
Tubuh Dara gemetar, ia menatap Albert dengan sedikit gugup.
" Apa maksudmu Kak, memangnya aku merencanakan apa?" Tanya Dara.
Albert merapikan anak rambut yang menutupi wajah Dara.
" Gawat kalau sampai dia mendengar semua ucapanku dengan Mas Maren, tamat sudah riwayatku." Batin Dara.
" Aku tahu kalau kau berencana menduakan aku dengan Kak Naren, aku tidak terima itu sayang." Ujar Albert membuat Dara bernafas lega.
" Ya Tuhan.... Jantungku serasa hampir copot." Ujar Dara dalam hati.
Albert memajukan wajahnya membuat jantung Dara berdegup kencang. ingin sekali ia menendang Albert saat ini juga.
" Aku sangat mencintaimu sayang, aku tidak mau kehilanganmu." Ujar Albert.
Tiba tiba...
Cup...
Albert mengecup kening Dara, Dara membulatkan matanya.
" Apa sih Kak." Dara mendorong pelan tubuh Albert.
" Kenapa hmm? Kamu malu?" Albert menatap Dara.
" Aku nggak suka ya kamu main nyosor gitu aja, risih akunya." Ucap Dara kesal.
" Kamu harus terbiasa mulai sekarang, karena aku akan sering melakukannya."
" What?" Pekik Dara membulatkan matanya.
" Tidak perlu berteriak begitu sayang, kalau ada yang lewat di kira aku ngapa ngapain kamu." Ujar Albert mengacak rambut Dara.
" Sudah ah aku mau tidur." Ucap Dara.
" Ikut." Sahut Albert.
" Berani masuk kamarku, aku tendang kamu kak." Ancam Dara.
Brak....
Dara menutup pintu dengan keras. Albert menggelengkan kepala melihat kelakuan Dara.
" Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku Dara, aku tidak mau kehilanganmu, apalagi jika kau menjadi milik Kak Naren." Gumam Albert.
Naren yang mengintip di balik pintu mengepalkan erat tangannya.
" Aku nggak rela jika kau menyentuh Dara, akan aku beri kau pelajaran, Albert." Geram Naren.
Naren masuk ke dalam kamar Dara, Dara yang baru saja keluar dari kamar mandi tercengang melihat Naren yang sedang menghampirinya. Padahal ia hanya memakai bath robe saja.
" Mas ngapain kamu ke sini? Tidur sana!" Usir Dara.
" Apa kau sudah mencuci keningmu itu menggunakan sabun? Aku tidak mau jejak Albert ada di tubuhmu." Ucap Naren.
" Tenang saja Mas! Albert cuma cium kening doank, nggak usah di permasalahkan gitu lah, lagian demi misiku berhasil apapun akan aku lakukan." Ujar Dara.
" Apa kamu senang di cium sama pria jahat itu? Daripada di cium sama dia mending di cium aku aja Dara." Ujar Naren.
" Lagian apa jika Albert meminta tubuhmu kau akan memberikannya dengan alasan demi misimu itu? Aku tidak akan membiarkannya kamu melakukan itu Dara, aku tidak mau jika sampai kau menyerahkan tubuhmu kepadanya, mending akhiri misimu sekarang juga." Omel Naren.
__ADS_1
Dara melongo menatap Naren tak percaya.
" Kenapa menatapku seperti itu?" Naren menatap Dara.
" Mas kamu sudah bisa bersikap normal Mas, kamu bersikap seperti seorang suami yang sedang cemburu kepada istrinya, itu tandanya kau sudah sembuh Mas." Ucap Dara senang.
" Benarkah?" Tanya Naren.
" Iya Mas, tapi kita akan lihat perkembanganmu besok, apakah kamu tetap bersikap seperti ini atau berubah lagi seperti sebelumnya." Ucap Dara.
" Kalau benar aku sudah sembuh, apa rencanamu?" Tanya Naren.
" Kau akan lihat besok, sekarang kembalilah ke kamarmu, aku mau tidur." Ucap Dara.
" Baiklah, semoga mimpi indah."
Cup...
Kali ini Naren mengecup pipi Dara. Ia keluar dari kamar Dara sebelum mendapat amukan dari Dara.
Dara menggelengkan kepalanya.
" Kalau seperti ini, berasa jadi cewek murahan gue." Gumam Dara.
...****************...
Pagi hari selesai sarapan, Dara menemui Albert di ruang kerjanya.
