CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Kedatangan Reno


__ADS_3

" Dia..." belum sempat Alfi menjawab terdengar suarabel rumah berbunyi nyaring menandakan ada tamu yang datang.


" Siapa pagi pagi gini bertamu? Apa mungkin itu Mama?" Gumam Sakti.


" Di buka aja mungkin itu Mama Mas." Sahut Alfi.


" Kamu cuci muka dulu gih, wajahmu terlihat sembab, aku nggak mau kalau nanti Mama sampai curiga kalau hubungan kita sedang tidak baik baik saja." Ujar Sakti.


" Iya Mas." Sahut Alfi.


Alfi berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah selesai Ia keluar menghampiri Sakti.


" Apa hatimu sudah sedikit tenang?" Tanya Sakti.


" Iya Mas." Sahut Alfi.


Ya Alfi merasa lega karena Ia merasa Sakti hanya di fitnah oleh Diana. Ia merasa Diana sengaja melakukannya untuk membuat hubungan mereka berantakan. Dengan begitu Diana bisa masuk ke dalam hubungan merek dan merebut Sakti darinya.


" Kalau begitu ayo kita buka pintunya." Ujar Sakti.


Sakti dan Alfi keluar dari kamarnya keduanya turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang mengunjungi rumahnya. Sakti yang berjalan lebih dulu, membukakan pintu. Saat pintu sudah terbuka...


" Kamu..." Ucap Sakti kaget melihat Reno sedang berdiri di depan pintu.


" Untuk apa Pria ini ke rumahkua? Apa dia mau terang terangan meminta Alfi dariku? Atau memang mereka tidak ada hubungan? Tapi siapa pria ini? Sepertinya kemarin Alfi mencoba memberitahuku siapa pria ini." Batin Sakti.


" Kak Reno, silahkan masuk." Ujar Alfi dari arah belakang Sakti.


" Mas biarkan Kak Reno masuk." Ucap Alfi.


Akhirnya Sakti memberi jalan untuk Reno masuk kedalam. Ketiganya berjalan menuju sofa ruang tamu.


" Mau minum apa kak?" Tanya Alfi setelah mereka duduk di sofa ruang tamu.


" Tidak usah, Kakak hanya mau mengantarkan barangmu yang tertinggal kemarin, kamu melupakannya di depan hotel." Ujar Reno meletakkan paper bag di atas meja sambil melirik Sakti yang masih berdiri di belakang Alfi.


" Ah iya aku lupa, terima kasih Kak." Ucap Alfi.


" Oh ya Mas kenalin ini kak Reno, Kakak sepupunya Mas Davi." Ucap Alfi membuat hati Sakti mencelos, Ia semakin merasa sangat bersalah pada istrinya setelah tahu siapa pria yang bersama Alfi di hotel.

__ADS_1


" Hai aku Sakti, suaminya Alfi." Sakti mendekat menjabat tangan Reno.


" Aku Reno." Sahut Reno.


" Kamu bahagia Fi hidup bersamanya? Kemarin aku lihat dia bersikap kasar sepertimu, sikapnya sangat jauh dari Davi yang selalu memperlakukanmu dengan lembut." Sindir Reno.


Deg....


Jantung Sakti merasa tertohok oleh ucapan Reno. Benar... Sakti bersikap kasar kepada Alfi.


Alfi menatap Reno dan Sakti bergantian. Jantung Sakti deg degan menanti jawaban Alfi.


" Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Aku bahagia Kak, kakak tidak usah khawatir, suamiku ini begitu menyayangiku, apalagi mertuaku." Sahut Alfi mengelus elus lengan Sakti.


" Baiklah kalau benar begitu, Kakak pulang dulu." Pamit Reno.


" Kapan kapan kalau Kakak ke kota ini lagi, mampir ke sini ya Kak." Ucap Alfi sambil berjalan mengantarkan Reno sampai ke teras.


" Aku usahakan, oh ya kalau ada apa apa calling ya, nomernya masih sama." Sahut Reno.


" Ok." Alfi melambaikan tangan saat Reno mulai melajukan mobilnya.


" Ini perhiasan titipan dari Mas Davi sebelum sia meninggal, kemarin aku ke hotel untuk mengambilnya dari Kak Reno, tapi naas gara gara itu membuat aku di perlakukan seperti ****** di luar sana oleh suamiku sendiri." Sindir Alfi sambil membawa paperbag itu kedalam kamarnya. Sakti menatap punggung Alfi yang semakin menjauh.


