
Hari hari pun berlalu tak terasa hampir satu tahun Alfi lalui tanpa suaminya. Ia sudah mencari informasi dari teman teman Sakti, tetapi tidak ada yang tahu kemana Sakti pergi. Bahkan Alfi sampai menyewa detektif terhandal namun tetap saja sia sia, Sakti seperti hilang di telan bumi.
Setelah kepergian Sakti, sekarang Alfi yang menghandle Cafe milik suaminya. Hari ini Alfi di sibukkan oleh laporan keuangan dari cabang Cafenya yang sedikit berantakan. Ada kesalahan perhitungan dari pembukuan yang di laporkan anak buahnya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya sambil menatap langit langit ruangannya.
" Sebenarnya kamu pergi ke mana Mas? Kenapa sampai sekarang aku tidak bisa menemukanmu? Kenapa kamu tega menghancurkan hidupku dan Aroon, apa kau sudah bahagia bersamanya sehingga kamu benar benar melupakan kami? Aku tidak menyangka jika selama ini cintamu kepadaku palsu Mas, aku tidak pernah berpikir jika selama ini ada wanita lain dalam hatimu, aku kecewa padamu Mas, aku membencimu... Aku membencimu.... Mungkim sekarang saatnya aku harus melupakanmu." Ujar Alfi dalam hatinya.
Tiba tiba....
Tok tok tok...
Pintu terketuk dari luar. Alfi menoleh ke arah pintu lalu Ia menghapus air matanya dengan tisu.
" Masuk." Ucap Alfi dari dalam.
Ceklek.....
" Maaf mengganggu Bu,." Ucap Ririn.
" Ada apa Rin?" Tanya Alfi menatap Ririn.
" Di depan ada pelanggan yang mengamuk Bu, dia meminta bertemu dengan Ibu." Ujar Ririn, pelayan Cafenya.
" Ada masalah apa sampai dia mengamuk di cafe kita?" Tanya Alfi.
" Maaf bu, semua karna kesalahan pegawai kita yang salah memberikan menu pesanannya." Jelas Ririn membuat Alfi menghela nafasnya.
" Baiklah saya akan kesana." Sahut Alfi. Ririn segera undur diri.
Setelah kepergian Ririn, Alfi mencuci muka terlebih dulu, Ia segera melangkah ke depan melihat ke kacauan yang di buat oleh pelanggannya.
Nampak seorang laki laki sedang marah marah di sana. Ia segera menghampiri orang itu. Melihat kedatangan bos mereka, para pegawai menundukkan kepalanya.
" Ada apa ini?" Tanya Alfi.
Pria tersebut menoleh kearah Alfi, Ia melongo terpesona dengan kecantikan Alfi.
" Apa yang terjadi Tuan? Kenapa anda marah marah dengan pegawai saya? Apa anda tidak bisa berbicara baik baik dengan kami?" Tanya Alfi menatap pria itu.
" Pegawaimu tidak becus bekerja dengan benar Nona, kalau dia tidak bekerja jangan si perkejakan di sini." Ucapnya.
" Maafkan pegawai saya Tuan, mereka hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, mari kita selesaikan dengan baik baik, tidak perlu memarahi mereka karena tidak ada gunanya juga kan? Hanya akan membuang tenaga saja kan." Tegas Alfi membuat Pria itu semakin terpesona dengan kebaikan Alfi. Biasanya Bos akan memecat pegawainya yang berbuat kesalahan.
" Mari kita selesaikan di ruangan saya Tuan." Ucap Alfi melangkahkan kakinya, di ikuti pria itu dari belakang. Setelah sampai di ruangannya Alfi mempersilahkan pria itu untuk duduk.
" Silahkan duduk Tuan." Ucap Alfi.
" Hmm." Gumam pria itu.
__ADS_1
" Maaf... dengan Tuan...".
" Shivran... Panggil saja Shiv." Ujar Pria itu.
" Baiklah Tuan Shiv, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang pegawai saya lakukan, sebagai permohonan maaf dari kami anda bisa memesan apapun yang anda inginkan, saya akan membebaskan tagihannya." Ucap Alfi.
" Gimana kalau sebagai gantinya kita makan siang di luar saja." Tawar Shiv.
" Maaf Tuan saya tidak bisa, siang ini saya harus menjemput putra saya di sekolah." Tolak Alfi.
" Apa kamu sudah berkeluarga?" Tanya Shiv.
" Iya Tuan, dan saya sudah punya seorang putra." Sahut Alfi.
Entah mengapa Shiv merasa kecewa, baru kali ini Ia tertarik dengan wanita tapi ternyata dia sudah berkeluarga.
" Dimana suamimu? Kenapa kamu capek capek kerja sendirian?" Tanya Shiv ingin tahu.
" Maaf tuan saya keberatan dengan pertanyaan anda menanyakan suami saya." Sahut Alfi.
" Hanya memastikan saja, karena jujur aku merasa tertarik denganmu." Ucap Shiv to the point.
