
Hari hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah satu tahun kedekatan Shiv dengan Aroon dan Alfi. Setiap hari Shiv bermain kerumah Alfi, bahkan sekarang Alfi tidak pernah mengantar jemput sekolah, karna Shiv yang melakukannya.
Shiv seperti orang yang tidak punya kerjaan saja. Bagaimana tidak? Pagi hari Ia akan mengantar Aroon, siang hari Ia juga menjemput Aroon, setelah pulang sekolah Shiv mengajak Aroon jalan jalan, setelah lelah baru Aroon di antar ke Cafe Alfi.
Seperti hari ini, setelah mengajak Aroon jalan jalan, Shiv mengantar Aroon ke cafe Alfi.
" Mama...." Teriak Aroon memasuki ruangan Alfi.
" Anak Mama sudah pulang, jalan kemana nih hari ini? Kok keihatannya riang banget." Ujar Alfi mendekati Aroon yang duduk di sofa bersama Shiv.
" Ke taman bermain Ma, oh ya Ma Papa membelikan aku banyak eskrim lhoh." Ujar Aroon.
" Benarkah? Nanti kalau kebanyakan makan es krim terus sakit gigi gimana?" Tanya Alfi.
" Ya enggaklah Ma, kan aku rajin sikak gigi." Sahut Aroon.
" Apa kamu senang di jalan jalan sama Papa?" Tanya Alfi.
" Iya... Aku senang sekali Ma, aku bahagia banget karena setiap hari di ajak jalan sama Papa." Celoteh Aroon.
" Makasih Mas atas semua yang kamu berikan pada kami selama ini tapi maaf kami tidak bisa membalasnya." Ucap Alfi.
" Tidak masalah Al, tidak perlu kau pikirkan, oh ya sebentar lagi kan ulang tahun Aroon, mau di rayakan di mana?" Tanya Shiv.
Alfi dan Aroon hanya saling pandang. Sejak kepergian Sakti, Aroon tidak mau lagi merayakan Ulang tahunnya. Kini Usia Aroon genap tujuh tahun, berarti kepergian Sakti sudah tiga tahun lamanyantetapi masih tidak ada kabar apapun tentang dirinya.
" Aroon kamu mau pestanya di rayakan di mana? Di hotel? Atau di time zone?" Tanya Shiv menatap Aroon.
" Aku tidak mau Pa, aku tidak mau pesta lagi." Lirih Aroon.
" Kenapa? Padahal seru lhoh kalau kita merayakan pesta bersama teman temanmu, Papa janji akan membuat ulang tahunmu kali ini lebih berkesan." Ucap Shiv memangku Aroon.
" Semenjak kepergian Mas Sakti, Aroon tidak mau lagi merayakan ulang tahunnya karena hari itu mengingatkannya kepada kejadian yang sangat membuat kami terpukul." Lirih Alfi.
__ADS_1
" Ya udah gak usah pesta juga nggak apa apa, gimana kalau Papa ajak kalian liburan ke Bali? Di jamin kamu pasti suka sayang, di sana kita akan bermain di pantai yang paling terkenal di pulau itu, kita akan bermain di pasir yang begitu lembut dan kita akan bermain bola di bibir pantai itu, gimana? Apa kamu mau?" Tanya Shiv menatap wajah Aroon.
" Asik.... Aku mau Pa.. Aku mau." Sorak Aroon kegirangan.
" Kalau kamu bagaimana Al?" Tanya Shiv menatap ke arah Alfi.
Alfi sedikit berpikir, jika Ia menolak maka Aroon akan sedih tapi jika Ia menerima, Ia merasa tidak enak kepada Shiv. Ia berpikir kalau Shiv melakukan ini semua karena Shiv mencintainya, rasanya tidak akan adil jika Alfi tidak membalas perasaannya.
Namun apa di kata? Alfi masih sedikit memendam cinta untuk Sakti suaminya. Jika semuanya belum terlihat jelas, Alfi tidak akan mengalihkan perasaannya kepada Shiv. Ia akan menunggu kepastian dari apa yang Sakti lakukan kepadanya. Ia berharap bisa bertemu Sakti suatu hari nanti untuk memperjelas semuanya.
" Mau ya Ma? Mau ya?" Rengek Aroon.
" Baiklah terserah kalian saja." Sahut Alfi menghela nafasnya.
" Baiklah krena kamu sudah setuju, aku akan segera mengatur untuk perjalanannya." Ucap Shiv.
