
Hari ini Naren melajukan mobilnya menuju rumah gadis yang di jodohkan dengannya. Setelah tiga jam perjalanan, Naren memasuki desa yang sangat familiar baginya.
" Itu rumahnya sayang." Nyonya Arkana menunjuk sebuah rumah sederhana yang sangat Naren kenal.
Naren menyunggingkan senyumannya.
" Ma, aku menerima perjodohan ini." Ucap Naren tiba tiba.
Nyonya Arkana mengerutkan keningnya menatap Naren.
" Apa kamu yakin? Padahal kita belum bertemu dengan gadis itu, bagaimana wajahnya, bagaimana perilakunya dan bagaimana dengan Dara?" Tanya nyonya Arkana.
" Mama tidak perlu khawatir! Ayo kita turun." Sahut Naren membuka pintu mobilnya.
Naren dan nyonya Arkana mendatangi rumah tersebut.
" Assalamu'alaikum." Ucap nyonya Arkana.
" Wa'alaikumsallam." Sahut pak Rohman dari dalam.
" Nak Naren? Apa kabar Nak?" Tanya Pak Rohman.
" Baik, Ayah." Naren menyalami pak Rohman dengan takzim.
" Ayah." Nyonya Arkana mengerutkan keningnya.
" Iya Ma, Pak Rohman ini ayahnya Dara, beliau yang membantuku selama ini." Ujar Naren.
" Apa? Jadi gadis yang Mama jodohkan denganmu ternyata Dara?" Tanya nyonya Arkana memastikan.
" Sebentar! Ini sebenarnya ada apa ya? Saya tidak paham dengan semuanya, tapi sebelumnya silahkan masuk!" Ucap pak Rohman.
Ketiganya duduk di ruang tamu.
" Begini Pak, apa Bapak ingat seseorang yang istri bapak tolong waktu itu? Dan dia berjanji akan melamar putri bapak jika usianya sudah genap delapan belas tahun?" Tanya nyonya Arkana.
" Iya saya mengingatnya Nyonya, apa itu anda?" Tanya Pak Rohman.
" Tepat sekali Pak, saya ke sini ingin memenuhi janji saya untuk melamar putri Bapak untuk anak saya Naren." Ucap nyonya Arkana.
" Suatu kehormatan bagi kami Nyonya, tapi maaf, lamaran ini untuk putri saya yang mana? Saya punya dua putri lhoh."
Gubrak...
Naren tak percaya ini, benarkah Dara punya saudara?
" Dara Pak." Sahut Naren cepat.
Pak Rohman tersenyum mendengar ucapan Naren.
" Saya hanya bercanda nak Naren, anak bapak cuma satu yaitu Dara." Kekeh pak Rohman.
" Ayah sudah membuatku deg deg an saja." Ujar Naren.
" Dimana Dara sekarang Yah?" Tanya Naren.
" Dia sedang keluar, mungkin dia sedang di danau." Sahut pak Rohman.
" Aku akan menyusulnya." Ucap Naren.
__ADS_1
Naren keluar menuju danau yang dulu sering ia dan Dara kunjungi. Sampai di sana ia melihat Dara yang sedang duduk di bawah pohon bambu gading sendirian. Nampaknya ia sedang melamun.
Dengan pelan Naren menghampirinya lalu duduk di belakang Dara tanpa sepengetahuan Dara.
" Kau sedang sedih?" Lirih Naren.
" Iya." Sahut Dara.
" Kenapa?" Tanya Naren.
" Karena orang yang aku cintai, akan menikahi wanita lain, tapi bukan salahnya sih, aku saja yang terlalu menggunakan perasaan saat bersamanya, maklum lah masih abg... Baru pertama mengenal cinta tapi sudah menderita, oh ya kamu siap..... " Ucap Dara menoleh ke belakang.
" Mas Naren." Pekik Dara.
" Iya, ini aku." Sahut Naren.
" Mau apa kamu ke sini?" Tanya Dara.
" Mau melamar gadis yang di jodohkan oleh Mama." Sahut Naren.
" Apa dia orang sini juga?" Tanya Dara.
" Iya, sekarang Mama ada di rumahnya sedang membicarakan pernikahan kami dengan orang tua gadis itu." Sahut Naren.
Hati Dara sakit mendengarnya.
" Apa kamu sudah bertemu dengan gadis itu?" Dara membalikkan badannya menatap Naren.
" Sudah, dia gadis yang cantik, baik hati, dan senyumannya membuat aku tergila gila." Ujar Naren terus menatap Dara. Ia tahu kalau Dara tidak nyaman mendengarnya memuji wanita lain.
