
Sesampainya di bawah mereka segera menuju meja makan. Terlihat Mama Cintia sudah menunggu disana.
" Mentang mentang pengantin baru penginnya nempel terus, Mama nunggu nyampe' kelaparan sendiri." Cebik Mama Cintia.
" Maaf Ma kan tadi ambil sarapan yang lain dulu." Ujar Sakti yang langsung mendapat cubitan di perutnya dari Alfi.
" awh.. sakit yank." Ucap Sakti mengaduh.
" Udah udah di lanjut nanti saja, sekarang makan dulu, Mama sudah lapar nanti Mama pingsan lagi." Ujar Mama.
" Iya Ma." Sahut Sakti.
Alfi mengambilkan makanan untuk Sakti.
" Ini Mas makan." Ucap Alfi meletakkan sepiring makanan di depan Sakti.
" Makasih sayang sudah perhatian sama Mas." Ucap Sakti tersenyum manis.
" Iya Mas." Sahut Alfi.
Ketiganya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut masing masing.
"Sakti Mama bahagia banget melihat kalian akur begini, Mama selalu berdoa semoga semakin hari cinta kalian semakin besar dan kalian akan terlihat semakin mesra, jadi Mama bisa segera mendapatkan cucu dari kalian." Ucap Mama Cintia.
" Amin terima kasih doanya Ma." Sahut Sakti.
" Kapan kalian mau bulan madu?" Tanya Mama di sela sela makannya. Sakti dan Alfi hanya saling melempar pandangannya.
" Kalau soal bulan madu kami baru merencanakannya Ma, lagian tiket bulan madu yang Mama Elin berikan memiliki masa tenggang sampai tiga bulan kok Ma." Kata Sakti. Ia tahu jika Alfi tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
" Baiklah terserah kalian saja." Sahut Mama Cintia.
Mereka makan dengan khidmat, Alfi melayani Sakti dengan baik, dan sesekali mendapat godaan dari suami jailnya.
" Ma kami kembali ke kamat dulu ya." Ucap Sakti setelah selesai sarapan.
" Silahkan sayang, Mama juga ada acara arisan dengan tetangga sebelah." Sahut Mama Cintia.
Sakti dan Alfi berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Ceklek.....
Sakti membuka pintu kamarnya. Keduanya masuk ke dalam. Alfi duduk di atas ranjang bersandar pada head board sambil memainkan ponselnya sedangkan Sakti duduk di sofa membuka laptopnya, untuk mengecek laporan bulanan yang dikirim oleh Diandra, Partner kerjanya.
" Yank..." Panggil Sakti membuat Alfi menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Ya." Sahut Alfi.
" Besok aku sudah mulai berangkat kerja, nggak pa pa kan kamu dirumah sama Mama sendirian?" Tanya Sakti.
" Ya gak pa pa lah, emang kenapa?" Sahut Alfi.
" Ya takutnya kamu canggung aja sama Mama, secara kan baru sehari kita menikah." Timpal Sakti.
" Aku ikut donk Mas." Ujar Alfi.
" Ikut kemana?" Tanya Sakti memastikan.
" Ikut kamu kerja lah, aku ikut kamu biar nggak kesepian di rumah." Ujar Alfi.
" Beneran kamu mau ikut aku kerja?" Tanya Sakti.
" Hmm." Gumam Alfi sambil mengangguk.
Sakti berjalan mendekati Alfi, Ia duduk di sebelahnya.
" Apa nanti kamu tidak bosan menunggu aku bekerja?" Tanya Sakti.
" Enggak lah, kalau aku bosan aku akan pulang duluan." Ujar Alfi.
" Baiklah dengan senang hati aku akan mengajakmu ke kantorku, aku seneng banget kalau kamu mau ikut aku kemana mana Yank, berasa punya istri beneran." Kata Sakti mengelus kepala Alfi.
" Baca novelnya yang bergenre romantis Yank, biar kamu ikut romantis kalau sama aku, nggak dingin dan canggung begini, aku juga pengin denger kamu manggil aku dengan sebutan Mas terus jangan cuma pas ada Mama aja, kalau perlu panggil aku sayang." Ujar Sakti.
Alfi cemberut mendengar ucapan Sakti yang malah membuat Sakti gemas. Ia mengacak rambut Alfi.
" Aku kembali bekerja dulu ya." Ucap Sakti.
" Iya." Sahut Alfi.
Sakti kembali duduk di sofa untuk melanjutkan pekerjaannya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hari hari berlalu tak terasa sebulan lebih Sakti dan Alfi membina rumah tangga. Hubungan mereka semakin membaik. Sakti yang selalu sabar menghadapi sikap Alfi yang kadang emosi dan perasaannya naik turun bagai rollercoaster membuat Alfi nyaman bersamanya.
