
Keesokan harinya di dalam ruang rawat VIP, Alfi mengerjapkan matanya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya, ternyata hari sudah hampir siang. Berapa lama Ia tidak sadarkan diri? Ia teringat akan mendiang suaminya. Pria yang memberi warna dalam hidupnya. Pria yang selalu membuatnya bahagia. Pria yang menjadikannya prioritas utama. Pria yang selalu menghibur dirinya dan pria yang selalu ada untuknya yang sayangnya menjadi suaminya hanya sehari saja.
Davi lah yang menemaninya saat kesepian.
Davi lah yang menghiburnya saat Ia merasakan kesedihan.
Davi lah yang menenangkannya saat Ia marah.
Ya Davi.... Davi.... Davi... dan hanya Davi..
Tapi kini Davi telah tiada. Davi telah pergi meninggalkannya untuk selamanya, kepada siapa Ia akan mengadukan kesedihannya? Kepada siapa Ia akan bersandar? Kepada siapa Ia akan melewati hari harinya? Membayangkan hal itu tak terasa cairan bening lolos begitu saja mengalir di pipinya.
" Sayang... ." Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Mama Elin disana, Ia berjalan mendekati menantunya yang sedang murung.
" Jangan menangis lagi sayang.. Ikhlaskan kepergian Davi... Semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, jadi jangan berlarut dengan kesedihan yang kamu alami saat ini sayang, apa kau tahu?" Tanya Mama Elin menjeda ucapannya, sebenarnya Ia juga tak kuasa menahan kesedihannya tapi Ia harus nampak lebih kuat untuk menguatkan Alfi.
" Kematian memang akhir segalanya tapi untuk diri mereka sendiri, terputus sudah urusan dunia untuk yang mati, bukan untuk kita yang di tinggalkan." Sambung Mama Elin sambil menduduki kursi di samping Alfi.
Mama Elin menggenggam tangan Alfi mencoba menyalurkan kekuatan untuk menantunya.
" Kematian hanya perpindahan dua alam sayang, Mama mohon ikhlaskan kepergian Davi, jangan pernah meratapi kepergiannya, karna itu hanya akan memberatkan kepergiannya sayang, biarkan Davi menghadap Tuhan dengan tenang tanpa beban dunia." Nasehat Mama Elin. Alfi mencoba memahami apa yang mertuanya jelaskan.
" Kamu paham kan maksud Mama?" Tanya Mama Elin.
" Baik Ma, Alfi akan mencoba mengikhlaskan kepergian Mas Davi." Jawab Alfi.
" Kamu sudah berjanji pada Davi bukan? Kalau kamu akan selalu bahagia walau hidup tanpanya?" Tanya Mama Elin. Alfi hanya menganggukkan kepalanya.
" Untuk itu kamu harus melanjutkan hidup dengan penuh kebahagiaan." Ujar Mama Elin.
__ADS_1
" Iya Ma." Sahut Alfi.
" Lihat Mama, Mama juga sedih karna kehilangan Davi, Mama hancur kehilangannya tapi Mama masih kuat berdiri disini menemanimu, itu karna apa? Itu semua karna Mama ikhlas menerima semuanya, inilah takdir Tuhan yang harus kita jalani sayang." Jelas Mama Elin dengan panjang lebar.
Bukankah kehilangan adalah hal paling menyakitkan? Tapi Mama Elin begitu tabah menghadapinya. Itulah kunci kehidupan, jika kita Ikhlas, maka kita akan dengan mudah menjalaninya.
" Sekarang tepatilah janjimu pada Davi, hiduplah dengan berbahagia sayang, lanjutkan hidupmu yang masih panjang, jangan kamu sesali apa yang sudah terjadi, dan yakinlah ini semua pasti yang terbaik untukmu Nak." Ucap Mama Elin mengelus kepala Alfi.
" Doakan agar Alfi kuat menjalani semuanya Ma, doakan agar Alfi mendapat kebahagiaan setelah ini, Alfi akan mencoba mengikhlaskan Mas Davi Ma, Alfi akan mencoba." Ucap Alfi.
" Mama akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu Nak." Ujar Mama Elin.
