
Hampir satu tahun berlalu, sejak kejadian itu Aroon semakin membenci Papanya dan Nervan. Ia selalu menghindar dari keduanya. Dan Aroon lebih memilih dekat dengan Shiv.
Sakti menyekolahkan Nervan di sekolah yang sama agar Aroon mau menerima kehadiran Nervan tetapi sama saja. Aroon tidak pernah menganggap keduanya ada.
Saat ini Alfi sedang menggandung anak keduanya dengan Sakti. Usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk Ia melahirkan.
Pagi ini semuanya sedang sarapan bersama. Sakti duduk bersebelahan dengan Nervan di depan Alfi dan Aroon. Tetapi Aroon tidak menghiraukan kedua orang di depannya. Ia sibuk makan sendiri.
" Bang mau nggak berangkat bareng sama Adek?" Tanya Nervan mencoba membuka suara.
Aroon tidak bergeming Ia fokus pada makanannya seolah tidak mendengar ucapan Nervan.
" Sayang Nervan bertanya padamu Nak." Ucap Sakti.
Aroon tetap diam membuat Sakti menghela nafasnya panjang. Ia merasa sedih karena telah gagal merebut hati Aroon.
" Aroon sayang..." Ucap Sakti lembut
Tin tin..
Terdengar bunyi klakson dari luar rumah.
" Ma Aroon berangkat dulu ya Papa Shiv sudah menjemputku." Ucap Aroon mengabaikan ucapan Sakti. Ia menyalami Alfi dengan takzim. Aroon memberi kode supaya Alfi menunduk.
" Aku menyayangimu Mam." Ucap Aroon mencium kening Alfi.
" Hati hati sayang." Sahut Alfi mencium pipi Aroon.
" Khanna Kakak pergi dulu ya, kamu baik baik di rumah, kalau ada apa apa kamu telepon Abang atau Papa Shiv ya, kami siap membantumu." Ucap Aroon mencium perut Mamanya.
" Iya Abang... Abang sekolah yang benar ya biar jadi anak pinter." Ujar Alfi.
" Tentu, Assalamu'alaikum Ma." Ucap Aroon.
" Wa'alaikumsallam." Sahut ketiga orang yang ada di sana.
Aroon pergi begitu saja tanpa menyapa Sakti dan Nervan. Setiap hari ini lah yang terjadi. Tiada hari tanpa perdebatan dari Sakti ataupun Aroon. Semua ini membuat Alfi pusing, rasanya Ia tidak kuat menjalani hidup lebih lama lagi.
" Kamu lihat putramu bahkan dia tidak pernah menganggap keberadaanku, aku harus gimana Yank." Keluh Sakti.
" Aku juga tidak tahu Mas, sabar aja aku nggak mau kejadian itu terulang lagi." Sahut Alfi.
Ya setelah Sakti menampar Aroon setahun yang lalu, Aroon pergi dari rumah. Ia tinggal bersama Shiv selama beberapa bulan. Aroon sempat meminta Alfi menceraikan Sakti dan menikah dengan Shiv, tetapi Alfi menolaknya.
Aroon sangat keras kepala sikapnya membuat Alfi stres dan tertekan karena banyak pikiran. Sampai Alfi masuk rumah sakit dan mengabarkan jika Aroon akan segera punya adik, baru Aroon mau kembali ke rumah.
" Sayang kok melamun sih, sudah jangan di pikirkan, kita jalani saja sampai Aroon bisa menerima semuanya." Ujar Sakti.
" Iya Mas." Sahut Alfi.
" Sayang Mas berangkat dulu ya, hati hati di rumah kalau ada apa apa telepon aku." Ucap Sakti sambil mencium kening Alfi.
" Iya Mas hati hati... Hati hati ya sayang." Alfi mencium pipi Nervan.
" Iya Ma Nervan berangkat dulu." Ucap Nervan mencium punggung tangan Alfi.
Sakti menunduk mengelus perut besar Alfi. Ia memberikan ciuman di sana.
__ADS_1
" Sayang Papa berangkat dulu ya, jangan rewel di rumah." Ucap Sakti.
" Siap Pa." Sahut Alfi.
" Assalamu'alaikum." Ucap Sakti dan Nervan bersamaan.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Alfi.
Setelah kepergian orang yang Ia sayangi, Alfi membereskan piring bekas makan mereka.
" Non biar saya saja, Non Alfi istirahat saja." Ucap Bi Imah yang baru saja kembali dari pasar.
" Baiklah Bi makasih ya." Ujar Alfi.
" Sama sama Non." Sahut Bi Imah. Alfi segera berlalu dari sana.
Malam hari Sakti pulang kerumah Ia segera menuju kamarnya. Ia membuka pintu dengan perlahan, terlihat Alfi sedang berjongkok di dekat ranjang. Sakti segera menghampirinya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Sakti ikut jongkok di samping Alfi.
" Perutku sakit Mas, sepertinya mau melahirkan." Jawab Alfi.
" Kita ke Rumah Sakit sekarang." Ajak Sakti.
" Nanti saja Mas sakitnya masih hilang timbul." Ujar Alfi.
" Baiklah Mas elus punggungnya ya." Alfi mengangguk.
Sakti mengelus punggung Alfi. Alfi sesekali merubah posisi dari jongkok berdiri jalan bahkan menungging. Setelah beberapa saat Alfi mengajak Sakti ke Rumah Sakit.
