Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Kehilangan


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hubungan Naren dan Dara semakin renggang. Namun Dara tidak putus asa, ia selalu mencoba memberikan penjelasan kepada Naren, namun semuanya sia sia. Bahkan setiap Dara menyiapkan apapun yang Naren butuhkan, Naren tidak mau menyentuhnya. Mereka benar benar hidup seperti orang asing.


Pagi ini Dara sedang memasak untuk sarapan, tiba tiba perutnya mual.


Huek.... Huek....


Dara memuntahkan cairan kuning ke wastafel.


" Astaga Dara, kamu kenapa Nak?" Nyonya Arkana menghampirinya.


Dara menggelengkan kepalanya. Ia membasuh mulutnya dengan air bersih. Lalu ia menatap nyonya Arkana.


" Tiba tiba perutku mual saat bau masakan Ma, dan kepalaku serasa berputar." Ucap Dara.


" Mungkin kau sedang ngidam sayang, istirahat saja di dalam kamar, biar Mama yang memasaknya! Nanti setelah sarapan kita ke rumah sakit ya buat periksakan kandunganmu." Ujar nyonya Arkana.


" Ngidam? Bagaimana kalau aku benar benar ngidam? Hubunganku dengan Mas Naren tidak sedang baik baik saja, bagaimana jika dia tidak mau mengakui jika ini anaknya?" Resah Dara dalam hatinya.


" Nak Dara, silahkan kau ke kamar saja!" Ucap nyonya Arkana.


" Iya Ma." Sahut Dara.


Dara kembali ke kamarnya. Kepalanya semakin berdenyut nyeri. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat, tiba tiba...


Brugh...


" Dara." Albert segera menopang tubuhtubuh Dara.


Tiba tiba Dara memejamkan matanya tak sadarkan diri.


Albert membopong Dara menuju kamarnya, ia membaringkan Dara ke atas ranjang. Naren yang baru keluar dari kamar mandi, mendadak cemas melihat keadaan Dara seperti itu.


" Albert, Dara kenapa? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Naren.


" Dia tadi muntah muntah, terus tiba tiba pingsan, kata Tante ada kemungkinan kalau Dara sedang hamil, selamat ya Kak, tapi aku kasih saran sebaiknya kamu memastikan apakah anak itu anakmu atau bukan." Albert berlalu meninggalkan Naren sambil tersenyum smirk.


Naren mengepalkan erat tangannya. Ia segera memanggil dokter untuk memperjelas semuanya. Tak lama dokter keluarga lun datang memeriksa Dara.


" Istri saya kenapa Dok?" Tanya Naren.


" Selamat tuan, istri anda saat ini sedang hamil, untuk lebih jelasnya, silahkan periksakan ke bagian organ tuan." Ucap dokter membuat darah Naren mendidih.


" Alhamdulillah aku akan mendapatkan seorang cucu." Ucap nyonya Arkana senang.


" Tolong di jaga kesehatannya Nyonya, jangan sampai kecapekan karena bisa berakibat fatal bagi ibu hamil muda seperti nona Dara, apalagi nona Dara masih sangatlah muda, ini vitamin yang harus di minumnya, semoga nona Dara dan janinnya selalu sehat." Ucap dokter.


" Terima kasih Dok, mari saya antar." Ucap nyonya Arkana menganrar dokter sampai teras.


Di dalam kamar, Naren terus menatap Dara. Ingin sekali ia bersorak menyerukan kebahagiaannya, namun setelahengingat ucapan Albert, yang ada hatinya menjadi kesal.

__ADS_1


" Engh..." Lenguh Dara mengucek matanya.


" Anak siapa itu?" Pertanyaan Naren membuat Dara mengerutkam keningnya.


" Apa maksudmu Mas?" Tanya Dara menatap Naren.


" Anak siapa yang sedang kau kandung saat ini." Bentak Naren.


Jeduar.....


Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Dara tiba tiba kamu tidak bisa di gerakkan.


" Apa aku hamil Mas?" Tanya Dara memastikan.


" Tidak perlu syok seperti itu, aku yakin kau sudah mengetahui ini sebelumnya, kau hanya pura pura terkejut saja." Ucap Naren dingin.


" Apa sebegitu hinakah aku di matamu Mas? Sampai sampai kau tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri? Kau melimpahkan perbuatanmu kepada orang lain yang tidak pernah melakukannya?" Dara mengusap air matanya.


Hatinya pedih mendengar tuduhan kejam dari suaminya.


" Ya, karena aku yakin kau hamil dengannya, kau terbukti hamil sebulan setelah kejadian di hotel waktu itu, itu pasti anak selingkuhanmu itu." Kukuh Naren.


