
" Aku menerima, namun sebelumnya kau harus mendengarkan apa yang aku ucapkan, aku ingin memberi tahu sesuatu pada kalian." Ucap Zelin menatap mereka bergantian.
Semua orang menatapnya. Albert menggelengkan kepalanya namun Zelin membuang mukanya.
" Katakan apa yang ingin kau berita tahu kepada kami! Apa ada sesuatu yang penting? Kenapa kau terlihat serius sekali?" Tanya Jack.
" Aku gadis cerewet, periang, yang menjalin hubungan dengan seseorang." Ucap Zelin.
Deg.... Jantung Jack terasa berhenti berdetak. Ia mengerutkan keningnya menatap Zelin.
" Kau punya kekasih?" Tanya Jack memastikan.
" Ya, dan sayangnya kekasih yang aku cintai tidak mau mengakuiku sebagai kekasihnya." Sahut Zelin melirik Albert.
Jack menatap Albert, Albert memilih menundukkan kepala.
" Aku sudha berbicara sejauh ini tapi kau tetap bungkam Mas." Ucap Zelin menatap Albert.
" Zelin katakan dengan jelas! Apa maksud ucapanmu? Kau menjalin hubungan dengan siapa? Selama ini Papa tidak pernah melihatmu membawa pria ke rumah, katakan dengan jelas dan jangan berbelit seperti ini." Ucap pak Krisna.
" Aku tidak membawanya ke rumah karena Papa melarangku." Sahut Zelin menatap papanya.
Zelin menggenggam tangan Albert membuat Jack tercengang. Jack sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi.
" Aku dan Mas Al adalah sepasang kekasih, kami saling mencintai, kami sudah lama menjalin hubungan, apakah kau tega merebut kekasih adikmu sendiri dan memintanya untuk menjadi istrimu?" Tanya Zelin menatap Jack yang terlihat sangat marah.
Jack beranjak mendekati Albert. Albert mendongak menatap Jack.
" Maaf Kak." Ucap Albert.
Tiba tiba....
Bugh.....
" Mas Al." Pekik Zelin saat Jack memukul pipi Albert.
Albert mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Jack menatapnya dengan tajam. Jack sama sekali tidak peduli jika mereka menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya, yang jelas dia harus memberi pelajaran kepada adiknya.
" Akut tidak menyangka Albert..." Ucap Jack.
" Maafkan aku Kak, aku tidak tahu kalau....
" Akut tidak menyangka kalau ternyata kau seorang pecundang." Bentak Jack membuat Albert berjingkrak kaget.
__ADS_1
" Kau pengecut! Dia sudah memberikanmu kesempatan untuk berbicara tapi kau hanya diam saja seperti patung, apa ini yang di ajarkan oleh mamamu? Bukankah mamamu mengajarkan kau untuk mengejar obsesi." Jack kembali membentak Albert.
" Jangan hanya karena aku kakakmu kau tidak mau memberitahu yang sebenarnya Albert, apa kau akan mengalah demi kakakmu ini? Kau membiarkan Zelin menikah denganku begitu? Kau membiarkan aku hidup dengan gadis yang mencintai adik iparnya hah?Katakan brengsek! Jangan diam saja!" Jack menarik kerah leher Albert.
" Ya.... Zelin memang pacarku, kami saling mencintai, kami berencana menikah beberapa bulan lagi, tapi apa yang harus aku lakukan jika ternyata kakakku mencintai wanita yang sama." Teriak Albert.
" Haruskah aku katakan, dia pacarku Kak! Jangan nikahi dia! Apakah aku harus mematahkan hatimu? Apakah aku harus mematahkan hati kakakku yang sangat menyayangiku? Kau terlihat sangat bahagia saat menceritakan tentang Zelin, aku tidak mungkin membuatmu kecewa Kak, kita terpisah selama dua puluh lima tahun, kita baru saja bertemu dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan penuh cinta dan kasih sayang, lalu bagaimana aku bisa merusak hubungan ini karena Zelin." Ujar Albert terpuruk.
" Jangan Zelin Kak, aku bahkan rela mengorbankan nyawaku sendiri demi kakak sebaik dirimu, aku rela melakukan apapun untukmu Kak, aku sudah lama berteman dengan yang namanya kecewa, tapi kau... Kau selalu mendapatkan apa yang kau mau, aku tidak yakin kau bisa menanggung kekecewaan ini, aku mengalah Kak, aku mengalah demi kebahagiaanmu." Ucap Albert mengusap air mata di sudut matanya.
" Apa kau pikir kami akan hidup bahagia di atas penderitaanmu?" Tanya Jack menangkup wajah Albert.
