
Dara, Naren dan bi Minah masuk ke dalam taksi. Pak supir segera melajukan taksi menuju resto yang hendak mereka kunjungi.
" Bibi tahu kan apa yang harus Bibi lakukan? Jangan sampai kita salah langkah, karena itu akan membuat Albert curiga." Ucap Dara.
" Iya Non, saya paham apa yang harus saya lakukan, Non Dara hati hati ya, semoga Pak Riski mau membantu Nona dan Den Naren." Ujar bi Minah.
" Doakan saja ya Bi." Ujar Dara.
" Pak berhenti di perempatan depan ya." Ucap Dara menatap pak supir.
" Baik Non." Sahut pak supir.
Setelah taksi berhenti, Dara dan Naren turun dari sana.
" Pegang terus ponsel saya ya Bi, kalau Albert telepon cari alasan yang masuk akal kenapa ponsel saya ada pada Bibi." Ujar Dara.
" Siap Non." Sahut bi Minah.
Dara dan Naren pindah ke taksi yang sudah di pesannya. Kedua menuju rumah pengacara keluarga Naren yang sekarang sudah tidak di pakai oleh Albert.
" Dara, sebenarnya kita mau kemana sih? Aku jadi penasaran." Naren menatap sekeliling.
" Kita mau ke rumah pak Riski, apa kamu ingat dengan pan Riski pengacara mama kamu Mas?" Tanya Dara.
Naren mencoba mengingat ingatnya namun nihil. Ia tidak mengingatnya juga
Naren menggelengkan kepalanya.
" Tidak pa pa kalau kamu belum mengingatnya, mungkin nanti kalau kamu ketemu orangnya kamu akan mengingatnya, aku membutuhkan bantuan dan arahan darinya untuk melawan Albert dan mamanya." Ujar Dara.
" Lalu apa maksudmu ponselmu di bawa oleh bi Minah?" Naren bertanya lagi.
" Albert menyuruhku mengaktifkan GPS, kalau ponsel itu ada bersamaku makan Albert akan tahu kita pergi kemana Mas, masa gitu aja nggak paham, udah tua juga." Ujar Dara.
" Eh aku belum tua ya, usiaku saja masih tiga puluh tahunan." Sahut Naren.
" Nah itu ingat! Sebentar lagi kamu pasti akan mengingat semuanya, dan saat itu tiba kita akan membongkar Albert dan mamanya, kalau perlu kita usir dari keluarga Pramana ha ha ha." Ujar Dara tertawa membayangkan semuanya.
" Kau memang wanita cerdas Dara." Puji Naren.
" Enggak juga sih, aku begini karena aku sering nonton di film film action yang menampilkan bagian masalah seperti ini." Dara nyengir kuda ke arah Naren.
Naren mengacak rambut Dara.
Tiga puluh menit kemudian, taksi yang di tumpangi Dara sampai di depan rumah sederhana yang ada di kawasan pedesaan.
Keduanya turun dari taksi lalu mendekati rumah itu.
Tok tok tok
Dara mengetuk pintunya.
Ceklek.....
Seorang pria paruh baya membuka pintunya.
__ADS_1
" Mas Naren." Pekik pria itu yang Dara yakini pak Riski.
" Pak Riski ya." Dara menatap pria itu.
" Iya Nona, saya Riski mantan pengacara keluarga Mas Naren." Ujar pak Riski.
" Anda siapa?" Tanya pak Riski.
" Dia calon pendamping saya Pak." Sahut Naren.
" Apaan sih Mas, saya temannya Mas Naren Pak." Ujar Dara.
" Oh, silahkan masuk!" Pak Riski mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
Mereka duduk di ruang tamu.
" Kelihatannya Mas Naren sudah sembuh ya." Pak Riski memperhatikan Naren.
" Masih dalam tahap Pak, doakan semoga Mas Naren segera sembuh dan normal seperti dulu." Ujar Dara.
" Tentu Nona." Sahut pak Riski.
" Maksud kedatangan saya ke sini ingin meminta bantuan Pak Riski untuk menemukan mamanya Mas Naren dan merebut kembali harta milik Mas Naren." Ucap Dara.
