
" Maaf aku refleks." Sakti melepas pelukannya.Karena saking bahagianya Ia refleks memeluk Alfi.
" Hm." Gumam Alfi.
" Sakti.. Ayo pasangkan cincinnya." Ujar Mama Cintia.
Sakti segera menarik tangan Alfi, Ia mengerutkan keningnya saat akan menyematkan cincinnya. Pasalnya di jari manis itu masih ada cincin pernikahan pertama Alfi.
Mama Elin menatap ke jari Alfi.
" Astaga Alfi... Kamu lupa melepas cincin pernikahanmu Nak." Bisik Mama Elin melepas cincin itu. Sedangkan Sakti memejamkan matanya untuk meredam emosinya. Ia tersenyum kecut mendapati Alfi masih memakai cincin pemberian Davi.
" Sekarang sudah beres, silahkan Nak Sakti gantikan cincin itu dengan cincinmu dan gantikan cinta Davi dengan cintamu." Ucap Mama Elin.
" Tentu Tante." Sahut Sakti.
Setelah itu Sakti segera menyematkan cincin pertunangannya di jari manis Alfi. Begitupun sebaliknya. Suara tepuk tangan para tamu undangan begitu riuh terdengar setelah keduanya berhasil menyematkan cincin di jari pasangan masing masing.
Setelah itu para tamu di persilahkan menikmati hidangan yang tersedia.Tidak banyak tamu si.. hanya tetangga dekat saja.
" Selamat say... Selamat atas pertunanganmu, akhirnya kau akan membuka lembaran baru semoga kamu selalu bahagia hidup bersama Kak Sakti." Ucap Sarah sambil memeluk Alfi.
" Gak usah lebay deh, ini hari bahagia untuk mereka bukan untukku." Ujar Alfi.
Sakti yang mendengar merasa tertohok, tapi Ia harus sabar karna Ia yakin lambat laun hati Alfi pasti akan luluh.
" Jangan gitu donk Say! Kamu harus bisa membuka lembaran baru, lupakan masa lalu dan tataplah masa depan agar kau bahagia." Sarah menatap Alfi.
" Hm." Gumam Alfi.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Setelah acara selesai, Mama Elin, Mama Cintia, Sakti, Alfi dan Sarah berkumpul di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan tanggal pernikahan, WO mana yang akan di sewa dan lain sebagainya. Alfi tidak tertarik, toh dia juga tidak menginginkannya.
" Jadi acara pernikahannya kapan jeng?" Tanya Mama Cintia.
__ADS_1
" Kita laksanakan minggu depan saja, bukankah lebih cepat lebih baik? Jadi minggu depan kita adakan acara pernikahannya, bukan begitu nak Sakti?" Tanya Mama Elin menatap ke arah Sakti.
" Iya Tan kami ngikut saja." Jawab Sakti.
Alfi merasa bosan dengan pembahasan pernikahan keduanya, karna tidak satupun dari mereka melibatkan pendapatnya. Ia merasa seperti boneka saja yang tidak punya perasaan.
" Mau kemana? Duduklah dengan tenang dan jadilah calon menantu yang baik." Bisik Sakti menahan Alfi yang hendak beranjak dari kursinya.
" Ck." decak Alfi.
" Kenapa Nak Alfi? Apa kamu menginginkan sesuatu? Atau kamu keberatan dengan hari pernikahannya?" Tanya Mama Cintia yang melihat mereka berbisik bisik.
" Tidak apa Ma, aku hanya capek pengin istirahat di kamar tapi Mas Sakti melarangnya." Sahut Alfi.
" Sarah ayo temani aku istirahat, maaf Ma aku ke kamar dulu." Ujar Alfi.
Tanpa menunggu jawaban keduanya Mamanya, Alfi berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua di ikuti Sarah di belakangnya.
" Jeng Elin apa yang terjadi dengan Alfi? Apa Alfi tidak bahagia dengan pertunangan ini? Sepertinya aku lihat dari tadi dia hanya murung terus." Ucap Mama Cintia setelah kepergian Alfi.
" Masa' sih Jeng? Sepertinya tidak begitu kok, dia bahagia kok jeng karena akan segera menikah dengan pria yang Ia cintai, mungkin memang dia hanya capek saja karena acaranya kan dadakan jadi dia nggak sempat istirahat juga." Kilah Mama Elin.
" Apa kau menyembunyikan sesuatu dari Mama boy? Kalian tidak seperti pasangan yang saling mencintai? Mama Lihat dari tadi kalian diem dieman aja, bahkan gak ngobrol sama sekali lhoh, seharusnya kan kalian bahagia, bercanda dan tertawa bersama bukan malah seperti ini, Mama lihat Alfi selalu menghindarimu, jangan sampai kamu tidak jujur sama Mama Boy, Mama tidak suka itu." Sambung Mama Cintia dengan tatapan menyelidik.
