Cinta CEO Amnesia

Cinta CEO Amnesia
Membodohi Albert Lagi


__ADS_3

Mohon maaf kemarin author tidak update karena author sakit. Mohon doa nya supaya author cepat sembuh supaya bisa double up.


Jangan lupa tekan like koment vote 🌹 setelah membaca ya....


Miss U All....


Happy reading


...****************...


" Mi.... Minuman." Ucap Dara gugup.


" Minuman?" Albert mengerutkan keningnya.


" Aku tidak bisa tidur, lalu aku ingat saat di villa kemarin, setelah kamu meminum minuman itu kamu langsung tertidur pulas, jadi aku ingin mencobanya, itu sebabnya aku kemari." Ujar Dara.


" Baiklah jika itu tujuanmu, aku akan berikan minuman itu kepadamu, tapi jangan kebanyakan minumannya atau kau akan mabuk dan tidur sambil berjalan kemana mana, jika sampai itu terjadi aku akan susah mencarimu, jangan sampai aku menjadi duda sebelum kita menikah." Ujar Albert terkekeh.


" Ada ada aja kamu Kak." Ujar Dara.


Albert membuka almari tempat biasanya ia menyimpan minuman.


" Nih, ini minuman beralkohol rendah untuk pemula sepertimu." Albert memberikan satu botol minuman masih bersegel kepada Dara.


" Ok, makasih." Sahut Dara.


" Minum di sini juga tidak pa pa, aku akan menjagamu selagi kau mabuk." Ucap Albert.


" Kalau gue mabuk beneran bisa gawat, bisa bisa terbongkar sudah rencana gue selama ini." Batin Dara.


" Tidak mau! Yang ada kamu akan mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti waktu itu, udah ah aku mau balik ke kamar, terima kasih buat minumannya." Dara segera keluar dari kamar Albert sebelum Albert menyadari tindakannya.

__ADS_1


Albert menatap kepergian Dara.


" Aku berharap kebaikanmu dan kesediaanmu menikah denganku bukan hanya kepura puraan saja, aku tidak bisa hidup tanpamu Dara, bersamamu aku menemukan ketenangan dalam hidupku, hidup yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari ibuku sendiri, aku hanya di jadikan boneka olehnya yang harus menuruti setiap perintahnya, aku ingin bahagia Dara, dan kebahagiaanku ada bersamamu." Monolog Albert kembali ke tempat tidurnya.


Setelah keluar dari kamar Albert, Dara pergi ke kamar Naren. Di sana Naren dan ibunya juga belum tidur. Mereka masih duduk di sofa saling diam.


" Nak Dara, ngapain kamu malam malam ke sini?" Tanya nyonya Arkana menatap Dara.


" Saya baru saja dari kamar Albert bu, dan saya berhasil mendapatkan dokumen kepemilikan harta warisan milik Mas Naren." Sahut Dara.


" Benarkah?" Tanya nyonya Arkana senang.


" Iya." Sahut Dara.


Dara mengeluarkan dokumen itu dari dalam bajunya.


" Ini bu, silahkan di teliti dan di simpan dengan benar, jangan sampai Albert mendapatkannya kembali apapun yang terjadi." Ucap Dara menyerahkan dokumen itu kepada nyonya Arkana.


" Terima kasih nak Dara." Sahut nyonya Arkana. Kemudian ia mengeceknya semua isi poin poinnya.


" Kamu mau minum? Sejak kapan kamu minum minuman setan itu? Kau sudah ketularan Albert karena mau menikah dengannya?" Tanya Naren dingin.


Dara tersenyum menatap Naren.


" Tidak! Aku tadi hampir ketahuan saat mengambil dokumen itu, Albert memergoki ku saat mau keluar dari kamarnya, dia bertanya padaku apa yang ingin aku curi, ya aku bilang saja kalau aku mau mencuri minumannya, lalu dengan senang hati dia memberikannya kepadaku." Terang Dara.


" Owh." Gumam Naren.


" Kenapa sepertinya kau tidak begitu senang dengan keberhasilanku mendapatkan dokumen itu Mas? Apa yang terjadi padamu? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu saat ini?" Tanya Dara menatap Naren, begitupun dengan ibunya.


