Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Prepare Honey Moon


__ADS_3

Hingga malam hari Dara belum keluar dari kamar ayahnya, hal itu membuat Naren cemas pasalnya Dara belum makan apa apa sedari siang. Ia membawakan makanan untuk Dara lalu mengetuk pintu kamar.


Tok tok


" Sayang Mas bawakan makan malam buat kamu, buka pintunya donk! Mas minta maaf sayang! Kalau kamu mau marah sama Mas, Mas akan menerimanya tapi tolong jangan marah sama anak kita, anak kita butuh asupan gizi sayang, sedari tadi kamu belum makan apa apa, kasihan anak kita anak kelaparan sayang, sekarang buka pintunya lalu makan ya." Bujuk Naren.


Ceklek....


Dara membuka pintunya, ia menatap suami yang sangat perhatian padanya.


Dara mengambil nampannya lalu duduk di sofa di ikuti Naren.


" Kamu sudah makan?" Dara menatap Naren yang menggelengkan kepala.


" Kalau begitu kita makan sama sama." Sahut Dara.


Keduanya makan dengan khidmat, setelah selesai mereka masuk ke dalam kamar Dara.


Nada duduk di tepi ranjang begitupun dengan Naren. Naren mengelus kepala Dara lalu ia menggenggam tangannya.


" Sayang Mas minta maaf! Mas tidak pernah tahu kalau kejadiannya akan begini, seandainya Mas tahu kalau akan seperti ini Mas pasti akan langsung mengantarmu ke sini, maafkan Mas sayang!" Naren mencium punggung tangan Dara.


" Aku memaafkanmu Mas! Ini bukan salahmu, mungkin ini sudah takdir Tuhan yang harus aku jalani, tidak perlu merasa bersalah Mas." Sahut Dara tersenyum menatap Naren


" Terima kasih sayang, kau memang benar benar istri yang baik, kau selalu bisa memahamiku, maafkan Mas yang tidak bisa memahamimu." Naren mencium kening Dara.


Dara menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah sekarang kita tidur." Ucap Naren.


" Iya Mas." Sahut Dara.


Keduanya naik ke atas ranjang, Naren memeluk Dara di belakang, ia mengelus perut Dara yang mulai terlihat membuncit.


" Sehat sehat terus sayang, papa sudah tidak sabar menunggu kelahiranmu." Ucap Naren.


Keduanya terlelap menuju alam mimpi bersama.


Pagi hari Dara dan Naren jalan jalan ke menuju danau. Mereka berpapasan dengan ibu ibu yang hendak ke pasar pagi.


" Eh neng Dara, apa kabar neng?"


" Alhamdulillah baik Bu." Sahut Dara.


" Ini... Pria yang dulu tidak waras itu kan? Yang dulu kamu rawat?" Tanyanya menunjuk Naren.


" Dulu saya pernah bilang kan kalau Mas Naren hanya mengalami cidera pada otaknya, dia bukan gila ataupun tidak waras seperti yang kalian pikirkan, buktinya sekarang dia normal seperti orang orang pada umumnya, makanya lain kali hati hati kalau berbicara Bu, kalau lihat keadaan yang sekarang pasti nyesel kan kalian? Tahu gitu pasti kalian jadiin mantu." Dara menggandeng Naren melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Ibu ibu itu merasa malu sendiri dengan hujatan yang mereka lakukan dulu.


" Sayang kenapa kamu membalas hinaan mereka?" Tanya Naren.


" Aku tidak membalas hinaan mereka Mas, aku berbicara tentang fakta yang ada." Sahut Dara.


" Baiklah kau memang selalu benar sayang, terima kasih sudah membela Mas baik dulu maupun sekarang." Ucap Naren.


" Sama sama Mas." Sahut Dara.


Sesampainya di tepi danau, mereka duduk di bangku yang ada.


" Mas jadi ingat saat pertama kali kamu mengajak Mas ke sini." Ucap Naren.


" Hmm.. Kau tiba tiba tiduran dan menjadikan pahaku sebagai bantalan." Sahut Dara.


" Dan tiba tiba Ilham datang mengacaukan semuanya." Sahut Naren sambil terkekeh.


