
Naren menggandeng tangan Dara masuk ke dalam villa kecil milik keluarganya yang berada di bawah perkebunan teh yang melintang luas.
" Wow Mas, indah sekali." Ucap Dara.
" Kau suka?" Tanya Naren menatap Dara.
" Suka." Sahut Dara.
" Padahal suasana di sini tidak beda jauh dari suasana di rumahmu." Ujar Naren.
" Lebih dingin di sini kali Mas, dan tentunya lebih romantis karena aku di sini bersamamu." Sahut Dara.
" Ayo kita ke kamar!" Ajak Naren.
Keduanya menaiki tangga menuju kamar mereka.
Ceklek....
Naren membuka pintunya, keduanya masuk ke dalam. Kamar berukuran empat kali empat nampak sangat rapi dan bersih.
Naren membuka pintu balkon kamarnya. Nampak perkebunan teh semakin jelas di sana.
" Sepertinya aku akan betah berada di sini Mas." Ucap Dara.
" Kau tidak akan betah jika tinggal di sini karena di sini lumayan jauh dari pemukiman warga sayang, kau akan kesepian jika di sini sendirian saat aku kerja." Ujar Naren.
" Iya, kau benar juga." Sahut Dara.
" Lagian kasihan mama juga kalau kita tinggal di sini." Sambung Dara.
" Dimanapun kau selalu mengingat mama." Ujar Naren.
" Ya harus donk, beliau kan mamaku." Sahut Dara.
Naren memeluk Dara dari belakang. Ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Dara membuat tubuh Dara meremang.
" Mas sangat bahagia, memiliki istri sepertimu." Naren mengecup leher Dara.
" Aku juga bahagia Mas bisa memilikimu." Sahut Dara.
" Mari kita mulai hidup kita yang baru dengan kebahagiaan, kita hilangkan kesalahpahaman dan kita tinggalkan penderitaan, aku mencintaimu sayang." Ucap Naren.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Dara.
__ADS_1
Naren mengecup leher Dara membuat Dara mendesis pelan. Naren memainkan lidahnya di sana sambil sesekali menyesapnya hingga menimbulkan jejak kemerahan.
Tangannya mulai berkelana ke gunung kembar milik Dara. Ia meremas nya dengan pelan membuat sang empu kembali mendesis.
Suara seksi yang Dara keluarkan membuat hasrat Naren semakin memuncak. Ia menggandeng Dara menuju ranjangnya. Ia mengukung tubuh Dara dengan bertumpu pada kedua sikunya.
Naren menatap Dara begitupun sebaliknya. Keduanya saling melempar tatapan satu sama lain. Naren memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Dara. Dara membuka sedikit mulutnya membiarkan Naren mengekspos setiap inchi mulutnya. Naren menyusupkan tangannya ke tengkuk Dara memperdalam ciumannya.
Suara decapan memenuhi kamar mereka di pagi ini, keduanya saling menikmati sensasi panas dingin yang mereka ciptakan sendiri.
Ciuman Naren turun ke leher, lalu turun lagi ke gunung kembar milik Dara. Ia sedikit bermain main di sana. Entah siapa yang memulai kini keduanya sama sama polos. Naren segera memulai permainannya.
" Mass." Des** Dara saat Naren menerobos goa miliknya.
Naren menyentuh Dara dengan sangat lembut. Ia menggoyangkan pinggulnya di atas Dara. Keduanya terbuai dengan sensasi nikmatnya surga dunia. Seakan keduanya terbang ke nirwana.
Suara des*** dan erangan mengiringi permainan panas mereka berdua. Suasana dingin dan dinginnya AC tidak mampu mendinginkan tubuh mereka. Permainan yang Naren lakukan benar benar menguras tenaga dan keringat.
Hingga satu jam berlalu, akhirnya Naren menyudahi permainannya setelah keduanya sama sama mencapai puncak nirwana.
" Terima kasih sayang, semoga dia akan segera hadir di sini." Naren mengelus perut Dara.
" Semoga saja Mas." Sahut Dara.
" Istirahatlah! Kita akan melanjutkan permainan nanti lagi." Ucap Naren.
Dara hanya membalasnya dengan anggukkan kepala saja. Naren memeluk Dara, keduanya beristirahat sambil menetralkan nafas mereka yang masih nampak ngos ngos an.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Albert nampak gelisah, ia mondar mandir di dalam kamarnya setelah Zelin tidak mengangkat teleponnya. Ia merasa ada yang mengusik hatinya.
