
Di sebuah resto ternama di kota ini. Sakti sedang duduk menunggu kedatangan pujaan hatinya. Ya Iya bisa mengartikan jika apa yang Ia rasakan adalah cinta untuk Alfi. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Alfi datang juga. Ia berjalan kearah Sakti, dan langsung duduk di depannya membuat Sakti tersenyum bahagia.
" Terima kasih sudah mau datang untuk menemuiku Al." Ucap Sakti disertai senyuman.
" Hm." Gumam Alfi.
" Mau pesan apa?" Tanya Sakti menatap Alfi.
" Gak usah, aku masih kenyang." Ketus Alfi.
" Baiklah." Sakti mencoba bersabar menghadapi sikap Alfi. Ini baru permulaan, karna permainan yang sesungguhnya belum di mulai. Sakti harus terbiasa dengan sikap Alfi yang dingin dan selalu membangkang keinginannya. Pikir Sakti.
" Mau ngomong apa? Emang penting banget ya sampai meminta Mama untuk menyuruh aku kesini?" Tanya Alfi setelah beberapa saat Sakti hanya diam saja.
" Ada yang mau aku bicarakan sama kamu." Jawab Sakti.
" Ya mau ngomong aja! Kenapa dari tadi malah diam gitu, buang buang waktuku aja tahu nggak." Alfi berdecak kesal.
" Iya maaf... e... ." Sakti menjeda ucapannya sambil berpikir apa yang akan Ia katakan kepada Alfi? Bagaimana Ia mengutarakan keinginannya? Dan Ia mau mulai darimana? Belum sempat Sakri menyerukan suaranya tiba tiba..
" Ck.. Aku pulang saja, dasar gak jelas katana mau ngomong tapi malah diam membisu, lain kali pikirkan dulu apa yang mau di omongin baru ngajak ketemuan, jadi kan nggak gagu gini." Ucap Alfi kesal, Ia beranjak mau pergi, tapi tangannya di cekal oleh Sakti.
" Tunggu." Ucap Sakti.
" Ck.. Apasih pegang pegang, lepas nggak...." Ketus Alfi. Sakti melepas cekalannya dari tangan Alfi.
" Duduk... ." Ucap Sakti dingin, tapi Alfi tak bergeming, Ia tetap berdiri membuat Sakti geram. Sakti menarik tangan Alfi.
" Alfia Madan aki bilang duduk ya duduk, jangan membangkang kalau tidak mau aku berbuat kasar." Ucap Sakti geram, Alfi menatapnya jengah, Ia lalu duduk kembali ke kursinya.
" Rese' ih." Cebik Alfi dengan muka cemberut dan itu membuat Sakti gemas sendiri.
__ADS_1
" Al.... Ada satu hal yang harus kamu tahu, dengarkan aku baik baik dan pahami apa maksudku." Ucap Sakti sambil melirik Alfi.
" Mamaku punya riwayat penyakit jantung, dan entah kenapa akhir akhir ini Mamaku sering koleps." Ucap Sakti sendu.
" Lalu?" Tanya Alfi sambil menatap Sakti.
" Aku mohon padamu, setelah kita menikah jadilah Istri dan menantu yang baik di depan Mamaku." Ucap Sakti membuat Alfi mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu? Apa maksudmu aku harus menjadi istri dan menantu yang baik? Ingat ya aku terpaksa menikah denganmu karena Mama Elin yang memaksanya, jadi jangan minta macam macam dan jangan berharpa lebih pada pernikahan ini." Tegas Alfi menatap tajam kearah Sakti.
" Dengarkan dulu alasanku." Ujar Sakti.
" Aku bilang sama Mamaku kalau kita menikah bukan karna suatu kejadian kecelakaan itu Alfi, aku bilang kepada Mamaku kalau kita menikah karna kita saling mencintai satu sama lain, kita berdua ingin hidup bersama untuk saling melengkapi satu sama lain... Diriku dan dirimu Alfi." Jelas Sakti.
" Apa? Kau bilang begitu kepada Mama? Kau... Kau gila Sakti....". Kesal Alfi menunjuk Sakti.
" Ya... Aku gila... Aku memang gila karnamu." Sahut Sakti keceplosan.
" Apa maksudmu?" Tanya Alfi mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Sakti sambil menatapnya.
" Kau bilang kau gila karna aku, apa maksudmu? Memang aku berbuat apa padamu?" Selidik Alfi.
" Ah tidak lupakan saja, aku hanya asal bicara." Kilah Sakti.
" Kenapa kamu mengatakan kebohongan kepada Mamamu? Kebohonganmu akan bertambah karna kau harus terus menutupi kebohongan itu dengan kebohongan yang lain Sakti." Ujar Alfi.