" Saat itu Mas merasa bahagia sayang, Mas merasa punya seseorang yang menjadi sandaran di saat Mas dalam titik terendah, andai saja waktu itu Mas tidak bertemu denganmu mungkin Mas akan tetap menjadi orang gila sampai sekarang, dan mama... Mama pasti sudah tiada karena kekejaman mamanya Albert." Ucap Naren menerawang kejadian beberapa tahun lalu.


" Tidak perlu di bahas masa masa menyedihkan dan menegangkan itu Mas! Yang penting sekarang kita sudah hidup bahagia, dan kebahagiaan kita akan lengkap dengan kehadiran calon anak kita nanti." Ujar Dara.


" Kau memang yang terbaik sayang." Naren merangkul pundak Dara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Sayang, apa kamu sudah membawa semua keperluanku?" Albert menghampiri Zelin


" Iya sudah Mas." Sahut Zelin menutup kopernya.


Albert duduk di tepi ranjang menatap Zelin.


" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Zelin menatap Albert.


" Ya karena kamu istriku dan aku mencintaimu, kalau orang lain tidak akan aku tatap." Sahut Albert.


" Alah gombal, coba kalau Kak Dara di sini kamu pasti akan lebih memilih untuk menatapnya daripada aku." Cebik Zelin.


" Kok gitu sih sayang, ya enggak lah! Kamu masih cemburu sama Dara?" Tanya Albert.


" Enggak! Buat apa aku cemburu, kalau kamu mau pasti aku kasih kok." Sahut Zelin.


" Tega bener kamu, sekarang aku maunya kamu! Hanya kamu seorang." Albert menangkup wajah Zelin.


Keduanya saling melempar tatapan, Albert memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Zelin. Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Zelin, ia mengekspos setiap inchinya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka.


Sampai...

__ADS_1


" Eh maaf maaf!"


Albert langsung melepas pagutannya, ia mengusap bibir Zelin dengan jempolnya.


Albert menoleh ke belakang dimana Jack sedang menahan senyum menatapnya.


" Apaan sih Kak! Ganggu aja!" Ucap Albert.


" Ya maaf kan aku nggak tahu, makanya lain kali tutup dulu pintunya." Ujar Jack merasa tidak bersalah.


Albert memutar bola matanya malas sedangkan Zelin mukanya terlihat memerah karena menahan malu.


" Mau apa Kakak kemari?" Tanya Albert.


" Aku membutuhkan tanda tanganmu untuk merekrut sekretaris baru untukmu." Ucap Jack.


" Sekretaris baru untukku? Kenapa dengan yang lama?" Albert mengerutkan keningnya.


" Dia sudah tidak kompeten." Sahut Jack.


" Siapa yang akan menjadi sekretaris ku kali ini?" Tanya Albert.


" Namanya Anita, usianya tidak jauh dari kamu, dia cantik body bak gitar spanyol dan kepandaiannya tidak perlu kau ragukan lagi." Terang Jack.


" Kau mencarikan sekretaris atau penggoda untukku?" Tanya Albert.


" Kalau sekretarisnya sedap di pandang mata, setidaknya kau akan semangat bekerja." Sahut Jack.


Albert menatap Zelin begitupun sebaliknya.


" Aku tidak mau, carikan aku sekretaris laki laki saja." Ucap Albert.


" Apa? Aku sudah memilihkan yang terbaik untukmu tapi kau menolaknya." Ujar Jack tidak percaya.


" Sekarang ada hati istriku yang harus aku jaga Kak, aku tidak mau sampai istriku menaruh kecurigaan kepadaku di saat aku bekerja mencarikan nafkah untuknya, aku tidak mau ada masalah di antara kami di kemudian hari, jadi alangkah baiknya jika aku memilih sekretaris pria saja, aku harap kakak bisa mengerti akan hal itu." Ujar Albert membuat Zelin merasa bangga.


" Baiklah, aku akan menyuruh pihak HRD untuk menyeleksi nya lagi." Sahut Jack.


" Terima kasih Kak." Ucap Albert.


" Sama sama, kalau begitu aku permisi dulu, jangan lupa tutup pintunya dan jangan. lupakan kalau di sini ada seorang jomblo." Jack segera berlalu dari sana.


Albert menggelengkan kepala sedangkan Zelin tersenyum ke arahnya.


TBC....


Terima kasih untuk readers yang terus mensupsort author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


__ADS_2