" Enggak kok Ma bukan begitu, Mama tenanglah jangan khawatir, sebenarnya Alfi lagi ngambek aja sama Sakti Ma." Kilah Sakti.
" Yaudah kalau benar begitu sekarang samperin sana, kamarnya yang ada di samping kanan tangga, bicarakan baik baik padanya ya dan bilang sama dia jangan membuat Mamamu khawatir lagi." Ujar Mama Elin memberi kode kepada Sakti.
" Baik Tan." Sahut Sakti.
Sakti segera berjalan menuju kamar Alfi.
Tok tok tok...
Sakti mengetuk pintu dan tak lama pintu pun terbuka dari dalam.
" Oh kak Sakti, silahkan masuk, Alfi lagi mandi, saya kebawah dulu ya." Ucap Sarah meninggalkan Sakti. Ia berjalan turun kebawah menghampiri Mama Elin dan Mama Cintia. Ia harus memberi waktu untuk Alfi dan Sakti.
__ADS_1
Sakti masuk kedalam kamar yang bernuansa pink dan putih ini. Ia duduk di atas ranjang menunggu Alfi selesai mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Alfi yang hanya mengenakan bathrobe saja, Alfi sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk di tangannya. Ia tidak menyadari kalau ada orang lain di sana.
" Ehm." Dehem Sakti.
Alfi menoleh ke asal suara. Ia berjingkrak kaget saat melihat Sakti yang sudah berdiri di depannya. Ia segera memundurkan tubuhnya saat Sakti mendekat padanya, Sakti semakin maju sehingga membuat Alfi terus mundur sampai menempel pada dinding. Sakti mengukung Alfi dengan kedua tangan berada di sisi kepala Alfi. Sakti menunduk menatap Alfi yang sedang deg degan...
" Minggir... Jaga batasanmu tuan Sakti." Ketus Alfi sambil mendorong Sakti, tapi Sakti tidak bergeming. Ia masih menatap Alfi.
" Kenapa kamu bersikap seperti itu yang membuat Mama curiga?" Tanya Sakti menatap Alfi.
" Aku tidak melakukan apa apa." Elak Alfi.
" Kau bersikap seolah kau tidak bahagia dengan hubungan ini, bahkan kau sampai tak melepas cincin pernikahanmu itu." Ucap Sakti dingin.
" Aku lupa... kalau Mama curiga itu bukan salahku, dan memang benar kan kalau aku tidak bahagia dengan hubungan ini." Sarkas Alfi.
" Bahkan kau juga lupa tersenyum hari ini." Ucap Sakti.
" Kau terlihat murung seharian ini, membuat Mama berpikir kau tidak bahagia karna terpaksa melakukannya." Sambung Sakti.
" Aku sudaah bilang berulang kali kalau aku memang terpaksa melakukan semua ini Tuan Sakti." Ucap Alfi.
" Allll.... " Sakti geram, Ia menghela nafasnya pelan.
" Tahukah kamu bahwa sikapmu bisa membuat Mama kepikiran, lalu Mama bisa saja koleps lagi? Apa kau mau sampai itu terjadi? Kita sudah membahas sebelumnya bukan dan kamu sudah menyetujuinya, lalu kenapa sekarang kau bersikap seolah kita belum membahas semua ini sebelumnya Alfi?" Tegas Sakti.
Alfi melongo mendengar ucapan Sakti. Benarkah?... Apa Ia sudah keterlaluan sehingga membuat Mama Cintia berpikir seperti itu?
" Sekarang ganti baju dan ikut aku ke bawah, kita akan menyakinkan Mama kalau hubungan kita baik baik saja, aku tidak mau kalau sampai Mama kepikiran tentang hal ini dan aku harap ini yang pertama dan terakhir kali kamu melakukan kecerobohan seperti ini." Ucap Sakti panjang lebar.
" Dasar banyak maunya." Cebik Alfi. Ia berjalan menuju lemari mengambil ganti, setelah itu Ia menuju kamar mandi. Sakti tersenyum, ternyata Alfi mau menurutinya.
Setelah beberapa saat, Alfi keluar dari kamar mandi, Ia sudah berganti pakaian. Ia duduk di kursi meja rias dan memakai krim malamnya. Sakti hanya memandang, betapa bahagianya kalau Ia bisa melihat pemandangan ini setiap hari. Sabar seminggu lagi... pikir Sakti.
__ADS_1
TBC.....