Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Kabar Bahagia


__ADS_3

Sebulan berlalu, pagi ini Dara mengalami demam. Badannya panas, wajahnya pucat, ia hanya bisa terbaring di atas ranjang..Hal itu membuat Naren nampak cemas.


" Sayang kita ke dokter ya." Ujar Naren duduk di tepi ranjang.


" Enggak usah Mas, istirahat saja nanti aku sembuh." Sahut Dara.


" Iya kalau sembuh, kalau tambah parah gimana?" Tanya Naren menatap Dara.


" Kalau parah bawa ke rumah sakit, gampang Mas, tapi saat ini aku sedang tidak mau kemana mana, rasanya tubuhku terasa lemas, kepalaku berat Mas." Sahut Dara.


" Baiklah sayang, Mas tidak akan memaksa. Sini Mas pijitin kepalanya." Naren memijat kepala Dara dengan pelan.


Tiba tiba...


"Hmpt" Dara menutup mulutnya dengan tangannya.


Ia berlari menuju kamar mandi di ikuti Naren dari belakang.


Huek... Huek...


Dara memuntahkan isi perutnya pada wastafel.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Naren memijat tengkuk Dara.


Huek... Huek...


Setelah merasa perutnya kosong, Dara membasuh mulutnya dengan air bersih. Ia mengelap nya dengan tisu.


" Hah ya Tuhan.... Kenapa rasanya seperti ini?" Ujar Dara.


" Apa ada yang sakit sayang?" Tanya Naren.


" Kepalaku berdenyut nyeri Mas, perutku rasanya pengin muntah terus." Sahut Dara memijat kepalanya.


" Ayo kita ke ranjang! Atau mau Mas gendong?" Tawar Naren.


Dara menatap Naren.


" Gendong." Ucap Dara manja mengulurkan kedua tangannya.


" Baiklah sini." Sahut Naren.


Naren sedikit membungkuk, lalu Dara sedikit melompat ke punggung Naren. Naren menggendong Dara menuju ranjang. Ia merebahkan Dara di sana.


" Mas telepon dokter dulu ya, biar jelas apa penyakitnya supaya segera mendapatkan penanganan." Ujar Naren.


Dara menganggukkan kepalanya.


Naren menelepon dokter keluarga. Setelah itu ia memijat kepala Dara.


" Pusing banget ya sayang?" Tanya Naren sambil tangannya terus bergerak di kepala Dara.


" Iya Mas, rasanya perutku mual terus, mau muntah lagi." Sahut Dara.


" Yang sabar ya, dokter akan segera kemari, nanti kalau udah minum obat pasti sembuh." Ujar Naren.


" Iya Mas." Sahut Dara.


Tak lama setelah itu dokter datang. Dokter Siska, dokter keluarga Kusuma. Beliau seumuran dengan nyonya Arkana.


" Silahkan masuk Dok! Tolong periksa istri saya! Dari tadi dia pusing dan muntah muntah." Ucap Naren.

__ADS_1


" Baik Tuan." Sahut dokter.


" Sebentar ya Nona saya periksa dulu." Ucapnya.


" Iya Dok." Sahut Dara.


Dokter memeriksa Dara dengan teliti, ia tersenyum saat meraba perut Dara.


" Bagaimana keadaan istri saya Dok? Istri saya sakit apa?" Tanya Naren.


" Ada sesuatu di dalam rahim Nona Dara, Tuan." Sahut dokter.


" Sesuatu? Sesuatu apa itu Dok?" Naren kembali bertanya dengan cemas.


" Calon babby kalian." Ucapan dokter Siska membuat Naren dan Dara melongo.


" Apa? Calon babby?" Pekik Naren.


" Selamat Tuan, Nona! Kalian akan menjadi calon orang tua, semoga kali ini dia sehat dan proses kehamilannya lancar sampai ke persalinan." Ucap dokter Siska.


" Sebentar Dok! Maksud Dokter istri saya hamil Dok?" Tanya Naren memastikan dengan mata berbinar.


" Dugaan saya begitu Tuan, tapi biar lebih jelas silahkan periksa ke bagian obgyn kalau tidak tes dulu pakai tespack, jika garis dua itu tandanya Nona Dara positif hamil." Terang dokter Siska.


" Alhamdulillah.... Aku tidak menyangka Tuhan memberikan gantinya secepatnya ini, saya aku akan menjadi seorang Papa." Naren menatap Dara dengan mata berbinar. Ia tak percaya jika Tuhan memberi ganti anak pertamanya secepat ini.


" Iya Mas." Sahut Dara.


" Semoga anak kita sehat dan baik baik saja sayang, semoga semuanya lancar sampai ke persalinan, Mas sudah tidak sabar ingin menggendongnya, semoga kau dan anak kita selalu di berikan kesehatan sayang." Naren menciumi pipi Dara.


" Amin." Sahut Dara.


" Kalau begitu saya permisi Tuan, sekali lagi selamat untuk anda berdua." Ucap dokter Siska.


Dokter Siska keluar meninggalkan kamar Naren.


Naren berbaring di sebelah Dara, lalu memeluknya.


" Terima kasih sayang kau selalu memberikan kebahagiaan untukku, aku mencintaimu." Naren mencium pipi Dara.


" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Dara.