" Kak."
Albert menoleh ke pintu.
" Iya sayang, ada apa?" Albert menghampirinya.
" Ada apa sayang? Katakan saja! Aku ke buru mau berangkat ke kantor." Albert melirik jam mewah di pergelangan tangannya.
" Aku ingin membawa Mas Naren ke resto seafood yang ada di dekat perbatasan, dia ingin makan seafood di sana, kami di temani bi Minah untuk sampai ke sana, apakah boleh?" Tanya Dara hati hati.
" Kenapa mesti sampai sana sayang? situ kejauhan, cari yang dekat aja, biar nanti aku bisa menyusul." Ujar Albert.
" Sekalian aku ingin jalan jalan, aku suntuk kalau harus di rumah hanya mengurus Mas Naren terus, sekali kali boleh ya?" Dara mengelus pipi Albert, Albert memejamkan matanya menikmati sentuhan Dara.
" Lepas Dara... Kau akan membangunkan anaconda yang sedang tidur." Membayangkan itu, Dara segera menjauhkan tangannya.
" Boleh ya?" Dara memasang wajah puppy eyesnya.
" Baiklah demi kamu apa sih yang nggak aku berikan, tapi selalu aktifkan GPS di ponselmu supaya aku bisa memantaumu." Ucap Albert.
" Aku jadi merasa kasihan sama Albert, sepertinya dia benar benar mencintaiku, maaf ya Albert jika aku harus melakukan semua ini, semua adil dalam cinta dan perang, itulah yang coba aku lakukan saat ini." Batin Dara.
" Dara." Albert menyentuh pundak Dara.
" Ah iya siap." Sahut Dara tersenyum manis.
" Eh mau kemana?" Albert mencekal tangan Dara saat Dara hendak keluar.
" Ya aku mau siap siap lah." Sahut Dara.
Albert menarik Dara hingga tidak ada jarak di antara mereka.
" Duh mau ngapain lagi nih orang? Ya Tuhan... Jangan sampai dia nyium gue lagi." Pinta Dara dalam hati.
__ADS_1
" Berikan semangat sebelum pergi." Ujar Albert.
" Semangat!" Dara mengangkat tangannya.
" Bukan seperti itu sayang, tapi...." Protes Albert.
Cup...
" Seperti ini." Albert mengecup kening Dara lagi.
Dengan kesal Dara keluar dari ruangan Albert.
" Sial banget sih! Pagi pagi udah dapat sosoran dari Albert." Gerutu Dara mengusap usap keningnya.
" Aku harus segera mengumpulkan bukti bukti, aku sudah tidak tahan bersandiwara di depannya lagi." Gumam Dara.
" Bagaimana Non? Apa Den Albert mengininkan?" Tanya bi Minah yang sudah menunggu dari tadi.
" Beres Bi, mana Mas Naren Bi?" Tanya Dara.
" Den Naren ada di kamarnya Non, kapan kita akan berangkat?" Bi Minah bertanya lagi.
" Nanti setelah Albert pergi ke kantor." Sahut Dara.
" Aku ke kamar Mas Naren dulu Bi." Dara berjalan menuju kamar Naren.
Ceklek....
" Mas kamu sudah siap?" Dara menghampiri Naren yang sedang duduk di tepi ranjang.
" Sudah, apa Albert mengijinkan kita pergi?" Tanya Naren.
" Tentu donk." Sahut Dara.
" Pasti kamu merayunya." Tebak Naren.
" Sedikit, yang penting kita bisa pergi hari ini." Sahut Dara.
Naren terlihat cemberut.
" Hei kenapa cemberut gitu hmm?" Dara menangkup wajah Naren.
" Aku tidak suka kamu dekat dekat dengan Albert, aku takut kamu akan tergoda dengannya lalu meninggalkan aku." Ujar Naren.
" Mas tinggal sebentar lagi, sebentar lagi misi kita akan berhasil, aku janji kalau aku tidak akan tergoda dengannya, kamu percaya kan sama aku?" Tanya Dara.
" Aku percaya sama kamu." Naren menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu ayo kita berangkat." Ajak Dara.
" Dara, sebenarnya kita mau kemana sih?"
Mau kemana hayooooo...
Penasaran?
Yuk tekan like koment bote dan 🌹nya dulu biar Dara semangat memberitahu Naren.
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All.....
__ADS_1
TBC.....