CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Ulah Aroon


__ADS_3

Setelah sampai di sekolah Aroon, Alfi segera turun dari mobil, disana Aroon sedang menunggu jemputan bersama teman temannya. Aroon yang melihat Mamanya turun dari mobil seseorang, Ia menajamkan pandangannya sambil menatap seseorang yang keluar dari mobil itu.


" Papa..." Teriak Aroon tiba tiba.


Aroon berlari melewati Alfi menuju Shiv. Aroon merentangkan tangannya, Shiv segera menangkap Aroon lalu menggendongnya.


" Sayang, apa yang kamu katakan? Ini Om Shiv bukan Papa sayang." Ujar Alfi mendekati mereka.


" Tidak... Ini papa Aroon.. Papa jangan tinggalkan kami lagi ya, aku sangaaaaatttt bahagia karena akhirnya aku bisa bersama Papa lagi." Ucap Aroon mendusel dalam gendongan Shiv.


" Maafkan sikap putra saya Tuan, mungkin karena saking kangennya dia sama Papanya." Ucap Alfi.


" No problem, aku seneng kok di anggap Papa sama Aroon, ya nggak Boy?" Ujar Shiv menatap Arron.


" Iya donk Pa." Sahut Aroon.


Alfi menatap nanar pada Aroon, hatinya pedih melihat Aroon menganggap orang lain sebagai Papanya.


"Maafkan Aroon Ma, ini yang terbaik buat kita untuk melupakan Papa yang sudah meninggalkan kita demi orang lain." Batin Aroon.


Aroon baru berusia lima tahun kurang, tetapi Ia bisa memahami masalah orang dewasa. Ia lebih pandai di banding anak anak seusianya.


" Aroon mau jalan?" Tanya Shiv.


" Mau Pa." Sahut Aroon riang.


" Kalau begitu ayo kita makan siang dulu, nanti baru kita jalan jalan." Ajak Shiv.


" Yei..." Sorak Aroon.


Mereka memasuki mobil, Aroon minta duduk di belakang, Ia sibuk dengan gadgetnya. Sebenarnya Alfi mau menolaknya namun melihat kebahagiaan di mata Aroon Ia jadi tidak tega.


" Tuan Shiv, sekali lagi maafkan putra saya, jangan anggap serius ucapannya." Ucap Alfi.


" Mama... Jangan panggil Tuan donk, Panggil Mas seperti biasanya Mama memanggil Papa." Ujar Aroon membuat Shiv tersenyum mendengarnya.


" Aroon coba pahami ucapan Mama sayang, Om ini bukan Papa kamu sayang, Papa kamu sedang bekerja jauh Nak." Ujar Alfi menatap Aroon di belakang.


" Kerja kemana Ma? Mama tidak perlu membohongi Aroon lagi karena Aroon tahu pria itu pergi bersama wanita dan putranya yang lain Ma." Ucap Aroon.


" Aroon." Bentak Alfi.


Shiv segera menepikan mobilnya. Ia menatap Alfi dengan tatapan tak percaya. Benarkah Alfi mengalami hal seburuk ini? Pikir Shiv.

__ADS_1


" Jangan kasar dengan anak kecil Al." Ucap Shiv lembut.


" Dia tidak mau mengerti ucapanku." Ucap Alfi menahan air matanya.


" Aku benci pria itu, aku tidak mau menggangapnya Papa lagi, aku menganggap pria itu sudah mati Ma, aku akan mencari Papa yang mampu membuat kita bahagia, bukan sepertinya yang hanya membuat Mama menangis setiap malam." Teriak Aroon.


" Aroon.. Mama tidak mengharapkan ini darimu nak." Isak Alfi.


" Alfi... maafkan aku, karna kehadiranku membuat hubunganmu dengan putramu memburuk, tapi yakinlah aku benar benar tertarik padamu, berilah aku kesempatan untuk mengenal lebih jauh dirimu dan Aroon." Bujuk Shiv.


" Aku mau Pa... Aku mau kamu menjadi Papaku saat ini, aku ingin seperti teman teman yang lain Ma, aku selalu di bully teman teman karena tidak punya ayah, mereka bilang aku anak yatim yang gak punya Papa Hiks..." Ujar Aroon.


Deg....


Alfi menatap Aroon, benarkah putranya juga menderita atas kepergian Sakti? Alfi merasa menjadi ibu yang buruk, yang tidak tahu tentang perasaan putranya.


" Apa benar yang kamu ucapkan Aroon?" Tanya Alfi. Aroon mengangguk membuat hati Alfi mencelos. Ternyata selama ini putranya pura pura tegar atas kepergian papanya.


