
Setelah prosesi pemakaman Diana selesai, Alfi dan Sakti mengajak Nervan untuk menjemput Aroon di kediaman Shiv. Mereka memasuki mobil, Alfi duduk di belakang bersama Nervan sedang Sakti mengemudi di depan.
" Nervan.. Kalau nanti Bang Aroon nggak mau di ajak main jangan di paksa ya, Tante takut nanti kamu di marahi sama Abang." Ucap Alfi mengelus kepala Nervan. Nervan menoleh menatap ke arah Alfi.
" Baik Tante." Sahut Nervan.
Alfi begitu trenyuh melihat ketegaran Nervan yang sama sekali tidak meratapi kepergian Diana. Ia mampu menguasai dirinya dengan baik.
Mobil terus melaju menuju kediaman Shiv. Sesampainya di sana , Alfi menggandeng Nervan masuk ke dalam rumah Shiv yang memang pintunya sudah terbuka.
" Assalamu'alaikum." Ucap Alfi.
" Wa'alaikumsallam." Jawab Shiv yang sedang duduk di sofa menoleh ke arah Alfi.
" Mama..." Aroon berlari mendekat karna mendengar suara Mamanya saat di depan Alfi Ia menghentikan langkahnya seketika.
" Ngapain Mama membawa anak itu kesini?" Tanya Aroon tidak suka.
" Sayang..." Alfi melepas pegangan tangannya lalu mendekati Aroon.
" Sayang mulai sekarang Nervan akan tinggal bersama kita, Ibunya baru saja meninggal Nak, dia sudah tidak punya siapa siapa lagi kankasiha Aroon dia mau tinggal dimana dan dengan siapa, Aroon anggap saja dia adik kamu ya." Bisik Alfi di telinga Aroon takut kedengeran Nervan.
" Aku tidak sudi menganggapnya sebagai adikku, kalau Mama kesini untu menjemputku dan tinggal bersamanya, aku tidak mau pulang, lebih baik aku di sini bersama Papa Shiv daripada harus tinggal bersamanya." Ketus Aroon sambil melirik sinis ke arah Nervan.
" Abang.."
" Jangan panggil aku Abang karna aku bukan Abangmu." Bentak Aroon.
" Aroon.." Ucap Sakti dengan lembut menghampiri putranya.
" Menyingkirlah jangan pernah kamu kembali lagi pada kehidupan kami dan bawa anakmu pergi dari sini." Titah Aroon dengan nada tinggi.
" Sayang jangan begini Nak, dengarkan dulu penjelasan Papa, Papa tidak bersalah Nak." Ucap Alfi membela Sakti.
" Apapun alasannya aku tidak peduli, Papaku sudah tiada sejak dia meninggalkan aku dan Mama." Sahut Aroon.
" Sayang Papa tidak meninggalkan kita, Papa hanya tersesat dan saat ini Papa sudah kembali kepada kita sayang." Ucap Alfi memberi penjelasan.
" Dia kembali karna selingkuhannya mati." Teriak Aroon.
" Aroon..." Bentak Alfi sambil mengangkat tangannya.
" Mama lihat... Awal kehadirannya saja membuat kebahagiaan kita hancur Ma, bahkan Mama yang selama ini menyayangiku kini mau menamparku, aku tidak akan menerima pria itu maupun anaknya .." Teriak Aroon.
Hati Sakti mencelos, sebesar itukah kesalahannya hingga Ia harus mendapatkan hukuman seperti ini? Penolakan dari putra kandungnya karna kesalahan orang lain.
" Gara gara ibumu..." Aroon mendekati Nervan, Ia menekan dada Nervan sambil menatapnya penuh kebencian.
" Gara gara ibumu, Papaku meninggalkan aku, Apa kamu tahu? Setiap malam Mamaku menangisi kepergian suaminya, tapi apa yang kalian lakukan di sana? Kau begitu bahagia bukan hidup bersama Papaku?" Tanya Aroon.
" Dia Ayahku juga Abang." Jawab Nervan polos.
" Yah kau benar, dia Ayahmu, sekarang bawa Ayahmu pergi dari sini dan jangan pernah mengusik kehidupan kami lagi." Tegas Aroon.
