
Alfi masih berdiri di balkon kamarnya, Ia pandangi suasana pagi hari dengan melipat kedua tangannya di dada, dengan perasaan yang entah bagaimana, Ia sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Semua begitu cepat menurutnya. Dari pernikahan pertamanya, kepergian Davi, pernikahannya dengan Sakti dan kini di tinggal Mama Elin. Semua yang terjadi padanya tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya.
" Al ini ada suratnya, mau dibaca atau tidak?" Tanya Sakti menyodorkan sebuah kertas yang terlipat rapi.
Alfi menerimanya tanpa mengucap sepatah katapun, sadar kalau istrinya membutuhkan waktu sendiri, Sakti segera pergi dari sana. Ia menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Istrinya.
" Segera turun kebawah untuk sarapan, aku menunggumu disana." Ucap Sakti melanjutkan langkahnya.
Sepeninggal Sakti, Alfi segera membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya dengan duduk di kursi yang ada di balkon itu.
🌷Untuk Alfi tersayang.
Maafkan Mama yang pergi tanpa pamit kepadamu sayang karna waktunya begitu mepet jika menunggumu sadar. Fi... Mama memberikan kado bulan madu untukmu karna Mama sangat ingin saat kita ketemu nanti Mama bisa bertemu dengan cucu Mama. Walaupun besar kemungkinannya kita tidak bisa bertemu lagi. Maafkan Mama yang menyembunyikan sesuatu darimu. Fi.. Mama sakit parah dan kemungkinan untuk sembuh sangatlah tipis, itulah sebabnya Mama memaksamu segera menikah dengan Sakti karna Mama tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawa Mama, Mama tidak bisa terus menjagamu. Mama mohon jangan mencari Mama karna Mama sendiri yang akan menemuimu jika waktunya sudah tiba. Mama minta untuk yang terakhir kalinya padamu Nak, terimalah Sakti sebagai suamimu. Hormati, layani dan sayangilah Sakti sebagaimana kamu menyayangi kami. Lupakan dan jauhkan bayang bayang Davi dalam hidupmu. Berbahagialah nak, jangan sia siakan orang yang menyayangimu, kau akan menyesal saat dia tiada nanti. Wujudkan keinginan Mama dan Davi agar kami tenang di atas sana dengan melihatmu bahagia hidup bersama suamimu dan anak anakmu. Apapun yang terjadi dalam rumah tanggamu nanti, ambillah keputusan dengan bijak. Bahagialah bersama Sakti,dia mencintaimu.
Salam manis dari Mamamu ELIN🌷
Alfi merosot ke lantai tangannya meremas surat tersebut. Hatinya hancur mengetahui orang yang dia sayang akan meninggalkan dia lagi untuk selamanya. Air mata mengalir begitu deras di pipinya. Ia terisak, dadanya terasa sesak, apakah Ia harus menerima Sakti atau justru semakin membencinya setelah apa yang terjadi padanya?
"Kenapa Mama harus pergi meninggalkan aku? Aku bisa merawat Mama disini tanpa menyatukan aku dengan Sakti, harusnya Mama tidak menikahkanku dengan dengannya, harusnya kita masih bersama dan aku akan fokus untuk kesembuhan Mama, bukan ini yang aku inginkan, Mama menghadapi kesulitan Mama sendiri hanya untuk kebahagiaanku, kebahagiaan yang masih terasa semu, aku tidak tahu apakah aku bisa menerima Sakti atau tidak, hatiku hampa, hatiku serasa mati Ma, aku tidak mau memiliki seseorang lagi jika pada akhirnya aku harus kehilangan kembali." Ujar Alfi dalam hati.
" Sayang." Ucap Sakti menyentuh pundak Alfi.
" Lepas." Ucap Alfi menepis tangan Sakti.
Hati Alfi merasa kesal dan hancur, baru saja Ia berniat untuk menerima Sakti, tapu setelah Ia membaca surat dari Mama Elin justru sekarang emosinya kembali memuncak. Ia kembali membenci Sakti.
" Sayang ada apa? Apa yang terjadi denganmu sayang? Apa yang Mama Elin tukiskan untukmu?" Tanya Sakti mencoba mendongakkan kepala Alfi.
__ADS_1
" Lepas! Jangan sentuh aku! Dan jangan lagi panggil aku sayang, aku benci mendengar panggilan itu." Bentak Alfi menatap Sakti penuh dengan kebencian.
" Kenapa sayang? Apa yang terjadi?" Sakti kembali bertanya kepada Alfi.