Seperti biasa hari ini Sakti sedang sibuk bekerja di cafe pusat miliknya. Sedangkan Alfi diam di rumah menemani Mama Cintia. Beberapa hari lalu kesehatan Mama Cintia sedikit drop. Saat ini mereka sedang duduk santai sambil nonton tv.
" Fi.. antar makan siang buat Sakti gih, kasihan dia pasti lupa makan siang kalau sudah berkutat dengan pekerjaannya." Titah Mama Cintia.
" Ma, disana kan cafe pasti banyak makanan Ma, aku temanin Mama aja ya dirumah." Ujar Alfi.
__ADS_1
" Hari ini Sakti sibuk banget sayang pasti dia akan melupakan makan siangnya Fi, kasihan Sakti nanti kalau dia sakit kamu yang repot kan karena harus mengurus Mama dan juga Sakti secara bersamaan." Ujar Mama.
" Baiklah Ma, aku siapin dulu ya makanannya." Sahut Alfi mengalah.
Alfi beranjak menuju dapur menyiapkan makan siang untuk suaminya. Jujur akhir akhir ini Ia merasa nyaman berada di dekat Sakti. Tapi jika Sakti jauh darinya Ia selalu merindukannya.
Setelah selesai menyiapkan makanannya, Alfi kembali ke kamarnya untuk bersiap mengganti bajunya.
inilah kira kira pakaiannya.
" Ma aku berangkat dulu ya, Mama hati hati di rumah kalau ada apa apa segera telepon Alfi." Ujar Alfi sambil menenteng bekalnya.
" Assalamu'alaikum Ma." Ucap Alfi setelah menyalami mama mertuanya.
" Wa'alaikumsallam sayang." Jawab Mama.
Alfi bergegas keluar rumah dan menaiki taksi untuk sampai ke cafe milik suaminya. Setelah sampai di Cafe, Alfi segera menuju ruangan Sakti, sebelumnya Ia menyapa para pelayan disana.
Hingga sampai di depan pintu, Alfi menghentikan langkahnya karena mendengar suara dua orang yang sedang berbicara. Samar samar Ia mendengar...
" Bukankah kamu menikahi Alfi hanya untuk bertanggung jawab padanya? Kamu melakukannya untuk mengurangi rasa bersalahmu Sakti bukan karna kamu mencintainya kan." Ucap Diana.
Ya didalam ruangan Sakti ada Diana. Awalnya mereka membicarakan tentang Cafe yang ada di Bali. Tapi tiba tiba Diana menangkap siluet orang di depan pintu yang Ia yakini sebagai Alfi karena hanya dirinya dan Alfi yang boleh langsung masuk ke dalam ruangan Sakti. Ia sengaja menanyakan hal itu kepada Sakti supaya Alfi tahu apa tujuan Sakti sebenarnya.
" Iya kau benar, aku memang menikahinya karna tanggung jawab kepadanya....." Sahut Sakti
Deg....
Jantung Alfi seperti berhenti berdetak. Hatinya bagai di sayat sembilu, sakit tapi tidak berdarah. Karena tidak sanggup mendengar kelanjutannya, Alfi memilih kembali dan menitipkan bekalnya kepada kasir. Ia berjalan keluar dengan tergesa gesa, sesekali Ia mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya. Ia tidak menyangka kalau selama ini Sakti membohonginya.
" Dia bilang Cinta... bullshit." Cebik Alfi dalam hati. Ia menyetop taksi saat sudah di pinggir jalan.
Sedangkan di ruangan Sakti,
" Tapi bukan hanya Itu Diana, sejak pertama aku melihatnya aku sudah jatuh cinta padanya, itulah sebabnya aku terus berusaha untuk mendapatkannya." Ucap Sakti senyum senyum sendiri membayangkan wajah istrinya.
" Hah, untung Alfi sudah pergi, ternyata dewi fortuna sedang berpihak kepadaku. Aku akan memperlihatkan posisi sebenarnya kepadamu janda gatel." Ujar Diana dalam hati.
Ia tersenyum puas bisa membuat kesalah pahaman dalam rumah tangga Sakti. Ia tidak rela, pria yang dari dulu ia cintai menikahi Alfi yang notabenenya janda dan bukan dirinya. Jadi apapun akan Ia lakukan untuk merebut Sakti darinya.
TBC......
Jangan lupa untuk tekan like koment dan votenya....
__ADS_1
Miss U All...