Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Menemukanmu yang Terluka


__ADS_3

Prang....


Pyar.......


Brak....


Naren melempar semua barang barang yang ada di dalam kamarnya membuat kamarnya seperti kapal remuk.


Nyonya Arkana tidak berani menghampirinya, ia hanya berdiri di depan pintu kamar Naren saja.


" Arghhhhhh." Teriak Naren menarik kasar rambutnya.


" Dimana kamu sayang? Kenapa kau meninggalkan aku? Bukankah kau berjanji untuk selalu berada di sampingku untuk mendampingiku yang bodoh ini? Aku bodoh sayang... Aku tidak percaya padamu, aku lebih percaya pada si brengsek itu hingga aku harus kehilanganmu dan anak kita hiks.... Aku mohon maafkan aku! Kembalilah kepadaku sayang! Aku merindukanmu, aku tidak bisa hidup tanpamu hiks.... Dara ku mohon kembalilah! Jangan tinggalkan aku di saat seperti ini sayang.... Aku membutuhkanmu, kembalilah sayang aku mohon! Hiks... " Isak Naren.


Tubuh Naren luruh ke lantai. Ia menekuk kedua kakinya lalu menyadarkan kepalanya ke kedua lututnya.


" Kemana kamu pergi sayang? Kemana aku harus mencarimu? Aku tidak mau kehilanganmu, ku mohon maafkanlah aku hiks... " Naren terus terisak menyesali segala perlakuannya kepada Dara.


" Rumah ayah, aku yakin kamu di sana sayang, aku akan ke sana sekarang! Aku akan meminta pengampunan darimu sayang." Ucap Naren.


Naren segera membasuh mukanya. Ia mengambil kunci mobilnya di atas nakas. Ia keluar dari kamar menuju mobilnya.


" Sayang kamu mau kemana Nak?" Tanya Nyonya Arkana.


" Aku mau ke rumah ayah Ma, aku yakin Dara ada di sana." Sahut Naren sambil terus berjalan.


" Semoga saja Dara di sana dan mau memaafkanmu Nak, segera bawa kembali menantu Mama." Ucap nyonya Arkana.


" Itu pasti Ma, walaupun tidak akan mudah tapi aku berjanji pada Mama, aku akan membawa Dara kembali ke rumah ini, sebelum Dara mau kembali ke rumah ini, aku akan tetap berada di sana Ma." Ucap Naren.


" Baiklah, hati hati! Semoga berhasil." Ucap nyonya Arkana.


Naren masuk ke dalam mobilnya, ia melakukan mobilnya menuju kota kediaman Dara.


Di rumah Dara, saat ini Dara sedang terbaring lemah di atas kasur. Kepalanya masih berdenyut dan perutnya masih terasa nyeri.


" Dara, makan dulu nak." Pak Rohman meletakkan nampan makanan di atas nakas.

__ADS_1


" Iya Yah." Dara duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Maafkan aku Yah, aku selalu merepotkan Ayah, kondisi ku saat ini benar benar lemah Yah, aku kehilangan banyak darah saat kecelakaan itu, dan perutku rasanya masih sakit banget Yah, aku takut... " Dara menjeda ucapannya.


" Apa yang kau takutkan sayang?" Tanya Pak Rohman menatap Dara.


" Aku takut kalau aku tidak bisa hamil lagi gimana yah? Dokter bilang benturan pada perutku sangat keras, aku takut Yah." Ucap Dara.


" Nak.... Jangan pernah takut pada sesuatu yang belum terjadi, serahkan semuanya pada Tuhan, kamu masih muda, kamu pasti bisa pulih seperti sediakala, dan percayalah kalau rahimmu pasti baik baik saja, setelah kau sembuh nanti periksakan ke dokter kandungan biar semuanya jelas, apa lainnya ada yang sakit? Kalau ada nanti ayah akan panggil tukang urut." Ujar pak Rohman.


" Hanya kaki Dara saja yang sedikit cidera Yah, tapi sudah tidak sesakit kemarin, terima kasih Ayah, kau membuktikan kalau seorang Ayah adalah cinta pertama dan akan tetap menjadi cinta di dalam hati putrinya, bagiku cinta dan kasih sayangmu tidak bisa tergantikan oleh siapapun Ayah, maafkan aku yang belum bisa membuatmu bahagia." Ucap Dara memeluk sang ayah tercinta.


" Sudah jangan bersedih! Ayah bahagia jika melihatmu bahagia Nak." Pak Rohman mengelus punggung Dara.


Tanpa mereka sadari, Naren melihat semuanya. Ia menghapus air matanya. Tanpa sengaja Dara menoleh ke arah pintu. Ia terkejut melihat Naren berdiri di sana sedang menatapnya.