" Terima kasih Ma." Sahut Alfi
Alfi mengerti apa yang coba Mama Elin jelaskan kepadanya. Ia sadar bahwa memang tidak baik meratapi kematian, mulai sekarang Ia akan mengikhlaskan semuanya. Alfi mengusap air matanya mencoba menenangkan diri. Ia akan berusaha sedikit melupakan kesedihannya.
" Ma.. Apa Mas Davi sudah di kebumikan?" Tanya Alfi menatap Mama Elin.
" Nggak pa pa Ma, lebih cepat memang lebih baik buat Mas Davi." Sahut Alfi.
" Iya sayang." Sahut Mama Elin.
" Ma.. Bolehkah aku mengunjungi makam Mas Davi?" Tanya Alfi. Mama Elin menatap Alfi, Ia sedikit berpikir sebelum mengambil keputusan.
"Aku ingin melihat pembaringan terakhirnya Ma, aku tidak bisa tenang sebelum aku kesana." Sambung Alfi. Ia ingin kesana karna tadi Alfi tidak mengantarkan Davi ke pembaringan terakhirnya.
" Tentu sayang, tapi kamu harus janji saat di depan makam Davi kamu tidak boleh menangis apalagi meratapi kepergiannya, kalau itu kamu lakukan kasihan Davi Nak, Ia akan merasa tidak tenang meninggalkanmu, jika melihat kamu terpuruk seperti ini." Ucap Mama mengingatkan.
" Baik Ma, aku berjanji tidak akan menangis di sana." Jawab Alfi sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Baiklah, sekarang ayo Mama akan mengantarmu ke sana." Ajak Mama Elin.
" Iya Ma." Sahut Alfi.
Mereka berjalan berdampingan menuju lobby rumah sakit, dimana sopir Mama sudah menunggunya setelah tadi Mama Elin menghubunginya. Mereka memasuki mobil yang akan melaju menuju ke pemakaman umum tempat Davi di kebumikan. Pak sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai pada tempat yang dituju yaitu pemakaman umum setempat. Mereka segera turun dari sana. Mama Elin menuntun Alfi menuju ke makam yang bertuliskan nama suaminya.
Alfi berjongkok di depan makam Davi. Ia memandangi gundukan tanah merah yang di taburi bunga mawar di atasnya. Ia hanya memandang saja tanpa mengeluarkan tangisan apalagi ratapan. Ia sudah berjanji pada mertuanya bukan? kalau Ia tidak akan menangis.
Entah apa yang ada dalam hatinya tiba tiba Alfi merasa sesak pada dadanya. Ia mencoba menahan rasa sesak itu. Sedangkan Mama Elin hanya berdiri di belakangnya. Takut takut kalau Alfi akan pingsan.
Alfi memandang makam Davi dengan perasaan yang entah apa atau mungkin Ia mendoakan untuk kebaikan suaminya. Ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan.
" Mas... Maafkan aku yang tak bisa mengantarmu ke sini tadi, beristirahatlah dengan tenang di sana, aku akan melanjutkan hidupku, dan selalu bahagia walau tanpa kamu di sisiku, aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu, tunggu aku di pintu Surga, I Love U." Ujar Alfi dalam hati.
Semakin lama rasa itu Ia pendam, maka semakin sesak pula rasa di dadanya bahkan sampai kerongkongannya. Ia kesulitan bernafas sampai akhirnya Ia terkulai lemas di atas gundukan makam suaminya tak sadarkan diri.
Mama Elin yang menyadari jika Alfi pingsan langsung panik, Ia mencoba mencari bantuan, barang kali ada yang lewat tetapi tidak ada seorangpun, karna memang hari sudah mulai sore. Ia merutuki kebodohannya yang meminta sopir pergi meninggalkan mereka. Mama Elin mengira kalau Alfi akan seharian disini. Saat Mama Elin di landa kebingungan, tiba tiba...
" Apa terjadi sesuatuTante?" Tanya seseorang di belakang Mama Elin. Mama Elin menoleh pada suara itu.
" Sakti.. ah syukurlah kamu datang Nak, tolong tante Alfi pingsan." Ucap Mama Elin.
Tanpa menunggu waktu lama, Sakti segera membopong tubuh Alfi menuju mobilnya. Ia segera membawa Alfi kembali kerumah sakit.
TBC.....
Jangan lupa like koment dan votenya ya....
__ADS_1
Miss U All...