
Tiba tiba seseorang menghampiri meja Alfi.
" Alfia kan?" Tanya seseorang memastikan. Alfi mendongak mengamati wajah pria yang sedang berdiri di depannya.
" Kak Reno?" Pekik Alfi setelah mengingat siapa pria itu.
" Silahkan duduk Kak." Sambung Alfi mempersilahkan Reno untuk duduk.
Reno duduk di kursi depan Alfi.
" Gimana kabarnya Fi?" Tanya Reno menatap Alfi.
" Aku baik Kak, Kak Reno gimana?" Alfi balik bertanya.
" Seperti yang kamu lihat kalau aku juga baik baik saja." Sahut Reno.
" Syukurlah kalau begitu." Sahut Alfi.
" Aku dengar kamu sudah menikah lagi, Apa itu benar?" Tanya Reno memastikan.
" Iya Kak." Sahut Alfi.
"Aku minta maaf ya, waktu itu aku gak bisa datang ke pernikahanmu baik yang pertama maupun yang kedua." Ujar Reno
" Gak apa kak, Sans aja." Jawab Alfi.
" Oh ya Fi mumpung aku ingat, sebenarnya Davi sempat pesan sesuatu kepadaku, tapi aku bingung mau kirim kemana, aku ke rumah tante Elin tapi sepi, jadi aku tinggal aja di hotel tempatku menginap." Ujar Reno.
" Memang Mas Davi memesan apa kak?" Tanya Alfi.
" Satu set perhiasan buat kamu, kalau gitu aku ambil sekalian ya, kamu tunggu di sini jangan kemana mana." Ujar Reno.
" Aku ikut aja Kak biar Kakak nggak bolak balik ke sana kemari, kasian kan capek." Timpal Alfi.
" Baiklah ayo." Ajak Reno.
Mereka berdua bergegas menuju hotel tempat Reno menginap. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit Reno sudah memarkirkan mobilnya.
Sesampainya di hotel tersebut, Reno segera menuju ke kamarnya di ikuti Alfi dari belakang untuk apa? Tentu saja untuk mengambil pesanan Davi. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang merekam kegiatan mereka berdua dan mengirimkannya ke nomer Sakti.
" Hhhh sebentar lagi Sakti akan segera menceraikanmu janda gatel." Ujar seseorang tersenyum smirk.
__ADS_1
Di lain tempat tepatnya di rumah Sakti. Sakti sedang duduk di kursi sambilenunggu Alfi pulang.
Kling...
Ponsel Sakti berbunyi tanda notif pesan. Ia segera membukanya.
" Video?" Gumam Sakti.
Sakti segera membuka kiriman video itu. Sakti begitu marah menerima pesan gambar dan rekaman video yang dikirimkan oleh Diana.
" Apa apaan ini Alfi? Apa yang kamu lakukan dengan pria itu? Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku?" Geram Sakti.
Sakti segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan full. Setelah sampai di hotel, Sakti segera turun dari mobil. Ia berlari menuju lobby dengan amarah yang masih menggebu gebu.
Saat sampai di lobby, Ia berpapasan dengan Alfi yang baru keluar dengan seorang pria yang seumuran dengannya dengan menenteng paper bag di tangannya.
" Alfi." Teriak Sakti.
Alfi dan Reno menatap Sakti.
" Ma... Mas Sakti, ke...".
Belum selesai Alfi berbicara, Sakti sudah menyeretnya masuk kedalam mobilnya.
Sakti tidak mempedulikannya, Ia sudah di liputi amarah yang memuncak sampai ke ubun ubunnya. Setelah keduanya masuk mobil Sakti segera melajukan mobilnya seperti orang kesetanan membuat Alfi ketakutan.
" Mas Sakti kurangi kecepatannya Mas! Mas Sakti.. Aku belum mau mati, kurangi kecepatannya." Teriak Alfi.
" Kenapa? Apa karna kau masih mau menemui selingkuhanmu itu." Sinis Sakti sambil terus mengemudikan mobilnya.
" Apa maksudmu? Aku tidak ada hubungan apa apa dengannya? Dia Kak Reno, Kakak sepupu Mas Davi." Terang Alfi.
" Aku tidak peduli siapa dia yang jelas kamu sudah selingkuh dengannya." Sahut Sakti.
