CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Di kunjungi calmer


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Alfi menjalani aktivitas seperti biasanya tanpa adanya gangguan dari Sakti. Mungkin Sakti menuruti apa yang menjadi keinginan Alfi untuk tidak mengganggunya ataupun sekedar menemuinya.


Sekarang Alfi sudah tidak bekerja lagi karna Mama Elin melarangnya. Selesai membuat sarapan, Alfi kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian Ia selesai mandi dan berganti baju.


Alfi berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah, rumah terasa begitu sepi karna saat ini Mama Elin sedang belanja ke pasar.


Saat Ia hendak meminum tiba tiba pintu di ketuk.


Tok tok tok


" Siapa yang bertamu pagi pagi gini ya?" Gumam Alfi.


Alfi berjalan kearah pintu. Ia yakin kalau itu pasti tamu karna kalau Mama Elin sudah pasti langsung membuka pintunya tanpa harus mengetuk dulu.


" Assalamu'alaikum." Sapa seorang wanita paruh baya setelah Alfi sudah membuka pintu.


" Wa'alaikumsallam Tante, maaf cari siapa ya?" Tanya Alfi menampilkan senyumnya.


" Saya swdang menari calon menantu saya." Sahut wanita itu.


" Calon menantu? Siapa Tante? Barang kali saya bisa membantunya." Ujar Alfi.


" Namanya Alfia, kenalkan saya Cintia Mamanya Sakti." Ucap Mama Cintia kepada Alfi.


" Kamu Alfi kan?" Tanya Mama Cintia memastikan.


" Eh... iya Tante, silahkan masuk." Sahut Alfi.


Alfi menyalami Mama Cintia dengan takzim. Ia mengajak Mama Cintia masuk menuju sofa ruang tamu.


" Silahkan duduk Tan, mau minum apa?" Tanya Alfi. Mama Cintia tersenyum menatap Alfi. Ternyata calon menantunya ini bersikap sopan.


" Kalau boleh teh hangat saja, gulanya sedikit ya." Ujar Mama Cintia.


" Baik Tante, ditunggu sebentar." Ucap Alfi.


Alfi berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir teh manis hangat. Setelah selesai Ia kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan di tangannya.


" Silahkan diminum tehnya Tante dan dicicipi kuenya." Ucap Alfi meletakkan nampan berisi teh dan kue di depan Mama Cintia.


" Terima kasih sayang, tapi bisakah kamu panggil saya Mama saja? Kan sebentar lagi kamu jadi putri Mama." Ujar Mama Cintia sambil meminum sedikit tehnya. Lalu Ia menatap Alfi yang duduk di hadapannya.


" Baiklah Ma.. Mama Cintia." Sahut Alfi.

__ADS_1


Mama Cintia tersenyum hangat, ternyata selain cantik Alfi juga gadis penurut. Tidak Salah Sakti memilihnya.


" Alfi dimana Mama mertuamu sayang? Sedari tadi Mama tidak melihatnya?" Tanya mama Cintia karna sedari tadi sepi.


" Mama Elin sedang pergi belanja Ma, Ma sebelumnya saya mau tanya sama Mama." Ucap Alfi.


" Tanya apa sayang?" Mama Cintia balik bertanya.


" Apa Mama tahu aku seorang..." Ucap Alfi.


" Yah Mama tahu, Sakti sudah menceritakan semua pada Mama dan Mama tidak masalah dengan statusmu yang penting kalian saling mencintai, Mama bahagia akhirnya Sakti menemukan jodohnya." Sahut Mama Cintia memotong ucapan Alfi membuatnya tersenyum getir.


" Tidak semua... Bahkan di dalam ceritanya banyak kebohongan." Gumam Alfi dalam hati.


" Alfi... Sakti sudah menceritakan semua tentang rencana pernikahan kalian, yang katanya kamu menolak acara lamaran dan pertunangan ataupun sejenisnya." Ucap mama Cintia.


" Iya Ma." Sahut Alfi.


" Tapi sayang... Sebagai seorang ibu, Mama tetap ingin yang terbaik untuk pernikahan putra Mama satu satunya, dimana semua orang pasti akan melamar mempelai wanita dulu sebelum pernikahan." Ujar Mama Cintia, Alfi menyadari jika wajah Mama Cintia berubah menjadi sendu.


" Tapi Ma." Ucap Alfi.


" Apakah kamu terpaksa melakukan semua ini? Apa Sakti memaksamu untuk menikahinya? Apa sebenarnya kalian tidak saling mencintai? Entah mengapa Mama merasa kalau pernikahan ini tidak di inginkan salah satu dari kalian, apa sebenarnya kamu memang tidak mencintai Sakti? Apa Sakti benar benar memaksamu? Katakan Alfi... Katakan pada Mama." Ucap Mama Cintia menatap Alfi dengan tatapan selidik.


