulu saat hamil Mas, mama juga sukanya tidur terus sampai papa marah marah karena mama sering melewatkan jam makannya, sama sepertimu." Ucap Naren.
" Benarkah Mas mama begitu?" Tanya Dara memastikan.
" Iya, mama sendiri yang cerita sama Mas, berarti anak kita menuruni Mas ya, kelak dia akan menjadi anak yang pandai, pemimpin yang hebat, sehat dan di senangi banyak orang." Ujar Naren.
" Iya, dia akan menuruni sifatmu asal jangan menuruni sifatmu yang gampang di bodohi sama orang." Sindir Dara.
" Kamu menyindir Mas sayang." Ucap Naren.
__ADS_1
" He he sedikit." Sahut Dara.
" Nakal kamu ya." Ucap Naren.
Naren menangkup wajah Dara, ia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Dara dengan lembut. Dara mengalungkan tangannya ke leher Naren, Naren menahan tengkuk Dara memperdalam ciumannya.
Suara decapan memenuhi kamar mereka. Merasa kehabisan nafas, Naren melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Dara dengan jempolnya.
" Manis sayang." Ucap Naren.
Dara tersenyum menatap Naren.
" Maafkan aku Mas!" Ucap Dara.
" Maaf untuk apa?" Tanya Naren menatap Dara.
" Selama ini aku sering emosian sama kamu, aku sering memarahimu, aku sering kesal sama kamu bahkan selama kehamilan ku aku selalu menyusahkanmu, aku tidak berniat melakukan semua itu, entah mengapa rasanya aku tidak bisa mengontrol emosiku, tapi percayalah! Aku masih sangat mencintaimu, aku masih sangat menyayangi pria tuaku." Ucap Dara
" Pria tua ini juga akan selalu mencintai dan menyayangimu sayang." Naren mencium kening Dara.
Dara memeluk Naren dengan perasaan bahagia. Ia sangat menyadari kalau sikapnya selama ini membuat Naren merasa tidak di hargai. Sebisa mungkin ia selalu menahan emosinya agar tetap stabil namun selalu saja gagal.
Jangan lupa tekan like, koment vote dan 🌹nya buat author.
Penutupan lomba besok pagi, dan pengumumannya tanggal 21.
Mohon doa readers semua semoga novel ini sesukses seperti apa yang di harapkan, Amin.
Mohon doa dan dukungannya untuk novel terbaru author yang juga sedang mengikuti lomba selain affair with you...
Cuplikan Affair With You
Yang belum baca... silahkan mampir
Baca dan dukung juga ya...
Miss U All...
TBC....
__ADS_1