__ADS_1
" Aroon maafkan Papa sayang, ketahuilah Papa tidak pernah berniat meninggalkanmu, Papa hanya di jebak sayang, Papa sangat menyayangimu... Dengar Papa... Sebenarnya Nervan bukan anak kandung Papa Nak, Percayalah." Jelas Sakti, Ia berlutut di depan Aroon sambi menangis.
Sedangkan Alfi menutup telingan Nervan dengan kedua tangannya.
" Sayang... Nervan memang bukan siapa siapa kamu, dia bukan anak Mama ataupun Papa tapi Papa mohon terimalah dia dalam keluarga kita sebagai saudaramu, saat ini dia yatim piatu dan tidak punya siapa siapa lagi Nak." Rayu Sakti.
" Aku tidak peduli.. Aku membencinya dan ibunya beserta orang yang berada di sekitarnya." Teriak Aroon.
" Sayang Papa mohon jangan seperti ini." Ucap Sakti terus memohon kepada Aroon tetapi sepertinya Aroon sudah terlanjur membenci Sakti dan Nervan.
" Ma.. Jika Mama mau tinggal bersama mereka, Aroon mau tinggal di sini saja bersama Papa Shiv." Ucap Aroon. Ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Aroon menutup kamarnya dengan keras meluapkan segala emosinya. Ia menjadi lebih dewasa di banding anak anak seumurannya semenjak kepergian Sakti. Ia memahami apa yang Mamanya rasakan saat malam itu, dan saat itu juga tertanam kebencian di hati Aroon.
" Sayang lalu bagaimana?" Tanya Sakti setelah kepergian Aroon.
" Biarkan Aroon tinggal di sini, nanti aku akan membantu membujuknya." Ujar Shiv.
" Untuk sementara aku mau menemani Aroon di sini Mas, aku akan membujuknya dengan perlahan, bersabarlah Mas semua pasti akan baik baik saja, di rumah ada Bi Imah yang bisa membantumu mengurus Nervan." Ucap Alfi.
" Baiklah." Sakti menghela nafasnya.
" Sayang kamu pulang sama Ayah dulu ya, Tante sama Abang nanti akan menyusul." Uvap Alfi mendekati Nervan.
" Tante.." Panggil Nervan.
" Ya." Alfi menatap Nervan.
" Bolehkah aku memanggilmu Mama sama seperti Abang memanggilmu?" Tanya Nervan dengan hati hati.
" Baiklah sayang mulai sekarang kamu boleh memanggilku Mama." Jawab Alfi.
" Makasih Ma." Ucap Nervan memeluk Alfi dengan erat.
Nervan merindukan kasih sayang seorang ibu. Karna selama ini Diana tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Nervan selalu di tinggal tinggal pergi. Ia merasa tidak pernah di sayangi oleh Ibunya sendiri. Melihat Alfi yang begitu menyayangi Aroon membuat Nervan menginginkannya juga. Bukankah Alfi adalah Mama tirinya, Pikir Nervan.
" Baiklah aku pulang dulu." Ucap Sakti.
Alfi segera berdiri menghadap Sakti.
" Hati hati Mas." Ucap Alfi mencium tangan Sakti.
" Jaga diri baik baik, jika Aroon sudah mau pulang segera kabari aku." Ucap Sakti sambil mencium kening Alfi membuat Shiv mengepalkan tangannya.
" Baik Mas." Sahut Alfi.
" Tuan Shiv aku titip Istri dan anakku untuk saat ini, jika waktunya tiba aku akan segera mengambil mereka kembali karna mereka hanya milikku." Ucap Sakti.
" Baiklah saya akan menjaganya." Sahut Shiv malas.
" Nervan pamit sama Mama dulu." Perintah Sakti.
" Mama Nervan pulang dulu." Ucap Nervan menyalami Alfi lalu mencium punggung tangannya.
__ADS_1
" Hati hati sayang." Sahut Alfi mengelus kepala Nervan.
" Dadah...." Ucap Nervan melambaikan tangannya.
" Dah..." Sahut Alfi menatap kepergian mereka.
