CINTA KEDUAKU

CINTA KEDUAKU
Mengurai Kebenaran


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit, Alfi segera bergegas menuju ke sana. Alfi meninggalkan Aroon bersama Shiv di rumah. Setelah Alfi sampai ke rumah sakit, Ia segera menuju ke ruang ICU. Saat ini Alfi sedang berjalan mondar mandir di depan ruang ICU, menunggu pemeriksaan Dokter.


" Ya tuhan selamatkan suamiku." Gumam Alfi duduk di kursi tunggu.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruangan.


" Bagaimana Keadaan suami saya Dok?" Tanya Alfi.


" Keadaan Tuan Sakti saat ini kritis Nyonya, doakan agar semua baik baik saja dan Tuan Sakti segera melewati masa kritisnya." Ucap Dokter.


" Ya Tuhan....." Gumam Alfi lemas.


" Apa saya bisa menemuinya Dokter?" Tanya Alfi.


" Maaf Nyonya untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk oleh siapa siapa, tunggu Tuan Sakti melewati masa kritisnya dan di pindahkan ke ruang rawat." Sahut Dokter kembali masuk ke dalam.


Alfi duduk bersandar, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Ia kehilangan separuh semangatnya.


" Ya Tuhan bantu suamiku melewati masa kritisnya, aku mohon ya Rob." Ucap Alfi terus berdoa.


Alfi menunggu hampir tiga jam lamanya. Ruang ICU terbuka dan menampilkan Dokter yang keluar dari sana.


" Bagaimana suami saya Dok?" Tanya Alfi menghampiri Dokter.


" Keadaan Tuan Sakti mulai stabil Nyonya." Ucap Dokter.


" Alhamdulillah, apakah saya bisa menemuinya sekarang Dok?" Tanya Alfi.


" Sebentar lagi Tuan Sakti akan di pindah di ruang rawat, temui saja nanti di sana." Saran Dokter.


" Baiklah Dok, terima kasih." Ucap Alfi.


" Kalau begitu saya permisi Nyonya." Pamit Dokter.


" Silahkan Dok." Sahut Alfi.


Alfi kembali duduk di kursi tunggu pasien, tubuh Alfi masih terasa lemas ketika mendengar ucapan Dokter jika keadaan Sakti saat ini sedang kritis. Tapi kini Ia sangat bersyukur karena keadaan suaminya mulai stabil.Ia tidak menyangka jika Sakti akan mengalami hal naas seperti ini.


" Ya Allah.... Selamatkanlah suami hamba, berilah kesempatan padanya untuk membuktikan semua kebenarannya, sesungguhnya hati ini mempercayainya, tetapi kenapa semua bukti bukti memberatkannya, berilah petunjukmu apa dan kenapa semua ini bisa terjadi, jika benar ada yang berniat jahat kepada kami siapa orang yang sengaja ingin berbuat jahat kepada keluargaku." Ucap Alfi dalam hatinya.


Memikirkan itu Alfi merasa pusing, Ia butuh secangkir kopi untuk menjaga kewarasannya. Ia melangkah menuju kantin Rumah sakit dengan pikiran yang tidak fokus, tepat di depan kantin tiba tiba...


Brugh..


" Awh..." Ucap kedua orang yang bertabrakan secara bersamaan.


" Maaf maaf saya nggak sengaja." Ucap Alfi.


" Alfi..."


" Sarah." Ucap Keduanya.


"Sarah... Akhirnya aku bisa menemukanmu, kenapa nomermu tidak bisa di hubungi?" Tanya Alfi.


" Maaf Fi, saat aku pindah aku lupa bawa ponselku, aku mau menghubungimu tapi tidak hafal nomer hpmu." Ujar Sarah.


" Ya udah gak pa pa, yang penting sekarang kita sudah ketemu, oh ya kapan kamu balik ke sini? Kok gak main kerumah?" Tanya Alfi.

__ADS_1


" Aku balik tadi sore, masih capek lah Fi." Sahut Sarah.


" Lalu kenapa kamu di sini?" Tanya Alfi.


" Aku ke sini mau jenguk temenku yang menjadi Dokter di sini." Ujar Sarah.


