CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Pertikaian


__ADS_3

Aroon baru pulang sekolah di jemput oleh Shiv. Setelah turun dari mobil, mereka memasuki rumah yang sepertinya sedang ada tamu sambil bergandengan tangan, saat sampai ruang tamu, mereka melihat Alfi pingsan di pelukan Sakti.


" Mama....." Pekik Aroon menghampiri Mamanya.


" Ma.. Mama kenapa Ma?" Tanya Aroon cemas.


" Papa ayo angkat Mama dan bawa Mama ke kamar Pa." Ujar Aroon menoleh pada Shiv, Shiv segera mengambil alih Alfi dari pelukan Sakti.


Sakti terbengong melihatnya, Ia tidak sadar jika Alfi sudah di bopong Shiv menuju kamarnya.


" Arooonn." Ucap Sakti mencoba memeluk Aroon tetapi Aroon menolaknya.


" Jangan mendekat!" Ketus Aroon.


" Aroon.. Apa kamu lupa? Ini Papa sayang." Ucap Sakti.


" Papaku sudah mati sejak tiga tahun yang lalu." Sahut Aroon.


" Tidak sayang, aku papamu, aku masih hidup Aroon." Ujar Sakti.


" Papaku sudah mati." Teriak Aroon.


" Kau lihat Foto itu." Aroon menunjuk foto Davi yang menempel pada dinding.


" Itulah Papaku, Papa Davi." Ucap Aroon.


" Tidak Aroon, aku Papamu Papa Sakti... Sakti Arviano bukan dia sayang, bahkan namamu juga menyandang namaku Nak." Jelas Sakti dengan hati terluka karna tidak di anggap oleh putranya.


" Namaku Aroon Daviano, lalu nama mana yang anda maksudkan TUAN." Sinis Aroon menekan kata Tuan membuat hati Sakti semakin teriris.


" Namamu Aroon Arviano Sayang, namamu menyandang marga Arviano bukan Daviano." Sakti menyentuh pundak Aroon.


" Aku tidak sudi menyandang nama pria yang tega meninggalkan istrinya demi wanita lain." Teriak Aroon.


Deg....


Lagi lagi hati Sakti mencelos....

__ADS_1


Hatinya terasa sakit ketika anak sekecil Aroon sudah bisa mengetahui semuanya.


" Ayah.... Ayah... Siapa dia?" Tanya Nervan mendekati Aroon dan Sakti. Ia bingung dengan semua yang terjadi saat ini. Ayahnya mengaku menjadi Papa orang lain.


" Dia Abangmu sayang." Jelas Sakti.


" Apa Abang Yah? Jadi aku punya Abang? Kenapa Ayah tidak pernah bilang jika aku mempunyai Abang?" Tanya Nervan tidak percaya.


" Abang aku merindukanmu." Sambung Nervan memeluk Aroon, tapi Aroon mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.


" Nervan." Teriak Neha membantu Nervan berdiri.


" Dasar anak tidak tahu sopan santun, apa ini didikan dari ibumu?" Tanya Neha menatap Aroon dengan kesal.


" Setidaknya didikan ibuku tidak membuatku menjadi perusak hubungan orang lain Nyonya." Sindir Aroon membuat Neha melongo.


" Aroon jaga bicaramu." Sahut Sakti.


" Kenapa? Apa anda merasa keberatan Tuan? Dia bicara sembarangan tentang ibuku, memang tahu apa dia tentang ibuku sehingga dia mengecam didikan yang ibuku beikan kepadaku?" Tanya Aroon menatap tajam ke arah Sakti.


" Hah ibuku.... Ibu yang dengan bodohnya menanti kedatangan suami yang sudah mengkhianatinya, bahkan sampai ibuku selalu menolak cinta dan kasih sayang dari Papa Shiv yang tulus mencintainya demi Pria brengsek sepertimu Tuan." Ujar Aroon, Ia mendekati Nervan, Ia menekan dada Nervan.


" Aroon." Bentak Sakti tanpa sadar.


Bagaimana bisa Aroon berbicara seperti itu? Ini salahnya... karna Sakti tidak mendidiknya. Ia sudah menanamkan kebencian di hati Aroon semenjak kepergiannya.


" Sekarang pergilah Tuan, bawa anak dan istri tercintamu ini, kami tidak membutuhkanmu, ada Papa Shiv yang selalu menjaga kami." Usir Aroon, dia benar benar membenci sosok Papa yang sudah melukai hati Mamanya.