" Saya siap membantu Anda Nona." Sahut pak Riski.
" Apa Bapak tahu dimana mereka menyekap mamanya Mas Naren?" Tanya Dara.
" Kalau itu saya tidak tahu Nona, tapi kalau masalah harta, harta itu tetap menjadi milik mas Naren dan nyonya Arkana selama Mas Naren tidak menandatangani surat peralihan harta." Ujar pak Riski.
" Maksud Nona, Mas Naren seperti ini karena perbuatan mereka?" Tanya pak Riski memastikan.
" Iya Pak, Albert dan nyonya Melinda sengaja memberikan obat kepada Mas Naren supaya Mas Naren lupa segalanya dan bersikap tidak normal seperti orang tidak waras." Terang Dara.
" Ya Tuhan.... Kenapa mereka jahat sekali, saya tidak tahu jika keadaan Mas Naren seperti ini, terakhir saya melihat Mas Naren saat nyonya Arkana masih ada di rumah itu." Ujar pak Riski.
" Lalu bagaimana saya bisa mempertahankan hak Mas Naren, Pak?" Tanya Dara.
" Temukan semua dokumen kepemilikan itu dan simpan baik baik Non Dara, itu akan membuat harta nyonya Arkana aman." Ucap pak Riski.
" Saya akan mencoba mencarinya pak, setelah saya menemukannya, saya titip ke bapak saja ya, saya yakin bapak bisa di percaya." Ucap Dara.
" Terima kasih sudah mempercayai saya Nona, saya akan membantu Anda sebisa mungkin." Ujar pak Riski.
" Baiklah kalau begitu saya permisi Pak, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan anda." Ucap Dara.
" Sama sama Nona Dara." Sahut pak Riski.
Dara dan Naren kembali naik taksi menuju cafe di perbatasan dimana bi Minah menunggu mereka.
Setelah sampai, keduanya langsung masuk ke dalam.
" Bi." Dara menghampiri bi Minah.
" Bagaimana Non? Apa pak Riski mau membantu?" Tanya bi Minah.
__ADS_1
" Iya Bi." Sahut Dara.
" Ya sudah mari kita makan, saya sudah pesanku makanan untuk kalian berdua." Ujar bi Minah.
" Kamu mau aku suapin atau makan sendiri Mas?" Dara menatap Naren.
Naren memperhatikan sekitar yang tidak cukup ramai.
" Suapi." Sahut Naren.
Bi Minah tersenyum melihat Naren yang terlihat sangat bahagia.
" Semoga Non Dara bisa segera menemukan nyonya Arkana, dan mereka akan kembali hidup bahagia." Ujar bi Minah dalam hati.
Saat mereka sedang asyik makan tiba tiba...
" Sayang, aku mau juga donk di suapi." Albert duduk di kursi samping Dara.
Dara memutar bola matanya malas.
" Kak Albert ngapain kamu ke sini? Kamu kan capek baru dari kantor harus nyetir mobil sampai sini." Ucap Dara basa basi.
" Aku suka dengan perhatianmu sayang, aku ke sini karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, aku akan memperlihatkan villa yang baru saja aku bangun di pinggir pantai kepadamu." Ujar Albert.
Dara dan bi Minah saling pandang. Bi Minah menganggukkan kepalanya.
" Tapi Mas Naren sama bi Minah gimana?" Dara menatap Albert.
" Mereka akan pulang naik taksi, aku tidak mau kak Naren menganggu waktu kita berdua." Ujar Albert.
" Aku...
Dara menggenggam tangan Naren membuat Naren menghentikan ucapannya.
" Baiklah." Sahut Dara.
Dara menatap ke arah Naren.
" Kamu pulang sama Bi Minah ya Mas, aku mau jalan dulu sama Kak Albert." Ucap Dara mengerlingkan matanya memberi kode pada Naren.
" Baiklah." Sahut Naren lesu.
" Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan petunjuk darimu Albert, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu." Batin Dara tersenyum smirk.
Apa ya yang akan Dara lakukan?
Penasaran?
Tekan like koment vote sama 🌹nya dulu buat author...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1