" Itu privasi saya Tuan, dimanapun suami saya berada, itu bukan urusan anda, kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, silahkan keluar dari ruangan saya, pesanlah sesuatu di depan, pegawai saya akan melayani anda." Ujar Alfi. Ia sangat sensitif jika ada yang menyinggung tentang suaminya.
" Maaf.. Maafkan aku yang telah menyinggung perasaanmu, tapi aku tidak bermaksud begitu." Ucap Shiv.
" Lalu bagaimana dengan permintaan maafmu, aku belum memaafkanmu." Ucap Shiv membuat Alfi melongo.
" Kenapa anda tidak mau memaafkan saya? Apa yang sebenarnya anda inginkan?" Tanya Alfi.
" Aku akan memaafkanmu dan aku akan menganggap tidak terjadi apa apa di sini kalau kamu mau makan siang denganku, em.. makan siang bertiga dengan putramu maksudku dan aku tidak menerima penolakan." Ujar Shiv.
" Maaf saya tetap tidak bisa." Kukuh Alfi.
" Baiklah jika kamu tidak bisa, maka dengan terpaksa aku akan memberitakan tentang buruknya pelayanan di Cafemu ini, dengan sedikit bumbu, maka aku yakin Cafemu ini akan tutup dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam." Ancam Shiv.
" Memang siapa anda yang bisa melakukan itu pada Cafe saya?" Tantang Alfi.
Shiv berdiri mendekati Alfi, Ia menatap Alfi dengan tatapan yang sukar di artikan. Alfi menjadi sedikit gugup, Ia memundurkan badannya. Shiv duduk kembali dengan menatap mata Alfi.
" Aku... Shivran Khanna, Ceo Star plus, perusahaan entertainment terkenal di negara ini." Terang Shiv.
Alfi melongo sambil membuka sedikit mulutnya mendengar ucapan Shiv.
" Gawat.... Jadi aku bersinggungan dengan Ceo Star plus? Dia akan melakukan apapun untuk mewujudkan keingannya, bahkan dengan jentikan jarinya saja dengan mudah bisa menutup Cafe ini." Gumam Alfi dalam hatinya.
__ADS_1
" Bagaimana Nona Alfi? Apa anda akan menerima tawaranku? Sekarang ayo kita jemput putramu dan lanjut makan siang denganku, calon daddy dari putramu." Canda Shiv mengerlingkan matanya.
" Jaga bicara anda Tuan Shiv." Geram Alfi.
" Baiklah aku hanya bercanda saja jangan marah karena kau kelihatan tambah cantik kalau marah, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku." Ujar Shiv.
" Dasar pria gila, pemaksa, hah demi Cafe gak apalah aku turuti kemauannya saja." Batin Alfi.
" Baiklah Tuan, tapi ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya." Ucap Alfi.
" Tidak janji." Shiv segera berjalan mendahului Alfi.
Mereka berjalan menuju mobilnya, saat Alfi mau belok ke mobilnya, tiba tiba Shiv menarik tangannya, Ia membuka pintu mobilnya sendiri. Alfi hanya pasrah, Ia tidak mau berdebat dengan pria menyebalkan ini, Jika Ia berulah maka Cafe sebagai taruhannya. Shiv segera melajukan mobilnya menuju sekolah Aroon.
Di dalam perjalanan Shiv sering mencuri curi pandang ke arah Alfi membuat Alfi merasa tidak nyaman.
" Jangan menatapku seperti itu Tuan." Ucap Alfi.
" Memangnya kenapa? Mata mataku ini." Sahut Shiv.
" Tapi aku tidak suka." Ujar Alfi.
" Kamu tidak melarang orang sesuai keinginanmu Nona." Sahut Shiv membuat Alfi geram dan menjitak kepalanya.
" Dasar sinting.... Apes banget sih hari ini, aku harus bertemu dengan pria menyebalkan dan pemaksa sepertinya, pengin tak sumpal sambal tuh mulutnya." Batin Alfi.
" Jangan mengumpat karena itu tidak baik." Ucap Shiv
" Hah darimana dia tahu kalau aku mengumpatnya? Apa dia cenayang ya." Tanya Alfi dalam hatinya.
" Bukan... Aku hanya orang biasa bukan cenayang." Ucap Shiv membuat Alfi kembali melongo.
" Wajahmu terlihat imut kalau seperti itu." Ujar Shiv.
Alfi segera membuang muka ke luar jendela. Shiv tersenyum melihat tingkah Alfi yang menggemaskan menurutnya.
" Aku pastikan aku akan mendapatkanmu Nona Alfia.... Kau akan menjadi milikmu secepatnya." Batin Shiv
Kira kira Shiv bisa mendapatkan Alfi nggak ya????
Jangan lupa like koment dan hadiahnya ya...
Miss U All....
Beberapa bab ini author umpetin dulu babang Saktinya ya...
TBC.....
__ADS_1