" Selamat kalau begitu, aku doakan semoga kalian bahagia." Ucap Dara menahan air mata yang siap mengalir di pipinya.
" Tidak usah Mas, oh ya aku mau pulang dulu." Ucap Dara segera pergi dari sana.
" Tunggu Dara." Dara menghentikan langkahnya.
" Kenapa kau meninggalkan aku?" Naren berdiri tepat di depan Dara.
" Karena aku sudah tidak ada urusan apa apa denganmu." Sahut Dara.
" Kau meninggalkan surat yang menyatakan kau mencintaiku, tapi kenapa kau justru meninggalkan aku?" Naren menatap Dara.
" Lalu aku harus apa? Apakah aku harus tetap berada di sampingmu, melihatmu bersanding bersama wanita lain, lalu aku akan menjadi pengasuh anak kalian begitu? Atau aku harus menikah dengan Albert supaya aku tetap bisa melihatmu, begitu?" Sahut Dara.
" Ya, kau harus tetap berada di sampingku, kau harus menemaniku sampai aku tiada nanti, kau harus merawatku di saat aku sakit, kau harus memanjakanku setiap saat, karena aku tidak bisa hidup tanpamu Dara." Naren menangkup wajah Naren.
" Kenapa? Kenapa kau tidak bisa hidup tanpaku? Apa karena selama ini kau telah bergantung kepadaku?" Selidik Dara.
" Mungkin." Sahut Naren membuat Dara kecewa.
" Lalu gadis itu akan kau taruh dimana?" Tanya Dara.
" Kalian bisa hidup bersamaku dengan menjadi istriku." Sahut Naren.
" Di madu?" Dara memastikan.
" Iya." Naren menganggukkan kepala.
" Gila! Aku nggak mau ya, udah menikah sama om om di madu lagi, helo Om? Aku masih laku kali, di belakang masih banyak yang mengantri." Ucap Dara membuat Naren melongo.
__ADS_1
" Om?" Ucap Naren.
" Berapa umurmu?" Tanya Dara.
" Hampir tiga puluhan kayaknya." Sahut Naren.
" Lhah aku masih delapan belas, kan benar berarti kamu udah om om." Sahut Dara.
" Udah ah aku mau pulang, kamu temui lagi calon istrimu, kasihan dia sudah menunggu." Ucap Dara meninggalkan Naren.
Naren menggelengkan kepalanya.
Dara memasuki rumah, ia mengerutkan keningnya ketika melihat nyonya Arkana di sana.
" Ibu." Dara menyalami nyonya Arkana dengan takzim.
" Sayang, darimana kamu?" Tanya nyonya Arkana.
" Dari danau Bu." Sahut Dara.
" Naren menyusulmu kan? Dimana dia?" Tanya nyonya Arkana lagi.
" Iya, aku tinggal di sana, katanya mau menemui calon istrinya." Sahut Dara.
Nyonya Arkana dan pak Rohman saling melempar tatapan, lalu mereka tersenyum.
" Oh ya Bu, siapa yang menjadi calon istri Mas Naren, katanya dia gadis yang cantik dan baik hati." Ucap Dara duduk di sebelah nyonya Arkana.
" Naren benar, ternyata gadis yang ibu jodohkan dengan Naren gadis yang cantik dan baik hati, bahkan kepada semua orang, ibu bangga kepadanya dan merasa beruntung bisa menjadikannya menantu ibu, menantu yang siap merawat ibu dan Naren." Ucap nyonya Arkana.
" Syukurlah kalau begitu Bu, aku turut senang mendengarnya, semoga Mas Naren dan gadis itu bahagia." Ujar Dara.
" Kalau boleh aku mau kenalan dengannya bu, dimana rumahnya?" Tanya Dara.
" Di sini." Sahut Naren yang baru saja masuk.
" Di sini? Apa maksudnya Mas? Jangan bercanda deh." Ujar Dara.
" Ya memang di sini rumahnya, namanya Andara Louiska, gadis cantik, baik hati, dan tidak sombong." Ucap Naren.
" Dan tentunya sangat mencintaiku." Sambung Dara.
" Udah lah nggak usah ngeprank gitu Mas, nggak mempan." Ujar Dara.
" Kalau nggak percaya tanya aja sama Mama." Ucap Naren.
" Apa itu benar Bu?" Tanya Dara.
" Iya sayang." Sahut nyonya Arkana.
" Owh." Dara menganggukkan kepala. Sesaat kemudian..
" Apa?"
Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya biar author semangat....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....