Nampak nyonya Arkana memasuki kamar mereka menghampiri Dara. Ia baru saja pulang dari acara senam pagi bersama ibu ibu se RTnya. Ia bertemu dengan dokter Siska lalu di beritahu kabar bahagia ini.


" Selamat untuk kalian berdua sayang, Mama berharap kalian bisa menjaga calon cucu Mama kali ini, semoga sehat dan lancar sampai lahiran nanti sayang." Ucap nyonya Arkana mengelus kepala Dara.


" Amin... Terima kasih Ma." Ucap Dara.


" Kalau begitu istirahatlah! Mama akan memasakkan masakan khusus ibu hamil untukmu." Ucap nyonya Arkana.


" Iya Ma." Sahut Dara.


Setelah kepergian mama mertuanya, Dara mengajak Naren ke rumah sakit. Ia ingin memastikan jika berita ini benar, ia tidak mau membuat mama mertua dan suaminya kecewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah ruangan obgyn rumah sakit ternama, Dara berbaring di atas ranjang. Dokter Mila mengoleskan gelnya di atas perutnya lalu menggerakkan transduser ke kanan dan ke kiri.


" Lihatlah Tuan, Nyonya!" Dokter Mila menunjuk layar monitor.


" Titik hitam ini adalah calon babby kalian, masih sebesar biji anggur ya... Usianya kira kira baru empat minggu, untuk mengetahui perkembangannya, silahkan kembali ke sini bulan depan." Ucap dokter Mila.

__ADS_1


" Terima kasih Dok." Ucap Dara.


" Sama sama Nyonya, kurangi aktifitas berat, makan makanan yang bergizi, banyak minum air putih, istirahat yang cukup, jangan sampai stress! Nanti akan saya resep kan vitamin untuk anda, di minum setiap hari untuk menjaga kondisi fisik anda." Dokter Mila kembali ke mejanya, di ikuti Dara dan Naren.


"Terima kasih Dok." Ucap Dara.


" Dokter istri saya muntah muntah tadi pagi, apa itu normal? Apa itu tidak berbahaya untuk janinnya?" Tanya Naren.


" Itu namanya morning sickness Tuan, itu biasa terjadi pada wanita yang hamil muda, jadi Tuan tenang saja karena itu tidak berbahaya, kecuali kalau mual terus bisa di periksakan ke sini." Sahut dokter Mila.


" Kalau masalah itu gimana Dok?" Tanya Naren membuat dokter Mila mengerutkan keningnya.


Dara menggenggam erat tangan Naren memberikan kode namun Naren tidak peka.


" Masalah hubungan malam hari, apa masih aman di lakukan? Saya tidak harus berpuasa kan Dok?" Pertanyaan Naren membuat Dara memejamkan mata sambil memijat pelipisnya menahan malu.


" Saya sarankan untuk sementara waktu , jangan berhubungan dulu Tuan, janin anda masih sangat kecil, masih rentan terhadap goncangan, apalagi Nyonya Dara pernah mengalami keguguran, jadi cari amannya saja dulu ya Tuan." Ujar dokter Mila.


" Sampai kapan saya harus berpuasa Dok?" Naren bertanya kembali.


" Kira kira sampai usia kandungan nyonya Dara memasuki delapan minggu, anda harus bersabar menunggu satu bulan lagi." Sahut dokter Mila.


" Baiklah kalau itu saya bisa menahannya Dok." Sahut Naren mendapat cubita di perutnya dari Dara.


" Ah sakit sayang." Lirih Naren.


" Nggak usah nanya yang aneh aneh deh, bikin malu aja." Ujar Dara.


" Aneh gimana sayang? Ini hal yang wajar yang di tanyakan kaum pria saat istrinya sedang hamil." Sahut Naren.


Dokter Mila tersenyum mendengar perdebatan dua insan di depannya.


" Tidak apa Nyonya, lebih baik bertanya daripada salah langkah, ini resep yang harus anda tebus, semoga sehat selalu dan sampai jumpa bulan depan." Ujar dokter Mila memberikan secarik kertas kepada Naren.


" Terima kasih Dok." Ucap Dara dan Naren bersamaan.


Setelah mendapatkan resep, Dara dan Naren keluar dari ruangan.


" Sayang pelan pelan jalannya! Kamu tidak boleh kecapekan! Kasihan anak kita nanti, Mas tidak mau kalau sampai anak kita kenapa napa, Mas sudah sangat menantikannya selama ini." Ujar Naren.


" Iya Mas maaf." Sahut Dara.


Setelah menebus obat, mereka kembali pulang kembali ke rumah. Mereka masuk ke dalam rumah, nyonya Arkana yang memang sedari tadi menunggu mereka, segera menghampirinya.


" Sayang bagaimana?" Tanya nyonya Arkana menatap kedua anaknya.


" Dara hamil empat minggubMa." Sahut Naren senang.


" Alhamdulillah.." Nyonya Arkana mengelus perut rata Dara.


" Sehat sehat di dalam sini sayang, Oma sudah tidak sabar menanti kelahiranmu ke dunia ini, semoga kelak kau akan selalu membawa kebahagiaan untuk keluarga kita." Ucap nyonya Arkana.


" Amin, semoga doa Mama di kabulkan oleh Allah subhanallah wata'ala." Sahut Naren.


Mereka nampak bahagia menerima kado terindah yang Tuhan berikan kepada mereka semua. Mereka berharap kebahagiaan ini akan kekal selamanya.


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2