CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Aroon Arviano Madan


__ADS_3

Bebererapa bulan telah berlalu kini usia kehamilan Alfi sudah mendekati HPL. Sakti selalu menjadi suami siaga di samping istri tercintanya, Ia tidak pernah membuat Alfi marah atau kecewa lagi. Semua keinginan Alfi akan di turuti oleh Sakti.


Saat ini Sakti sedang bersiap untuk pergi ke Cafenya, saat Ia hendak mengambil tasnya Ia terkejut karena tiba tiba mendengar Alfi berteriak memanggil namanya.


" Mas Sakti." Teriak Alfi dari bawah.


Sakti segera berlari menuruni tangga dengan tergesa gesa untuk melihat Alfi. Ia tidak mau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Alfi.


" Sayang ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Sakti menghampiri Alfi yang terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.


" Mas.... Perutku sakit." Desis Alfi.


" Mana yang sakit Yank? Sini Mas elus." Ujar Sakti mengelus perut Alfi.


" Awh sakit Mas." Keluh Alfi.


Mama Cintia yang mendengar teriakan Alfi dari dalam kamarnya, Ia segera menuju ke asal suara.


" Ada apa Sak?" Al kenapa?" Tanya Mama Cintia menghampiri keduanya.


" Perut Al sakit Ma." Sahut Sakti.


" Bawa kerumah sakit sekarang Sak, sepertinya Alfi mau melahirkan, ketubannya juga sudah pecah." Saran Mama.


" Benarkah Ma?" Tanya Sakti memastikan.


" Iya buruan kita bawa ke rumah sakit." Ujar Mama Cintia.


" Ah iya Ma, ayo sayang." Ucap Sakti.


Sakti segera membopong Alfi menuju mobilnya. Ia menidurkan Alfi di kursi belakang dengan kepala di pangkuan Mama. Sakti segera melajukan mobilnya menuju Rumah sakit dengan kecepatan sedikit kencang.


" Shh...." Desis Alfi.


" Sabar ya sayang, memang begitu kalau mau melahirkan, rasanya nikmat luar biasa, istighfar ya dan jangan mengeluarkan tenaga untuk hal yang tidak penting, simpan saja tenagamu untuk mengejan nanti." Ujar Mama Cintia yang di balas anggukan kepala oleh Alfi.


" Sekarang atur nafas kamu, ambil nafas pelan pelan lalu keluarkan melalui mulut." Sambung Mama Cintia. Alfi pun mengikuti arahan Mama Cintia.


Dua puluh menit kemudian mobil Sakti sampai di pelataran rumah sakit. Ia turun dari mobil lalu membuka pintu belakang.


" Sini sayang Mas gendong." Ucap Sakti.


Sakti menggendong Alfi masuk ke dalam rumah sakit.


" Dokter...dokter..." Teriak Sakti.


Seorang suster nampak tergopoh gopoh menghampiri Sakti yang sedang menggendong Alfi ala bridal style.


" Apa yang terjadi pak? Istri anda kenapa?" Tanya suster.


" Istri saya mau melahirkan sus." Jawab Sakti.


" Baringkan di brankar pak, saya akan segera mendorongnya ke ruang bersalin." Ujar Suster menunjuk brankar yang ada di sebelah Sakti.

__ADS_1


Sakti membaringkan Alfi di brankar, lalu suster mendorongnya menuju ruang bersalin. Alfi menggenggam tangan Sakti seolah tidak mau di tinggalkan. Sesekali Alfi mendesis menahan sakit.


Setelah sampai di ruang bersalin, Dokter segera menangani Alfi.


" Saya periksa pembukaannya dulu ya Bu." Ucap Dokter. Alfi menganggukan kepalanya.


" Wah pintar sekali, pembukaannya sudah sempurna Pak." Sambung Dokter.


Sakti bingung dengan pembukaan apa yang di maksud oleh dokter. Tapi Ia tidak mempertanyakannya karena tidak mau membuang buang waktu. Ia harus fokus pada Alfi.


Sakti menatap Alfi dengan tatapan yang entah. Terlihat keringat mengucur pada dahi Alfi. Wajah merah pucat karena menahan sakit yang pernah bisa Sakti rasakan. Sakti mengusap keringat pada dahi Alfi menggunakan tisu.


" Kalau saya suruh dorong, maka ibu harus mengejan ya." Ucap dokter membenahi posisi kaki Alfi. Alfi hanya mengangguk saja. Rasanya sudah tidak kuat untuk berbicara karna saking sakitnya.


" Sekarang tarik nafas lalu keluarkan lewat mulut, dorong ya Bu." Ucap Dokter.