" Aku tidak tertarik dengan dokumen itu, buat apa aku mendapatkan semua miliku tapi aku harus kehilanganmu, kalau aku bisa memilih aku lebih memilih menjadi orang gila selamanya asal aku selalu bersamamu, kau sangat tahu Dara kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, jadi apa artinya harta dan nyawa ini jika aku tidak bisa hidup bersamamu, yang ada aku seperti mayat hidup tanpa raga." Sahut Naren.

__ADS_1


Ucapan Naren menohok hati nyonya Arkana.


" Mas kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berencana, tapi ingatlah jika Tuhan lah yang menentukannya, Tuhan yang menentukan takdir kita, jika kita memang berjodoh yakinlah suatu saat kita pasti akan bersama, jika tidak ikhlas semuanya Mas, jika memang takdir kita bertemu hanya untuk berpisah kita bisa apa? Aku doakan semoga kau selalu berbahagia, dan gadis yang akan menjadi istrimu nanti adalah gadis yang baik yang bisa membuatmu bahagia." Ucap Dara menahan air matanya.


" Aku tidak yakin apakah ada gadis yang sebaik dirimu atau tidak, karena selama ini aku tidak pernah menemukannya, aku selalu berdoa semoga kau akan menjadi milikku selama lamanya tidak peduli apapun yang terjadi." Ucap Naren.


Dara kembali tersenyum menatap Naren. Ia tidak menyangka jika ternyata dirinya begitu berpengaruh dalam hidup Naren. Tanpa Dara tahu jika senyuman itulah yang membuat hati Naren merasa teduh.


" Kau tidak perlu memikirkan hal yang belum tahu pasti Mas, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita nanti, sekarang istirahatlah, kau akan merasa tenang jika sudah tidur nanti, aku keluar dulu Mas, bu." Ucap Dara keluar dari kamar Naren.


Naren menatap sendu kepergian Naren.


" Kau sudah melihatnya kan Ma? Gadis seperti apa yang mampu membuat hidupku bergantung padanya, aku harap Mama mau berubah pikiran dengan membatalkan perjodohan itu." Ucap Naren.


" Walaupun seandainya Mama membatalkannya, tapi Dara mau menikah dengan Albert nak, dan Mama rasa Dara tidak bisa menghindari itu." Sahut nyonya Arkana.


" Mama tidak tahu siapa Dara, dia bisa berbuat apapun agar terlepas dari Albert, kalau Mama tidak percaya kita bisa lihat sama sama." Sahut Naren.


" Dan jika itu terjadi, aku harap Mama mau membatalkan perjodohan ku dengan gadis itu dan merestui hubungan kami." Sambung Naren.


" Ada yang ingin Mama tanyakan kepadamu nak, apa kalian sudah saling mengungkapkan perasaan kalian masing masing?" Tanya nyonya Arkana.


" Belum! Tanpa kami ungkapkan kami berdua sudah saling bisa mengerti Ma, aku akan mengatakannya jika saatnya sudah tiba nanti." Sahut Naren.


" Baiklah, Mama berjanji akan membatalkan perjodohan itu kalau pihak gadis itu menerimanya, kalau tidak Mama tidak bisa melakukan apa apa sayang, maafkan Mama jika semuanya terasa rumit seperti ini." Nyonya Arkana menghela nafasnya pelan.


" Jika aku tidak menikah dengan Dara, aku juga tidak akan menikah dengan siapapun jadi Mama batalkan saja perjodohan itu." Kesal Karena naik ke atas ranjang.


Naren mencoba memejamkan matanya berharap tentang perjodohan itu hanyalah mimpi.


Di dalam kamar, Dara nampak gelisah seperti Naren. Sebenarnya ia juga sependapat dengan Naren, namun ia tidak mau egois, ia lebih memikirkan perasaan ibunya Naren daripada perasaannya sendiri.

__ADS_1


" Ya Tuhan... Jika aku berjodoh dengan Mas Naren, maka mudahkanlah jalan kami, namun jika tidak, mudahkan Mas Naren melupakan aku dan mau menerima gadis pilihan ibunya." Monolog Dara.


TBC....


__ADS_2