" Kok malem malem gini? Apa nggak ada waktu besok pagi?" Tanya Alfi curiga jika orang itu orang spesial untuk Sarah.


" Sempetnya malam gimana? Besok subuh aku sudah terbang lagi." Ujar Sarah.


" Secepat ini?" Tanya Alfi.


" Iya maaf ya nggak sempet main, oh ya kalau kamu lagi nungguin siapa? Atau baru jenguk siapa?" Tanya Sarah membuat wajah Alfi berubah menjadi sendu.


" Mas Sakti Sar, dia kecelakaan." Jawab Alfi.


" Kecelakaan lagi?" Tanya Sarah.


" Lagi...." Alfi memicingkan matanya.


" Iya lagi, bukankah tiga tahun lalu Sakti juga kecelakaan?" Sarah balik bertanya.


" Kecalakaan? Kecelakaan apa maksudmu Sarah?" Tanya Alfi menatap Sarah dengan tatapan menyelidik.


" Tiga tahun lalu saat aku berangkat ke bandara, Sakti mengalami kecelakaan kan, apa kamu lupa? Atau kamu malah tidak tahu?" Tanya Sarah memastikan.


" Tiga tahun lalu, sebentar sebentar kita masuk aja pesen kopi dulu yuk, banyak hal yang terjadi tiga tahun lalu kepadaku Sar." Ujar Alfi.


" Ok." Sahut Sarah.


" Sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu!" Desak Sarah. Alfi menghela nafasnya pelan.


" Tiga tahun lalu, Mas Sakti menghilang tanpa kabar, aku sudah mencarinya dan mencoba bertanya tanya kepada semua kerabat dan teman temannya tetapi hasilnya nihil, Mas Sakti tidak di temukan Sar, bahkan aku sampai menyewa detektif handal pun hasilnya sia sia.. Cuma buang buang uang doank." Ujar Alfi.


" Lalu kenapa kamu bisa nungguin Sakti di sini? Apa kamu baru bertemu dengannya setelah tiga tahun ini?" Selidik Sarah.


" Beberapa bulan yang lalu, Mas Sakti kembali ke rumah, aku sangat bahagia saat itu Sar karena pada akhirnya penantianku segera berakhir, tapi saat itu juga hatiku kembali hancur Sar.." Ucap Alfi mendongak menahan air matanya, Ia tak kuasa merasakan sakit di hatinya.


" Hancur bagaimana Fi?" Tanya Sarah.


" Mas Sakti kembali dengan anak dan istrinya, Hiks...." Isak Alfi.


" Astaga Fi, aku turut prihatin tentang itu." Ucap Sarah.


" Mas Sakti mengaku hilang ingatan Sar, dia kembali karna ingatannya baru kembali separuh saja, dia hanya mengingat punya aku dan Aroon, tetapi dia tidak ingat dengan anak dan istrinya yang sekarang, apa kamu tahu? Anak yang di bawa Mas Sakti sudah sebesar Aroon." Jelas Alfi.


" Kok bisa? Apa Sakti menikahi janda?" Sahut Sarah.


" Kata Neha istri keduanya, sebelumnya mereka memang punya hubungan di belakangku, tetapi Mas Sakti mengelaknya Sar, dia tidak ragu dengan anak yang di bawa Neha, Mas Sakti sempat melakukan tes DNA untuk membuktikan jika dia tidak bersalah tetapi hasilnya membuktikan jika Mas Sakti adalah ayah biologis Nervan Sar." Ucap Alfi menitikkan air matanya.


" Dia mengkhianatiku Sar..... Hatiku hancur.. sehancur hancurnya, Cinta yang selama ini aku jaga hancur tanpa sisa..." Ucap Alfi.


" Sabar ya Fi, menurut ceritamu sepertinya ada yang tidak beres Fi." Ujar Sarah.


"Maksudmu." Selidik Alfi.


" Tiga tahun lalu, saat aku pergi ke bandara, aku melihat Sakti di tarik Diana masuk ke mobilnya, dan menurutku sepertinya mereka terlibat cekcok, sampai di jalanan sepi mobil yang mereka tumpangi oleng dan menabrak togor di pinggir jalan, sepertinya sih lumayan parah karna bagian Cap mobil sampai mengeluarkan banyak asap." Terang Sarah.