" Dia bukan Papamu sayang, akulah Papamu, Papa kandungmu." Tegas Sakti.


" Asal kau tahu dia akan menjadi Papaku sebentar lagi Tuan, Kau tunggu saja undangannya, tapi ah.. Tidak perlu.. Kau tidak perlu datang di hari kebahagiaan Mamaku, atau Mamaku akan menangis karena teringat dengan luka yang kau torehkan di hatinya beberapa tahun lalu, sekarang pergilah dari rumahku." Usir Aroon.


" Ayo Sak kita pergi, anak dan ibu sama saja tidak berguna." Ketus Neha menggandeng tangan Nervan dan Sakti.


" Abang...." Ucap Nervan menatap Aroon.


" Jangan pernah memanggilku dengan sebutan itu." Bentak Aroon.

__ADS_1


" Tapi aku menyayangimu Abang." Ujar Nervan.


" Aku membencimu.... Aku membencimu, ayahmu dan juga ibumu, pergilah kalian dari sini dan jangan kembali lagi." Teriak Aroon.


" Baiklah sayang, Papa akan membawa mereka pergi." Ucap Sakti mengalah. Mungkin kali ini bukan waktu yang tepat untuk Sakti menemui Alfi. Ia akan kembali suatu hati nanti.


Setelah kepergian mereka, Aroon segera menutup pintu dengan kencang. Ia menangis sesegukan merasakan kesedihan yang di alami Mamanya. Ia semakin membenci papanya. Ia berjanji akan membalas semua rasa sakit yang papanya torehkan kepada Mamanya.


" Kenapa Papa lakukan ini kepada kami? Kami sudah merasa sangat sedih karena kepergian Papa, kenapa sekarang Papa malah kembali dengan membawa mereka? Papa jahat, Papa tidak mengerti perasaan kami, aku semakin membencimu Pa, aku bersumpah tidak akan menerima anak harammu itu menjadi saudaraku." Monolog Aroon.


Aroon melangkahkan kaki menuju kamar Alfi, Ia melihat Alfi yangbsedang menangis di pelukan Shiv. Ia menghampiri Mamanya, lalu Ia peluk Mama tercintanya.


" Mama." Ucap Aroon.


Alfi melepas pelukan Shiv, Ia berganti memeluk Aroon.


" Jangan menangis lagi Ma, jangan menangis karena pria itu, jangan pikirkan orang yang telah menyakiti kita, lupakan Papa dan lihatlah Papa Shiv, Papa Shiv tidak pernah menyakiti kita bukan? Papa Shiv selalu memberikan kita kebahagiaan, kita selalu tertawa saat bersamanya bukan malah menangis seperti ini kan? Aroon mohon terimalah Papa Shiv menjadi pengganti pria itu sebagai suami Mama dan sebagai Papaku Ma." Ujar Aroon, Ia tidak mau menyebut nama Sakti.


" Sayang... Apa kamu tidak mau mendengar penjelasan Papa dulu kenapa Papa melakukan seemua ini? Siapa tahu papa tidak bersalah sayang, bukankah tadi Papa bilang kalau dia tidak mengingat apapun? Mungkin Papa selama ini hilang ingatan sayang." Ucap Alfi.


" Tidak Ma, apapun yang terjadi saat ini Papa sudah punya keluarga baru, dan Aroon minta hentikan kebodohan Mama, jangan berharap lagi padanya Ma, sekarang lebih baik kita buat keluarga baru juga, dimana ada aku, Mama dan Papa Shiv, mau ya Ma?" Tanya Aroon dengan muka memelas. Alfi menatap Shiv yang di balas Shiv dengan senyuman manis.


" Gimana? Apa kamu mau menjadi istriku?" Tanya Shiv.


" Kalau bukan demi aku, terimalah demi Aroon." Sambung Shiv.


" Baiklah Mas aku menerimamu, nikahi aku secepatnya, aku tidak mau Mas Sakti mengganggu hidupku lagi." Pasrah Alfi. Shiv segera memeluk keduanya.


" Makasih sayang, semoga kita selalu hidup bahagia." Ujar Shiv.


" Hmmm..." Gumam Alfi.


" Maaf Mas Sakti, mungkin ini yang terbaik untuk kita, berbahagialah dengan keluarga kita masing masing." Batin Alfi.


" Semoga keputusanmu sudah mutlak Al, aku tidak ingin kamu mengubah keputusanmu suatu hari nanti, jika pun itu terjadi, aku sudah pasrah." Batin Shivran.


TBC....

__ADS_1


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Miss U All.....


__ADS_2