
Kabar kehamilan Anisa pun sudah sampai di telinga para sahabatnya dan mereka tidak kalah bahagia dari Sandi dan Anisa yang merasakannya..
Bahkan Meylan pun sering bolak balik berkunjung ke Apartemen Sandi untuk menemani Anis yang mengalami Ngidam parah berbeda dengan Lona yang malah tidak mengalami ngidam saat kehamilannya.
Di kehamilan Anisa saat ini sama sekali tidak mau makan ataupun ngemil apa pun, Anisa hanya bisa minum susu hamil dan itu pun sesekali di muntahkannya.
Namun walaupun begitu Sandi selalu siap dan siaga di saat istrinya mengalami Ngidam nya dan dia sangat sabar mengurusnya.
Pagi ini Anisa seperti biasa mengalami morning sickness , Anisa memuntahkan semua isi perutnya membuat Sandi sangat khawatir..
Wajah Anis pun sangat pucat, tubuhnya lemas dan hanya bisa bersender pada dada Sandi yang setia berada di sampingnya.
" Sayang,, aku buatkan teh hangat dulu ya untuk kamu " Ucap Sandi mengusap rambut Anisa
" Engga Mas,, Kamu temani aku saja " Ucap Anisa semakin erat menggenggam tangan Sandi
Semenjak kehamilannya, Anisa pun sangat manja dengan Sandi berbeda di saat sebelum hamil Anisa selalu mandiri.
Tok,, tok,, tok,,
" Nisa,, Sandi,, Ibu boleh masuk Nak " Ucap Bu Widia di balik pintu
" Masuk Bu " Ucap Sandi
Bu Widia masuk dan membawa segelas susu juga teh hangat..
__ADS_1
" Astaga,, Anisa muntah lagi " Ucap Bu Widia saat melihat putrinya
" Iya Bu,, Aku bingung harus bagaimana Anisa juga tidak mau makan apa pun " Ucap Sandi
Bu Widia meletakan nampan diatas nakas dan duduk di tepi ranjang.
" Sayang,, Minum susu nya dulu ya Nak terus kita sarapan ya "
" Engga Bu,, Perut Anisa sangat mual "
" Tapi harus di paksa Nak, kasihan anak kamu dan kasihan suami kamu Nak "
Anisa menatap Sandi, dan terpancar jelas kecemasan di wajahnya.
Anisa pun beranjak dan Sandi dengan sigap membantunya.
Bu Widia tersenyum dan berjalan keluar, sedangkan Sandi terus mengusap wajah istrinya yang tampak sangat pucat.
" Kamu mau minum teh apa susu Yang "
" Teh "
Sandi langsung mengambil dan membantunya, namun Anisa kembali merasakan mual namun dia tahan karena tidak mau semakin membuat suaminya cemas hingga akhirnya Bu Widia datang dengan membawakan sarapan.
" Biar Aku suapin Nisa bu " Ucap Sandi dan Bu Widia memberikannya
__ADS_1
" Sayang kamu sarapan ya, Ibu keluar dulu "
Anisa mengangguk dan Sandi mulai menyendokan nasi, namun tiba tiba Anisa langsung beranjak menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan di dalam perutnya.
" Sayang " Ucap Sandi menyusul Anisa
Sandi memijat tengkuk Anisa, rasanya sangat tidak tega melihat istrinya seperti ini bahkan jika bisa di tukar maka dirinya saja yang mengalaminya.
" Aku gak mau makan Mas, perut aku mual" Ucap Anisa dengan mata yang berkaca membuat Sandi semakin tidak tega
" Ya Sudah,, Kita kembali ke kamar ya "
Sandi membopong tubuh Anisa dan membawanya kembali ke kamar.
Anisa terus menggenggam tangan Sandi tanpa melepaskannya, matanya terpejam karena kepalanya yang sedikit pusing.
Sandi terus mengusap kepala istrinya dan mengecup keningnya.
Semenjak kehamilan Anisa, Zicko memang memberi ijin Sandi untuk menemani Anisa karena Zicko tau kondisi Anisa dan Zicko memakluminya.
" Ya Tuhan,, Aku sangat tidak tega melihat mu seperti ini Anisa,, andai bisa aku gantikan maka aku sangat bersedia..
Kamu mengandung anak aku, tapi kamu harus seperti ini.
Kehamilan kamu memang sangat membuat aku bahagia namun kondisi kamu yang seperti ini juga membuat aku sedih juga khawatir "
__ADS_1
Air mata Sandi tidak bisa di tahannya dan menetes begitu saja di pipinya melihat kondisi istrinya, kebahagian dan kecemasan yang terus berada di hati dan pikirannya.