" Ma.. s Mas Naren." Gumam Dara melepas pelukannya.


Pak Rohman menoleh ke belakang lalu ia kembali menatap Dara.


Setelah itu pak Rohman keluar dari kamar Dara.


" Bujuk Dara dengan baik, dia pasti akan memaafkanmu." Ucap pak Rohman saat sampai di depan Naren.


" Iya Ayah, terima kasih." Sahut Naren.


Naren menutup pintu kamarnya. Ia menghampiri Dara, lalu duduk di tepi ranjang.


Naren menggenggam tangan Dara, sedangkan Dara memalingkan wajahnya


" Aku minta maaf! Kau pantas marah padaku, tapi ku mohon! Jangan menghukumku seperti ini! Aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak bisa hidup dengan baik tanpamu sayang, kau bisa menamparku, kau bisa memukul kepalaku, kau bisa mencekik leherku, aku akan ikhlas menerimanya, itu akan lebih baik dari pada kau menjauh dariku dan mendiamkan aku seperti ini." Naren mencium punggung tangan Dara.


Dara menatap ke arah Naren, begitupun sebaliknya.


" Apa jika aku memukulmu, anakku bisa kembali kepadaku?" Pertanyaan Dara bagai hantaman baru besar yang menghimpit dada Naren.


" Bahkan walaupun aku membunuhmu sekalipun, kau tidak akan bisa mengembalikan anakku." Sambung Dara menatap sinis ke arah Naren.

__ADS_1


" Aku minta maaf sayang." Ucap Naren.


" Untuk apa kau minta maaf padaku? Kau tidak menginginkan anak itu, kau tidak mau mengakuinya, itulah sebabnya dia pergi dariku, kau pembunuh tuan Naren! Kau telah membunuh anakku! Aku membencimu! Aku sangat membencimu! Pergilah! Jangan tampakkan wajahmu yang membuatku muak di depanku! Aku tidak mau melihatmu lagi! Kau kehilanganmu hakmu sejak kau menolak anakmu sendiri, hubungan kita berakhir saat aku memutuskan keluar dari rumahmu."


Jeduar.....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong... Tubuh Naren terasa kaku tidak bisa di gerakkan. Lidahnya pun terasa kelu, hanya ada air mata yang mengalir membasahi pipinya.


" Hiks.... Hiks..... Jangan katakan hal mengerikan itu sayang! Aku tidak sanggup mendengarnya hiks... hiks... Aku akui kalau aku salah, aku jahat, aku bukan suami dan ayah yang baik untuk kalian berdua, tapi aku mohon beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, aku berjanji mulai sekarang aku hanya akan percaya padamu, aku tidak akan mempercayai orang lain lagi, termasuk diriku sendiri, aku mohon kembalilah padaku sayang, jangan meminta pisah diriku! Aku tidak mau, aku tidak akan sanggup hidup tanpamu." Ucap Naren menciumi punggung tangan Dara.


Dara menarik tangannya. Ia membuang mukanya ke luar jendela menatap pepohonan rindang yang ada di samping rumahnya.


" Sayang." Ucap Naren.


" Pergilah tuan Naren! Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak mau melihat wajahmu ataupun mendengar ocehanmu, aku tidak peduli kau akan hidup atau tidak, yang jelas aku memilih berpisah darimu, aku tidak mau hidup bersama pria yang tidak punya pendirian dan tidak percaya pada dirinya sendiri...


" Tapi....


" Dan jangan paksa aku untuk tetap berada di sampingmu, aku tidak sudi lagi, sekarang pergilah! Atau aku yang harus pergi dari sini?"


Dara menatap tajam ke arah Naren. Tatapan penuh kebencian karena ia masih kesal kehilangan anaknya. Ia menganggap Naren lah yang bertanggung atas semua ini.


Andai saja Naren tidak meragukannya, semua ini tidak akan terjadi. Dara yang biasanya selalu pasrah pada takdir, kali ini dia tidak bisa menerimanya. Ia sangat sedih karena kehilangan calon bayi yang baru saja tumbuh di rahimnya.


Naren memilih mengalah daripada membiat Dara semakin marah. Ia keluar dari kamar Dara dengan lesu. Dara menatap kepergiannya dengan perasaan tak menentu. Ada rasa iba dan kesal yang menjadi satu di dalam hatinya.


" Hiks.... Hiks... Aku harus bagaimana? Aku masih kesal karena dia aku kehilangan anakku, tapi aku tidak tega melihatnya terpuruk seperti itu... Aku harus bagaimana Tuhan?" Isak Dara.


Mau pisah atau baikan nih?


Yuk ramein like koment vote dan 🌹nya buat Naren biar semangat mengejar maaf dari Dara....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2