" Hanya itu alasan yang tepat Alfi, aku tidak mau Mamaku koleps lagi kalau mendengar alasan pernikahan kita yang sesungguhnya, Aku tidak mau kehilangan Mamaku, Aku mohon kepadamu jadilah Istri dan menantu yang baik, kalau kamu tidak mau setidaknya jadilah istri yang baik hanya di depan Mama saja gimana?" Ujar Sakti.
" Belum apa apa saja kamu sudah banyak maunya, sangat jauh dengan Mas Davi, Mas Davi tidak pernah meminta hal sekecil apapun padaku, kecuali memintaku untuk menikahimu, itupun Ia lakukan hanya ngomong sama kamu saja, Dia nggak ngomong langsung ke aku." Gerutu Alfi.
Deg...
__ADS_1
Jantung Sakti seperti di tikam sembilu.
Kenapa Alfi harus membandingkannya dengan mantan suaminya? Bukankah setiap orang berbeda kepribadiannya? Ingin rasanya Sakti mengatakan hal itu pada Alfi namun Ia menahannya. Ia takut Alfi justru akan marah kepadanya.
" Aku mohon Alfi, jika kamu tidak kasihan padaku, setidaknya kasihanilah Mamaku, kamu memang belum mengenalnya saat ini tapi aku yakin setelah kamu mengenal Mama, kamu pasti akan menyayanginya." Ucap Sakti menatap Alfi dengan tatapan memohon.
" Ck.. Kau membuat hidupku semakin rumit, Baiklah aku setuju tapi hanya di depan Mama saja, itupun kalau aku tidak lupa, kalau seandainya aku lupa ya di maafin aja."" Jawab Alfi malas.
Alfi paling tidak bisa melihat seseorang menghiba padanya. Sakti tersenyum mendengar Alfi menyebutkan Mama untuk Mamanya. Ia tahu kalau sebenarnya Alfi gadis yang baik, saat ini dirinya hanya diliputi amarah saja. Ia hanya perlu bersabar sampai indah pada waktunya.
" Kamu sudah di beri tahu Mama Elin bukan? Soal aku yang hanya mau langsung ijab qobul saja, tanpa ada acara lamar lamaran ataupun pertunangan, dan tentunya di laksanakan dengan tertutup, Aku gak mau ya dibilang bodoh sama orang orang." Ucap Alfi.
" Bodoh? Bodoh kenapa?" Tanya Sakti.
" Ya bodoh karna mau menikah dengan orang yang menyebabkan suamiku tiada." Ucapan Alfi menohok hati Sakti. Rasanya Ia mau menangis, tapi Ia harus kuat. Ia yakin kalau Alfi sudah memulai perangnya.
" Iya.. Tapi aku tidak bisa menahan Mama untuk tidak menemuimu sebelum pernikahan, dan aku juga tidak bisa menghalangi Mama jika Mama mau melamarmu, maaf jika sampai itu terjadi aku tidak bisa melarang Mamaku, aku tidak sanggup." Ujar Sakti.
" Tidak masalah, kalau memang Mamamu mau bertemu denganku datang saja ke rumah, kamu atur saja waktunya yang jelas sebelum hari pernikahan, aku tidak mau melihatmu, walaupun kamu ke rumahku, aku tidak akan menemuimu." Ucap Alfi menjelaskan.
" Baiklah tidak masalah jika kamu tidak mau menemuiku, aku akan menahan diriku untuk tidak menemuimu walaupun hati ini merasakan rindu." Lirih Sakti menundukkan kepalanya.
" Sudah kan? Sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi, sekarang aku mau pulang." Ucap Alfi.
" Tidak mau pesan sesuatu dulu?" Tanya Sakti.
" Tidak, aku sudah muak melihatmu, Oh ya.. Aku ingatkan padamu, jangan berharap lebih pada pernikahan ini dan jangan pakai hati, aku nggak tanggung jawab kalau kamu akan patah hati suatu hari nanti jika kamu mencintaiku, yang jelas aku sudah memperingatkanmu." Ketus Alfi dengan lirikan sinisnya. Ia langsung berdiri dan segera berjalan keluar meninggalkan Sakti yang masih duduk sendiri.
Sakti hanya bisa menghela nafasnya, memandang punggung pujaan hatinya keluar.
" Al... aku berharap bisa mendapatkan cintamu, Walau aku tahu itu akan sulit, aku akan selalu menunggu waktu itu datang." Gumam Sakti dalam hati.
__ADS_1
TBC......
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya... Miss U All...