Sampai dikamar Alfi menyimpan paperbagnya di dalam almari. Lalu Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang mungkin karna saking lelahnya, Ia terlelap begitu saja.


Sakti yang baru masuk langsung geleng geleng kepala melihat Alfi yang tidur dengan posisi kurang nyaman. Ia segera membenarkan posisi tidur Alfi. Saat Ia menyentuh kening Alfi, Ia kaget ternyata Alfi demam. Sakti segera turun ke dapur mengambil kompresan. Ia kompres dengan telaten kening Alfi. Ia ganti airnya secara berkala.


" Mas.... Mas Davi... tolong aku... Dia jahat Mas, dia memperlakukan aku dengan kasar... Mas ku mohon jangan tinggalkan aku, bawa aku bersamami Mas..." Oceh Alfi mengigau, membuat Sakti menekan rasa sakit dihatinya. Bahkan di alam bawah sadarpun, Alfi masih mengingat Davi.


Sedangkan di alam bawah sadar Alfi saat ini. Alfi melihat Davi berdiri di hadapannya dengan mengenakan pakaian serba putih.


" Alfi sayang.. Sakti sangat mencintaimu seperti aku mencintaimu Al, terimalah dia sebagai suamimu dengan sepenuh hati, jangan sia siakan dia, percayalah padaku kau akan bahagia bersamanya." Ujar Davi.


" Tolong aku mas, aku benar benar bingung harus bagaimana, aku ingin menerimanya tapi ada keraguan dalam hatiku Mas." Sahut Alfi.


" Lukislah nama Sakti di hatimu, hapus namaku dan ganti dengan nama Sakti, dengan begitu kau akan melihat betapa besarnya Sakti mencintaimu, keraguan dalam hatimu akan hilang setelah kamu melihat cintanya." Ucap Davi segera berlari menjauh dari sana membuat Alfi berteriak memanggilnya.


" Mas Davi...." Teriak Alfi yang langsung terduduk dengan nafas ngos ngosan. Sakti segera menyodorkan air putih kepada Alfi, yang segera diteguknya sampai habis.

__ADS_1


" Kau mimpi buruk?" Tanya Sakti dingin. Ia merasa kesal, Alfi meneriakkan nama Davi bukan dirinya.


" Mas Davi... Hiks...hiks.." Isak Alfi. Sakti segera memeluk Alfi.


" Maaf.. Ku mohon maafkan aku yang sudah membuatmu seperti ini." Sesal Sakti. Alfi menghentikan tangisnya, Ia teringat pesan Davi di dalam mimpinya.


Alfi gamang dengan perasaannya. Jujur Alfi mencintai Sakti, tapi jika Ia ingat dengan apa yang Sakti lakukan, rasa benci itu hadir begitu saja. Sepertinya mulai sekarang Alfi harus melupakan hal hal yang membuatnya membenci Sakti.


" Lupakan saja." Jawab Alfi singkat.


" Sekarang minum obat dulu biar demammu turun." Ujar Sakti menyodorkan paracetamol kepada Alfi.


" Aku tidak bisa minum obat, Pahit." Ucap Alfi menutup mulutnya.


Sakti beringsut memunggungi Alfi. Setelah itu.. Ia menjauhkan tangan Alfi yang menutup mulutnya sendiri.


Tiba tiba Sakti mencium bibir Alfi membuat Alfi melongo, Sakti terus ******* membuat Alfi harus menelan salivanya.


Glek...


Alfi baru menyadari kalau ciuman ini tidak manis seperti biasanya, ciuman ini terasa begitu pahit, dan seperti ada yang menyangkut di tenggorokannya.


" Minum." Ucap Sakti segera menyodorkan segelas air putih dan langsung diminum oleh Alfi.


" Kamu memperdayaiku lagi Mas." Cebik Alfi.


" Kalau tidak seperti itu, kau tidak akan sembuh, kau tidak mau minum obat kalau tidak lewat ciumanku kan." Goda Sakti membuat Pipi Alfi memerah.


Alfi segera menutup tubuhnya dengan selimut. Sakti terkekeh melihatnya.


" Tidurlah lagi Yank, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu, nanti aku buatkan bubur untukmu." Ujar Sakti.


Sakti segera pergi dari sana menuju ruang kerjanya menyelesaikan pekerjaan yang terabaikan beberapa hari lalu.


TBC....


Jangan lupa like koment vote di setiap babnya ya...


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2