" Ma.. Ijinkan aku menganggap Om Shiv sebagai Papaku, aku ingin menebus kebahagiaanku yang hilang sejak kepergian Papa Sakti, aku mohon.... aku ingin menunjukkan kepada teman temanku kalau aku punya papa." Ucap Aroon mengatupkan kedua tangannya dengan air mata berderai.


" Apa ini yang menyebabkan kamu pindah dari sekolah yang lama?" Selidik Alfi.


" Iya Ma, Aroon malu kalau suatu hari nanti Aroon membawa Papa baru, mereka sudah pernah melihat Papa Sakti, kalau di sekolah baru, mereka belum tahu, karna aku yakin Papa tidak akan kembali lagi pada kita, dia sudah bahagia bersama keluarga barunya ma." Terang Aroon. Shiv terharu, anak sekecil ini sudah bisa berpikir dewasa.


" Maafkan mama Sayang..." Ucap Alfi memeluk Aroon walau sulit karna terhalang kursi.


" Iya boleh kalau Om Shiv tidak keberatan." Ujar Alfi.


" Boleh Pa.. Eh Om.." Tanya Aroon.


" Boleh sayang.." Jawab Shiv terharu.


" Yei... mulai sekarang, aku punya papa lagi." Teriak Aroon.


" semoga dengan ini mama bisa membuka hatinya untuk om Shiv." Batin Aroon.


" Apa aku harus melupakanmu mas." Batin Alfi.


Mereka melanjutkan perjalanan ke resto di dalam Mall. Shiv ingin mengajak Aroon jalan jalan, sekalian PDKT.


Sesampainya di resto mereka segera memesan makanan. Shiv memesan Steak beff. Ia memotong motong daging di piring Aroon, setelah itu menyuapinya. Aroon begitu bahagia, Alfi merasa hatinya semakin, segitu rindukah Aroon dengan sosok Papanya. Tak terasa cairan bening yang Ia tahan akhirnya lolos juga.


" Alfi Kau kenapa?" Tanya Shiv mendekatinya, lalu Ia memeluknya. Alfi tak kuasa menahan sesak di dadanya akhirnya menangis di dalam pelukan Shiv, Shiv menikmati momen ini.

__ADS_1


Setelah sedikit tenang, Alfi melepas pelukannya, Ia mendongak menatap Shiv, Ia terkejut karna baru sadar dengan kelakuannya


" Maaf... maaf, aku tidak bermaksud mengotori jas anda tu...".


" Mas Shiv... " Tekan Shiv.


" Ya.. Mas Shiv." Sahut Alfi.


" Begitu lebih baik." Ujar Shiv.


Setelah makan siang, Shiv mengajak Aroon bermain di area mainan anak. Saat ini mereka sedang bermain memasukkan bola ke dalam ring.


" Ayo Pa kalahin Aroon." Ucap Aroon.


" Ok, siap Papa kalahin ya, satu dua... Yeah, Papa menang." Ujar Shiv.


" Jangan senang dulu Pa, masih ada tambahan waktu, kita lihat siapa pemenang sesungguhnya." Kata Aroon tidak mau kalah.


Alfi melihat mereka dari kejauhan, hatinya menghangat melihat keakraban mereka. Shiv pandai membawa diri untuk membuat Aroon bahagia. Sudah lama Alfi ingin melihat tawa Aroon, hari ini tawa itu kembali karna orang lain. Alfi mengusap air matanya.


" Jangan sedih lagi, aku janji akan membawa kebahagiaan untuk kalian." Ucap Shiv yang baru menghampiri Alfi.


" Apa sih..." Ujar Alfi.


" Tunjukkan senyummu pada Papa, Mama." Canda Shiv mencairkan suasana.


" Papa Mama, inget ya aku punya suami dan itu bukan kamu." Ketus Alfi.


" Buat apa kamu masih menganggapnya suami? Suami yang tega meninggalkan anak dan istrinya demi wanita lain." Sindir Shiv.


" Jangan mencampuri urusan pribadiku Tuan Shivran, Jaga batasanmu." Kesal Alfi.


" Aku akan menerobos batasanku demi Aroon, walau baru bertemu tapi aku sudah menyayanginya, aku menganggapnya anakku sendiri." Ucap Shiv dingin.


" Entah lah aku harus percaya padamu atau tidak, yang jelas aku masih istri orang, dan aku hanya mencintai suamiku." Tegas Alfi.


" Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku benar benar menyayangi Aroon dan dirimu saat pandangan pertama, Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, tapi percayalah aku menyayangi Aroon." Jelas Shiv.


" Jangan terlalu berharap, kau akan kecewa." Ucap Alfi.


" Berikan aku kesempatan, jika akhirnya tidak ada harapan, maka aku akan mundur, setidaknya aku sudah pernah membuat kalian bahagia." Ujar Shiv.


TBC....

__ADS_1


Jangan lupa like koment dan hadiahnya...


Miss U All....


__ADS_2