
Alfi masih berusaha membujuk Aroon agar mau kembali ke rumah Sakti. Setelah beberapa lama di beri pengertian akhirnya Aroon luluh juga.
" Jadi Papa tidak punya anak lain selain Aroon Ma?" Tanya Aroon memastikan.
" Iya sayang... Kami hanya merawat Nervan sesuai janji Mama sama Tante Diana, jadi kamu harus baikan ya sama Nervan, kasihan dia sudah tidak punya siapa siapa sayang, kamu bayangkan aja jika kamu jadi Nervan sedih nggak kalau kamu nggak punya Papa terus di tinggal Mama meninggal?" Tanya Alfi.
" Sedih Ma tapi aku tidak mau baikan dengannya gara gara ibunya aku jadi kehilangan kasih sayang Papa selama ini." Kukuh Aroon.
" Tuhan Maha adil sayang, setelah kepergian Papa Sakti bukankah Tuhan menggantikannya dengan Papa Shiv? Kamu mendapat kasih sayang darinya kan sama seperti kasih sayang seorang Papa." Ujar Alfi sambil mengelus rambut Aroon.
" Iya Ma." Sahut Aroon.
" Jadi apa kamu mau pulang ke rumah Papa dan tinggal bersama dengan Nervan?" Tanya Alfi.
" Iya Ma tapi aku mau lihat dulu, kalau Papa lebih sayang sama Nervan maka sampai kapanpun aku akan membencinya dan aku akan kembali ke rumah ini bersama Papa Shiv." Jelas Aroon.
" Baiklah sayang." Sahut Alfi.
Setelah berhasil membujuk Aroon, Alfi segera berkemas. Ia memasukkan baju baju Aroon ke dalam tas ransel. Shiv masuk menghampiri mereka. Ia duduk di samping Aroon.
" Apa kalian jadi pindah ke rumah Sakti?" Tanya Shiv.
" Iya Mas karna bagaimanapun Mas Sakti masih suamiku jadi aku harus mengikuti kemanapun dia pergi bukan, lagian permasalahan kami sudah selesai." Jawab Alfi.
" Baiklah asal kalian bahagia aku akan selalu mendukungnya." Ucap Shiv lirih.
" Mas..." Alfi duduk di samping Shiv, Ia menggenggam tangan Shiv.
" Mas.. Maafkan aku yang sampai sekarang tidak bisa membalas perasaanmu, ternyata hati dan cintaku hanya milik Mas Sakti, sebesar apapun aku menyangkalnya nyatanya aku tidak bisa menghilangkan rasa itu Mas, aku merasa sangat bersalah kepadamu karena penantiamu selama ini hanya sia sia Mas." Sesal Alfi merasa bersalah.
" Tidak masalah Al, dari awal juga kamu sudah mengingatkan aku, aku cukup bahagia kok bisa menjaga kalian selama beberapa tahun ini." Ucap Shiv, cairan bening yang Ia tahan akhirnya lolos juga.
" Mas.." Alfi mengusap air mata di pipi Shiv.
" Terima kasih telah menjaga dan menyayangi kami selama ini Mas, kamu pria terbaik yang pernah aku temui, maafkan aku ya, karena sebaik apapun dirimu ternyata tidak membuatku berpaling kepadamu." Ucap Alfi membuat Shiv terkekeh.
" Maaf sekali lagi Mas aku tidak bisa menerima cintamu, aku doakan agar kamu segera mendapat pendamping yang baik dan selalu mencintaimu." Sambung Alfi.
__ADS_1
" Aku juga berterima kasih kepadamu selama beberapa tahun ini kamu dan Aroon sudah melengkapi hari hariku dengan penuh warna, aku bahagia bersama kalian, kini saatnya aku mengembalikan kalian pada yang punya sebenarnya." Ujar Shiv.
" Terima kasih Mas." Ucap Alfi memeluk Shiv di ikuti Aroon.
Mereka bertiga saling berpelukan dengan Aroon di tengahnya. Shiv menitikkan air matanya, sebenarnya Ia berat dengan perpisahan ini. Perjuangannya selama ini hanya sia sia saja pada akhirnya Alfi memilih kembali kepada Sakti.
" Aroon jangan lupakan Papa ya." Pinta Shiv di sela isakannya.
" Iya Pa, aku akan selalu mengenang Papa, kalau aku sudah besar nanti aku akan memberi nama anakku dengan nama Shivran biar aku selalu ingat Papa Shiv yang selalu menyayangiku melebihi apapun." Ujar Aroon membuat Shiv trenyuh.
" Dan jika aku punya adik perempuan nanti aku akan memberinya nama Khanna." Sambung Aroon.
" Makasih sayang." Shiv menciumi pipi Aroon.
" Sekarang ayo kita berangkat, Papa akan mengantarmu dengan selamat." Ajak Shiv berjalan mendahului mereka.