__ADS_1


" Kenapa kamu tidak mengabariku saat itu?" Tanya Alfi.


" Saat itu aku mau menghubingimu, tapi ya tadi, ponselku tertinggal di rumah, sedangkan waktu keberangkatanku terlalu mepet, aku pikir kamu pasti akan dapat kabar dari kepolisian atau dari pihak rumah sakit." Ucap Sarah sambil menyeruput kopinya.


" Diana... Apa itu yang menyebabkan Mas Sakti hilang ingatan? Jika benar lalu dimana Diana sekarang?" Pikir Alfi.


" Sebentar ceritaku masih berlanjut." Ucap Sarah.


" Apa kamu tahu, tak lama setelah kejadian itu, aku melihat Diana di Rumah Sakit yang ada di Negri Oppa bersamaan saat aku kunjungan ke sana." Ujar Sarah.


" Ngapain dia di sana, apa dia sakit?" Tanya Alfi.


" Setelah aku tanyakan kepada temanku yang kebetulan Dokter yang menanganinya, Diana Oplas Fi." Bisik Sarah membuat Alfi melongo dengan mata membulat.


" Oplas? Mas Sakti hilang ingatan? Terus Diana Oplas... Atau jangan.. Jangan..." Alfi menjeda ucapannya.


" Apa kamu tahu wajah terakhir Diana setelah Oplas." Tanya Alfi, Sarah hanya menggeleng.


" Aku mohon minta tolonglah kepada temanmu itu, untuk mengirim data data Diana sebelum dan sesudah Oplas sekarang juga, pasti di sana ada fotonya." Ucap Alfi.


" Untuk apa?" Tanya Sarah kebingungan.


" Entah mengapa aku menyakini kalau Neha adalah Diana, dan anak itu pasti bukan anak Mas Sakti." Ujar Alfi.


" Bukankah hasil DNA mereka cocok?" Tanya Sarah.


" Diana orang licik Sar, dia akan menghalalkan segala cara untuk ambisinya, kalau memang anak itu anak Mas Sakti, kenapa Diana harus Oplas? Pasti karna dia tidak mau ketahuan Mas Sakti kalau dia Diana kan." Ucap Alfi menyimpulkan.


" Berarti ada kemungkinan kalau Diana memalsukan hasil DNA itu." Sahut Sarah.


" Tidak! Aku rasa hasil tes itu asli." Sahut Alfi.


" Lalu?" Tanya Sarah semakin bingung.


" Yang palsu adalah samplenya." Ujar Alfi.


" Maksudmu." Sarah menatap Alfi.


" Dia pernah menemui Aroon di sekolah, aku yakin saat itu pasti dia mengambil rambut Aroon, lalu Ia tukar sample DNAnya dengan milik Nervan, dengan begitu hasil tes DNA membuktikan jika Sakti ayah biologis Nervan yang aslinya Aroon, benar benar ular berbisa." Ucap Alfi kesal.


" Aku harus menelpon Bi Imah supaya mengawasinya, dan memintanya untuk mencari bukti Oplasnya." Ucap Alfi.


" Ya pasti sudah di buang lah Fi." Sahut Sarah.


" Makanya minta bantuan temenmu itu lah, bilang aja Urgent menyangkut nyawa seseorang, aku rasa jika data pasien Oplas tidak terlalu di privasi di sana." Titah Alfi.


" Ok Ok aku akan menghubunginya besok, nanti aku kirim filenya ke ponselmu, mana nomernya.." Ujar Sarah.


Alfi menyodorkan ponselnya, Sarah mencatat Nomernya dan Nomer Alfi di ponsel mereka masing masing. Alfi merasa sedikit lega, Semoga semuanya bisa membuktikan jika Sakti tidak bersalah, jika semua benar maka Alfi akan memaafkannya.


" Semoga dugaanku benar." Batin Alfi.


TBC....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Miss U All....

__ADS_1


__ADS_2