Setelah keduanya tak terlihat lagi, Alfi dan Shiv masuk kembali ke dalam rumah. Mereka duduk berdua di ruang tamu.
" Kamu menerima Nervan sebagai putramu?" Tanya Shiv menatap Alfi.
" Mau bagaimana lagi Mas? Aku sudah berjanji pada Diana dan aku juga tidak tega melihat anak sekecil itu harus hidup sendiri." Jawab Alfi sedikit mendongakkan kepalanya bersandar pada kepala sofa.
" Apa itu tidak menjadi bayang bayang Aroon dan semakin membuatnya membenci Papanya?" Pertanyaan Shiv membuat Alfi menatap ke arah Shiv.
" Aroon anak yang baik Mas, aku yakin dia akan mengerti suatu saat nanti." Sahut Alfi.
" Baiklah terserah kamu saja." Ujar Shiv.
" Aku ke kamar Aroon dulu Mas." Ucap Alfi beranjak menaiki anak tangga menuju kamar yang di tempati Aroon saat Ia menginap di sana.
Sesampainya di depan kamar Aroon, Alfi segera membuka pintunya. Ia melihat Aroon sedang telungkup di atas kasur.
" Sayang sini." Ujar Alfi menepuk pahanya agar di jadikan bantalan oleh Aroon. Aroon segera memposisikan kepalanya ke pangkuan Alfi.
" Sayang... Perlu kamu tahu kalau Nervan bukan anak kandung Papa Nak, dia anak tante Diana dengan paman Reno." Jelas Alfi mengusap rambut Aroon.
Sebenarnya Alfi tidak mau memberi tahukan yang sebenarnya, Ia takut kalau Aroon akan mengatakannya kepada Nervan. Alfi tidak tega menyakiti anak kecil seperti Nervan.
" Papa juga tidak pernah menikah lagi." Sambung Alfi.
" Lalu kenapa dia hidup bersama Papa selama ini dan memanggilnya Ayah?" Tanya Aroon.
" Saat Papa kecelakaan, Papa hilang ingatan sayang, Papa lupa siapa dirinya dan di mana rumahnya, Tante Diana memanfaatkan itu untuk membuat Papa menjadi Ayahnya Nervan, tapi kamu tenang saja sekarang Papamu sudah mengingat semuanya, Papa sangat menyayangimu Nak." Jelas Alfi.
" Apa kamu tahu? Secara tidak langsung Mama yang telah menyebabkan Tante Diana mengalami kecelakaan sayang, Mama merasa bersalah karena telah membuat Nervan kehilangan ibunya." Ucap Alfi.
" Memang apa yang Mama lakukan?" Tanya Aroon.
" Mama mengejarnya sampai Tante Diana berlari ke jalan raya, tanpa kami sangka ada truk yang melintas dan menabrak Tante Diana." Jelas Alfi.
" Sebelum Tante Diana meninggal dia menitipkan Nervan kepada Mama, dia menyuruh Mama menganggap dan menjaga Nervan seperti anak Mama sendiri, Mama nggak tega sayang, Nervan anak piatu yang tidak punya siapa siapa lagi, Ayahnya pergi entah kemana sejak dia bayi makanya dia begitu senang saat tahu punya Ayah sebaik Papa kamu." Ujar Alfi memberi pengertian kepada Aroon.
" Apa setelah mendengar cerita Mama kamu mau memaafkan Papa?" Tanya Alfi.
" Apa Mama mau kembali lagi sama Papa Sakti?" Aroon balik bertanya.
" Iya sayang, bagaimanapun Papa masih suami sah Mama, Mama masih sangat mencintai Papamu Nak, apa kamu mau kita kembali menjadi keluarga yang utuh seperti dulu lagi? Apalagi di tambah adanya Nervan pasti tambah ramai, kamu ada teman untuk bermain kan" Bujuk Alfi. Aroon tidak bergeming sepertinya Ia sedang memikirkan sesuatu.
" Gimana apa kamu mau pulang bersama Mama dan tinggal bersama Papa dan Nervan?" Tanya Alfi.
TBC....
Konfliknya ganti ke anak anaknya dulu ya...
__ADS_1
Makasih atas dukungannya...
Miss U All....