Alfi mengambil ransel Aroon dan menggandeng tangan Aroon mengikuti Shiv dari belakang menuju mobil mereka. Setelah semuanya sudah duduk dengan benar, Shiv segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Sakti. Rumah yang pernah memiliki kenangan indah bagi Alfi dan Aroon.
Sesampainya di sana Alfi turun dari mobil sambil menggandeng tangan Aroon, Ia berjalan ke arah pintu di ikuti Shiv dari belakang. Alfi mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu pun terbuka.
" Mama." Pekik Nervan menubruk Alfi.
" Nervan tidak pa pa?" Tanya Sakti.
" Tidak pa pa Yah." Sahut Sakti.
Aroon mengepalkan tangannya, Ia tidak suka dengan kedekatan dua orang di depannya.
" Sayang... Kamu pulang." Ucap Sakti langsung memeluk Aroon. Aroon tidak menolak karna sesungguhnya Ia juga rindu kepada Papanya.
" Sayang maafkan Papa yang selama ini tidak berada di sampingmu." Ucap Sakti.
" Aroon juga minta maaf Pa." Sahut Aroon.
" Iya sayang... Papa menyayangimu sayang." Sahut Sakti melepas pelukannya lalu Ia menciumi pipi Aroon.
" Benar Papa menyayangiku?" Tanya Aroon.
__ADS_1
" Tentu sayang." Jawab Sakti.
" Tidak ada yang lain?" Selidik Aroon.
" Tidak sayang hanya kamu seorang." Jawab Sakti. Tadi Alfi sempat meneleponnya mengatakan jika Aroon mau kembali dengan syarat hanya Aroon yang akan menjadi prioritas utama Sakti.
" Termasuk Nervan." Aroon menatap sinis ke arah Nervan.
" Aku tidak akan membiarkan kamu merebut kasih sayang Papaku, cukup sudah selama ini kamu dan ibumu merampasnya dariku." Batin Aroon.
Sakti bingung harus menjawab apa karna jujur Ia juga menyayangi Nervan seperti putranya sendiri karna bagaimanapun mereka bersama selama tiga tahun, ikatan kasih sayang seorang ayah dan anak sudah terjalin begitu saja. Sakti menatap Alfi meminta pendapatnya, Alfi hanya menganggukkan kepalanya.
" Iya sayang Papa hanya sayang sama kamu." Sahut Sakti sambil melirik Nervan yang terlihat biasa saja.
" Kenapa sepertinya Nervan biasa saja? Bahkan dari sorot matanya Ia terlihat bahagia mendengar aku mengatakan hal yang menyakiti dirinya, maafkan Ayah sayang, Ayah menyayangimu seperti putra kandung Ayah sendiri tapi Ayah tidak mau kehilangan putra kandung Ayah Nak... Ayah mohon mengertilah." Ujar Sakti dalam hati. Ia mengusap air matanya sebelum ketahuan yang lainnya.
" Asyik.... Papa hanya sayang sama aku tidak ada yang lainnya.... Aku sayang Papa." Ujar Aroon sambil melirik Nervan yang hanya menunduk saja.
" Aku sadar Yah di sini aku bukan siapa siapa, aku berdiri di sini hanya ingin mendapat keluarga yang utuh, aku yakin Ayah dan Mama pasti akan menyayangiku sama seperti kalian menyayangi Bang Aroon aku yakin itu, hanya saja kalian tidak mengatakannya karna tidak mau membuat Bang Aroon kecewa, aku juga menyayangimu Bang... selalu." Ujar Nervan dalam hatinya.
Ya saat Sakti berbicara lirih dengan Aroon waktu itu sebenarnya Nervan mendengarnya, hatinya sakit saat mengetahui jika Sakti bukanlah ayahnya. Tapi sebisa mungkin Nervan menguasai dirinya. Ia merasa bersalah dengan Aroon karna telah merenggut kebahagiaan dan kasih sayang Sakti kepadanya.
Nervan berjanji akan melakukan apapun demi kebahagiaan Aroon sebagai bentuk menebus rasa bersalahnya. Ia janji akan mendahulukan perasaan Aroon daripada perasaannya sendiri.
" Papa lebih menyayangimu Nak." Sahut Sakti.
" Baiklah ayo kita masuk, Papa akan mengantar kamu ke kamar." Ajak Sakti.
" Ayo Pa... Aroon udah rindu kamar Aroon Pa." Sahut Aroon.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, Sakti menggandeng Aroon berjalan menuju kamar yang dulu di tempati Aroon. Sedangkan Alfi menggandeng Nervan duduk di ruang tamu bersama dengan Shiv.
TBC....
Entah kenapa aku nulis part ini sambil mewek, sedih menjadi Shiv dan Nervan.
Kalau kalian yang baca sedih nggak sih...
__ADS_1
Atau aku yang terlalu masuk ke dalam perannya...
Terima kasih buat para readers tercinta atas doa dan dukungannya selama ini, Author minta doanya semoga Karya ini bisa lulus kontrak seperti karya Author yang lainnya...