" Lalu kenapa sayang? Kenapa sepertinya kamu ingin menyembunyikan pernikahan ini? Apa yang sudah Sakti lakukan sehingga Ia memaksamu untuk menikah dengannya?" Tanya Mama Cintia terbawa emosi.


" Ma dengarkan aku! Aku menolaknya karna aku malu dengan statusku Ma, aku tidak mau menjadi gunjingan orang karna belum lama menjadi janda sudah menikah lagi." Ucap Alfi jujur.


" Sayang.. Tapi Mama mau memintamu kepada mertuamu dengan resmi nak, Mama tidak masalah jika pertunangan kalian tidak dihadiri orang lain, yang penting pernikahan kalian berjalan dengan semestinya, dimana ada acara lamaran dulu baru pernikahan, kata orang biar Afdhol." Ucap Mama Cintia begitu berharap agar Alfi mau mengabulkannya.


" Lagian jika kalian tiba tiba menikah apa kata orang sayang? Orang orang akan mengira kalau pernikahan kalian terjadi karena satu hal, mungkin karna penggebrekan atau karna kamu hamil duluan, itu justru akan menjadi guncingan warga yang menghebohkan." Sambung Mama Cintia.


" Iya juga ya? Kenapa aku nggak kepikiran kesana." Batin Alfi.


" Apa semua ini mas Sakti yang memintanya Ma? Apa dia yang meminta Mama kesini untuk membicarakan semua ini?" Tanya Alfi.


" Tidak sayang, semua ini karna Mama sendiri yang menginginkannya, Sakti putra Mama satu satunya, Mama ingin pernikahan ini berkesan di hati kalian." Jelas Mama Cintia.


Alfi mendesah pelan menghembuskan nafasnya. Ia tidak tega menolak permintaan Mama Cintia. Lagi lagi Ia harus kalah dengan hatinya.


" Baiklah Ma, lakukan apa yang terbaik buat kami, maafkan keegoisanku sebelumnya yang tidak memahami perasaan Mama, aku bersedia mengikuti tradisi sebagaimana semestinya." Ucap Alfi.


" Terima kasih sayang." Ucap Mama Cintia.

__ADS_1


Mama Cintia memeluk Alfi. Ia bahagia memiliki calon menantu yang penurut dan baik hati seperti Alfi.


" Sakti...." Ucap Mama Elin. Sakti memberi kode kepada Mama Elin dengan telunjuknya untuk diam.



Lalu Ia menunjuk kearah dua orang yang sedang berpelukan. Mama Elin mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk Sakti.


" Mamamu." Bisik Mama Elin.


" Iya Tan... " Jawab Sakti mengangguk.


Ya.. ternyata sedari tadi Sakti mengintip obrolan dua wanita yang Ia cintai di balik pintu tanpa Alfi sadari. Mama Elin berjalan mendekati dua orang wanita yang sedang berpelukan tanpa mengajak Sakti masuk. Biarlah Alfi yang menemuinya.


" Assalamu'alaikum." Sapa Mama Elin.


" Wa'alaikum sallam." Jawab mereka bersamaan, Sambil melepas pelukannya dan menatap kearah Mama Elin.


" Apa kabar Nyonya besan?" Tanya Mama Elin menyodorkan tangannya dan di sambut oleh Mama Cintia.


" Alhamdulillah baik Bu besan." Jawab Mama Cintia setelah mereka duduk kembali.


" Sudah lama?" Tanya Mama Elin.


" Beberapa waktu lalu Jeng." Sahut Mama Cintia.


" Alfi diluar ada Sakti, temui dia dan suruh dia masuk sayang." Ucap Mama Elin.


Alfi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mama Elin lalu Ia menatap Mama Cintia seolah meminta penjelasan kenapa Sakti ada di sini.


" Sakti menunggu di luar Alfi, dia tidak mau masuk karena kamu tidak mau menemuinya sampai acara pernikahan kan, sekarang temuilah dia." Ucap Mama Cintia paham dengan kebingungan Alfi.


" Benar begitu nak? Pantas saja Nak Sakti seperti amblas ditelan bumi dan dia tidak pernah lagi kesini ternyata kamu yang memintanya to." Ujar Mama Elin. Alfi hanya cengar cengir saja.


" Sana temui dulu! Kasihan dia berdiri di luar sejak tadi, Mama mau berbicara penting sama Calmer kamu." Usir Mama Elin.


Tanpa menjawab Alfi beranjak dan berjalan keluar. Di kursi teras terlihat Sakti sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia melirik Alfi yang kini duduk di kursi sebelahnya yang terhalang oleh meja.


" Kamu sengaja membawa Mama Cintia kesini untuk melamarku? Aku kan sudah bilang gak ada acara lamar lamaran dan jangan temui aku sampai acara pernikahan, ternyata kamu gak dengerin aku." Tegas Alfi.


Sakti memalingkan pandangannya dari ponselnya, menatap Alfi dengan penuh kelembutan.


" Mama......

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2