
Melihat Dokter keluar dari ruangan, Sakti segera mendekatinya begitupun dengan Alfi. Ia mengusap air matanya dan beranjak mendekati Dokter dan Sakti.
" Bagaimana keadaan Mama saya Dok?" Tanya Sakti.
" Ibu anda mengalami syok berat hingga membuat jantungnya begitu terkejut, dan untuk saat ini pasien dalam keadaan koma." Sahut Dokter.
" Apa Dok koma?" Tanya Sakti memastikan.
" Iya Tuan, terus ajak berbicara dan semangati pasien agar cepat sadar." Ucap dokter sambil menepuk pundak Sakti.
" Sampai kapan Mama saya terbaring koma Dok?" Tanya Sakti.
" Saya tidak bisa memastikannya Tuan, berdoalah semiga Beliau cepat sadar, saya permisi Tuan." Setelah itu Dokter segera melangkah pergi dari sana.
Alfi semakin tergugu di tempatnya, Ia tidak menyangka jika keadaan Mama Cintia menjadi begitu buruk. Sedangkan Sakti hanya bisa pasrah kepada keajaiban Tuhan yang akan menyembuhkan Mamanya.
" Mas maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat keadaan Mama seperti ini, maafkan aku Mas." Ucap Alfi menggenggam tangan Sakti.
" Pulanglah, kamu tidak perlu menunjukkan simpati palsumu itu." Ketus Sakti melepas genggaman Alfi membuat hati Alfi mencelos.
" Mas aku tidak mau pulang, aku mau menemanimu di sini, menunggu Mama sampai sadar." Ujar Alfi.
" Sekarang pulanglah! Aku tidak mau melihatmu disini, lakukan apa yang kamu mau, aku tidak akan menahanmu lagi." Ucap Sakti segera pergi dari sana tanpa menghiraukan Alfi.
Sedangkan Alfi semakin tergugu mendengar ucapan suaminya. Hatinya begitu sakit melihat kelakuan Sakti yang mengacuhkannya. Apakah Sakti akan menceraikannya? Apakah cinta Sakti untuknya berakhir sampai disini?
Alfi segera beranjak pergi dari sana. Ia akan memberikan waktu untuk Sakti sendiri karena Ia yakin kalau saat ini Sakti membutuhkan waktu untuk sendiri.
Alfi melajukan mobilnya menuju rumahnya, sesampainya dirumah Alfi segera mandi, setelah itu Ia hanya duduk termenung diatas ranjang. Tiba tiba ada notif pesan di ponselnya. Ia segera membukanya.
Diana
📲 Sakti memintaku menemaninya di Rumah sakit, emang kamu kemana?
Deg...
Hati Alfi begitu sakit saat membaca pesan dari Diana. Apakah Diana lebih berarti daripada dirinya? Kenapa Sakti meminta Diana untuk menemaninya? Apakah Diana membohonginya? Ia akan mencari tahu kebenarannya.
__ADS_1
Alfi membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Ia berharap semua hal buruk yang terjadi padanya hari ini akan segera berlalu. Ia berharap Sakti bisa memaafkan dirinya.
Pagi hari Alfi terbangun dengan kepala yang terasa begitu sakit.
" Awh sakit sekali." Keluh Alfi memegangi kepalanya. Tetapi Alfi paksakan untuk bangun. Ia harus turun ke bawah untuk membuat sarapan untuk Sakti, yang akan dia bawa ke rumah sakit.
" Pagi Bi." Sapa Alfi setelah sampai di dapur.
" Pagi Non, ada yang bisa bibi bantu?" Tanya Bi Imah.
" Tidak Bi, aku hanya mau membuat sarapan untuk Mas Sakti." Jawab Alfi
" Biar bibi aja Non yang membuatnya." Ujar bi Imah
" Tidak usah Bi, biar aku saja aku ingin membawakan makanan untuk Mas Sakti di rumah sakit." Ujar Alfi.
Alfi segera menyiapkan bahan bahannya. Ia ingin memasak ayam lada hitam pedas untuk Sakti. Saat Ia akan membersihkan daging ayamnya, tiba tiba ia merasa mual. Alfi langsung menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
Huek... Huek...
" Non.. Non Alfi kenapa?" Tanya Bi Imah menghampiri Alfi dan memijat tengkuknya. Alfi hanya menggelengkan kepalanya.