" Semua ini terjadi gara gara kamu." Ucap Alfi menekan dada Sakti. Sakti tak bergeming, Ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi dengan membiarkan Alfi mengeluarkan segala uneg unegnya.
" Semua penderitaan yang ku alami terjadi karna pria brengsek seperti dirimu." Ucap Alfi dengan nada tinggi.
" Kenapa? Katakan apa yang terjadi hmm." Ucap Sakti lembut.
" Aku......
Tiba tiba Alfi mengingat pesan Mama Elin yang harus menghormati suaminya, tetapi entah mengapa rasanya begitu sulit untuk Ia lakukan. Menurutnya Mama Elin sakit karna memikirkan kepergian Davi dan semua itu di sebabkan oleh Sakti.
" Hiks.. hiks.. hiks..." Isak Alfi. Sakti segera membawa Alfi dalam pelukannya.
" Kenapa hidupku jadi seperti ini? Setelah kepergian orang tuaku, aku hidup bahagia dengan Mama dan Mas Davi, kami hidup sebagai keluarga yang harmonis bahagia, kami selalu tertawa riang dan penuh canda tawa berama, kami memimpikan menjalani hidup nahagia bersama anak anak kami nanti, tapi setelah kejadian itu hidupku berubah, setelah kau merenggut nyawa Mas Davi kebahagiaan yang aku rasakan semuanya berubah menjadi penderitaan, aku kehilangan mereka yang aku sayangi." Ucap Alfi disela isakannya.
" Bagaimana caranya?" Tanya Alfi mendongakkan wajahnya.
" Lupakanlah masa lalu, buka hatimu untukku, belajar mencintaiku, maka kau akan bahagia bersamaku." Ujar Sakti.
" Aku tidak bisa, aku merasa sekarang hidupku sendiri." Sahut Alfi.
" Masih ada aku dan Mama sayang, berbahagialah bersama kami, jangan terpuruk lagi, tidak ada gunanya meratapi hal yang sudah berlalu, lupakan dan buka lembaran yang baru bersamaku, aku janji akan selalu membahagiakanmu, mulai sekarang cobalah buka hatimu untukku, kamu mau kan mencobanya?" Tanya Sakti menangkup wajah Alfi. Alfi hanya mengangguk saja membuat hati Sakti merasa lega.
" Mulai sekarang belajarlah mencintaiku, maka pelan pelan kamu akan melupakan masa lalu.." Sambung Sakti.
__ADS_1
Alfi tidak bergeming, Ia hanya menatap Sakti dan meresapi perasaan apa yang Ia rasakan saat ini. Pasalnya Ia tidak pernah menaruh benci pada orang lain. Alfi terus diam dengan pemikirannya sendiri sampai sampai.....
Cup ... benda kenyal dan hangat menempel pada bibir Alfi. Sakti menatap Alfi sesaat mencoba menerima reaksi Alfi, sadar tidak ada penolakan dari Alfi maka Sakti menggigit bibir bawah Alfi membuat Alfi sedikit membuka mulutnya.
Sakti melilitkan lidahnya ke lidah Alfi. Alfi hanya memejamkan matanya menikmati sensasi permainan lidah Sakti. Sakti terus mencecap, mengekspos dan mengabsen setiap inchinya.
" Nafas Yank." Ucap Sakti di sela ciumannya.
Lalu Sakti melanjutkan ciumannya lagi. Setelah di rasa keduanya kehabisan nafas, Ia melepas pagutannya. Ia mengusap pelan bibir Alfi dengan jempolnya.
" Makasih." Ucap Sakti. Alfi langsung menubruk tubuh Sakti masuk kedalam pelukannya. Ia sangat malu karna ketahuan menikmati ciuman suaminya.
" Hei kenapa sayang?" Tanya Sakti mencoba melepas pelukannya tapi Alfi semakin mengeratkan pelukannya.
" Aku malu Mas." Ujar Alfi membuat Sakti terkekeh.
" Kenapa harus malu Yabk? Aku kan suamimu, sekarang kita turun ya Mama pasti sudah menunggu kita untuk sarapan." Ujar Sakti. Alfi tak bergeming Ia masih memeluk Sakti.
" Al sayang... ayo." Ajak Sakti.
Alfi melepas pelukannya dan segera beranjak ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya yang sembab. Hari ini Alfi memutuskan untuk mencoba memulai hidup baru dengan suami barunya. Ia berharap bisa menggapai bahagia bersama selamanya.
TBC.......
Jangan lupa like komentar vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Terima kasih untuk readera yang sudah mensuport author....
Miss U All....