" Aku selingkuh? Bukannya kamu yang selingkuh dengan Diana? Jangan memutar balikkan fakta Mas." Ucap Alfi dengan suara meninggi.
" Diana bukan wania murahan sepertimu." Bentak Sakti lepas kendali.
Jeduar.....
Apa? Sakti menganggapnya wanita murahan? Sakti membentaknya demi membela Diana? Apa ini berarti benar jika mereka punya hubungan? Pikir Alfi. Hatinya begitu sakit, Ia menahan sesak di dadanya karena hinaan yang Sakti lontarkan untuknya.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, Sakti segera menyeret Alfi menuju kamarnya. Kebetulan dirumah sedang sepi karena Mama Cintia sedang keluar kota, sedangkan Bi Imah sedang cuti karna mengurus cucunya yang sedang sakit.
Sakti melempar tubuh Alfi ke atas ranjang, dengan kondisi terlentang. Tak mau menyianyiakan waktu, Sakti segera membuka seluruh pakaiannya membuat Alfi ketakutan. Sakti segera mengukung Alfi dibawah tubuhnya.
" Lepas! Kamu mau apa Mas? Aku mohon jangan lakukan itu Mas, ku mohon." Ucap Alfi dengan berderai air mata.
" Kenapa? Bukankah kamu sudah sering melakukannya? Sudah berapa kali kau melayaninya hah?" Tanya Sakti menatap Alfi penuh dengan rasa jijik membuat hati Alfi semakin terluka.
" Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun." Lirih Alfi memejamkan matanya.
" Kau bohong." Bentak Sakti membuat Alfi mengerjap kaget.
" Kau boleh mengelaknya tapi aku akan membuktikannya sendiri." Ucap Sakti merobek paksa gaun yang di pakai Alfi.
" Jangan Mas! Jangan lakukan ini atau kau akan menyesal." Ujar Alfi terus memberontak, tetapi tidak dihiraukan Sakti.
SKIP.....
Beberapa saat kemudian....
" Sa... Sayang... kau masih..." Ucap Sakti menyugar kasar rambutnya setelah jiwa warasnya kembali.
Alfi segera menutupi tubuhnya dengan selimut dan berbaring memunggungi Sakti. Air matanya luruh begitu saja, Ia merasa sangat kecewa pada Sakti, yang lebih mempercayai orang lain dan memperlakukan dirinya bagai ****** di luar sana.
Sakti memeluk Alfi dari belakang, Ia menyesali perbuatannya. Ia merasa bersalah kepada istrinya karena telah memaksakan kehendakannya kepada Alfi.
" Sayang Mas minta maaf... Mas khilaf.... Mas emosi melihat fotomu bersama laki laki lain di dalam hotel, melihat itu Mas langsung berpikiran buruk tentangmu, Maafkan aku..." Ucap Sakti menciumi pucuk kepala Alfi, Alfi tidak bereming.
" Sayang Mas sungguh terbawa emosi karena Mas merasa cemburu kepada pria itu, Mas tidak rela kamu bersama pria lain, Mas takut kehilangan kamu sayang, Mas tidak bisa hidup tanpamu, Mas.. Mas tidak bisa membayangkan jika kamu pergi bersama pria itu meninggalkan Mas sendiri di sini, Maa mencintaimu sayang... Sangat mencintaimu, maafkan Mas..." Ucap Sakti menciumi pucuk kepala Alfi.
" Katakanlah sesuatu sayang! Jangan diam saja seperti ini! Pukul aku! Tampar aku! Atau lakukan apapun sesuka hatimu tapi tolong maafkan aku, aku khilaf sayang, sayang...." Ucap Sakti mengguncang pelan tubuh Alfi namun Alfi tidak bergeming. Mungkin Ia sudah terlelap karna kelelahan.
" Sepertinya Alfi sudah tidur." Batin Sakti.
" Tidurlah sayang semoga mimpi indah, aku mencintaimu." Ucap Sakti mencium kepala Alfi.
Sakti memejamkan matanya sambil tetap memeluk Alfi. Ia berharap Alfi bisa memaafkannya setelah Alfi bangun nanti. Tak lama akhirnya Sakti pun terlelap di sisi Alfi. Keduanya memasuki alam mimpi bersama sama.
TBC......
Jangan lupa like dan koment vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All