" Tidak usah Bi, aku hanya masuk angin saja." Sahut Alfi.
" Biar semuanya jelas Non kita harus periksa ke Dokter." Ujar Bi Imah.
" Tidak Bi, aku mau masak ya." Sahut Alfi.
" Baik Non." Sahut Bi Imah.
Alfi tetap meneruskan kegiatannya, walau Ia harus beberapa kali muntah muntah. Setelah selesai, Ia segera mandi dan berdandan cantik menuju Rumah Sakit dengan diantar sopir.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Alfi segera menuju ruang rawat yang sudah di beritahu oleh Bi Imah tadi.
" Pagi Mas." Sapa Alfi setelah masuk kedalam ruang rawat Mama Cintia.
Alfi berjalan menuju sofa tempat Sakti duduk saat ini. Ia melihat Mama Cintia yang masih terbaring lemah.
__ADS_1
" Mas sarapan dulu, aku udah bawakan makanan untukmu." Ujar Alfi membuka tutup bekal dan akan menatanya di meja.
" Tidak perlu, aku sudah makan." Sahut Sakti.
Alfi mengurungkan niatnya, Ia menutup kembali wadah bekal itu sambil menatap Sakti.
" Kamu istirahatlah Mas, biar gantian aku yang menjaga Mama." Ucap Alfi.
" Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu." Ketus Sakti.
Entah mengapa kata kata Sakti membuat dada Alfi sesak seperti terhimpit bebatuan besar. Ia menahan air matanya agar tidak lolos di depan suaminya. Ini belum seberapa di bandingkan Dia yang menyakiti Sakti selama ini. Hening untuk beberapa saat hingga pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik bernama Diana. Alfi menghela nafasnya.
" Pagi Sak." Diana berjalan berlenggak lenggok mendekati Sakti dan duduk di sebelahnya.
" Pagi." Jawab Sakti sambil tersenyum.
Alfi melirik kearah keduanya, ada rasa sesak yang Ia tahan dalam hatinya. Sakti begitu dingin padanya, sedangkan kepada Diana, dia begitu lembut.
" Di.. temani aku sarapan yuk." Ucap Sakti segera beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Diana.
" Dengan senang hati Sak, ayo aku akan mengajakmu ke tempat favorite kita." Sahut Diana melirik sinis kearah Alfi.
" Baiklah ayo." Sahut Sakti.
Sakti dan Diana berjalan bergandengan menuju pintu keluar. Air mata yang sedari tadi Alfi tahan akhirnya lolos juga.
" Apa ini mas... sebesar itukah kesalahanku padamu hingga membuatmu tanpa ragu menorehkan luka di hati ini. Hati yang baru saja aku sadari bahwa aku mencintaimu. Aku sudah bisa menerimamu menjadi suamiku sepenuh hatiku. Tapi lagi lagi, kau kecewakan aku. Apa selama ini ketulusan dan rasa cinta yang kau berikan padaku hanya ilusi semata, Apakah semua yang kamu berikan hanya pura pura." Ucap Alfi dalam hati.
Alfi mendekati mertuanya, Ia duduk di kursi sebelah ranjang. Alfi mengenggam tangan mertuanya dengan perasaan sedihnya. Ia tatap wajah pucat Mama Cintia dengan rasa bersalah di hati tanpa berkurang sedikitpun.
" Ma... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud mencelakai Mama dan membuat Mama menjadi seperti ini, aku tidak mungkin sengaja membuat Mama seperti ini, aku sangat menyayangi Mama dan Mas Sakti, bangunlah Ma, aku mohon." Ucap Alfi.
" Aku tidak mencari Mama Elin sampai sekarang, karena aku yakin Mama Cintia adalah pengganti Mama Elin, Mama mampu membimbing dan menyayangi aku seperti Mama Elin selama ini, sadarlah Ma agar nanti saat Mama Elin menemuiku, Mama bisa mendampingiku, aku tidak mau kehilangan Mama, aku tidak punya siapa siapa Ma." Ucap Alfi masih menangis.
Alfi sedang rapuh saat ini, Alfi butuh sandaran tetapi apa, Sakti yang di butuhkan justru mengacuhkanya. Kini Alfi kembali sendiri, Ia merasakan kesepian dalam hidupnya.
TBC.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Miss U All....