" Yei.. Yei... liburan, liburan..." Sorak Aroon.
" Sepertinya hari sudah sore, ayo kita pulang." Ajak Shiv.
Alfi sedikit demi sedikit bisa melupakan kesedihannya, Ia akan mencoba mulai membuka dirinya dengan kehadiran Shiv, Ia pasrahkan pada takdir saja, jika memang Shiv jodohnya, Ia akan mencoba menerimanya tapi setelah ada kejelasan tentang hubungan dengan Sakti tentunya.
" Ayo." Ajak Shiv.
Mereka bertiga bergandengan tangan dengan Aroon di tengahnya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Mereka masuk ke mobil Shiv, Shiv segera menjalankan mobilnya menuju rumah Alfi.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah di rumah, Alfi segera masuk ke dalam dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi Alfi memasak untuk makan malam Shiv dan Aroon. Ya Shiv akan selalu makan malam di sini menemani Alfi dan Aroon.
Selesai memasak Alfi segera menatanya di meja makan. Ia memanggil Shiv dan Aroon untuk makan malam yang sudah Ia siapkan. Tak lama kemudian mereka datang dan duduk di kursi masing masing.
" Mau pakai apa Mas?" Tanya Alfi yang sudah siap dengan piringnya.
__ADS_1
" Mau semuanya." Sahut Shiv.
Shiv sangat bahagia karena Ia merasa seperti seorang suami yang sedang di layani oleh istrinya. Sudah berkali kali Shiv melamar Alfi, tapi jawaban Alfi tetap sama, menunggu kepastian dari Sakti.
" Sayang kalau kamu mau pakai apa?" Tanya Alfi menatap Aroon.
" Sama kaya' Papa aja Ma." Sahut Aroon. Entah mengapa Aroon dan Shiv banyak kesamaannya.
Mereka makan dengan tenang, selesai makan Aroon segera pergi ke kamar, sedang Shiv dan Alfi duduk bersantai di ruang tamu.
" Al... gimana? Apa kamu sudah siap menjadi istriku? Ayolah Al... Buatlah Aroon mempunyai keluarga lengkap yang sesungguhnya." Ujar Shiv menatap Alfi.
" Mas.. Aku kan sudah pernah bilang sama kamu, aku nunggu kepastian dulu, aku yakin Mas Sakti pasti akan kembali, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kepergian Mas Sakti, jujur aku sudah berusaha menghapus namanya, tetapi aku tidak bisa, aku masih mencintainya Mas, aku merasa Mas Sakti tidak bersalah dalam hal ini, maafkan aku, aku mohon jangan pernah menunggu hal yang tidak pasti dariku, carilah wanita yang lain, aku tidak mau menjadi penghambat kebahagiaan dalam hidupmu." Lirih Alfi. Ia masih merasa sedih jika mengingat Sakti. Hatinya masih berharap Sakti kembali.
" Aku akan tetap sabar menunggumu, tapi aampai kapan Al? Aku juga ingin kepastian darimu." Ujar Shiv.
" Aku menunggu Mas Sakti kembali untuk memperjelas semuanya, jika memang dia bersalah maka saat itu juga aku akan melepasnya, aku akan menggugat cerai dirinya, tapi jika dia tidak bersalah maka maaf, aku akan kembali padanya, jika kamu bersikeras mau menungguku, maka tunggulah aku kurang dari satu tahun lagi gimana?" Jelas Alfi.
Shiv merapatkan tubuhnya, Ia menggenggam tangan Alfi.
" Aku akan menunggu sampai satu tahun lagi, jika dalam satu tahun Sakti tidak juga kembali maka kamu harus menepati janjimu untuk menerimaku." Ujar Shiv.
" Baiklah aku setuju, tapi sekali lagi maaf jika akhirnya aku membuat penantianmu sia sia, dan membuatmu kecewa, kau janji tidak akan membenciku kan?" Sahut Alfi.
" Aku janji, apapun keputusanmu, aku akan menerimanya, walaupun akhirnya nanti hati ini akan terluka." Jawab Shiv.
Shiv memeluk Alfi. Ia mencoba menahan perasaan yang semakin hari semakin membesar. Ia tidak mau kehilangan Alfi. Tetapi apapun keputusan Alfi, Ia akan menerimanya, karna Alfi sudah mewanti wantinya kalau dia akan membuat penantian Shiv sia sia.
TBC...
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...
__ADS_1
Semoga sehat selalu....
Miss U All