" Kenapa perasaanku jadi seperti ini sih! Sebenarnya apa yang aku inginkan? Apa yang aku rasakan kepada Zelin, cinta itukah? Atau hanya sekedar rasa penasaran saja?" Monolog Albert menarik kasar rambutnya.
Ceklek...
Jack membuka pintu lalu menghampiri Albert.
" Kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang gelisah?" Tanya Jack duduk di tepi ranjang.
" Tidak pa pa Kak." Sahut Albert.
Albert mengerutkan keningnya saat melihat Jack yang tersenyum senyum sendiri.
__ADS_1
" Lo kenapa Kak? Kesambet setan mana kok senyam senyum sendiri gitu." Ujar Albert.
Jack merebahkan tubuhnya di ranjang menatap langit langit kamar.
" Kau tahu tidak, semalam aku makan malam sama client, dan client ku itu membawa anak gadisnya yang masih remaja, aku terpesona dengannya Al, dia gadis mungil yang sangat cantik, aku menginginkannya Al, aku akan melamarnya setelah dia lulus sekolah nanti." Ucap Jack.
" Wah selamat kalau begitu Kak, aku doakan semoga dia mau menerima lamaranmu, aku tidak bisa membayangkan akan punya kakak ipar yang umurnya lebih muda dariku." Ujar Albert.
" Sama seperti istri Naren kalau dia jadi istriku." Sahut Jack.
" Ya udah semangat pdkt aja Kak, semoga sukses." Ucap Albert.
" Ya, aku akan memulai pdkt dengannya, kalau dia tidak mau menerimaku dengan baik, aku akan memintanya dari orang tuanya, aku yakin pasti mereka tidak akan menolakku." Ujar Jack membayangkan wajah gadis itu.
" Gadis kecil... Kau akan menjadi milikku." Gumam Jack tersenyum manis.
" Kalau kau sendiri apa kau sudah bisa move on dari Dara? Aku dengar kau berdamai dengan mereka." Ucap Jack menatap Albert.
" Sepertinya masih proses Kak, aku juga kemarin bertemu dengan gadis periang, ceria, dan sangat cerewet. Tapi semua ocehannya lah yang membuatku melupakan segalanya, aku merasa terhibur dengan ocehannya, aku nyaman berada di dekatnya, aku selalu ingin mendengar celotehan nya setiap saat untuk mengisi hatiku yang kosong selama ini, semoga aku dan dia berjodoh di masa depan." Ujar Albert.
" Aku doakan yang terbaik untuk Al, dari kecil kau tidak pernah merasakan apa itu kebahagiaan, kali ini akan aku pastikan kau akan hidup bahagia bersama wanita yang kau cintai, tapi saranku! Jangan mencintai istri orang lagi, carilah yang single! Agar kau punya kesempatan untuk memilikinya." Jack menepuk pundak Albert.
" Terima kasih Kak, tapi kali ini bukan istri orang, dia masih jomblo, bahkan kemarin dia melamarku." Ujar Albert dengan bangganya.
" Melamarmu? Bagaimana bisa?" Tanya Jack penasaran.
Akhirnya Albert menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Zelin kepada Jack tanpa menyebutkan nama Zelin. Jack nampak tertawa mendengar cerita dari adiknya.
" Kemarin kamu nolak dia, tapi sekarang kamu uring uringan karena teleponmu nggak di jawab sama dia, benar-benar memancing emosi kamu Al, makanya kalau suka bilang suka, kalau enggak, jangan berharap bisa dekat dengannya! Kalau modelnya tarik ulur begini, cewek nggak ada yang suka, cewek itu butuh kepastian, dan sebelum kamu mendekatinya kamu harus memastikan perasaanmu dulu padanya, baru kau akan dengan mudah mendapatkannya." Ujar Jack panjang lebar.
" Terima kasih masukannya Kak, aku akan memastikan perasaanku lalu aku akan mendekatinya dan menjadikannya kekasihku, semoga kita berhasil meluluhkan wanita kita Kak, ayo semangat merebut hati wanita." Ucap Albert bersemangat.
" Baiklah, semangat!" Sahut Jack mengacungkan tangannya.
" Aku semakin yakin dengan perasaanku Zelin, aku akan menerima tawaranmu." Batin Albert.
Seneng nggak nih Albert udah move on?
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹buat author biar makin semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....