" Dengarkan aku! Walaupun aku mencintai Zelin, tapi aku tidak akan tega memisahkan kalian yang saling mencintai, aku yang salah di sini! Aku yang tidak tahu apa apa tentang Zelin dan kau, daripada kebahagiaanku, kebahagiaanmu lah yang lebih utama Albert... Sebagai kakak aku harus memastikan kebahagiaan adikku lebih dulu, setelah itu baru aku akan hidup bahagia." Ucap Jack.
Jack kembali ke kursinya, ia menatap pak Krisna.
" Tuan Krisna, saya mengubah lamaran ku menjadi lamaran untuk adikku, aku ingin melamar Zelin untuk menjadi istri dari adikku, Alberto Zayn." Ucap Jack.
" Saya terima lamaran anda tuan Jack, mohon maafkan saya yang tidak tahu menahu akan hal ini." Sahut pak Krisna.
" Tidak masalah Tuan, saya juga salah di sini." Sahut Jack.
Jack menatap Zelin dan Albert.
" Terima kasih Kak." Sahut Zelin dengan mata berbinar.
Namun tidak dengan Albert. Albert justru hanya diam saja. Ia tidak tahu apakah ia harus bahagia atau tidak, ia bahagia namun Jack menderita.
" Zelin, aku titip adikku kepadamu, sayangi dia dan jangan pernah kamu menyia-nyiakannya, sedari kecil dia tidak pernah merasakan apa itu kebahagiaan, aku mohon bahagiakan dia." Ucap Jack.
" Aku akan selalu berusaha untuk itu Kak, terima kasih sudah memahami keinginanku." Sahut Zelin.
Setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari yang cerah membuat semua orang bersemangat melakukan aktivitasnya. Namun tidak dengan Dara, ia masih bergelung di dalam selimut. Padahal ini sudah jam delapan pagi.
Naren yang baru masuk ke kamarnya, berjalan menghampiri Dara.
" Sayang, ayo bangun! Ini sudah siang lhoh." Ucap Naren menarik selimutnya.
" Mas... Aku masih ngantuk, pengin tidur lagi." Ujar Dara malas.
__ADS_1
" Sayang ini sudah jam delapan, kamu juga belum sarapan, kasihan dedek kita dia pasti kelaparan." Ucap Naren mengelus elus kepala Dara. Ia tidak tahu kalau tindakannya justru membuat Dara semakin mengantuk.
Tidak ada sahutan lagi dari Dara.
" Sayang." Panggil Naren mengguncang pelan badan Dara.
Dara membuka selimutnya dengan kesal.
" Mas kamu itu ganggu aja deh! Biarkan aku tidur dulu, nanti kalau aku sudah tidak mengantuk aku juga pasti akan bangun kok, nggak usah di paksa paksa deh." Gerutu Dara dengan nada ketus membuat Naren tercengang.
Pasalnya Dara tidak pernah berkata kasar ataupun sedikit keras seperti saat ini.
" Sayang kamu..." Naren menjeda ucapannya.
" Pergilah sekarang dan jangan ganggu aku lagi! Kalau tidak aku mau pulang ke rumah ayah biar kamu tidak bisa gangguin aku." Ancam Dara.
Tidak mau membuat Dara marah, Naren segera keluar dari kamarnya. Ia turun ke bawah menghampiri mamanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Naren duduk di depan mamanya.
" Kenapa wajahmu lesu gitu sayang?" Tanya nyonya Arkana.
" Ma, kenapa sekarang sifat Dara berubah?" Tanya Naren.
" Berubah gimana maksdumu?" Nyonya Arkana mengerutkan keningnya.
" Sekarang Dara sering kesal Ma, ia juga tidak segan segan berkata keras padaku, sekarang kerjaannya juga tidur terus." Ujar Naren.
" Sayang... Hal itu biasa terjadi pada wanita hamil, hormonnya meningkat membuat emosinya labil, makanya jangan ganggu tidurnya, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau, itu namanya bawaan bayi sayang." Terang nyonya Arkana.
" Begitu ya Ma, pantas saja dia marah marah aku suruh bangun, dia juga mengancam mau pulang ke rumah ayah." Ucap Naren.
" Dia seperti Mama saat hamil kamu, sama persis malahan, Mama yakin anak kamu nanti pasti punya sifat sama seperti dirimu." Naren tersenyum mendengar ucapan mamanya.
" Sangat mudah di manfaatkan orang lain." Sambung mamanya membuat senyum Naren menghilang seketika.
Jangan lupa like koment vote dan 🌹nya buat author ya biar author makin semangat...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC....
__ADS_1