" Ayo.. aku gendong ya." Tanya Sakti.
" Kamu tunggu sini dulu ya, Mas mau bangunin Nervan sama Aroon." Ujar Sakti.
" Iya Mas." Sahut Sakti.
Sakti menuju kamar putranya masing masing, Ia membangunkan Aroon terlebih dahulu baru Nervan. Mereka memang berpesan kalau Alfi melahirkan mereka mau menungguinya.
Setelah mereka semua siap. Sakti menuntun Alfi masuk ke dalam mobilnya. Alfi duduk di kursi belakang dengan di apit kedua putranya. Aroon mengelus perut Alfi sebelah kanan sedang Nervan mengelus sebelah kiri.
Sesampainya di Rumah Sakit Sakti segera menggendong Alfi ala bridal style, Ia membaringan Alfi di atas brankar. Suster mendorong brankar Alfi menuju ruang bersalin di ikuti ketiga laki laki milik Alfi di belakangnya.
" Bapak boleh menemani Nyonya tapi maaf untuk anak anak tunggu di luar saja ya." Ucap Suster setelah sampai di ruang bersalin.
" Baik sus." Jawab Aroon dan Nervan bersamaan. Sakti segera masuk ke dalam.
Aroon dan Nervan menunggu di luar, Mereka duduk di kursi tunggu. Aroon terlihat gelisah sambil berjalan mondar mandir menanti kehadiran adik yang sudah di nantikannya. Sedang Nervan terlihat lebi tenang karna memang sudah bawaannya.
" Bang tenanglah semuanya akan baik baik saja, Mama dan adek bayi pasti akan selamat." Ucap Nervan. Aroon hanya meliriknya saja, Ia kembali duduk di kursi sebelah Nervan.
" Kita doakan untuk keselamatan Mama dan Adek bayi." Ucap Aroon tanpa sadar membuat Nervan tersenyum bahagia. Ini pertama kalinya Aroon mau mengajaknya bicara terlebih dahulu.
" Iya Bang." Sahut Nervan. Keduanya sama sama menundukkan kepala berdoa di dalam hatinya. Tak lama setelah itu...
Oek...Oek...Oek...
" Adek bayi sudah lahir." Pekik Aroon dengan gembira sambil memeluk Nervan.
__ADS_1
" Yei... Yei... Adek bayi udah lahir." Sorak keduanya. Tanpa sadar mereka berjingkrak jingkrak bersama.
Setelah beberapa lama Dokter dan perawat keluar dari ruangan.
" Nervan adek bayi sudah lahir." Ucap Aroon.
" Iya Bang." Mereka kembali berpelukan. Sakti tersenyum melihat keduanya saling berpelukan sambil berjingkrak di depan pintu.
" Papa.." Pekik Nervan. Aroon segera melepas pelukannya, Ia menghampiri Sakti.
" Apa kami sudah boleh masuk Pa?" Tanya Aroon.
" Boleh.. Dokter sudah selesai membersihkan adek." Ujar Sakti.
Mereka berdua berlari masuk ke dalam menghampiri Alfi. Alfi sedang berbaring miring dengan bayi tidur berbantalan lengannya.
" Mama.." Ucap Aroon dan Nervan bersamaan. Saat mereka menghampiri Alfi, Nervan menghentikan langkahnya.
" Kenapa berhenti hm sana lihat adekmu." Ucap Sakti berdiri di belakang Nervan.
" Enggak Pa, Nervan di sini saja nanti kalau Nervan ke sana, Bang Aroon akan marah." Sahut Nervan.
" Nervan sini sayang, kamu nggak mau lihat adek." Ujar Alfi.
" Iya Ma." Sahut Nervan.
Akhirnya Nervan maju mendekati Alfi dan bayinya. Ia menatap banyi imut di depannya dengan perasaan bahagia.
" Aroon kamu mau memberi nama siapa pada adek?" Tanya Sakti.
" Sesuai janjiku pada Papa Shiv, aku akan memberi nama Khanna." Jawab Aroon.
" Kalau Nervan mau memberi nama siapa?" Tanya Alfi.
" Eh... a.. aku Ma?" Tanya Nervan.
" Iya mau kasih nama siapa, nanti kita gabungkan nama yang Abang berikan sama nama yang kamu berikan, ini kan adik kalian." Jelas Alfi.
" Mmmm Arvia Ma... aku sama Bang Aroon kan pakai nama Arviano di belakang nama kami, jadi untuk adek pakai Arvia ya." Ujar Nervan.
" Baiklah sayang... Jadi nama adek Kak Aroon dan Kak Nervan adalah...." Ucap Alfi.
" Khanna Arvia." Jawab Aroon dan Nervan serempak. Sakti dan Alfi tersenyum mendengar kekompakan mereka.
...THE END.......
Terima kasih untuk para readers yang sudah mendukung karya Author sampai sini.
Sampai ketemu di lanjutan Kisah keluarga Sakti dan Alfi ya...
Author akan menuliskan kisah Nervan Dan Khanna...
Sampai jumpa di kisah mereka yang berjudul
...SUAMIKU KAKAK ANGKATKU...
...Miss U All...
__ADS_1
Mohon maaf jika ceritanya kurang menarik para pembaca semua....
Da dah.....