Dara turun dari ranjang, ia berdiri di depan Naren sambil menatapnya.


" Aku tidak menyangka kau bisa menuduh ku seperti ini Mas." Ucap Dara.


" Memang kenyataannya seperti itu, lalu aku harus apa hah?" Ucap Naren dengan nada tinggi.


Dara berjalan mundur, Naren mendekatinya.


" Tidak! Jangan dekati aku lagi! Sudahi semuanya sampai di sini, aku dan anak ini bukan milikmu lagi." Ucap Dara.


Dara berlari keluar rumah dengan hati yang kecewa. Naren segera mengejarnya, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Dara.


" Dara tunggu! Kamu mau kemana? Jangan pergi Dara!" Teriak Naren.


Dara terus berlari menyusuri jalanan aspal. Ia tidak melihat jika ada mobil yang berjalan kencang ke arahnya. Tiba tiba...


" Aaaaaaaaaa" Teriak Dara.


" Dara..... " Naren berteriak dan....


Brakk....


Brugh....


Tubuh Dara kontak ke tengah jalan dengan berlumur darah.


" Dara, bertahanlah Dara!" Naren memangku kepala Dara di pahanya.

__ADS_1


Dara memejamkan matanya.


" Dara bangun! Bangun Dara! Jangan tinggalkan aku! Hiks... Dara.... " Teriak Naren memeluk tubuh Dara.


Tanpa banyak berkata, Naren segera membawa tubuh Dara ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, Dara segera di tangani oleh tiga dokter sekaligus. Naren menunggunya di kursi tunggu di luar ruangan.


" Sayang bagaimana bisa ini terjadi Nak?" Nyonya Arkana menghampiri Naren.


" Dara Ma... Di... Dia terluka parah Ma.. Anakku... Bagaimana anakku bisa selamat kalau seperti ini Ma hiks... " NarenNaren memeluk mamanya.


" Sabar sayang! Jadikan semua ini pelajaran buat kita semua, kita berdoa saja semoga Dara dan anakmu baik baik saja." Ucap nyonya Arkana mengelus punggung Naren.


Satu jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang icu. Naren segera menghampirinya.


" Dokter bagaimana anak dan istri saya?" Naren menatap dokter pria berkacamata itu.


" Maafkan kami Pak, kami tidak bisa menyelamatkan anak bapak, kondisi nona Dara saat ini sedang kritis, berdoa saja semoga ada keajaiban yang datang kepadanya." Ucap dokter.


" Bagaimana bisa kau tidak bisa menyelamatkan anakku." Bentak Naren menarik kerah dokter.


" Benturan pada perut nona Dara sangat keras Pak, itu membuat janin kalian hancur." Ucap dokter.


" Segera selamatkan istriku! Kalau sampai istriku kenapa napa, aku akan meruntuhkan rumah sakit ini." Teriak Naren.


Sang dokter segera meninggalkan Naren, ia tidak mau sampai menjadi sasaran amukan Naren.


" Sayang tenanglah! Ikhlaskan semuanya, berdoalah demi kesembuhan Dara." Ucap nyonya Arkana.


" Ini semua salahku Ma, andai saja aku tidak meragukan anak itu, Dara pasti tidak akan pergi, dan kejadian ini tidak akan terjadi, hiks... Aku yakin Dara akan membenciku setelah ini, aku tidak mau kehilangannya Ma, aku tidak mau kehilangan Dara, aku sangat mencintainya Ma." Ucap Naren.


" Albert... Albert harus bertanggung jawab atas semua ini!" Ucap Naren.


Naren pergi meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke rumah untuk mencari Albert. Ia merasa semua ini terjadi karena Albert, ia terpengaruh oleh ucapan Albert.


Naren mencari Albert ke kamarnya, terdengar Albert sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


" Kau memang hebat! Aku yakin setelah ini Dara akan membenci Kak Naren, ia akan pergi meninggalkan Kak Naren, dan saat itu aku akan masuk menjadi pahlawan untuk Dara.. Ha ha ha... Kak Naren sungguh bodoh, ia tidak menyadari jika semua ini rencanaku."


Jeduar.....


Tubuh Naren kaku seperti tersambar petir di siang bolong. Air mata menetes begitu saja di pipinya. Ia merutuki kebodohannya selama ini. Kenapa ia tidak percaya dengan ucapan Dara? Andi saja ia percaya dengan ucapan Dara pasti semua ini tidak akan terjadi...


Nah loh nyesel kan?


Di maafin nggak nih si Naren?


Udah tiga bab ya hari ini... Tekan like koment vote dan hadiahnya donk biar author semangat...


Miss U All...

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2