Alfi mengejan mengikuti instruksi dokter, sedangkan Sakti terus menggenggam tangan Alfi. Keringat panas dingin jatuh ke dahi Alfi, tapi Alfi terus berjuang untuk melahirkan anaknya. Sakti terharu melihat perjuangan Alfi melahirkan anaknya yang penuh dengan perjuangan.


" Sekali lagi bu, kepalanya sudah terlihat." Instruksi dokter.


" A......" Alfi mengejan dengan Kuat.


Oek....oek...oek...


" Alhamdulillah, banyinya sudah lahir Bu." Ucap Dokter.


" Alhamdulillah, terima kasih sayang." Ucap Sakti menciumi kening Alfi, Ia menitikkan air mata bahagianya.


" Selamat Pak, selamat Bu, bayinya terlahir dengan sempurna, dia laki laki yang tampan seperti ayahnya." Ucap Dokter.


" Sekarang saatnya kita melakukan inisiasi menyusu dini ya Bu." Ucap Dokter menengkurapkan babby Sakti di atas dada Alfi.


Dokter mengajari Alfi cara IMD dan menyusui yang benar. Babby Alfi menyesap put*ng sus* Alfi dengan kuat seperti orang yang sedang kehausan. Sedangkan Dokter membersihkan bagian bawah Alfi.


" Duh mungilnya anak Papa, haus banget ya." Ujar Sakti mengelus pipi babbynya dengan lembut.


" Sudah selesai Bu." Ucap Dokter.


" Sus pakaikan baju sama bedong buat babbynya ya." Ucap Dokter kepada suster.


" Iya Dok." Sahut suster.


" Ayo dedek bayi pakai baju dulu ya biar nggak kedinginan." Ujar suster mengambil babby Alfi dari atas dada Alfi.


Setelah itu suster memakaian baju dan bedong kepada babby Alfi.


" Tugas saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu, suster nanti akan memindahkan anda ke ruang rawat." Ucap Dokter.


" Silahkan Dok, terima kasih." Sahut Sakti. Setelah itu Dokter berjalan keluar ruangan.


" Sekarang kita pindah ke ruang perawatan ya Bu, Bapak mau dorong kursi rodanya atau mau gendong bayinya?" Tanya Suster menatap Sakti.


" Saya dorong kursi rodanya aja sus." Sahut Sakti.

__ADS_1


" Baiklah Pak." Sahut Suster.


Sebenarnya Sakti ingin menggendong babbynya, tapi Ia masih takut.


Alfi di pindahkan ke ruang rawat VIP.


Sakti mendorong kursi roda yang di gunakan Alfi, sedangkan suster menggendong bayi mungil yang baru di lahirkan Alfi.


Saat ini Mama Cintia pulang untuk mengambil baju ganti.


Sesampainya di ruang rawat, suster menidurkan baby pada box bayi.


" Saya permisi pak, kalau ada apa apa silahkan tekan tombol." Ucap suster


" Silahkan, terima kasih sus." Ujar Sakti.


" Sama sama Pak." Sahut suster meninggalkkan ruangan Alfi.


" Sayang istirahatlah." Ucap Sakti membaringkan Alfi di atas ranjang.


" Terima kasih sayang, kamu telah melahirkan malaikat kecil untuk menyempurnakan hidupku." Ucap Sakti mencium kening Alfi.


" Sama sama Mas." Sahut Sakti.


Ceklek.....


" Sayang...." Pintu terbuka, Mama Cintia masuk dan langsung mendekati Alfi.


" Selamat ya nak, kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu." Ucap Mama Cintia sambil mengelus kepala Alfi.


" Makasih Ma." Ujar Alfi.


" Mana cucu Oma?" Tanya Mama segera menghampiri box bayi. Ia menggendong bayi mungil berwarna merah. Mama menciumi pipinya.


" Kamu tampan seperti Opa kamu." Ucap mama.


" Enak aja di samain Papa, dia tampan kaya' aku lah Ma." Protes Sakti membuat Mama dan Alfi tersenyum.


" Iya iya kamu lebih tampan dari Papamu, ngomong ngomong siapa nama banby tampan ini?" Tanya Mama.


" Aroon Arviano Madan Ma." Jawab Sakti.


" Nama yang bagus... Hallo Aroon ini oma Cintia yang cantik jelita." Narsis Mama.


" Semoga Aroon menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tua, semoga keluarga kalian selalu bahagia Nak." Sambung mama.


" Amin, makasih Ma." Ujar Sakti dan Alfi bersamaan.


" Makasih sayang, I Love U." Sakti mencium kening Alfi. Kebahagiaan mereka telah lengkap dengan adanya seorang putra buah dari cinta mereka.


TBC.....


Jangan lupa like koment dan votenya ya... Sama hadiahnya juga...

__ADS_1


Miss U All....


__ADS_2